Monday, March 9, 2015

Gurihnya Pendapatan ‘Dukun’ Skripsi


Ilustrasi
Bisnis jasa pembuatan karya tulis ilmiah berkedok konsultan, kian menjamur di Tanah Rencong. Pasarnya tak hanya menyasar mahasiswa S1, tapi juga S2 dan S3. Omsetnya hingga ratusan juta per tahun. Luar biasa!

Irwan Saputra

SURYA (samaran), bukanlah manajer di perusahaan multinasional. Dia tidak pula tercatat sebagai anak konglemerat. Tapi soal pendapatan, Surya tak kalah dari para jutawan. Lewat profesi informal yang digelutinya selama ini, dia berhasil meraup omset hingga ratusan juga per tahun. 
Bayangkan, hanya dalam waktu tak lebih dari dua tahun, dia berhasil membeli satu unit mobil Honda Jazz senilai Rp 230 juta lebih. “Saya sedang mengincar Honda CBR seharga Rp 125 juta. Saat ini baru terkumpul Rp 83 juta,” kata Surya bangga, saat bincang-bincang dengan MODUS ACEH, di kawasan Darussalam Banda Aceh, awal pekan lalu.
Ya, banyak cara untuk menghasilkan rupiah. Dari yang benar-benar legal, sampai dengan cara-cara yang salah atau setidaknya menyerempet ranah etika akademis. Salah satunya, sebagai pembuat karya tulis ilmiah (skripsi, tesis dan disertasi) para calon sarjana.
Nah, profesi itulah yang kini berhasil merubah kehidupan Surya. Dia, misalnya, tak merasa berat meminang seorang wanita dengan mahar 25 mayam emas pada 2013 lalu. Uang “hangus” ditambah biaya partisipasi resepsi yang disyaratkan keluarga mempelai wanita, juga dijabaninya. “Semua terpenuhi dari penghasilan menyusun karya tulis para mahasiswa,” ungkap dia.
Profesi ini sudah dilakoni Surya sejak beberapa tahun terakhir dan diawali dari sekedar membantu teman. Kini, sudah tak terhitung berapa skripsi mahasiswa yang dibuatnya. Untuk gelombang wisuda pada Februari 2015 ini saja, sedikitnya 28 mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menggunakan jasanya untuk membuat skripsi. Tentu, tak hanya mahasiswa S1, tapi juga S2 dan S3. “Untuk tesis, ada tiga orang yang saya buat semester ini,” akunya.
Menurut Surya, para mahasiswa masih begitu lemah menyusun skripsi secara mandiri. “Seperti milik salah satu mahasiswa S2. Hancur sekali. Terpaksa saya rombak dari BAB I sampai selesai,” kata Surya yang juga mahasiswa S2 ini. Fenomena inilah yang menjadi peluang “basah” bagi Surya. Dari awalnya membantu teman, dia akhirnya menjadikan ini sebagai bisnis.
Untuk satu skripsi mahasiswa UIN Ar-Raniry, dia mematok Rp 2,5 juta. Khusus untuk bahasa Inggris dan Arab, tarif yang dikenakan Rp 3 juta. Sedangkan untuk skripsi kalangan mahasiswa Unsyiah, dia memberi harga Rp 4 juta untuk semua jurusan.
Beda halnya dengan skripsi, harga satu tesis (karya tulis mahasiswa S2) jauh lebih tinggi. “Saya patok Rp 10 juta. Tahun ini ada tiga, mereka mahasiswa Unsyiah, jurusan Fisika, Ekonomi, dan Hukum,” ungkap dia.
Bagi Surya, membuat karya tulis tersebut tidaklah sulit. Hanya dalam waktu tiga pekan, dia bisa menyelesaikan orderan itu. “Saya kerja ngebut. Dominan kerjanya malam, dan itu memang ekpress,” katanya.
Saat ini, kata Surya, dia mampu menangani skripsi semua jurusan yang ada di Unsyiah dan UIN Ar-Raniry. “Baru-baru ini anak Informatika juga sudah ambil. Mahasiswa dari Semarang juga ada yang buat pada saya dan itu saya kirim melalui email,” kata Surya buka kartu. Dengan kemampuannya itu, tak heran, oleh kalangan akademisi, orang yang berprofesi seperti Surya dikenal dengan julukan “Dukun Skripsi”.
Kalangan mahasiswa di Darussalam memang umumnya mengetahui profesi Surya. Tapi Surya tetap memasarkan bisnisnya itu untuk menjaring lebih banyak ”pasien”. Itu dilakukannya dengan melakukan promosi lewat internet. “Saya iklankan di blog dengan menyertakan nomor yang bisa dihubungi,” katanya.
Kepada calon pasien yang menghubungi, kata Surya, dia tidak pernah lupa menanyakan jadwal sidang dan wisuda agar bisa dia sesuaikan. “Saya kejar target, setahun minimal 30 karya tulis ilmiah. Tapi dengan mengedepankan prinsip: pasien puas dan saya enak. Tidak akan saya lalaikan,” katanya.
Menurut Surya, sebelum menulis, dia pelajari dulu materi awal yang diserahkan kliennya. “Kemudian baru cari bahan. Yang penting daftar isinya sudah sinkron, kalau ada yang belum sinkron saya sinkronkan,” katanya. Yang lebih menguntungkan Surya, dia sudah mengenal semua karekter penguji, khususnya dari kalangan dosen di UIN Ar-Raniry. Inilah yang memudahkan kliennya saat saat menjalani sidang.
Dalam menjalankan profesinya ini, Surya bukannya tak pernah menghadapi tantangan. Dia bahkan pernah disidang para dosen Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry Banda Aceh, karena ketahuan membuat skripsi mahasiswa di sana. “Kamu buat skripsi orang, membodohi orang,” kata Surya meniru dosen yang mencecarnya.   “Ndak Pak. Mahasiswanya yang minta buat, bagaimana coba? Ketimbang meninggal dunia lantaran beratnya tekanan skripsi. Saya jawab begitu,” kata Surya, enteng.
Para dosen tak berhenti begitu saja. Mereka bahkan mengancam akan merekomendasikan untuk mencabut ijazah Surya.  Tapi Surya melawan. Menurut Surya, ancaman itu jelas tak relevan karena memang tidak ada aturan yang bisa mencabut ijazah pembuat skripsi mahasiswa. Bahkan, kata dia, banyak doktor dan profesor yang ikut membuat karya tulis mahasiswanya.
“Doktor lain yang buat skripsi orang, menciplak skripsi orang, itu bukan plagiat namanya? Bapak, dekan lagi, mungkin bapak buat buku itu, belum tentu hasil karya bapak. Isi buku bapak ambil di internet. Artikel-artikel lain bapak ambil juga dari internet. Itu saya sampaikan kepada dekan saat saya ditanya. Dan, dosen itu kemudian diam,” cerita Surya.
Bagi Surya, apa yang dilakukannya justru membantu citra UIN Ar-Raniry Banda Aceh di mata publik menjadi positif. Menurut dia, ketika mahasiswa banyak yang tidak lulus, lantas di publikasi oleh media, tentu lembaga yang akan menanggung malu.
“Bapak mau pilih yang mana, diberitakan di koran banyak mahasiswa UIN yang tidak lulus, meninggal atau sakit jiwa atau mereka membuat skripsi pada orang lain,”  tanya Surya kepada dosen yang memprotes bisnisnya itu. Alhasil, para dosen pun melunak. “Ya sudah, kali ini kami maafkan kamu. Boleh kamu buat, asalkan jangan transaksi di kampus,” kata Surya, mengulang saran sang dosen tadi.
Menurut Surya, beratnya tekanan skripsi memang sering kali membuat depresi mahasiswa tingkat akhir. Tak jarang, kata Surya, ada yang berujung pada gangguan jiwa.
Surya mengisahkan,  salah seorang rekan seangkatannya sampai gila lantaran depresi berat akibat skripsi yang terus ditolak. Prilakunya berubah drastis, seperti, berbicara sendiri sampai banting-banting barang yang ada di dekatnya. “Dia sempat masuk rumah sakit jiwa, meski saat ini sudah dibawa pulang ke kampung,” cerita Surya.
Kata Surya, mahasiswa tersebut takut pada salah seorang dosen, tak usahlah disebut namanya, di tempat dia menimba ilmu. Dosen itu, kata dia, terlalu berat memberikan pertanyaan dan kerap mempersulitnya. “Karena mentalnya tidak kuat, dia jadi down,” kenang  Surya. Menurut Surya, dia telah menyampaikan apa yang dialami rekan seangkatannya itu pada dosen dimaksud. 
”Dosen itu mengelak. Kenapa saya yang disalahkan?” kata Surya meniru ucapan dosen itu. Tapi mulai saat itu, dosen “killer” ini perlahan berubah dan sedikit melunak serta mulai sedikit melonggarkan urusan tugas akhir para mahasiswanya.
Sejurus dengan itu, para “dukun” skripsi ini juga kian bertambah. Salah seorang penjajak jasa pembuatan skripsi lainnya yang ditemui MODUS ACEH pekan lalu mengatakan, peluang bermain di bisnis ini memang cukup menjanjikan. “Sambil menambah wawasan dan bisnis. Dari pada ndak ada kegiatan,” katanya.
Dari perspektif bisnis, menjalankan usaha ini boleh dikatakan tak ada salahnya. Namun, dari sisi akademis, khususnya bagi kalangan mahasiswa, ini jelas persoalan. Itu sebabnya, tak sedikit yang menyayangkan keberadaan para “dukun” skripsi ini. “Saya sangat prihatin, sebagai dosen yang pernah membimbing, sudah sangat sering saya temukan mahasiswa yang buat skripsinya pada orang lain,” kata EMK Alidar, akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada MODUS ACEH pekan lalu.
Menurut Alidar, maraknya mahasiswa menjalankan praktik “pelacuran” akademis ini bukan hanya membuat malu para dosen pembimbing, tapi juga institusi pendidikan. “Lembaga ini juga dilecehkan,” kata dia. Menurut Alidar, dunia akdemik adalah dunia idealisme. Tapi dengan suburnya praktik seperti itu, maka tidak ada lagi yang idealis dan dapat dipercaya.

Salah satu cara untuk menekan praktik ini, kata Alidar, dengan memberikan sanksi, khususnya bagi pebisnis jasa pembuatan skripsi. Alidar menyebutnya: Dukun Skripsi! Misal, kata Alidar, dengan mencabut ijazah para dukun skripsi, jika memang dia alumni mahasiswa di sana. “Saya pernah mendapat (dukun skripsi). Dia malah alumni UIN Ar-Raniry dan, mampu membuat skripsi untuk semua jurusan,” ungkap Alidar. Begitu mudahkah? Entahlah.***

Sumber : Tabloid Modus Aceh

No comments:

Post a Comment