![]() |
| Ilustrasi |
Irwan Saputra
SURYA (samaran), bukanlah manajer di perusahaan multinasional. Dia
tidak pula tercatat sebagai anak konglemerat. Tapi soal pendapatan, Surya tak
kalah dari para jutawan. Lewat profesi informal yang digelutinya selama ini,
dia berhasil meraup omset hingga ratusan juga per tahun.
Bayangkan, hanya dalam waktu tak lebih dari dua tahun, dia
berhasil membeli satu unit mobil
Honda Jazz senilai Rp 230 juta
lebih. “Saya sedang mengincar Honda CBR seharga Rp 125 juta.
Saat ini baru terkumpul Rp 83 juta,” kata Surya bangga, saat
bincang-bincang dengan MODUS ACEH, di kawasan Darussalam Banda Aceh, awal pekan lalu.
Ya, banyak cara untuk menghasilkan rupiah. Dari
yang benar-benar legal, sampai dengan
cara-cara yang salah
atau setidaknya menyerempet ranah etika akademis. Salah satunya,
sebagai pembuat karya tulis ilmiah (skripsi, tesis dan disertasi) para calon
sarjana.
Nah, profesi
itulah yang kini berhasil merubah kehidupan Surya. Dia, misalnya, tak merasa
berat meminang seorang wanita dengan mahar 25 mayam emas pada 2013 lalu. Uang
“hangus” ditambah biaya partisipasi resepsi yang disyaratkan keluarga mempelai
wanita, juga dijabaninya. “Semua terpenuhi dari penghasilan menyusun karya tulis
para mahasiswa,” ungkap dia.
Profesi ini sudah dilakoni Surya sejak beberapa
tahun terakhir dan diawali dari sekedar membantu teman. Kini, sudah tak
terhitung berapa skripsi mahasiswa yang dibuatnya. Untuk gelombang wisuda pada
Februari 2015 ini saja, sedikitnya 28 mahasiswa dari berbagai fakultas di
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menggunakan jasanya untuk membuat skripsi. Tentu, tak hanya mahasiswa S1,
tapi juga S2 dan S3. “Untuk tesis,
ada tiga orang yang saya buat semester ini,” akunya.
Menurut Surya, para mahasiswa masih begitu lemah menyusun skripsi secara mandiri.
“Seperti milik salah satu mahasiswa S2. Hancur sekali. Terpaksa saya rombak
dari BAB I sampai selesai,” kata Surya yang juga mahasiswa S2 ini. Fenomena
inilah yang menjadi peluang “basah” bagi Surya. Dari awalnya membantu teman,
dia akhirnya menjadikan ini sebagai bisnis.
Untuk satu skripsi mahasiswa UIN Ar-Raniry, dia
mematok Rp 2,5 juta. Khusus untuk bahasa Inggris dan Arab, tarif yang dikenakan Rp 3 juta. Sedangkan untuk skripsi kalangan
mahasiswa Unsyiah, dia memberi harga Rp 4 juta untuk semua jurusan.
Beda halnya dengan skripsi, harga satu tesis
(karya tulis mahasiswa S2) jauh lebih tinggi. “Saya patok Rp 10 juta. Tahun ini
ada tiga, mereka mahasiswa Unsyiah, jurusan Fisika, Ekonomi, dan Hukum,” ungkap dia.
Bagi Surya, membuat karya tulis tersebut tidaklah
sulit. Hanya dalam waktu tiga pekan, dia bisa menyelesaikan orderan itu. “Saya
kerja ngebut. Dominan kerjanya malam,
dan itu memang ekpress,” katanya.
Saat ini, kata Surya, dia mampu menangani skripsi
semua jurusan yang ada di Unsyiah dan UIN Ar-Raniry. “Baru-baru ini anak
Informatika juga sudah ambil. Mahasiswa dari Semarang juga ada yang buat pada saya dan itu saya kirim melalui
email,” kata Surya buka kartu. Dengan kemampuannya itu, tak heran, oleh kalangan
akademisi, orang yang berprofesi seperti Surya dikenal dengan julukan “Dukun
Skripsi”.
Kalangan mahasiswa di Darussalam memang umumnya
mengetahui profesi Surya. Tapi Surya tetap memasarkan bisnisnya itu untuk
menjaring lebih banyak ”pasien”. Itu dilakukannya dengan melakukan promosi
lewat internet. “Saya iklankan di blog
dengan menyertakan nomor yang bisa dihubungi,” katanya.
Kepada calon pasien yang
menghubungi, kata Surya, dia tidak pernah lupa menanyakan jadwal sidang dan
wisuda agar bisa dia sesuaikan. “Saya kejar target, setahun minimal 30 karya
tulis ilmiah. Tapi dengan mengedepankan prinsip: pasien puas
dan saya enak. Tidak akan saya lalaikan,” katanya.
Menurut Surya, sebelum menulis, dia pelajari dulu
materi awal yang diserahkan kliennya. “Kemudian baru cari bahan. Yang penting
daftar isinya sudah sinkron, kalau ada yang belum sinkron saya sinkronkan,”
katanya. Yang lebih menguntungkan Surya, dia sudah mengenal semua karekter
penguji, khususnya dari kalangan dosen di UIN Ar-Raniry. Inilah yang memudahkan
kliennya saat saat menjalani sidang.
Dalam menjalankan profesinya ini, Surya bukannya
tak pernah menghadapi tantangan. Dia bahkan pernah disidang para dosen Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry Banda
Aceh, karena ketahuan membuat skripsi
mahasiswa di sana. “Kamu buat skripsi orang, membodohi orang,” kata Surya
meniru dosen yang mencecarnya. “Ndak Pak.
Mahasiswanya yang minta buat, bagaimana coba? Ketimbang meninggal dunia lantaran
beratnya tekanan skripsi. Saya jawab begitu,” kata Surya, enteng.
Para dosen tak berhenti begitu saja. Mereka
bahkan mengancam akan merekomendasikan untuk mencabut ijazah Surya. Tapi Surya melawan. Menurut Surya, ancaman
itu jelas tak relevan karena memang tidak ada aturan yang bisa mencabut ijazah pembuat skripsi mahasiswa. Bahkan, kata dia, banyak
doktor dan profesor yang ikut membuat karya tulis mahasiswanya.
“Doktor lain yang buat skripsi orang, menciplak
skripsi orang, itu bukan plagiat namanya? Bapak, dekan lagi, mungkin bapak buat
buku itu, belum tentu hasil karya bapak. Isi buku bapak ambil di internet.
Artikel-artikel lain bapak ambil juga dari internet. Itu saya sampaikan kepada
dekan saat saya ditanya. Dan, dosen
itu kemudian diam,” cerita Surya.
Bagi Surya, apa yang dilakukannya justru membantu
citra UIN Ar-Raniry Banda Aceh di mata publik menjadi positif. Menurut dia, ketika mahasiswa banyak yang tidak
lulus, lantas di publikasi oleh media, tentu lembaga yang akan
menanggung malu.
“Bapak mau pilih yang mana, diberitakan di koran
banyak mahasiswa UIN yang tidak lulus, meninggal atau sakit jiwa atau
mereka membuat skripsi pada orang lain,”
tanya Surya kepada dosen yang
memprotes bisnisnya itu. Alhasil,
para dosen pun melunak. “Ya sudah, kali ini kami maafkan kamu. Boleh kamu buat,
asalkan jangan transaksi di kampus,” kata Surya, mengulang saran sang dosen tadi.
Menurut Surya, beratnya tekanan skripsi memang
sering kali membuat depresi mahasiswa tingkat akhir. Tak jarang, kata Surya,
ada yang berujung pada gangguan jiwa.
Surya mengisahkan, salah seorang rekan seangkatannya sampai gila
lantaran depresi berat akibat skripsi yang terus ditolak. Prilakunya berubah
drastis, seperti, berbicara sendiri sampai banting-banting barang yang ada di
dekatnya. “Dia sempat masuk rumah sakit jiwa, meski saat ini sudah dibawa
pulang ke kampung,” cerita Surya.
Kata Surya, mahasiswa tersebut takut pada salah seorang
dosen, tak usahlah disebut namanya, di tempat dia menimba ilmu. Dosen itu, kata
dia, terlalu berat memberikan pertanyaan dan kerap mempersulitnya. “Karena
mentalnya tidak kuat, dia jadi down,” kenang Surya. Menurut Surya, dia telah menyampaikan
apa yang dialami rekan seangkatannya itu pada dosen dimaksud.
”Dosen itu mengelak. Kenapa saya yang disalahkan?”
kata Surya meniru ucapan dosen itu. Tapi mulai saat itu,
dosen “killer” ini perlahan berubah dan sedikit melunak serta mulai
sedikit melonggarkan urusan tugas akhir para mahasiswanya.
Sejurus dengan itu, para “dukun” skripsi ini juga
kian bertambah. Salah seorang penjajak jasa pembuatan skripsi lainnya yang
ditemui MODUS ACEH pekan lalu mengatakan, peluang bermain di bisnis
ini memang cukup menjanjikan. “Sambil menambah wawasan dan bisnis. Dari pada ndak ada kegiatan,” katanya.
Dari perspektif bisnis, menjalankan usaha ini
boleh dikatakan tak ada salahnya. Namun, dari sisi akademis, khususnya bagi
kalangan mahasiswa, ini jelas persoalan. Itu sebabnya, tak sedikit yang
menyayangkan keberadaan para “dukun” skripsi ini. “Saya sangat prihatin,
sebagai dosen yang pernah membimbing, sudah sangat sering saya temukan
mahasiswa yang buat skripsinya pada orang lain,” kata EMK Alidar, akademisi UIN Ar-Raniry Banda
Aceh pada MODUS ACEH pekan lalu.
Menurut Alidar, maraknya mahasiswa menjalankan
praktik “pelacuran” akademis ini bukan hanya membuat malu para dosen
pembimbing, tapi juga institusi pendidikan. “Lembaga ini juga
dilecehkan,” kata dia. Menurut Alidar, dunia akdemik adalah dunia idealisme.
Tapi dengan suburnya praktik seperti itu, maka tidak ada lagi yang idealis dan
dapat dipercaya.
Salah satu cara untuk menekan praktik ini, kata
Alidar, dengan memberikan sanksi, khususnya bagi pebisnis jasa pembuatan skripsi.
Alidar menyebutnya: Dukun Skripsi! Misal, kata Alidar, dengan mencabut ijazah para
dukun skripsi, jika memang dia alumni
mahasiswa di sana. “Saya pernah mendapat (dukun skripsi). Dia malah alumni UIN Ar-Raniry dan, mampu membuat skripsi untuk semua
jurusan,” ungkap Alidar.
Begitu mudahkah? Entahlah.***
Sumber : Tabloid Modus Aceh
Sumber : Tabloid Modus Aceh

No comments:
Post a Comment