Adu Jotos Jelang Buka Puasa
![]() |
| Fanny Tasfia Mahdi, Mahdi Usman dan Sabariah |
Diduga
karena salah paham soal batas tanah yang tak kunjung selesai, AKP Marzuki,
perwira Direktorat Narkoba Kepolisian Daerah Aceh terlibat adu jotos dengan
Mahdi Usman dan keluarganya. Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat ini sempat
babak belur dan pingsan. Kasus itu sudah ditangani Propam Polda Aceh.
Irwan
Saputra
Satu
unit Avanza hitam perlahan memasuki Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan
Aceh, Jalan Kuta Alam, Banda Aceh. Dari mobil itu, turun sepasang suami isteri
berusia paruh baya dengan senyum yang dipaksakan. Dia berusaha menyapa sejumlah
wartawan yang ada di sana.
Dengan
wajah bengkak dan membiru, sang suami melangkah gontai, perlahan menaiki tangga
kantor itu. Sementara, isterinya menyusul di belakang dan terlihat sibuk
menelpon anaknya yang sedang berada di Kanit Reskrimum Polda Aceh untuk
melengkapi Berkas Acara Perkara (BAP). “Ya, tunggu di sana! Apa Bunda bilang?
Jangan ke mana-mana,” ujarnya, Senin pekan lalu sambil menutup telepon
selulernya. Beberapa wartawan yang sudah menunggu, satu per satu menyalami
keduanya.
Pasangan
suami isteri itu adalah Mahdi Usman, Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat, dan
isterinya Sabariah, Kader Partai NasDem Aceh. Hari itu, keduanya sengaja menyambangi
Kantor PWI Aceh untuk melakukan konferensi pers. Soalnya, mereka tidak menerima
perlakuan semena-mena AKP Marzuki terhadap Mahdi Usman dan tiga anaknya, Fanny
Tasfia Mahdi (25), Yadaina Aulia (23) dan Ruhil Fatana (16) serta adik iparnya
Mulyadi, yang terjadi di Desa Lamtemen Barat, Dusun Lam Awe I, Kecamatan
Baiturrahman, Banda Aceh.
Pada
sejumlah wartawan, keduanya menceritakan kronologis pemukulan yang dilakukan perwira
Sub Dit III di Direktorat Narkoba, Polda Aceh ini. Katanya, pemukulan tersebut
berulang kedua kali terjadi. Pertama, Minggu 12 Juni 20016 lalu, sekitar pukul
14.30 WIB. Hari itu, korban keganasan Marzuki adalah Yadainal Aulia, Mahasiswa
Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh yang baru
saja pulang dari pasar. Sebelum masuk pekarangan rumahnya, ia berhenti tepat
setentang antara perbatasan rumah keluarganya dan rumah Marzuki. Yadainal
bergegas merogoh saku celananya dan menelepon temannya Riski Hidayat. Keduanya
telah berjanji untuk bertemu. “Di mana kamu?” tanya Yadaina menggunakan handset (alat pengeras suara). “Saya di
dalam rumah,” jawab Riski yang sudah berada di dalam rumah Yadainal.
Rupanya,
saat itu, Marzuki berdiri di depan pintu pagar rumahnya, tak jauh dari Yadainal.
Saat Yadainal sedang asik ngobrol dengan kawannya, sekonyong-konyong Marzuki
melayangkan pukulan ke wajah Yadainal. “Kurang ajar, ya. Nggak sopan kamu, ngata-ngatain saya,” cerca Marzuki murka.
Yadainal
yang tak sadar kehadiran Marzuki, seketika tersungkur ke tanah bersama motornya.
Darah segar muncrat dari hidungnya. Riski yang melihat kejadian itu dari dalam
rumah langsung berlari ke arah Marzuki, “Pak, Pak. Kenapa pukul teman saya?!”
protes Riski.
Marzuki
yang sudah kadung murka tak terima dengan protes Riski. Ia pun mengejar Riski.
Beruntung, remaja itu berhasil menyelamatkan diri. Di saat Marzuki meninggalkan
Yadainal yang telah tersungkur ke tanah, perlahan Yadainal bangun dengan kepala
pusing dan menghampiri Marzuki yang tengah diamuk murka. “Pak, kenapa memukul
saya bulan-bulan puasa? Saya tadi sedang
menelepon teman saya,” tanya Yadainal dengan raut wajah meringis kesakitan.
Sementara, tangannya memegang hidungnya yang terjadi pendarahan.
Sontak,
ekpresi wajah Marzuki berubah, “Hah.” Perlahan dia melangkah menuju rumahnya
tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Rupanya, Marzuki salah menduga. Sementara,
Yadainal mendirikan kembali motornya yang jatuh bersamaan dengan dirinya
dibantu oleh Riski yang sempat lari karena dikejar oleh Marzuki.
Atas
kejadian hari itu, Yadainal tak tinggal diam, dia melaporkan pemukulan terhadap
dirinya pada kepala dusun setempat, Fahril Kamal. Lalu, melapor juga pada
Babinsa dan Polsek setempat hingga Kanit Reskrim Polda Aceh. Sebelumnya, dia pergi
ke Rumah Sakit Bayangkara untuk berobat dan melakukan visum. Selain itu, dia juga
menceritakan kejadian tersebut pada ibunya, yang mendampingi ayahnya sebagai
hakim bertugas di Jakarta.
Tak
terima atas kejadian itu, Mahdi Usman dan Sabariah (ayah-ibu korban) pulang ke
Aceh. Tujuannya untuk menyelesaikan kasus pemukulan tersebut. Setiba di
kampung, keduanya langsung menyambangi kediaman Kepada Desa, Fachri A Majid dan
Kepala Dusun Fahril Kamal untuk menanyakan kasus pemukulan terhadap anaknya
oleh Marzuki. “Tunggulah penyelesaian di desa saja,” ujar Sabariah meniru
perkataan Fachri A Majid.
Dalam
masa menunggu penyelesaian itu, Mahdi dan Sabariah mulai mencium gelagat tidak
baik dari Marzuki. Meski diakui keduanya, Marzuki telah menyesali perbuatannya
dan ingin perdamaian pada aparat desa setempat. Namun, Marzuki masih kerap
mengganggu anak-anaknya.
Sabariah
menceritakan, suatu sore setelah kejadian itu, anaknya keluar rumah untuk
membeli penganan berbuka puasa. Karena rumahnya bersebelahan, maka setiap
hendak keluar, mereka harus melewati rumah Marzuki.
“Ho yah kah? Ho yah kah? Hรถi
keunoe (Di mana ayah kamu? Di mana ayah kamu?
Panggil ke sini)!” ujar Sabariah meniru cerita anaknya yang dibentak Marzuki.
Begitupun, meski sehari sebelumnya Yadainal telah menjadi korban murka Marzuki,
besok paginya, Marzuki masih saja membentak anak-anaknya. “Kenapa kamu nggak berani-berani keluar, kenapa?”
cerita Mahdi.
“Jadi,
sudah demikian, sehingga niat damai memang tidak tak terlihat dari dirinya.
Karena diganggu terus, sehingga anak-anak menjadi trauma,” tambah Mahdi Usman.
Karena
merasa terancam, apalagi Marzuki adalah seorang perwira polisi, Mahdi bersama
Sabariah, Kamis siang itu juga melaporkan perilaku Marzuki ke Kanit Reskrim
Polda Aceh, “Pak, kami kemari bukan untuk melapor lagi. Tapi, untuk
mewanti-wanti karena melihat gelagat tidak baik dari Marzuki. Memang beliau
telah mengatakan ingin berdamai pada aparat desa atas kasus yang menimpa
Yadainal. Tapi, dia kerap membentak anak kami saat hendak keluar rumah,” cerita
Sabariah.
Rupanya,
dugaan Sabariah dan Mahdi benar. Jelang Maghrib dan buka puasa atau sekitar
pukul 18.30 WIB, Marzuki kembali “mengamuk”. Kali ini menghajar Mahdi Usman,
bersama anaknya-anaknya, Fanny Tasfia Mahdi, Yadainal Aulia, dan Ruhil Fatana (anak
bungsu) serta Mulyadi--adik iparnya.
Ihwal
kejadian itu bermula saat Mulyadi bermain ke rumahnya sore itu, sambil
menjemput ibu dan anaknya. Ketika mau pulang, Mahdi menahan Mulyadi agar jangan
pulang dulu. Mahdi minta agar Mulyadi menceritakan tentang batas rumah yang
diduga telah menjadi sengketa dengan batas tanah Marzuki. Tujuannya biar cepat
selesai. Mahdi ingin masalah dapat diluruskan dengan Marzuki, sehingga tidak
menimbulkan fitnah. “Tolong diceritakan masalah ini dulu,” pinta Mahdi.
Mulyadi
menjawab, “Oh ya, Bang. Fondasi dan rumah ini memang saya yang bangun. Abang
mana tahu karena Abang di Jakarta.” Pernyataan Mulyadi rupanya terdengar oleh
isteri Marzuki. Sontak ia memanggil sang suami yang sedang berada di dalam
rumah. “Abang, Abang, cepat keluar! Ini dia orang yang mengaku membangun pagar
rumah kita,” teriak isteri Marzuki.
Karena
memang bersebelahan, Mulyadi menjawab, “Bukan. Bukan rumah kamu yang saya
bangun, tapi rumah Abang saya ini.” Tiba-tiba, Marzuki menyerang Mulyadi dengan
tangan kosong. Seketika, perkelahian antara keduanya tak terelakkan. Mahdi yang
berada di sana mencoba melerai, “Jangan, jangan! Nggak usah berkelahi! Sabarlah,” cerita Mahdi. Tapi, Marzuki yang
kadung kalap, terus menyerang Mulyadi. Entah karena Mulyadi berhasil melepaskan
diri dari serangan Marzuki, sasaran kemudian dialihkan pada Mahdi.
Mahdi
yang sudah berumur 60 tahun itu akhirnya jadi bulan-bulanan Marzuki. Tak ubah
seperti film laga Hollywood, secara brutal Marzuki menyerang Mahdi yang sudah
terpelanting tak berdaya. Begitupun, aksi brutal itu membuat debu-debu beterbangan.
Mendengar
keributan itu, Sabariah dan Fanny Tasfia Mahdi yang tadinya berada di dapur
sedang mempersiapkan penganan untuk berbuka puasa, sontak berlari ke depan
rumah. “Pakon kapoh lako lon (kenapa
kamu pukul suami saya)?” cerita Fanny meniru pertanyaan ibunya.
Sementara,
Fanny bergegas mengambil balok seukuran lengan orang dewasa untuk melerai
perkelahian itu dengan cara memukul Marzuki dengan balok tersebut. Tapi,
niatnya memukul Marzuki dihalang warga yang berada di lokasi. Saat baloknya dipegang warga, Marzuki yang
mengetahui Fanny hendak menyerang dirinya, langsung menonjok Fanny, sehingga
niatnya untuk melerai gagal. Sementara, Mulyadi dan Yadainal telah diamankan
oleh warga untuk tidak menambah runyam keadaan.
Hari
itu, Marzuki benar-benar tanpa pikir panjang dan mengambil batu seukuran buah kelapa
hendak dilemparnya pada kepala Mahdi. Beruntung, batu pertama yang dilemparnya
tidak mengenai Mahdi. Lalu, Marzuki mengambil batu besar lainnya untuk
dilemparkannya kembali ke Mahdi yang sudah tergeletak di tanah tak berdaya.
Beruntung, warga yang sigap berhasil menggagalkan upaya tersebut. “Saat saya
semi pingsan, melihat dia hendak melemparkan kepala saya dengan batu, tapi saya
tidak tahu bagaimana saya bisa lolos,” cerita Mahdi.
Setelah
hampir setengah jam terjadi perkelahian, barulah aparat desa setempat berhasil
melerai perkelahian hari itu. Marzuki yang masih mengamuk, diamankan dalam
rumahnya. Sementara Mahdi yang tergeletak pingsan, dengan wajah berdarah dan
babak belur diangkat ke rumahnya. Hari itu juga hadir beberapa aparat
kepolisian dari Polda Aceh untuk mengamankan keadaan. Menjelang shalat Isya,
barulah Mahdi siuman. “Saya pikir, hari itu adalah hari terakhir saya melihat
ayah,” cerita Fanny sedih.
Setelah
siuman, Mahdi bertanya kenapa dirinya berlumuran darah dan wajah babak belur
seperti ini. “Baru sadar saya dari pingsan,” cerita Mahdi.
Seusai
siuman, dengan langkah tertatih-tatih, Mahdi mengajak anak dan isterinya ke
rumah sakit. Kemudian, pihak rumah sakit merekomendasikan agar Mahdi dirawat
inap (opname) di Rumah Sakit
Bayangkara. Meski dokter telah merekomendasikan untuk diopname, Mahdi meminta
izin agar dia dan anak-anaknya membuat laporan ke Kanit Reskrim dan Unit Propam
Polda Aceh. “Kami diizinkan melapor dan kemudian kembali lagi ke rumah sakit
untuk melanjutkan perawatan,” cerita Mahdi.
Esok harinya, ia dirontgen dan di-scan. Dokter di RS Bhayangkara berjanji
akan memberikan jawaban atas hasil tersebut, Senin pekan lalu. Namun, karena ia
harus memenuhi panggilan Kanit Reskrim untuk melangkapi BAP. “Makanya, kami
belum sempat ke rumah sakit karena harus BAP ke Polda,” sambung Mahdi.***

No comments:
Post a Comment