Dilema Pasar Lambaro
Tak kunjung selesainya pembangunan Pasar Modern
Lambaro, Aceh Besar mengundang tanda tanya banyak kalangan. Diduga, pemerintah
setempat dilema karena bangunan tak sesuai perencanaan.
Irwan Saputra
Terletak di Pusat Kota Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya,
Kabupaten Aceh Besar. Pasar Modern yang dibangun sejak 2013 itu, sekilas
terlihat begitu menggoda. Maklum, selain paduan warna yang menawan, arsitektur
modern dan letaknya pun dianggap strategis.
Namun, siapa sangka, pasar yang yang dibangun dengan
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Rp 18 miliar itu (bantuan dari Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia RI) hingga kini tak kunjung digunakan.
Padahal,
pemerintah setempat berjanji jika pasar yang dikerjakan PT Jordi Putra, anak
perusahaan PT Tenaga Inti itu selesai, maka akan digunakan pada Juni 2015 lalu.
Tapi, hingga pekan lalu belum juga beroperasi. Alasannya, karena anggaran tak
lagi memadai.
Alhasil,
ratusan pedagang yang sudah terdaftar untuk berdagang dalam pasar tersebut
kembali harus menunggu. Sebelumnya, mereka berjualan di lokasi itu saat pasar
modern itu belum dibangun. Dan, selama masa pembangunan pasar, para pedagang
terpaksa digusur, bahkan rela menganggur dengan iming-iming akan didata untuk
menjadi pedagang di pasar modern tersebut.
Tentu saja para pedagang tidak melawan. Sebab, selain
mereka berjualan di tanah negara, iming-iming yang diberikan Pemerintah Aceh
Besar saat itu pun begitu menggiurkan. Soalnya, gedung pasar modern tersebut
direncanakan akan menjadi pusat perbelanjaan pakaian anak dan dewasa, alat
elektronik hingga segala keperluan rumah tangga. Selain itu, bangunan pasar itu
juga dirancang bebas banjir.
Tapi, banyak yang menduga, tak kunjung diselesaikan
bangunan tersebut lantaran pemerintah dilema, karena bangunan pasar ini tidak
sesuai perencanaan. Bayangkan, toko yang disediakan tidak mencukupi dengan data
para pedagang yang sudah dikantongi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi
dan UKM (Disperindagkop) Aceh Besar.
“Pasar
itu salah perencanaan, karena kios/toko yang akan dibagi tidak cukup. Tentu ini
akan membuat para pedagang rebut. Makanya ditunda,” kata Hasan, salah seorang
warga setempat saat ditanyai MODUS ACEH hari itu.
Entah itu sebabnya. Belum beroperasinya pembangunan pasar
tersebut telah menuai perbincangan tak elok. Diki misalnya, salah seorang
pedagang telepon selular di pasar itu mengaku, belum dapat difungsikan pasar
ini karena kekurangan dana. Ada juga yang menggangap bangunan itu karena tidak
sesuai perencanaan. “Banyak yang menduga begitu. Tapi, yang saya tahu, karena
tidak cukup uang, makanya tidak dapat dibangun lagi,” ujarnya.
Salah seorang pedagang pakaian, pemilik kios Tabah Hati,
mengungkapkan, sebelum pasar modern itu dibangun, para pedagang baju banyak berjualan
di tempat tersebut. Namun, ketika pasar itu dibangun, para pedagang ini harus
dipindahkan untuk sementara waktu, dengan janji akan didata kembali agar bisa
berdagang di dalam pasar. “Namun, sampai saat ini, pasar itu belum selesai. Saya
tidak tahu kenapa,” kata dia.
Amatan media, pasar tiga lantai itu mulai termakan usia.
Selain tidak adanya perawatan dan berselemaknya sampah, pada ketiga lantai tadi
juga terlihat beberapa plafon sudah mulai rusak dan bocor. Tak hanya itu,
target kios yang dibangun terlihat mustahil dengan corak bangunan seperti itu.
Buktinya dengan ukuran lantai yang sama, panjang dan lebarnya, pada lantai
pertama hanya memuat 45 kios. Kondisi serupa juga terlihat pada lantai dua.
Begitupun
di lantai atas (atap), yang kabarnya akan dijadikan tempat kuliner, juga
mengundang pemandangan yang tidak sedap. Soalnya, saat siang, matahari begitu
menyengat. Sementara genangan air mulai menumbuhkan jamur. Sehingga, jika tidak
segera difungsikan, bisa bocor dan rusak sia-sia.
Kepala Disperindagkop dan UKM Aceh Besar, Taufiq, tidak
membantah jika alasan tidak difungsikan bangunan pasar modern itu karena
kurangnya kamar kios untuk pedagang. Termasuk jika bangunan itu tidak sesuai
perencanaan. Kepada media ini, ia mengaku bahwa bangunan itu sudah sesuai
perencanaan. Hanya saja, terkendala anggaran yang membuat pasar itu belum dapat
difungsikan hingga saat ini.
Pasar modern itu direncanakan pembangunannya dua
tahap. Pertama, tahun 2013 dan kedua 2014, dengan rencana anggaran Rp 20 miliar
dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Namun, yang disetujui cuma Rp
12 miliar, sehingga tidak cukup untuk dilanjutkan. Tapi, pada 2014 Pemerintah
Pusat mengucurkan lagi dana Rp 8 miliar dari APBN. Itu pun dinilai masih kurang
dari total Rp 20 miliar.
Taufiq menjelaskan, tahap pembangunan
itu dimulai sejak tahun 2013 dengan membangun struktur bangunan dan harga
tender Rp 10,5 miliar lebih. “Itu untuk pembangunan tiang-tiang dan lantainya,”
sebut Taufiq.
Tahun 2014, dilanjutkan dengan
arsitrektur bangunan, Rp 4,5 miliar lebih. Namun, karena masih terkendala
anggaran, maka pasar tersebut hanya mampu disiapkan satu lantai, yakni lantai satu,
sementara lantai dua dan lantai bawah (basement)
hingga saat ini belum siap. Dan, perusahaan yang memenangkan tender kedua
pelelangan itu adalah sama, yaitu PT Jordi Putra, anak dari perusahaan PT
Tenaga Inti.
“Pada tahun 2014, telah siap satu
lantai untuk dipakai. Arahan Kementerian Perdagangan agar segera difungsikan. Hanya
saja, karena kamar tokonya terbatas, sementara pedagang yang terdata banyak,
sehingga tidak cukup. Itu sebabnya, kami tetap tidak memfungsikannya dulu. Apalagi,
lantai tiga belum siap,” ujarnya lagi.
Terkait proses tender, Taufiq mengaku tidak
mengetahui, karena saat itu ia belum menjabat sebagai kepala dinas. Dia juga mengaku
tidak tahu-menahu soal itu meski ia dulu adalah pegawai pada dinas tersebut yaitu
di bidang pasar. “Saya tidak tahu bagaimana proses tendernya. Tapi, perusahaan
itu Grup Tenaga Inti, milik Makmur. Mereka memiliki banyak grup,” ungkap Taufiq.
Namun, untuk tahun ini, Taufiq
mengaku akan menyiapkan bangunan tersebut dengan menggunakan dana Anggaran
Pendapatan dan Belanja Kabupaten/kota (APBK) yang bersumber dari Dana Alokasi
Khusus (DAK), dengan plot anggaran Rp 8,5 miliar. Tujuannya, agar pedagang
dapat berjualan lagi di sana dan mereka adalah orang-orang yang sebelumnya
berjualan di sana.
“Nanti
akan kita masukkan lagi mereka, dan kita sudah kantongi data para pedagang itu
semua. Totalnya ada sekitar 150 pedagang yang akan berjualan di pasar tersebut.
Tapi, yang terdata pada kami cuma 100 pedagang. Kami menjamin akan tertampung
semua, meski yang baru siap 45 kios,” janji Taufiq.***

No comments:
Post a Comment