Jangan
Cemarkan Syariat Islam dengan Kepicikan
Guru
besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof. Dr. Yusni Sabi, MA
menyayangkan sikap penolakan pembangunan Masjid At-Taqwa Muhammadiyah di
Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun oleh beberapa warga yang mengatasnakan masyarakat
setempat.
![]() |
| Prof. Yusni Sabi (Photo: Klikkabar.com) |
Menurut
Yusni Sabi, aksi penolakan tersebut adalah sikap mencemarkan syariat Islam
dengan kepicikan umat Islam itu sendiri. Bagaimana ulasannya, wartawan MODUS
ACEH Irwan Saputra mewawancarainya guru besar ini, Selasa
pekan lalu di ruang tunggu dosen, Program Pasca Sarjana (PPs) UIN Ar-Raniry
Banda Aceh.
Polemik
pembangunan
mesjid Muhahammadiyah di Kecamatan Juli, Kabupaten
Bireun hingga saat ini belum usai. Pendapat Anda?
Pada
dasarnya, tidak ada masalah dalam pembangunan Mesjid di Aceh, jika pun ada
masalah itu hanya karena salah faham. Salah persepsi,
salah informasi atau mungkin saja lengkapnya beberapa syarat formal yang belum
diselesaikan. Karena itu, untuk Indonesia bahkan dunia, pembangunan mesjid itu
bukan lagi menjadi masalah, mau dibangun di Bali, atau di Rusia cuma tinggal
ikuti proseduralnya saja. Nah, apalagi
di Aceh yang merupakan daerah penerapan syariat Islam. Di mesjid lah syariat
Islam diajarkan
dilaksanakan. Salah satunya menjalankan shalat limat waktu.
Jadi, aneh ketika ada
hambatan dalam pembangunan mesjid di Aceh.
Seharusnya?
Ya,
siapapun harus memfasilitasi dan mendukung pembangunan mesjid, karena di antara
sarana yang paling utama dalam mengajarkan syariat Islam itu ada di mesjid. Di madrasah, sekolah dan bukan di
jalanan. Begitupun, kalau nanti mesjid itu terbangun, apakah ditakuti
ada salah isi, inikan bisa di pantau. Dalam ajaran Islam, masjid rumah ibadah terbuka,
ngak ada mesjid pribadi melainkan dibangun untuk umum, disinggahi siapa saja,
shalat siapa saja silahkan. Jadi, boleh dipantau
terus 24 jam, jadi
jangan ada
kecurigaan yang berlebihan.
Polemik
ini telah menjadi isu nasional. Pendapat Anda?
Karena
itu, apalagi telah menjadi isu nasional, semua aparatur yang terlibat
seharusnya mendukung pembangunan mesjid, agar tidak ada hambatan. Apalagi yang
saya yakini tidak pernah ada masalah dalam membangun mesjid di Aceh. Penuhi syarat-syarat
apa yang sudah ditentukan, apakah IMB, tanahnya atau hak miliknya, jadi tidak
berhak dan patut
untuk
diperdebatkan seperti ini.
Kabarnya,
ada klaim Wahabi terhadap pembangunan
masjid tersebut?
Itu
diklarifikasi saja. Apakah sekolah yang dibangun oleh Inggris, Amerika, Jepang,
menggunakan kurikulum Amerika atau Inggris itu haram? Begitu juga
bantuan dari Qatar, Yaman dan sebagainya. Jadi nggak ada urusan idiologi di
situ.
Ini
negeri kita Indonesia republik merdeka termasuk
sekoah-sekolah yang di isu berpaham ini dan itu. Tidak ada urusan
itu semua, di sini kita
punya kurikulum dan pengajarnya kita punya semua. Jadi mesjid pun
demikian tidak ada urusan apakah bantuan Saudi Arabia atau Amerika,
atau negara manapun.
Seharusnya
tidak ada hambatan?
Iya,
saya pikir itu tidak ada urusan dengan asal bantuan. Kenapa rumah bantuan tsunami dan anak yatim dari
Arab Saudi tidak pernah dipermasalahkan?
Hanya
saja jangan ada miss informasi, jangan saling mencurigai, dan orang pun ingin
membantu tujuannya untuk membuat kita lebih baik, lebih cerdas, tidak ada niat
ingin membodohkan kita.
Apakah
polemik ini dikeranakan pembangunan masjid ini bantuan dari Arab Saudi,
sehingga dianggap mesjid Wahabi?
Ajaran agama
mengatakan, ambil kebaikan dari manapun datangnya, kalau itu kebaikan. Orang
kasih kita nasi, asal nasi halal ya kita makan dan sebagainya. Coba lihat masa
stunami lalu,
berbagai bantuan datang kemari, jadi jangan berlebih-lebihan dalam mencuriagi.
Di
Indonesia, khususnya Aceh ini pertama sekali terjadi, ada penolakan pembangunan
masjid oleh umat muslim sendiri, pendapat Anda?
Saya
pikir kita ini sudah dewasa, apalagi Aceh adalah negeri syariat Islam,
hendaknya jangan cemarkan syariat Islam dengan kepicikan kita sendiri. Kalau sesama kita
saja kita tidak bisa bertasabuh, bersilaturrahmi, saling mencintai satu sama
lain bagaimana orang bisa percaya sama kita? Dan jangan lupa, di Indonesia baru
dan pertama sekali ada hambatan pembangunan mesjid yang ditolak oleh masyarakat
muslim sendiri, ini yang pertama seluruh Indonesia.
Menurut
Anda,
apa yang menjadi penyebab hal ini bisa terjadi?
Kalau
berpegang pada Alquran dan sunnah rasul, maka kita tidak akan terpecah belah
apalagi dalam membangun masjid. Makanya ayat
mengatakan athiu`llaha, wa atiurrasula, wa ulil amri mingkum. Artinya apabila
ada perbedaan pendapat maka kembalilah kepada dasar.
Maksud
Anda,
apakah ini karena tidak lagi berpegang pada ajaran yang pokok?
Iya,
Islam sudah tidak di dasarkan pada Alquran dan Sunnah Nabi lagi, tapi sudah di
dasarkan pada ranting-rantingnya. Akibatnya tentu
saja ada perbedaan. Kita pergi ke Iran begini, ke Mesir begini, Afrika Selatan
begini, Arab Saudi begini. Perbedaan itu bukan ajaran pokok, yang pokok Alquran
dan Sunah Nabi,
ketika berpegang pada dasar itu maka kita akan tetap bersatu.
Mestinya
bagaimana?
Ya
seperti pesan Nadi
Muhammad SAW. Nabi berpesan, saya tinggalkan kepada mu dua hal yang apabila
engkau berpegang kepadanya engkau tidak akan sesat, dua hal itu adalah Alquran
dan Sunnah Nabi. Nah, kenapa kita berpecah? Karena kita tidak berpegang pada
amanah nabi.
Bukankah
perbedaan adalah sunnatullah?
Iya,
perbedaan itu sudah ada sejak dahulu, bahkan sejak masa nabi sudah ada
perbedaan pendapat. Tapi Islam tetap satu, nabi tetap satu pendapat masyarakat boleh
berbeda-beda tidak apa-apa, beda model pakaian tapi tutup auratnya kan tidak
pernah beda, kemudian beda model makanan, tapi halalnya kan tidak beda. Di Arab
sana makan qurma, di tempat lain makan jagung, tapi halalnya tetap sama, jadi
kalau kita berpegang pada pokok maka tidak akan pernah ada perbedaan.
Akibat
dari perbedaan sering menimbulkan sikap radikalisasi, seperti masalah
pembangunan mesjid tadi, pendapat Anda?
Makanya,
kita harapkan kepada para guru-guru, ustadz dan ustadzah, para tengku, berikan pemahaman ajaran Islam kepada murid
dan para pengikut dengan baik, bukan memberikan pemahaman-pemahaman sektarian,
pemahaman-pemahaman cabang dan rantai agama.
Siapa
yang bertanggungjawab atas perbedaan hingga mengakibatkan radikalisasi
pemahaman?
Ini
tanggungjawab dari pada para ustadz-ustadzah, ulama, para kiyai, dan para
guru.
Terutama pemerintah daerah, agar
mengajarkan ajaran agama Islam yang rahmatan lil a`lamin. Agama Islam itu rahmatan
lil a`lamin, cara mencapainya adalah dengan akhlak yang mulia, wa ma arsalnaka
rahmatan lil alamin. Jadi ingat, apa rahmatan lil `alamin apa bala?
kalau tidak ada balanya berarti itu rahmat. Jadi, Jangan diselewengkan, oh ini
nggak cocok, tidak ada yang nggak cocok, di rumah tangga saja banyak perbedaan.
Perbedaan yang
bagaimana yang dianggap baik menurut Anda?
Dalam
hadits rasulullah, dikatakan barang siapa yang berijtihat, kemudian ijtihatnya
salah maka pahalanya satu. Jika ijtihatnya
benar maka pahalanya dua, jadi tidak ada istilah masuk neraka. Perbedaan
pendapat itu biasa sejak dahulu, kalau kita baca kitab-kita banyak sekali
perbedaan, beda tradisi beda kebiasaan, beda guru, beda pakaian beda makanan
itu sama saja, tapi Islam tetap satu, quran tetap satu Nabi Muhammad tetap
satu.
Harapan
Anda
dalam kasus ini?
Bangunan
mesjid itu harus, yang penting komunikasi di mana ada masalah diselesaikan
secara tasabuh dan bersama-sama secara silaturrahim. Tidak ada
hambatan, kita ini dengan orang lain
saja bisa bersatu, apalagi dengan kita sendiri, tinggal saja jangan berpikiran
buruk, apakah dipihak pembangun ataupun dipihak yang merasa tidak enak.
Jadi
sandarkan bahwa, mesjid ini dibangun atas dasar takwa, atas dasar ibadah kepada
Allah kalau perlu rekom cari rekom, kalau perlu IMB cari IMB dan ingat pemimpin-pemimpn kita adalah yang
baik-baik semua. Terjadi hal seperti ini tidak lain hanya karena salah
pemahaman. Coba lihat, di Aceh bermacam
rumah ibadah ada, apa lagi dengan mesjid yang merupakan tempat ibadah umat
muslim.
Kabarnya
terjadi penolakan itu disebabkan oleh para pihak yang ikut memprovokasi?
Harus
dicari provokatornya, karena akibat dari kisruh ini yang untung bukan orang Islam
melainkan orang-orang lain yang anti Islam, yang tidak suka dengan Islam,
ketika terjadi konflik sesama Islam maka yakinlah orang-orang musuh Islam akan
senang.
Apa
dampaknya dari polemik ini?
Yang
diuntungkan ya provokatornya, sementara masyarakat sekitar dan umat muslim
secara keseluruhan dirugikan. Karena, ketika ada provokasi maka yang korban
adalah semua masyarakat, sementara yang untung adalah orang-orang yang
mengambil manfaat dalam
kesempatan ini.***
Simber Tabloid MODUS ACEH Edisi XVIII

No comments:
Post a Comment