Laman

Saturday, November 26, 2016

Terkait Pembangunan Masjid Muhammadiyah Bireun, Prof. Dr. Yusni Sabi, MA

Jangan Cemarkan Syariat Islam dengan Kepicikan

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof. Dr. Yusni Sabi, MA menyayangkan sikap penolakan pembangunan Masjid At-Taqwa Muhammadiyah di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun oleh beberapa warga yang mengatasnakan masyarakat setempat.
Prof. Yusni Sabi (Photo: Klikkabar.com)
Menurut Yusni Sabi, aksi penolakan tersebut adalah sikap mencemarkan syariat Islam dengan kepicikan umat Islam itu sendiri. Bagaimana ulasannya, wartawan MODUS ACEH Irwan Saputra mewawancarainya guru besar ini, Selasa pekan lalu di ruang tunggu dosen, Program Pasca Sarjana (PPs) UIN Ar-Raniry Banda Aceh.


Polemik  pembangunan  mesjid  Muhahammadiyah di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun hingga saat ini belum usai. Pendapat Anda?

Pada dasarnya, tidak ada masalah dalam pembangunan Mesjid di Aceh, jika pun ada masalah itu hanya karena salah faham. Salah persepsi, salah informasi atau mungkin saja lengkapnya beberapa syarat formal yang belum diselesaikan. Karena itu, untuk Indonesia bahkan dunia, pembangunan mesjid itu bukan lagi menjadi masalah, mau dibangun di Bali, atau di Rusia cuma tinggal ikuti proseduralnya saja. Nah,  apalagi di Aceh yang merupakan daerah penerapan syariat Islam. Di mesjid lah syariat Islam diajarkan dilaksanakan. Salah satunya menjalankan shalat limat waktu. Jadi, aneh ketika ada hambatan dalam pembangunan mesjid di Aceh.

Seharusnya?
Ya, siapapun harus memfasilitasi dan mendukung pembangunan mesjid, karena di antara sarana yang paling utama dalam mengajarkan syariat Islam itu ada di  mesjid. Di madrasah, sekolah dan bukan di jalanan.  Begitupun, kalau  nanti mesjid itu terbangun, apakah ditakuti ada salah isi, inikan bisa di pantau. Dalam ajaran Islam, masjid rumah ibadah terbuka, ngak ada mesjid pribadi melainkan dibangun untuk umum, disinggahi siapa saja, shalat siapa saja silahkan. Jadi, boleh dipantau terus 24 jam, jadi jangan ada kecurigaan yang berlebihan.
Polemik ini telah menjadi isu nasional. Pendapat Anda?
Karena itu, apalagi telah menjadi isu nasional, semua aparatur yang terlibat seharusnya mendukung pembangunan mesjid, agar tidak ada hambatan. Apalagi yang saya yakini tidak pernah ada masalah dalam membangun mesjid di Aceh. Penuhi syarat-syarat apa yang sudah ditentukan, apakah IMB, tanahnya atau hak miliknya, jadi tidak berhak dan patut untuk diperdebatkan seperti ini.

Kabarnya, ada  klaim Wahabi terhadap pembangunan masjid tersebut?
Itu diklarifikasi saja. Apakah sekolah yang dibangun oleh Inggris, Amerika, Jepang, menggunakan kurikulum Amerika atau Inggris itu haram? Begitu juga bantuan dari Qatar, Yaman dan sebagainya. Jadi nggak ada urusan idiologi di situ. Ini negeri kita Indonesia republik merdeka termasuk  sekoah-sekolah yang di isu berpaham ini dan itu. Tidak ada urusan itu semua, di sini kita punya kurikulum dan  pengajarnya kita punya semua. Jadi mesjid pun demikian tidak ada urusan apakah bantuan Saudi Arabia atau Amerika, atau negara manapun.

Seharusnya tidak ada hambatan?
Iya, saya pikir itu tidak ada urusan dengan asal bantuan. Kenapa rumah bantuan tsunami dan anak yatim dari Arab Saudi tidak pernah dipermasalahkan? Hanya saja jangan ada miss informasi, jangan saling mencurigai, dan orang pun ingin membantu tujuannya untuk membuat kita lebih baik, lebih cerdas, tidak ada niat ingin membodohkan kita.

Apakah polemik ini dikeranakan pembangunan masjid ini bantuan dari Arab Saudi, sehingga dianggap mesjid Wahabi?
Ajaran agama mengatakan, ambil kebaikan dari manapun datangnya, kalau itu kebaikan. Orang kasih kita nasi, asal nasi halal ya kita makan dan sebagainya. Coba lihat masa stunami lalu, berbagai bantuan datang kemari, jadi jangan berlebih-lebihan dalam mencuriagi.

Di Indonesia, khususnya Aceh ini pertama sekali terjadi, ada penolakan pembangunan masjid oleh umat muslim sendiri, pendapat Anda?
Saya pikir kita ini sudah dewasa, apalagi Aceh adalah negeri syariat Islam, hendaknya jangan cemarkan syariat Islam dengan kepicikan kita sendiri. Kalau sesama kita saja kita tidak bisa bertasabuh, bersilaturrahmi, saling mencintai satu sama lain bagaimana orang bisa percaya sama kita? Dan jangan lupa, di Indonesia baru dan pertama sekali ada hambatan pembangunan mesjid yang ditolak oleh masyarakat muslim sendiri, ini yang pertama seluruh Indonesia.

Menurut Anda, apa yang menjadi penyebab hal ini bisa terjadi?
Kalau berpegang pada Alquran dan sunnah rasul, maka kita tidak akan terpecah belah apalagi dalam membangun masjid. Makanya ayat mengatakan athiu`llaha, wa atiurrasula, wa ulil amri mingkum. Artinya apabila ada perbedaan pendapat maka kembalilah kepada dasar.

Maksud Anda, apakah ini karena tidak lagi berpegang pada ajaran yang pokok?
Iya, Islam sudah tidak di dasarkan pada Alquran dan Sunnah Nabi lagi, tapi sudah di dasarkan pada ranting-rantingnya. Akibatnya tentu saja ada perbedaan. Kita pergi ke Iran begini, ke Mesir begini, Afrika Selatan begini, Arab Saudi begini. Perbedaan itu bukan ajaran pokok, yang pokok Alquran dan Sunah Nabi, ketika berpegang pada dasar itu maka kita akan tetap bersatu.

Mestinya bagaimana?
Ya seperti pesan Nadi Muhammad SAW. Nabi berpesan, saya tinggalkan kepada mu dua hal yang apabila engkau berpegang kepadanya engkau tidak akan sesat, dua hal itu adalah Alquran dan Sunnah Nabi. Nah, kenapa kita berpecah? Karena kita tidak berpegang pada amanah nabi.

Bukankah perbedaan adalah sunnatullah?
Iya, perbedaan itu sudah ada sejak dahulu, bahkan sejak masa nabi sudah ada perbedaan pendapat. Tapi Islam tetap satu, nabi tetap satu pendapat masyarakat boleh berbeda-beda tidak apa-apa, beda model pakaian tapi tutup auratnya kan tidak pernah beda, kemudian beda model makanan, tapi halalnya kan tidak beda. Di Arab sana makan qurma, di tempat lain makan jagung, tapi halalnya tetap sama, jadi kalau kita berpegang pada pokok maka tidak akan pernah ada perbedaan.

Akibat dari perbedaan sering menimbulkan sikap radikalisasi, seperti masalah pembangunan mesjid tadi, pendapat Anda?
Makanya, kita harapkan kepada para guru-guru, ustadz dan ustadzah, para tengku,  berikan pemahaman ajaran Islam kepada murid dan para pengikut dengan baik, bukan memberikan pemahaman-pemahaman sektarian, pemahaman-pemahaman cabang dan rantai agama.
Siapa yang bertanggungjawab atas perbedaan hingga mengakibatkan radikalisasi pemahaman?
Ini tanggungjawab dari pada para ustadz-ustadzah, ulama, para kiyai, dan para guru. Terutama pemerintah daerah, agar mengajarkan ajaran agama Islam yang rahmatan lil a`lamin. Agama Islam itu rahmatan lil a`lamin, cara mencapainya adalah dengan akhlak yang mulia, wa ma arsalnaka rahmatan lil alamin. Jadi ingat, apa rahmatan lil `alamin apa bala? kalau tidak ada balanya berarti itu rahmat. Jadi, Jangan diselewengkan, oh ini nggak cocok, tidak ada yang nggak cocok, di rumah tangga saja banyak perbedaan.

Perbedaan yang bagaimana yang dianggap baik menurut Anda?
Dalam hadits rasulullah, dikatakan barang siapa yang berijtihat, kemudian ijtihatnya salah maka pahalanya satu. Jika ijtihatnya benar maka pahalanya dua, jadi tidak ada istilah masuk neraka. Perbedaan pendapat itu biasa sejak dahulu, kalau kita baca kitab-kita banyak sekali perbedaan, beda tradisi beda kebiasaan, beda guru, beda pakaian beda makanan itu sama saja, tapi Islam tetap satu, quran tetap satu Nabi Muhammad tetap satu.
Harapan Anda dalam kasus ini?
Bangunan mesjid itu harus, yang penting komunikasi di mana ada masalah diselesaikan secara tasabuh dan bersama-sama secara silaturrahim. Tidak ada hambatan,  kita ini dengan orang lain saja bisa bersatu, apalagi dengan kita sendiri, tinggal saja jangan berpikiran buruk, apakah dipihak pembangun ataupun dipihak yang merasa tidak enak.
Jadi sandarkan bahwa, mesjid ini dibangun atas dasar takwa, atas dasar ibadah kepada Allah kalau perlu rekom cari rekom, kalau perlu IMB cari IMB dan ingat pemimpin-pemimpn kita adalah yang baik-baik semua. Terjadi hal seperti ini tidak lain hanya karena salah pemahaman. Coba lihat,  di Aceh bermacam rumah ibadah ada, apa lagi dengan mesjid yang merupakan tempat ibadah umat muslim.

Kabarnya terjadi penolakan itu disebabkan oleh para pihak yang ikut memprovokasi?
Harus dicari provokatornya, karena akibat dari kisruh ini yang untung bukan orang Islam melainkan orang-orang lain yang anti Islam, yang tidak suka dengan Islam, ketika terjadi konflik sesama Islam maka yakinlah orang-orang musuh Islam akan senang.

Apa dampaknya dari polemik ini?

Yang diuntungkan ya provokatornya, sementara masyarakat sekitar dan umat muslim secara keseluruhan dirugikan. Karena, ketika ada provokasi maka yang korban adalah semua masyarakat, sementara yang untung adalah orang-orang yang mengambil manfaat dalam kesempatan ini.***

Simber Tabloid MODUS ACEH Edisi XVIII

No comments:

Post a Comment