Laman

Monday, March 9, 2015

Dari Magister Sampai Doktor


Ilustrasi
Diam-diam, tak sedikit S2 dan S3 yang juga menggunakan jasa pihak ketiga untuk memuluskan langkah mendapat gelar Master dan Doktor. Penelusuran media ini, bahkan menyerempet nama sejumlah akademisi dari UIN Ar-Raniry dan Unsyiah Banda Aceh.

SUATU hari pada 2014 lalu. Sejumlah dosen salah satu fakultas, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menggelar siding khusus. Surya (samaran), salah seorang mahasiswa, dihadirkan kehadapan sidang itu. Tapi bukan lantaran dia sedang menyelesaikan tugas akhir. Sebaliknya, para dosen menilai bisnis yang dijalankan Surya berbenturan dengan aturan akademik. Ya, Surya memang berprofesi sebagai salah satu pembuat skripsi mahasiswa. “Kamu buat skripsi orang, mau membodohi orang,” kata Surya meniru ucapan para dosen yang menyidangnya kala itu.
Jelas saja Surya membantah. Pemuda ini membela diri. Kepada para dosen, dia menjelaskan bisnisnya itu “halal”. Apalagi, menurut Surya, para mahasiswa lah yang memintanya untuk membantu. Menurut Surya, bisnisnya itu sekaligus menyelamatkan citra salah satu universitas di Darussalam tersebut. “Bapak pilih yang mana? Diberitakan di koran karena banyak mahasiswa UIN tidak lulus, banyak yang sakit jiwa bahkan meninggal dunia, atau membiarkan kami membantu mereka menyelesaikan skripsinya. Saya katakan begitu pada mereka,” ungkap Surya kepada media ini, Selasa pekan lalu.
Diam-diam, sejumlah dosen terkesan dengan kemampuan Surya. Apalagi dia memang sudah dikenal memiliki kemampuan dalam menulis karya tulis ilmiah. Bukan hanya untuk level skripsi, tapi juga tesis dan disertasi. “Salah seorang memanggil saya usai sidang itu. Dia minta dibuat disertasinya,” aku Surya.
Pria yang mengaku berhasil meraup ratusan juga rupiah per tahun dari bisnis jasa pembuatan karya tulis ilmiah ini mengangguk setuju. Dosen itu, tak usahlah disebut namanya, lantas menyerahkan sebuah surat penelitian. Sisanya, diolah oleh Surya, termasuk semua data dan materi disertasi.
Untuk jasanya itu, Surya menarik biaya Rp 50 juta. Dia mengaku menyelesaikan disertasi itu dalam waktu tiga bulan. “Sudah selesai saya buat. Filenya ada disini,” kata Surya sambil menunjukkan satu flashdisk. Untuk UIN Ar-Raniry, Surya memiliki dua klien untuk program doktoral. Keduanya adalah dosen di salah satu fakultas di sana. Satu dosen lainnya, Surya mematok Rp 35 juta untuk satu disertasi yang dia tulis.
Sedangkan untuk tesis, saat ini Surya mengerjakan tiga karya tulis ilmiah milik mahasiswa Fakultas Hukum, Fisika dan Ekonomi Unsyiah. Untuk tesis ini, dia memungut biaya senilai Rp 10 juta.
Eksistensi Surya di bidang penulisan karya ilmiah memang tak hanya diketahui mahasiswa, tapi juga kalangan dosen. Inilah yang membuat sejumlah kalangan gerah karena bisnisnya itu dianggap membawa pembodohan bagi mahasiswa. Bahkan, ijazahya sempat teracam dicabut. Tapi Surya berhasil membela diri. Alhasil, ijazahnya tidak jadi dicabut. Dia hanya diperingati untuk tidak melakukan transaksi di kampus.
Surya memang bukan satu-satunya yang berprofesi sebagai pembuat karya tulis ilmiah.  Profesi yang dikalangan akademisi dikenal dengan “dukun” skripsi ini juga kabarnya dilakoni kalangan akademisi itu sendiri. Tak sedikit karya tulis mahasiwa S2 dan S3 justru dikerjakan oleh oknum dosen yang bergentayangan di dunia akademik.  Baik di Unsyiah, UIN Ar-Raniry serta sejumlah perguruan tinggi swasta lainnya yang ada di Banda Aceh serta beberapa kota lain di Aceh.
Seorang sumber MODUS ACEH di salah satu Program Magister di Unsyiah mengaku ikut membuat tesis mahasiswa S2. Umumnya, kata dia, tesis tersebut milik mahasiswa yang tak sempat mengerjakan sendiri karena alasan padatnya aktivitas. “Kebanyakan dari kalangan legislatif dan birokrat,” ungkap dia.

Sumber media ini yang lain juga mengatakan, banyak pihak yang kini merambah bisnis tersebut. Di Banda Aceh saja, katanya, lebih dari 20 akademisi yang diketahui berprofesi sebagai dukun skripsi. Faktanya, dari hasil penelusuran media ini memang menunjukkan sahihnya apa yang dikakatan sumber tadi memang benar-benar adanya. Bisnis ini memang begitu menggiurkan.***

No comments:

Post a Comment