![]() |
| Ilustrasi |
SUATU hari
pada 2014 lalu. Sejumlah dosen salah satu fakultas, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menggelar siding khusus. Surya (samaran), salah seorang mahasiswa, dihadirkan
kehadapan sidang itu. Tapi bukan lantaran dia sedang menyelesaikan tugas akhir.
Sebaliknya, para dosen menilai bisnis yang dijalankan Surya berbenturan dengan
aturan akademik. Ya, Surya memang berprofesi sebagai salah satu pembuat skripsi
mahasiswa. “Kamu buat skripsi orang, mau membodohi orang,” kata Surya meniru
ucapan para dosen yang menyidangnya kala itu.
Jelas saja Surya membantah. Pemuda ini membela
diri. Kepada para dosen, dia menjelaskan bisnisnya itu “halal”. Apalagi,
menurut Surya, para mahasiswa lah yang memintanya untuk membantu. Menurut
Surya, bisnisnya itu sekaligus menyelamatkan citra salah satu universitas di
Darussalam tersebut. “Bapak pilih yang mana? Diberitakan di koran karena banyak
mahasiswa UIN tidak lulus, banyak yang sakit jiwa bahkan meninggal dunia, atau
membiarkan kami membantu mereka menyelesaikan skripsinya. Saya katakan begitu
pada mereka,” ungkap Surya
kepada media ini, Selasa pekan lalu.
Diam-diam, sejumlah dosen terkesan dengan
kemampuan Surya. Apalagi
dia memang sudah dikenal memiliki
kemampuan dalam menulis karya tulis ilmiah. Bukan hanya untuk level
skripsi, tapi juga tesis dan disertasi. “Salah seorang memanggil saya usai
sidang itu. Dia minta dibuat disertasinya,” aku Surya.
Pria yang mengaku berhasil meraup ratusan juga
rupiah per tahun dari bisnis jasa pembuatan karya tulis
ilmiah ini mengangguk setuju. Dosen itu, tak usahlah disebut namanya, lantas
menyerahkan sebuah surat penelitian. Sisanya, diolah oleh Surya, termasuk semua
data dan materi disertasi.
Untuk jasanya itu, Surya menarik biaya Rp 50
juta. Dia mengaku menyelesaikan disertasi itu dalam waktu tiga bulan. “Sudah
selesai saya buat. Filenya ada disini,” kata Surya sambil menunjukkan satu flashdisk. Untuk UIN Ar-Raniry, Surya memiliki dua klien untuk
program doktoral. Keduanya adalah dosen di salah satu fakultas di sana.
Satu dosen lainnya, Surya mematok Rp 35 juta untuk satu disertasi yang dia tulis.
Sedangkan untuk tesis, saat ini Surya mengerjakan
tiga karya tulis ilmiah milik mahasiswa Fakultas Hukum, Fisika dan Ekonomi Unsyiah. Untuk tesis ini, dia memungut biaya senilai Rp 10
juta.
Eksistensi Surya di bidang
penulisan karya ilmiah memang tak hanya diketahui mahasiswa, tapi juga kalangan
dosen. Inilah yang membuat sejumlah kalangan gerah karena bisnisnya itu
dianggap membawa pembodohan bagi mahasiswa. Bahkan, ijazahya sempat teracam
dicabut. Tapi Surya berhasil membela diri. Alhasil, ijazahnya tidak jadi
dicabut. Dia hanya diperingati untuk tidak melakukan transaksi di kampus.
Surya memang bukan satu-satunya yang berprofesi
sebagai pembuat karya tulis ilmiah.
Profesi yang dikalangan akademisi dikenal dengan “dukun”
skripsi ini juga kabarnya dilakoni kalangan akademisi
itu sendiri. Tak sedikit karya tulis mahasiwa S2 dan S3 justru dikerjakan oleh
oknum dosen yang bergentayangan di dunia akademik.
Baik di Unsyiah, UIN Ar-Raniry serta sejumlah
perguruan tinggi swasta lainnya yang ada di Banda Aceh serta beberapa kota lain
di Aceh.
Seorang sumber MODUS ACEH di salah satu Program Magister di Unsyiah mengaku ikut membuat tesis
mahasiswa S2. Umumnya, kata dia, tesis tersebut milik mahasiswa yang tak sempat
mengerjakan sendiri karena alasan padatnya aktivitas. “Kebanyakan dari kalangan legislatif dan birokrat,” ungkap dia.
Sumber media ini yang lain juga mengatakan,
banyak pihak yang kini merambah bisnis tersebut. Di Banda Aceh saja, katanya,
lebih dari 20 akademisi yang diketahui berprofesi sebagai dukun skripsi. Faktanya, dari hasil penelusuran
media ini memang menunjukkan sahihnya apa yang dikakatan sumber tadi
memang benar-benar
adanya. Bisnis ini memang begitu menggiurkan.***

No comments:
Post a Comment