Laman

Monday, March 9, 2015

Rosnida “Ternoda” Karena Berita


Mahasiswa UIN Ar-Raniry saat kuliah di GPIB
Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, merestui ada pelajaran gender. Lalu, Rosnida Sari bernisiatif membuat perbandingan pengetahuan mahasiswa dengan pendeta GPIB. Mengapa harus di gereja?

Irwan Saputra

DUA bulan lalu, sekitar 20 mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Universitas Islam  Negeri (UIN) Ar-Raniry berkumpul di Geraja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB), Jalan Pocut Baren, Kampung Mulia, Banda Aceh. Hari itu, Senin, 13 November 2014 silam.
Di gereja itu, mereka menyerap pengetahuan soal persamaan hak perempuan yang diatur dalam agama Kristen Protestan. Dinobat sebagai pemateri siang itu, tentu tokoh yang berpengetahuan dibidang agama dimaksud, pendeta GPIB Domidoyo Ratupenu.
Pendeta asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menerangkan hak gender yang diatur dalam agamanya. Domidoyo Ratupenu memberi kuliah selama satu jam. Transfer pengetahuan di luar agama Islam dalam pemahaman gender dengan 20 mahasiswa di luar kampus siang itu, didampingi dosen pengasuh mata kuliah gender, Rosnida Sari.
“Kami ke sana hanya untuk mengetahui persepsi gender dari sudut pandang agama lain,” ujar beberapa mahasiswa Rosnida Sari, Selasa pekan lalu. Karena alasan lain, mereka minta indentitas mereka tak dipublikasi.
Awalnya, mahasiswa ini berencana menyerap pengetahuan gender dari agama Hindu, tapi karena tidak ada jawaban dari permintaan ini dari pemangku agama Hindu di Banda Aceh, maka beralih pada GPIB.
“Awalnya kami mau mengetahui dari sudut pandang agama Hindu, karena tidak ada jawaban, kami memilih pergi ke gereja GPIB,” kata mahasiswa tadi, menceritakan.
Itu sebabnya, para mahasiwa tak menyalahkan dosennya itu. Sebab, tujuan hanya semata-mata untuk memperkaya pengetahuan dari sudut pandang agama. Selain itu mereka juga mengaku telah banyak paham kedudukan perempuan dalam agama Islam.
“Kami telah banyak mengetahui kedudukan perempuan dalam agama Islam, kan tidak salah kami mengetahui dari sudut pandang agama lain, tentu mesti kami dengar langsung dari tokoh agama lain,” kata mahasiswa tadi, menerangkan panjang lebar ikhwal mereka bertemu pendeta GPIB, Domidoyo Ratupenu.
Rosnida Sari
Saat ditanya bagaimana pemahaman gender dalam agama Kristen Protestan yang diajarkan pendeta Domidoyo, mahasiswa ini menjelaskan, dalam alkitab, perempuan di nomor duakan dari laki-laki, akan tetapi ia sendiri mengaku bingung, disatu sisi mereka percaya alkitab, disisi lain tidak menurutinya.
Yang saya pahami, mereka protestan berpandangan kedudukan perempuan dengan laki-laki sama saja, inikan berbeda dengan yang diajarkan dalam alkitab mereka,” jelasnya.
Sedangkan dalam Islam ia menambahkan, kedudukan perempuan dan laki-laki telah diatur dalam Al-Quran dan kedudukannya pun sama di mata Tuhan, hanya takwa yang membedakannya.Kalau dalam Islam kan perempuan dimuliakan dan peranannya pun sesuai dengan aturan yang ada, jadi tidak bisa semena-mena”. Dia menyebutkan contoh seperti dalam rumah tangga yang jadi pemimpinnya adalah laki-laki. Dan tidak boleh perempuan.
Mahasiswa lain yang juga ikut dalam studi gender di gereja GPIB mengaku, materi yang dijelaskan pendeta Domidoyo Ratupenu, tidak ada unsur permurtadan. Mereka di gereja itu hanya mendengar soal pemahaman gender dalam agama Kristen Protestan.
“Kami hanya mendengar pendeta menerangkan tentang kedudukan perempuan dalam alkitab, kalau ada antara kami yang tidak paham kami bertanya, lagi pula Ibu Sari juga ada di sana bersama kami,” jelasnya.
Karena itu, belasan mahasiswa tadi mengaku, kecaman seperti yang diberitakan media pers berlebihan. Tapi mahasiswa itu takut membantahnya karena bisa dianggap negatif oleh masyarakat, karena tidak paham persoalan dan materi yang kami pelajari dari Pendeta GPIB Domidoyo Ratupenu.
Setali tiga uang, pendeta Domidoyo Ratupenu menambahkan, apa yang dibagi dengan mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, UIN Ar-Raniry siang itu, hanya soal kedudukan perempuan dalam alkitab tidak ada materi yang mengarah pada kristenisasi.
Dia menerangkan, dalam alkitab milik agamanya perempuan memang lebih rendah kedudukannya ketimbang laki-laki, akan tetapi sebagai penganut Kristen Protestan ia berpandangan, ajaran tersebut harus dilihat secara konteks zaman, karena alkitab ditulis di Israel yang sangat kental budaya patriarki. “Sekarangkan perempuan boleh menjadi pendeta, jadi faktor budaya sangat berpengaruh dalam menafsirkan alkitab” jelasnya.
Domidoyo Ratupenu melanjutkan, pertemuan itu dilakukan atas permintaan Rosnida Sari pada Senin pagi, 13 November 2014. Karena merasa siap, Domidoyo menyanggupinya. Begitupun kata Domidoyo, mata kuliah yang dipaparkan tak menyimpang. Kata Domidoyo hanya sebatas menerangkan kedudukan perempuan dalam alkitab.
Itu sebabnya, Domidoyo mengaku kaget bila ada klaim pertemuan itu ada misi kristenisasi. “Saya hanya memaparkan kedudukan perempuan dalam al-kitab, tidak lebih dari itu, jika dikatakan ada kristenisasi, perlu diketahui saya orang yang anti kristenisasi”. Ditanyakan bagaimana maksudnya anti kristenisasi, ia menjelaskan bahwa tugas gereja sekarang tidak lagi untuk mengajak orang agar memeluk agama kristen, tetapi bagaimana caranya membangun peradaban yang baik, tidak hanya sesama orang kristen tetapi juga dengan orang diluar kristen. “Maka kedudukan orang kristen dan bukan kristen setara dalam membangun peradaban” jelasnya.
Salah seorang dosen Fakultas Dakwah UIN Ar-Raniry yang tak mau namanya disebutkan menambahkan, apa yang dilakukan juniornya-Rosnida Sari, itu hanya sebatas mendekatkan materi pada objek kajian studi bidang gender yang diasuhnya.
Secara akademik kata dosen tadi, tidak ada aturan yang dilanggar. Namun, dosen itu dapat memahami apa yang telah dilakukan civitas akademika Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Ar-Raniry. “Ini sangat dilematis, bila dekan tak bertindak dianggap tidak bertanggungjawab, bila membela Rosnida, takut dikecam masyarakat,” katanya, Senin pekan lalu.
Lanjutnya lagi, beragam tanggapan muncul di media massa lebih mengarah pada perasaan emosional ke-Acehan yang  fanatik. Tapi, apa yang diberitakan selama ini kata dosen tadi tak berimbang. Namun, secara etika katanya memang kurang etis karena itu terjadi di Aceh.
“Semua ini hanya karena perasaan emosi masyarakat saja, dan juga akibat pemberitaan yang tidak berimbang, secara akademik tidak ada yang dilanggar, apa salah belajar ke gereja toh kita hanya ingin mengetahui semata, tentulah kita harus mendengar dari mereka,” ujarnya.
Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Syahrizal Abbas berpendapat, Rosnida Sari tidak salah dan tak ada yang dilanggar. “Dalam kontek keilmuan, seperti ini lazim terjadi, menuntut ilmu tidak ada batasannya,” katanya, Rabu pekan lalu.
Namun, dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengaku tetap prihatin dengan kondisi yang ada. Seharusnya, lanjut Syahrizal, Rosnida Sari dalam menambah pengetahuan mahasiswa tentang gender, tidak melakukan pertemuan dalam gereja.  “Saya prihatin kenapa tidak digunakan tempat yang lain, karena belajar ilmu Keislaman sangat terikat dengan nilai dan kultur setempat, hal ini mungkin bisa dilakukan tempat lain,” ujarnya.
Syahrizal berharap, masyarakat Aceh tetap santun karena Islam tidak mengajarkan sikap caci-maki. Ia pun meminta agar semua pihak dapat menerima perbedaan pendapat.

Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Ar-Raniry Dr. A Rani Usman, M.Si mengaku semua berkas sudah diserahkan ke Rektor UIN Ar-Raniry. “Ini tidak ada masalah apa-apa, hanya media yang membesar-besarkannya, kata mantan calon Rektor UIN, Dr. A Rani Usman, di Fakultas Dakwah, Senin pekan lalu.***

Sunber: Tabloid Modus Aceh

No comments:

Post a Comment