Laman

Wednesday, March 11, 2015

Harga tak Sama Cakap


Ilustrasi
Pemerintah Aceh melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 541/20/2014, menetapkan. Harga Enceran Tertinggi (HET) Elpiji 3 kilogram di pangkalan Rp 16 ribu. Berharap subsidi tepat sasaran, justru masyarakat sering tidak kebagian. Diduga, ada pangkalan yang bermain curang untuk meraih untung besar.

Irwan Saputra
            
MINGGU pagi pekan lalu, jarum jam masih bergerak pukul 07.00 WIB. Di tengah desingan suara kendaraan yang lalu lalang di jalan yang menghubungi Krueng Cut dengan Banda Aceh. Sepasang suami isteri dan seorang balita, berhenti persis di depan salah satu kios.
Seketika, ibu rumah tangga itu turun dari motor skutik yang dikendarai suaminya. Sambil menjinjing tabung kosong, ibu satu anak ini menghampiri seorang pedagang gas elpiji tiga kilogram. Dia sering disapa Pak Abdullah.
“Ada gas tiga kilo Pak, berapa harganya,” tanya ibu tadi sambil memeriksa gas yang dipajang Abdullah di depan kiosnya.
“Ada, Rp 30 ribu,” jawab Abdullah singkat. “Kok, mahal sekali. Nggak bisa kurang,” timpa ibu tadi setengah mengiba. “Nggak bisa, karena saya juga ambil mahal,” balas Abdullah, datar.
Merasa tidak ada harapan, si ibu tersebut bergegas, mendekati skutik yang dikendarai suaminya. Sambil berlalu dia berujar. “Sudahlah, tidak jadi beli”.
***
            Elpiji tiga kilogram adalah gas yang diperuntukkan pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah alias dibawah satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan. Selain itu, juga diperuntukkan untuk usah mikro.
Untuk mendapatkan gas elpiji tiga kilogram dari pangkalan, masyarakat disyaratkan untuk membawa kartu tanda penduduk (KTP) atau kartu keluarga (KK). Ini sebagai bukti bahwa masyarakat tersebut adalah benar warga setempat atau berada dalam jangkauan pankalan.
Meski demikian, masyarakat mengaku kesal. Sebab, mereka sering tidak kebagian gas subsidi dari pemerintah. Maklum, karena gas elpiji tiga kilogram di pangkalan terlalu cepat kosong atau sering kehabisan. Sementara, mereka membutuhkan untuk keperluan dapur.
Untuk menghidupkan dapur, mereka terpaksa meronggoh kocek hingga dua kali lipat dari harga dasar elpiji subsidi di pangkalan. Ini berarti, mereka harus membeli gas elpiji tiga kg di kios pengencer dengan harga Rp 28 ribu sampai Rp 30 ribu per tabung. Padahal pemerintah melalui Pertamina terus menambah pasokan gas subsidi tersebut.
Patut diduga, ada pangkalan penyedia gas elpiji tiga kilogram yang bermain curang. Tujuannya,  untuk memperoleh keuntungan besar dengan mengorbankan masayarakat kecil.
Mawardi, seorang warga Lam Ateuk,  Kabupaten Aceh Besar mengaku. Akibat permainan harga tadi, dia terzalimi. Karena, saat dia membutuhkan gas di pangkalan, nyatanya sering habis. Yang diketahui Mawardi, gas yang dipasok setiap hari dalam jumlah banyak.
“Masak gas bisa habis dalam satu jam. Jika bukan digunakan oleh usaha besar, mana mungkin orang selalu beli gas setiap hari, sehingga saya terpaksa membelinya di enceran dengan harga Rp 28 ribu,” ungkap penjual buah keliling ini.
Dia menduga, ada pangkalan yang bermain curang. Dia memnberi contoh. Pangkalan di Lam Ateuk, Aceh Besar. Gas yang di pasok oleh agen Pertamina pada malam hari, saat pagi atau sekitar jam sepuluh sudah habis terjual. “Mustahil,” katanya singkat pada media ini, Rabu pekan lalu.
***
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah gambaran nasib yang diakami masyarakat kelas bawah. Lihat saja, gas elpiji tiga kilogram yang disubsidi pemerintah, ternyata ditilep oleh oknum di pangkalan, guna meraih untung besar.
Setali tiga uang. Nasib apes Mawardi, juga dialami seorang ibu rumah di Blang Krueng, Aceh Besar. Kepada media ini dia mengaku, pangkalan gas elpiji tiga kilogram di desanya sering menjual gas subsidi kepada pengencer yang diangkut dengan becak. Lalu, gas tadi dijual kembali di kampung lain, sementara untuk warga desa mereka, sering tidak mencukupi.
“Sering cepat habis,” ungkap Ibu tadi. Karena alasan keamanan dirinya, dia minta identitasnya tidak ditulis.
Dia menambahkan, harga gas elipiji subsidi tiga kilogram pernah dibelinya dengan harga  Rp 20 ribu per tabung. “Itu masih ada Dek, belum habis tabung bulan kemaren saya pakai. Saya beli seharga Rp 20 ribu,” jelasnya.
Pengakuan itu dibenarkan Khatijah, juga warga Blang Krueng, teman Ibu ini di pagi itu. Malah, Khatijah mengaku semua masyarakat lainnya bersedia untuk jadi saksi terhadap permainan culas pangkalan gas elpiji tiga kilogram di kampungnya itu. Kata Khatijah, mereka sering menjual tabung ke desa lain, sementara untuk warga kampung mereka sering dikatakan habis.
“Mana mungkin gas masuk pada malam hari, esok pagi saat kami mau beli sudah tidak ada lagi. Kami  terpaksa beli dienceran atau pergi ke Desa Baet,” jelasnya.
Dia menambahkan. “Hanya sekarang harganya sudah Rp 16 ribu, setelah ditegur oleh aparat desa,” sebut Khatijahpada media ini, Kamis pekan lalu.
Sebelumnya,  seorang perempuan yang sering disapa Mak Nong Barat mengaku. Pangkalan gas elpiji di kampungnya sering mematok harga secara meulap-lap (angin-anginan) alias tidak menentu. “Kadang Rp 18 ribu atau Rp 16 ribu,” jelasnya pada media ini, hari Selasa pekan lalu.
***
Penelusuran MODUS ACEH selama dua pekan, pemakai gas elpiji tiga kilogram tidak hanya berasal dari masyarakat kalangan bawah atau usaha mikro. Sebaliknya, ada juga dari kalangan  menengah ke atas. Mereka dengan ‘senyum’ menikmati gas subsidi bantuan pemerintah.
Ambil contoh, salah seorang tokoh masyarakat di Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh. Dia berprofesi sebagai dosen. Kepada media dia mengaku, masih membeli gas elpiji tiga kilogram untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Saat ditanya kenapa tidak pakai gas elpiji ukuran 12 kilogram? Dia mengaku, karena terlalu berat. Sementara ukuran tiga kilogram relatif lebih ringan.
Tak sampai di sini, media ini juga melakukan penelusuran di Pasar Ulee Kareng, Banda Aceh. Hasilnya, ada masyarakat kelas menengah  atas yang membeli dan menikmati gas bersubsidi. Dia membeli gas elpiji tiga kilogram di pangkalan Cut Ros Kemala Dewi dengan menggunakan mobil Kijang Innova.
            Saat ditemui media ini pekan lalu, Cut Ros Kemala Dewi mengaku, gas elpiji di pangkalannya tidak lebih dari dua jam sudah habis. Dia mengambil 100 tabung dari agen resmi yang dipasok pada malam hari.
“Saya buka jam sembilan pagi. Sekitar satu jam setengah sudah habis terjual,” kata Cut, Rabu pekan lalu.
Untuk memastikan kebenaran informasi Cut Ros Kemala Dewi, Kamis pekan lalu, media ini melakukan kroscek dengan menghitung jumlah tabung yang keluar atau dibeli warga setempat.  Jumlahnya, delapan puluh lima tabung habis terjual dalam jangka waktu satu setengah jam. Ketika ada warga yang membutuhkan, Cut Ros mengaku sudah habis terjual. Habis, sudah habis,” kata warga Ulee Kareng ini.
Kepada media ini, Cut Ros menjelaskan. “Lima belas tabung lagi saya simpan, orang Pertamina bilang untuk jaga-jaga. Jika ada masyarakat yang sangat membutuhkan boleh dikasih. Lagi pula, mereka baru ambil kemaren,” ungkap dia.
Soal gonjang ganjing adanya dugaan para pemilik pangkalan gas elpiji tiga kilogram bermain dengan pengencer, memang bukan cerita baru. Bayangkan, hingga saat ini, praktek haram itu terus saja terjadi. Apabila dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah dan tanpa pengawasan dari Pertamina, tentu akan menjadi preseden buruk.
Rahmat, salah seorang pengencer di Gampong Blang Krueng Aceh Besar mengaku. Dia mengangkut gas elpiji tiga kilogram ke kiosnya dengan mengukan becak mesin. Dia membelinya dua hari sekali. Soal jumlah tabung yang dia dapatkan dari pangkalan, Rahmat mengaku tidak tetap. Semua tergantung pada berapa banyak yang diberikan pangkalan.
“Kadang 20 tabung, ada juga 15 atau bahkan cuma 10 tabung,” jelas Rahmat pada media ini, Kamis pekan lalu. Rahmat mengaku, harus bermain gelap dengan pangkalan untuk mendapatkan gas. Tentu saja, atas dasar saling menguntungkan. Dia juga mengaku ikut bermain dengan salah satu pangkalan yang ada di Aceh Besar.
“Saya katakan pada dia, saya mau beli gas, cuma saya tidak punya KTP, atau surat, berapa harga per tabung,” ungkap Rahmat.
Rahmat menambahkan, setelah pemilik pangkalan setuju untuk memberikan gas padanya dan dia jual kembali secara enceran, baru kemudian diberikan.
Dia memberi bocoran, bila ia membeli dengan harga Rp 23 ribu per tabung, saat menjualnya harganya sangat tergantung pada harga di pasaran. Jika permintaan banyak, maka ia akan menjual dengan harga Rp 30 ribu per tabung. Sebaliknya,  kalau permintaan kurang, dia menjualnya dengan harga Rp 28 ribu per tabung.
“Saya hanya penjual, ya saya melihat keadaan. Jika sedang langka, saya jual Rp 30 ribu. Kalau sedang banyak, saya  jual Rp 28 ribu per tabung,” sebut Rahmat.
***
Soal harga gas elpiji tiga kilogram, sebenarnya sudah diatur berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Aceh, Nomor 541/20/2014, tentang Harga Enceran Tertinggi (HET). Untuk radius 60 kilometer dari Depot Elpiji Pertamina Aceh adalah Rp 16 ribu per tabung. Rinciannya, harga gas elpiji tiga kilogram per tabung yang didapatkan dari agen resmi Rp 14 ribu, sedangkan pangkalan harus menjual kemasyarakat dengan harga tertinggi Rp 16 ribu. Ini   berarti, per tabung pengkalan mendapatkan keuntungan Rp 2 ribu. Namun, masih ada pangkalan yang menjual dan mencari keuntungan lebih besar dengan menaikkan harga.
Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemko Banda Aceh Arie Maula Kafka, S.Sos kepada media ini pekan lalu mengaku. Pihaknya memang masih kecolongan dalam mengawasi harga gas bersubsidi. Buktinya, masih ada pangkalan nakal yang bermain. Karena itu, dia meminta masyarakat untuk melapor, jika ada pihak atau pedagang yang bermain.
“Lapor saja ke kami biar kita cabut ijin usahanya,” ancam  Arie. Dia juga mengaku telah membuat surat edaran ke seluruh kecamatan dalam Wilayah Kota Banda Aceh. Isinya,  tidak boleh menjual barang bersubsidi selain dari pangkalan resmi.
Menurutnya, di Banda Aceh ada 80 pangkalan gas elpiji yang tersebar di sembilan kecamatan. “Kami telah keluarkan surat edaran, hanya pangkalan resmi saja yang boleh jual gas,”  ujarnya.
Arie Maula mengaku, masih ada pengencer yang menjual barang bersubsidi. Tapi, itu dilakukan di kawasan pinggiran kota. “Rata-rata di pinggiran, ada nggak yang jualan di Peunayong,” kata Arie, balik bertanya. 
Dia mengaku selalu melakukan operasi pasar dengan Pertamina. Tujuannya, agar tidak terjadi kelangkaan gas akibat pasok gas dari pangkalan ke pengencer. Sebaliknya, dia juga mengaku heran kenapa masyarakat masih sulit mendapatkan gas subsidi di pangkalan. Padahal, Pertamina terus meningkatkan pendistribusian. “Sebenarnya, semakin banyak gas elpiji yang didistribusikan, tentu tidak akan terjadi kelangkaan di pangkalan. Karena kami telah mendapatkan sampel (contoh), masyarakat miskin di Banda Aceh paling banyak mengunakan dua tabung dalam satu bulan,” ujarnya.
Kepala Bagian Elpiji PT. Pertamina Persero Aceh, A. Muhajir Kahuripan, saat  ditemui di Kantor PT. Pertamina Persero, Jalan Tgk. H. M. Daud Berueh, Selasa pekan lalu  mengatakan. Terkait dugaan adanya permainan distribusi gas antara pangkalan dengan pengencer, tidak menjadi kewenangan pihaknya. Itu menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten atau Kota. “Pertamina hanya penyedia, sedangkan pengawasan ada di pihak pemerintah daerah. Dan, kami telah membangun komunikasi serta kerja sama dengan Pemda,” jelas Muhajir.
Terkait pengawasan, pihaknya hanya melakukan monitoring ke pangkalan. Sebab, itulah jalur resmi tentang penyaluran gas bersubsidi. “Kami hanya bisa melakukan monitoring ke pangkalan. Kalau ada pangkalan yang menjual mahal, tolong diinformasikan,” harap Muhajir.
Begitupun, pihaknya terus melakukan peningkatan dalam pendistribusian gas elpiji. Untuk tahun tahun 2013 lalu misalnya,  di Aceh telah disalurkan 44 juta tabung. Sementara tahun 2014 berjumlah 56 juta tabung, sedangkan untuk wilayah Banda Aceh (2014), Pertamina menyalurkan 843.920 tabung.
Muhajir berharap, gas elpiji tiga kilogram dapat disalurkan tepat sasaran. “Golongan masyarakat yang berhak memakai gas elpiji tiga kilogram adalah yang berpenghasilan satu juta lima ratus per bulan serta usaha mikro yang omsetnya Rp 25 juta  per bulan,” rinci Muhajir.

Lantas, apa yang harus dilakukan jika masih ada para pengecer dan pengusaha di pangkalan yang membandel? Saat, aparat penegak hukum turun tangan.***

No comments:

Post a Comment