![]() |
| Ilustrasi |
Irwan Saputra
MINGGU pagi pekan lalu,
jarum jam masih bergerak pukul 07.00 WIB. Di tengah desingan suara kendaraan
yang lalu lalang di jalan yang menghubungi Krueng Cut dengan Banda Aceh. Sepasang
suami isteri dan seorang balita, berhenti persis di depan salah satu kios.
Seketika, ibu rumah
tangga itu turun dari motor skutik yang dikendarai suaminya. Sambil menjinjing
tabung kosong, ibu satu anak ini menghampiri seorang pedagang gas elpiji tiga
kilogram. Dia sering disapa Pak Abdullah.
“Ada gas tiga kilo Pak,
berapa harganya,” tanya ibu tadi sambil memeriksa gas yang dipajang Abdullah di
depan kiosnya.
“Ada, Rp 30 ribu,” jawab
Abdullah singkat. “Kok, mahal sekali. Nggak bisa kurang,” timpa ibu tadi
setengah mengiba. “Nggak bisa, karena saya juga ambil mahal,” balas Abdullah,
datar.
Merasa tidak ada
harapan, si ibu tersebut bergegas, mendekati skutik yang dikendarai suaminya. Sambil
berlalu dia berujar. “Sudahlah, tidak jadi beli”.
***
Elpiji
tiga kilogram adalah gas yang diperuntukkan pemerintah untuk masyarakat
berpenghasilan rendah alias dibawah satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan.
Selain itu, juga diperuntukkan untuk usah mikro.
Untuk mendapatkan gas
elpiji tiga kilogram dari pangkalan, masyarakat disyaratkan untuk membawa kartu
tanda penduduk (KTP) atau kartu keluarga (KK). Ini sebagai bukti bahwa
masyarakat tersebut adalah benar warga setempat atau berada dalam jangkauan
pankalan.
Meski demikian,
masyarakat mengaku kesal. Sebab, mereka sering tidak kebagian gas subsidi dari pemerintah.
Maklum, karena gas elpiji tiga kilogram di pangkalan
terlalu cepat kosong atau sering kehabisan. Sementara, mereka membutuhkan untuk
keperluan dapur.
Untuk menghidupkan
dapur, mereka terpaksa meronggoh kocek hingga dua kali lipat dari harga dasar elpiji
subsidi di pangkalan. Ini berarti, mereka harus membeli gas elpiji tiga
kg di kios pengencer dengan harga Rp 28 ribu sampai Rp 30 ribu per tabung. Padahal
pemerintah melalui Pertamina terus menambah pasokan gas subsidi tersebut.
Patut diduga, ada pangkalan
penyedia gas elpiji tiga kilogram yang bermain curang. Tujuannya,
untuk memperoleh keuntungan besar dengan
mengorbankan masayarakat kecil.
Mawardi, seorang warga
Lam Ateuk, Kabupaten Aceh Besar mengaku.
Akibat permainan harga tadi, dia terzalimi. Karena, saat dia membutuhkan gas di
pangkalan, nyatanya sering habis. Yang diketahui Mawardi, gas yang dipasok setiap
hari dalam jumlah banyak.
“Masak gas bisa habis
dalam satu jam. Jika bukan digunakan oleh usaha besar, mana mungkin orang
selalu beli gas setiap hari, sehingga saya terpaksa membelinya di enceran
dengan harga Rp 28 ribu,” ungkap penjual buah keliling ini.
Dia menduga, ada
pangkalan yang bermain curang. Dia memnberi contoh. Pangkalan di Lam Ateuk,
Aceh Besar. Gas yang di pasok oleh agen Pertamina pada malam hari, saat pagi
atau sekitar jam sepuluh sudah habis terjual. “Mustahil,” katanya singkat pada
media ini, Rabu pekan lalu.
***
Sudah jatuh tertimpa
tangga pula. Itulah gambaran nasib yang diakami masyarakat kelas bawah. Lihat
saja, gas elpiji tiga kilogram yang disubsidi pemerintah, ternyata ditilep oleh
oknum di pangkalan, guna meraih untung besar.
Setali tiga uang. Nasib
apes Mawardi, juga dialami seorang ibu rumah di Blang Krueng, Aceh Besar.
Kepada media ini dia mengaku, pangkalan gas elpiji tiga kilogram di desanya
sering menjual gas subsidi kepada pengencer yang diangkut dengan becak. Lalu,
gas tadi dijual kembali di kampung lain, sementara untuk warga desa mereka,
sering tidak mencukupi.
“Sering cepat habis,” ungkap
Ibu tadi. Karena alasan keamanan dirinya, dia minta identitasnya tidak ditulis.
Dia menambahkan, harga
gas elipiji subsidi tiga kilogram pernah dibelinya dengan harga Rp 20 ribu per tabung. “Itu masih ada Dek,
belum habis tabung bulan kemaren saya pakai. Saya beli seharga Rp 20 ribu,”
jelasnya.
Pengakuan itu dibenarkan
Khatijah, juga warga Blang Krueng, teman Ibu ini di pagi itu. Malah, Khatijah
mengaku semua masyarakat lainnya bersedia untuk jadi saksi terhadap permainan
culas pangkalan gas elpiji tiga kilogram di kampungnya itu. Kata Khatijah,
mereka sering menjual tabung ke desa lain, sementara untuk warga kampung mereka
sering dikatakan habis.
“Mana mungkin gas masuk pada
malam hari, esok pagi saat kami mau beli sudah tidak ada lagi. Kami terpaksa beli dienceran atau pergi ke Desa Baet,”
jelasnya.
Dia menambahkan. “Hanya
sekarang harganya sudah Rp 16 ribu, setelah ditegur oleh aparat desa,” sebut Khatijahpada
media ini, Kamis pekan lalu.
Sebelumnya, seorang perempuan yang sering disapa Mak Nong
Barat mengaku. Pangkalan gas elpiji di kampungnya sering mematok harga secara meulap-lap
(angin-anginan) alias tidak menentu. “Kadang Rp 18 ribu atau Rp 16 ribu,”
jelasnya pada media ini, hari Selasa pekan lalu.
***
Penelusuran MODUS ACEH selama dua pekan, pemakai
gas elpiji tiga kilogram tidak hanya berasal dari masyarakat kalangan bawah
atau usaha mikro. Sebaliknya, ada juga dari kalangan menengah ke atas. Mereka dengan ‘senyum’
menikmati gas subsidi bantuan pemerintah.
Ambil contoh, salah
seorang tokoh masyarakat di Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh. Dia
berprofesi sebagai dosen. Kepada media dia mengaku, masih membeli gas elpiji tiga
kilogram untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Saat ditanya kenapa
tidak pakai gas elpiji ukuran 12 kilogram? Dia mengaku, karena terlalu berat.
Sementara ukuran tiga kilogram relatif lebih ringan.
Tak sampai di sini,
media ini juga melakukan penelusuran di Pasar Ulee Kareng, Banda Aceh.
Hasilnya, ada masyarakat kelas menengah
atas yang membeli dan menikmati gas bersubsidi. Dia membeli gas elpiji tiga
kilogram di pangkalan Cut Ros Kemala Dewi dengan menggunakan mobil Kijang
Innova.
Saat
ditemui media ini pekan lalu, Cut Ros Kemala Dewi mengaku, gas elpiji di
pangkalannya tidak lebih dari dua jam sudah habis. Dia mengambil 100 tabung
dari agen resmi yang dipasok pada malam hari.
“Saya buka jam sembilan
pagi. Sekitar satu jam setengah sudah habis terjual,” kata Cut, Rabu pekan
lalu.
Untuk memastikan
kebenaran informasi Cut Ros Kemala Dewi, Kamis pekan lalu, media ini melakukan
kroscek dengan menghitung jumlah tabung yang keluar atau dibeli warga setempat. Jumlahnya, delapan puluh lima tabung habis
terjual dalam jangka waktu satu setengah jam. Ketika ada warga yang
membutuhkan, Cut Ros mengaku sudah habis terjual. Habis, sudah habis,” kata warga
Ulee Kareng ini.
Kepada media ini, Cut
Ros menjelaskan. “Lima belas tabung lagi saya simpan, orang Pertamina bilang
untuk jaga-jaga. Jika ada masyarakat yang sangat membutuhkan boleh dikasih.
Lagi pula, mereka baru ambil kemaren,” ungkap dia.
Soal gonjang ganjing adanya
dugaan para pemilik pangkalan gas elpiji tiga kilogram bermain dengan pengencer,
memang bukan cerita baru. Bayangkan, hingga saat ini, praktek haram itu terus
saja terjadi. Apabila dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah dan tanpa pengawasan
dari Pertamina, tentu akan menjadi preseden buruk.
Rahmat, salah seorang
pengencer di Gampong Blang Krueng Aceh Besar mengaku. Dia mengangkut gas elpiji
tiga kilogram ke kiosnya dengan mengukan becak mesin. Dia membelinya dua hari
sekali. Soal jumlah tabung yang dia dapatkan dari pangkalan, Rahmat mengaku
tidak tetap. Semua tergantung pada berapa banyak yang diberikan pangkalan.
“Kadang 20 tabung, ada
juga 15 atau bahkan cuma 10 tabung,” jelas Rahmat pada media ini, Kamis pekan
lalu. Rahmat mengaku, harus bermain gelap dengan pangkalan untuk mendapatkan
gas. Tentu saja, atas dasar saling menguntungkan. Dia juga mengaku ikut bermain
dengan salah satu pangkalan yang ada di Aceh Besar.
“Saya katakan pada dia,
saya mau beli gas, cuma saya tidak punya KTP, atau surat, berapa harga per tabung,”
ungkap Rahmat.
Rahmat menambahkan,
setelah pemilik pangkalan setuju untuk memberikan gas padanya dan dia jual
kembali secara enceran, baru kemudian diberikan.
Dia memberi bocoran,
bila ia membeli dengan harga Rp 23 ribu per tabung, saat menjualnya harganya
sangat tergantung pada harga di pasaran. Jika permintaan banyak, maka ia akan
menjual dengan harga Rp 30 ribu per tabung. Sebaliknya, kalau permintaan kurang, dia menjualnya dengan
harga Rp 28 ribu per tabung.
“Saya hanya penjual, ya
saya melihat keadaan. Jika sedang langka, saya jual Rp 30 ribu. Kalau sedang
banyak, saya jual Rp 28 ribu per tabung,”
sebut Rahmat.
***
Soal harga gas elpiji
tiga kilogram, sebenarnya sudah diatur berdasarkan Surat Keputusan Gubernur
Aceh, Nomor
541/20/2014, tentang Harga Enceran Tertinggi (HET). Untuk radius 60 kilometer
dari Depot Elpiji Pertamina Aceh adalah Rp 16 ribu per tabung. Rinciannya,
harga gas elpiji tiga kilogram per tabung yang didapatkan dari agen resmi Rp 14
ribu, sedangkan pangkalan harus menjual kemasyarakat dengan harga tertinggi Rp 16
ribu. Ini berarti, per tabung pengkalan mendapatkan
keuntungan Rp 2 ribu. Namun, masih ada pangkalan yang menjual dan mencari keuntungan
lebih besar dengan menaikkan harga.
Kepala Bagian
Administrasi Perekonomian Pemko Banda Aceh Arie Maula Kafka, S.Sos kepada media
ini pekan lalu mengaku. Pihaknya memang masih kecolongan dalam mengawasi harga gas
bersubsidi. Buktinya, masih ada pangkalan nakal yang bermain. Karena itu, dia meminta
masyarakat untuk melapor, jika ada pihak atau pedagang yang bermain.
“Lapor saja ke kami biar
kita cabut ijin usahanya,” ancam Arie.
Dia juga mengaku telah membuat surat edaran ke seluruh kecamatan dalam Wilayah Kota
Banda Aceh. Isinya, tidak boleh menjual
barang bersubsidi selain dari pangkalan resmi.
Menurutnya, di Banda
Aceh ada 80 pangkalan gas elpiji yang tersebar di sembilan kecamatan. “Kami telah
keluarkan surat edaran, hanya pangkalan resmi saja yang boleh jual gas,” ujarnya.
Arie Maula mengaku, masih
ada pengencer yang menjual barang bersubsidi. Tapi, itu dilakukan di kawasan pinggiran
kota. “Rata-rata di pinggiran, ada nggak yang jualan di Peunayong,” kata Arie,
balik bertanya.
Dia mengaku selalu
melakukan operasi pasar dengan Pertamina. Tujuannya, agar tidak terjadi
kelangkaan gas akibat pasok gas dari pangkalan ke pengencer. Sebaliknya, dia
juga mengaku heran kenapa masyarakat masih sulit mendapatkan gas subsidi di
pangkalan. Padahal, Pertamina terus meningkatkan pendistribusian. “Sebenarnya,
semakin banyak gas elpiji yang didistribusikan, tentu tidak akan terjadi
kelangkaan di pangkalan. Karena kami telah mendapatkan sampel (contoh),
masyarakat miskin di Banda Aceh paling banyak mengunakan dua tabung dalam satu bulan,”
ujarnya.
Kepala Bagian Elpiji PT.
Pertamina Persero Aceh, A. Muhajir Kahuripan, saat ditemui di Kantor PT. Pertamina Persero, Jalan
Tgk. H. M. Daud Berueh, Selasa pekan lalu
mengatakan. Terkait dugaan adanya permainan distribusi gas antara pangkalan
dengan pengencer, tidak menjadi kewenangan pihaknya. Itu menjadi tanggungjawab Pemerintah
Kabupaten atau Kota. “Pertamina hanya penyedia, sedangkan pengawasan ada di
pihak pemerintah daerah. Dan, kami telah membangun komunikasi serta kerja sama
dengan Pemda,” jelas Muhajir.
Terkait pengawasan, pihaknya
hanya melakukan monitoring ke pangkalan. Sebab, itulah jalur resmi tentang penyaluran
gas bersubsidi. “Kami hanya bisa melakukan monitoring ke pangkalan. Kalau ada
pangkalan yang menjual mahal, tolong diinformasikan,” harap Muhajir.
Begitupun, pihaknya
terus melakukan peningkatan dalam pendistribusian gas elpiji. Untuk tahun tahun
2013 lalu misalnya, di Aceh telah disalurkan
44 juta tabung. Sementara tahun 2014 berjumlah 56 juta tabung, sedangkan untuk
wilayah Banda Aceh (2014), Pertamina menyalurkan 843.920 tabung.
Muhajir berharap, gas
elpiji tiga kilogram dapat disalurkan tepat sasaran. “Golongan masyarakat yang berhak
memakai gas elpiji tiga kilogram adalah yang berpenghasilan satu juta lima
ratus per bulan serta usaha mikro yang omsetnya Rp 25 juta per bulan,” rinci Muhajir.
Lantas, apa yang harus
dilakukan jika masih ada para pengecer dan pengusaha di pangkalan yang
membandel? Saat, aparat penegak hukum turun tangan.***

No comments:
Post a Comment