Salam
Redaksi-05
Selamat
Bergabung Irwan
“Sebaik-baik manusia,
adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. Falsafah inilah yang
dianut laki-laki kelahiran, 1 Januari 1991 di Desa Blang Panyang, Kecamatan Kuala
Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Namanya Irwan
Saputra. Dia mengaku lahir dari keluarga kurang mampu. Namun, putra sulung
pasangan Asmadi dan Anisah ini, mematok target sukses dalam hidup. Tujuannya,
untuk bisa memberi contoh terbaik bagi adik-adiknya. Alhasil, untuk bisa kuliah
layaknya remaja lain seusianya, anak pertama dari empat bersaudara ini menamatkan
kuliah di Fakultas Syari`ah, Jurusan Hukum Pidana Islam, Universitas Negeri
(UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh dengan bekerja sebagai tukang loper koran.
Dan, bulan
Agustus 2014, impiannya menjadi sarjana pertama dalam keluarga besarnya terwujud
sudah. Alhamdulillah!
Menjadi tukang
loper koran, digelutinya sejak 2011 silam, ketika ia masih semester empat
hingga April 2015. Itu dia lakukan, setiap hari dari pukul 05.00 WIB hingga 07.00 WIB pagi. Dengan tekun, dia temui para langganannya
di kawasan Lamgugop, Sektor Timur Darusalam Banda Aceh sampai Kajhu, Aceh
Besar.
Bila usai
melaksanakan tugasnya sebagai loper koran, Irwan mengabdikan dirinya sebagai
pengajar TPA di Mushalla Al-Muhajirin Rukoh, Banda Aceh, yang merupakan tempat
dia tinggal selama ini.
Semasa masih
kuliah, dia mengajar les privat mengaji bagi anak-anak yang membutuhkan
jasanya. Meskipun waktunya sangat ketat, bukan berarti ia tidak aktif dalam
organisasi kampus. Irwan memilih Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banda
Aceh untuk mengasah bakat kepemimpinannya. Dia sempat menjabat sebagai Wakil Ketua
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Syari`ah UIN Ar-Raniry.
Belum habis
masa jabatan sebagai Wakil BEM, dia ditunjuk menjadi Sekretaris Umum Komisariat
HMI Fakultas Syari`ah, merangkap Direktur LAPMI (Lembaga Pers Mahasiswa Islam)
HMI Cabang Banda Aceh.
Dia mengaku, tidak
pernah membayangkan jadi wartawan. Selain tidak ada darah jurnalis yang
mengalir dalam dirinya, dia pun tidak punya kawan dekat yang berprofesi sebagai
kuli tinta. Irwan justeru memiliki hobi membaca dan ingin menjadi guru besar di
bidang hukum. Itulah cita-citanya sejak kecil.
Tapi lingkungan menyadarkannya.
Seiring waktu
bergulir, pekerjaan sebagai loper koran merubah mimpinya. Itu karena berbagai
tregedi kemanusian, ketidakadilan, kesenjangan sosial dan himpitan ekonomi
masyarakat Aceh, yang diakibatan permainan pejabat korup. Lalu, muncul niat di hatinya
untuk menyuarakan kebenaran dengan idealisme yang murni serta keberpihakan
kepada masyarakat.
Karena itu, ketika
Tabloid Berita Mingguan MODUS
ACEH membuka
peluang untuk jadi wartawan, Irwan melamarnya pada akhir 2014 silam. Hasilnya, dia diterima dan
diwajibkan untuk mengikuti masa orientasi atau magang selama tiga bulan.
Berkat
ketekunan serta kegigihan maupun keseriusannya, Irwan Saputra dinyatakan lulus
sebagai wartawan media ini. Sejalan dengan itu, statusnya pun berubah, dari
wartawan magang menjadi reporter. Begitupun, Irwan Saputra masih harus menekuni
dan mengikuti proses tahap dua, sebagai syarat untuk menjadi wartawan.
Selain Irwan
Saputra, ada tiga rekan yang seangkatan dengannya. Mereka adalah, Khairul
Anwar, Saidi Hasan dan Rusman. Khairul dan Saidi Hasan dinyatakan masih harus
mengikuti perpanjangan masa pelatihan, sementara Rusman, dinyatakan gagal untuk
melangkah ke tahap lanjutan. Ini diputuskan, setelah adanya evaluasi
berdasarkan kinerja serta produktivitas dalam bekerja dan liputan.
Selamat Irwan,
jalan masih panjang dan terbuka lebar untuk mengasah komitmen dan idealismemu
dalam dunia jurnalis.***
Photo:
disesuaikan
No comments:
Post a Comment