Pencitraan untuk Raih Kekuasaan
![]() |
| Rumah warga tak layak huni |
Nursiah menangis tersedu. Dalam posisi
duduk, ia menggigit kuat kain penutup kepala untuk menahan agar tangisnya tidak
pecah. Sesekali ia mengusap kedua mata dengan tangan kanannya. Putranya
Ramadani (14) yang duduk tak jauh dari dirinya, menatap nanar sang ibu yang terlihat
tengah dirundung sedih bercampur marah pada Pemerintah Aceh, yang dinilai tidak
peduli pada masyarakat miskin seperti dirinya. “Sudah, Mak. Jangan nangis lagi,”
bujuk Ramadani.
Sementara
Yusnani (17), kakak Ramadani terlihat sibuk merapikan kain yang masih
berselemak dan tak terurus di atas panggung papan yang sudah tak lagi digunakan
sebagai tempat tidur beberapa bulan terakhir. Maklum, sudah mulai lapuk terkena
air hujan yang merembes ke dalam rumah.
“Kalau
saya hitung, banyak kali orang datang dan menjanjikan rumah untuk saya. Tapi, semua
itu hanya janji manis saat mereka datang ke gubuk saya ini. Datang, foto-foto,
berjanji kemudian pergi,” keluh Nursiah kesal.
Bagi
Nursiah, meski mereka menggantungkan hidup pada berjualan pulut, dengan
penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari, ia tak mau berputus asa. Apalagi,
untuk mengemis. Walau sehari mereka hanya bisa makan sekali waktu. “Itu sudah
biasa bagi kami. Asalkan harga diri saya dan anak-anak saya tidak
terinjak-injak dengan mengemis,” cerita Nursiah.
Kesedihan
Nursiah kian menjadi saat ia menceritakan keadaan Yusnani yang tak bisa
melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya pendidikan. Guru Yusnani menyuruhnya
pulang karena baju yang dikenakannya tidak disetrika alias acak-acakan.
“Bagaimana disetrika, kami tidak punya,” jelas Nursiah.
Karena
malu, Yusnani yang seharusnya saat ini sedang duduk di bangku sekolah tingkat lanjutan
pertama terpaksa membuang mimpinya jauh-jauh karena kondisi ekonomi yang tidak
mendukung. Sementara, Ramadani masih tetap melanjutkan sekolahnya, berkat
beasiswa yang disediakan oleh sekolah. “Itu pun setelah mereka tahu kalau
kondisi kami seperti ini dan Ramadani adalah anak yatim,” ungkap Nursiah, lirih.
Hari
itu, Rabu 8 Juni 2016 lalu, media ini sengaja menyambangi kediaman Nursiah di
Jalan T. Nyak Arief, Desa Lamnyong, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh yang
memang tak layak huni. Selain atap bocor, dinding dari anyaman kulit rumbia
juga mulai lapuk. Belum lagi pekarangan yang becek dan kerap kebanjiran saat
hujan turun lebat.
Nasib
seperti yang dialami Nursiah tentu saja tak tunggal, tapi jamak terjadi.
Sedikitnya, ada 2,2 juta lebih masyarakat Aceh yang hidup dalam garis kemiskinan,
walau Pemerintah Aceh berdalih dengan membaginya dalam bentuk desil satu hingga
empat.
Ironis
memang, tapi itulah kenyataan. Di tengah bergelimangnya dana yang digelontorkan
Pemerintah Pusat pada Pemerintah Aceh, baik melalui dana otonomi khusus (otsus)
maupun persetujuan anggaran daerah (APBA) yang mencapai belasan triliun.
Faktanya, tingkat kesejahteraan masyarakat Aceh masih jauh panggang dari api.
Tengoklah
grafik peningkatan masyarakat miskin di Aceh. Secara data mikro, sampel by name by address dan data agregat,
angka kemiskinan di Aceh tahun 2012 adalah 1,7 juta orang. Melesat jauh pada
tahun 2015 yang naik menjadi 2,2 juta orang dari 4,9 juta jumlah penduduk Aceh.
Hasilnya, membuat banyak batin terkejut. Salah satunya Dr. Amri, akademisi
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.
Pakar
analisa kebijakan publik ini mengaku prihatin dengan kondisi kemiskinan di Aceh
yang meningkat drastis. Malah, ia mengaku sedih dengan kondisi kemiskinan di
Aceh saat ini. “Saya terkejut melihat angka kemiskinan Aceh. Anggapan saya
selama ini hanya sekitar 17 sampai 20 persen. Ternyata kalau begini hampir 40
persen,” ujar Amri beberapa waktu lalu.
Menurut
Amri, penyebab ini semua terjadi karena perencanaan yang tidak matang dan
tumpang tindih kebijakan. Padahal, harus ada sinkronisasi dan koordinasi yang
bagus antara dinas. Maka, jika sudah seperti ini, yang
harus bertanggungjawab atas semua ini adalah
top management yaitu Gubernur Aceh Zaini Abdullah.
“Berhasilnya daerah adalah tanggung jawab gubernur. Gagalnya
Aceh juga ada di pundak gubernur. Maka, gubernur harus memilih orang yang tepat
pada posisi yang tepat,” tegas Amri.
Dalam
urusan pendidikan, Aceh berada di posisi yang memalukan. Tengok saja, provinsi
ini menduduki urutan ke-32 dari 34 provinsi. Potret buruk itu juga terjadi pada
akreditasi sekolah. Saat ini, masih ada 12,6 persen sekolah dasar (SD) yang
belum terakreditasi, hanya 8,4 persen dengan akreditasi A. Untuk SMP, ada
sebanyak 23,2 persen yang belum terakreditasi dan hanya 13,6 persen
terakreditasi A. Sementara SMA, ada 18,4 persen yang belum terakreditasi dan
28,7 persen yang terakreditasi A. Khusus untuk SMK, lebih miris lagi. Ada 47,1
persen yang belum terakreditasi dan hanya 9,5 persen dengan akreditasi A.
Padahal, dengan APBA 2015, Rp 12,76 triliun ditambah bantuan melalui Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015, Rp 604 miliar, mutu pendidikan di
Aceh seharusnya jauh lebih baik dari daerah lain. Apalagi provinsi Aceh dengan tambahan dana otonomi
daerah, menjadi provinsi yang memperoleh anggaran kedua terbanyak setelah DKI
Jakarta.
Kondisi
ini dinilai Guru Besar Pendidikan, Profesor Dr. H. Farid Wajdi yang juga Rektor
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, sebagai prestasi memalukan.
Karena dengan dana yang berlimpah, tapi mutu pendidikan jauh dari apa yang
diharapkan.
Menurut
Prof. Farid, boleh saja Pemerintah Aceh beralasan bahwa faktor konflik dan
bencana tsunami sebagai penyebab penghambat pertumbuhan pendidikan Aceh. Tapi,
dengan rentang waktu yang sudah begitu lama, tentu hal tersebut tidak lagi
menjadi alasan. “Karena dari bencana itu, Aceh juga mendapatkan bantuan dana
yang berlipat ganda dari negara-negara lain,” ujar Farid, Kamis pekan lalu.
Dalam
urusan kesehatan, prestasi Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah
juga tak kalah memalukan. Itu terbukti dengan tingginya grafik penderita
thalasemia di Aceh yang menempati peringkat dunia, yakni 13,5 persen carrier (pembawa sifat) thalasemia. Dan,
saat ini, yang tercatat ada 300 lebih masyarakat Aceh yang mengidap thalasemia
dan seumur hidupnya harus melakukan transfusi darah. Padahal, anggaran yang
diplot Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan mencapai Rp 591,6 miliar lebih
yang terdiri dari belanja langsung Rp 38,7 miliar dan belanja tidak langsung Rp
552,8 miliar lebih.
“Saat
ini, penderita thalasemia Aceh masuk peringkat dunia. Ini sangat memprihatinkan.
Gubernur Aceh harusnya memutus mata rantai ini,” kata Didi Agustinus, Ketua
Forum Komunikasi Dermawan Darah (Fokuswanda) yang juga motivator Palang Merah
Indonesia (PMI) Cabang Banda Aceh.
Parahnya,
potret buruk itu seakan dibiarkan begitu saja, tanpa rasa bersalah. Pemerintah
Aceh lebih memilih melakukan pencitraan di media massa, ketimbang memperbaiki
kegagalan di penghujung masa jabatannya. Lalu, muncul kesan adanya pembiaraan
terhadap peningkatan drastis masyarakat miskin, karena mereka akan diperlukan
saat-saat jelang pilkada seperti ini. Apalagi, Abu Doto adalah salah satu
kandidat calon Gunernur Aceh untuk periode mendatang dan ikut bertarung dalam
kontestasi pilkada yang akan digelar tahun depan bersama mantan Gubernur Aceh
Irwandi Yusuf, mantan Plt Gubernur Aceh Tarmizi Karim dan tentu saja rival
kuatnya, Muzakir Manaf. Saatnya rakyat berpikir jernih untuk menentukan
pilihan. Semoga.***

Yg masukin berita ini tampa bukti itu anjing dia
ReplyDeleteKlo buktinya ada skrng keluarga saya tidak duduk disini lg,banyak yg sudah datang ke rumah saya membawa janji" palsu tampa bukti contohnya: sulaiman abda anggota DPRK Beliau datang kerumah saya tetapi tidak ada bukti sam sekali saya benci dengan orng yg hanya memberi janji tidak memberi bukti,saya sekeluarga menunggu hasil yang pasti,jika saya berbicara seperti ini wajar saya sudah tidak sanggup lg menanngung nasib yg seperti ini,wassalam saya dan keluaga
ReplyDelete