Laman

Saturday, June 11, 2016

Pemerintah Aceh Dinilai Masih Tak Peduli

Hari Donor Darah Sedunia 2016
Pemerintah Aceh Dinilai Masih Tak Peduli

Kesadaran masyarakat Aceh untuk donor darah dinilai masih sangat minim. Padahal, manfaatnya tak hanya sebatas membantu pihak yang membutuhkan, tapi juga untuk menjaga kesehatan secara keberlanjutan. Potret itu lebih diperparah karena kurang pedulinya Pemerintah Aceh terhadap kebutuhan darah, sementara kebutuhan melambung jauh dari pasokan.

Irwan Saputra

Gemuruh tepuk tangan bergema seisi ruangan saat Wali Kota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa`aduddin Djamal, menyerahkan piagam penghargaan pada sejumlah pendonor dan pemerhati masalah donor darah, Rabu malam, dua pekan lalu, di salah satu hotel di Banda Aceh. Penganugerahan ini  bersamaan dengan Hari Donor Darah Sedunia 2016.
Malam itu adalah acara puncak dari serangkaian kegiatan donor darah yang dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh dari 16-25 Mei 2016 lalu. Kegiatan tahun ini bertajuk:  “Blood Connects Us All (Darah Menghubungkan Kita Semua)” di markas PMI, Lampineung Banda Aceh.
Amatan media ini, acara yang dimulai sejak pukul 20.00 WIB itu turut dihadiri beberapa pejabat, petinggi Polda Aceh, pemilik media, yayasan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat umum yang selama ini menjadi pendonor (relawan) darah aktif, baik karena sukarela maupun karena dibutuhkan.
Ada Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) Aceh, Kombes Pol. Drs. Armensyah Thay, yang mendonor sebanyak 75 kali, Dirkrimsus Polda Aceh, Kombes Pol. Zulkifli (52 kali), sementara dari pimpinan media, turut hadir Muhammad Saleh, Pimpinan Tabloid MODUS ACEH yang tercatat telah mendonorkan darah sebanyak 51 kali, dan beberapa nama lainnya yang hadir malam itu.
Ketua PMI Kota Banda Aceh, Qamaruzzaman Hagny, mengungkapkan, kegiatan donor darah yang dilakukan beberapa hari tersebut bertujuan untuk menciptakan kesadaran masyarakat agar mendonorkan darah secara rutin, serta mempromosikan gaya hidup sehat dengan donor darah.
Qamaruzzaman juga mengatakan, kegiatan donor darah massal di depan Kantor PMI Kota Banda Aceh tersebut berhasil mengumpulkan 786 kantong darah. Hasil ini melebihi dari yang ditargetkan, yakni 600 kantong darah. “Maka, kemudian dilanjutkan dengan malam penganugerahan Donor Darah Sukarela (DDS), baik itu yang donor sebanyak 15 kali, yang  25 kali, yang ke-50 kali dan ke-75 kali secara simbolis,” kata Qamaruzzaman.
Salah seorang pendonor (relawan) tetap PMI Banda Aceh, yakni Muhammad Saleh mengatakan, sejak menjadi pendonor darah, kondisi fisiknya merasa telah sehat dan fit. “Jika sudah sampai waktu donor, tapi saya tunda satu minggu saja, badan terasa kurang enak. Itu sebabnya, ada perasaan badan saya minta darah didonorkan, termasuk pada bulan Ramadhan,” ujar Pimpinan Redaksi MODUS ACEH dan Majalah INSPIRATOR ini.
Sebelumnya, sebut Saleh--begitu dia akrab disapa, sering melakukan donor darah secara sukarela. “Ada kawan atau saudara yang membutuhkan, langsung saya donor. Bahkan, ada beberapa warga yang menghubungi saya. Eh, ternyata mereka ada juga yang jadi “calo” darah. Karena itu, agar berlangsung tertib, saya mendaftarkan diri menjadi relawan PMI,” sebut Saleh yang sudah melakukan 51 kantong donor darah.
Baginya, penghargaan dari PMI bukanlah tujuan utama. “Yang penting saya bisa membantu sesama. Satu tetes darah saya bisa bermanfaat bagi orang lain, itulah amalan yang baik bagi diri saya. Insya Allah, saya akan tetap menjadi pendonor darah selama darah saya masih dibutuhkan. Kecuali jika saya sudah akhir hayat,” ucap ayah tiga anak yang sudah 20-an tahun menjadi wartawan ini.
            Begitupun, meski darah yang diperoleh PMI pada acara tersebut melebihi target, itu dianggap sebagai sebuah kebetulan saja. Maklum, dilakukan secara massal dan dalam waktu antara sepuluh hari. Tetapi, potret sesungguhnya adalah stok darah yang ada di PMI selama ini jauh berbanding terbalik dari yang dibutuhkan penerima donor, sehingga PMI dan rumah sakit kelabakan mencari darah untuk pasien. Apalagi pasien tersebut tidak memiliki relasi pada orang-orang yang bersedia mendonorkan darah.
Ironisnya, kondisi ini seakan tak mendapat kepedulian dari Pemerintah Aceh melalui dinas terkait seperti Dinas Kesehatan maupun Dinas Sosial Aceh. Terkesan, kedua instansi ini masih kurang peka dengan keadaan. Apalagi, dengan semakin meningkatnya penderita thalasemia di Aceh, sudah tentu kebutuhan darah di Aceh meningkat tajam. Sementara stok darah tidak pernah cukup.
Ketua Forum Komunikasi Dermawan Darah (Fokuswanda), Didi Agustinus yang juga Motivator PMI Cabang Banda Aceh, pada media ini, Jumat pekan lalu mengatakan, selama ini pihaknya tak pernah lelah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di Kota Banda Aceh untuk melakukan donor darah, baik di sekolah, warung kopi maupun mesjid-mesjid.  Namun, di lapangan, ia merasa prihatin karena masih banyak masyarakat Aceh yang belum mengerti tentang donor darah, bahkan mengaku takut. Sehingga, darah di Aceh tidak berimbang dengan kebutuhan.
Dia menceritakan, selama ini PMI Kota Banda Aceh mengeluarkan darah setiap harinya antara 100-120 kantong, bahkan tak jarang mencapai 150  kantong. Sementara, volume rutin tiap hari, darah paling masuk 40 kantong. “Makanya, kepada masyarakat kita himbau agar mau mendonorkan darahnya.” Harap Didi, yang juga pendonor darah terbanyak, yaitu 148 kantong.
Kenapa sampai 100 hingga 150 kantong per hari? Karena yang ia ketahui, setiap hari PMI harus melayani kebutuhan darah 14 rumah sakit di Kota Banda Aceh sebagai Ibukota provinsi. Belum lagi ditambah pasien rujukan dari kabupaten dan kota di Aceh, mereka yang dirujuk ke Banda Aceh hanya pasien, sementara darah tidak.
“Inilah salah satu kewajiban Pemerintah Aceh melalui Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) dalam hal ini Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial agar mau bekerja aktif seperti PMI. Artinya, menurut Didi, jika Pemerintah Aceh tanggap dengan kesehatan masyarakat, maka diwajibkan pada masing-masing SKPA untuk donor darah,” harap Didi.
Begitu juga untuk Pemerintah Kota Banda Aceh, Didi berharap harus melakukan hal yang sama. Kata dia, di Kota Banda Aceh ada sebanyak 91 desa dari sembilan kecamatan. Seandainya masing-masing desa ada dua orang saja tiap hari yang mau mendonor darah, maka sehari PMI bisa mendapatkan darah 180 kantong, ini sudah aman. Karena selama ini, pihaknya cukup kewalahan apalagi dengan meningkatnya penderita thalasemia.
“Seperti yang kita lihat, Aceh menduduki ranking dunia. Kalau ranking dunia cuma enam persen. Tapi, di Aceh 13 persen. Saya pikir ini harus ada perhatian khusus dari pemerintah terutama Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan,” kata Didi.***


Didi Agustinus, Pendonor 148 Kantong Darah.
Terpanggil Karena Hati Nurani

Banyak masyarakat Aceh beranggapan, mendonorkan darah akan membuat badan lemas karena kekurangan darah dan efek samping lainnya. Padahal, manfaatnya sangat besar untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Didi Agustinus dan Muhammad Saleh telah membuktikannya. Berikut penuturannya pada wartawan MODUS Aceh, Irwan Saputra, dua pekan lalu.

Anda saat ini adalah pendonor darah terbanyak?
Alhamdulillah, bisa membantu sesama di samping saya menjaga kesehatan sendiri.
Sejak kapan Anda melakukan donor darah pertama sekali?
Saya sudah mendonorkan darah sejak tahun 1982. Lebih kurang telah ada 34 tahun yang lalu. Saat itu, saya masih kelas 2 SMA. Umur saya saat itu masih 17 tahun, karena waktu kami masuk Sekolah Dasar (SD) umur 7 tahun. Beda dengan sekarang, umur masuk SD sudah bisa umur 6 tahun, makanya umur 17 tahun saya masih kelas 2 SMA.
Kenapa Anda mau mendonorkan darah?
Karena panggilan nurani untuk membantu sesama.
Maksudnya?
Ceritanya begini, pada penghujung tahun 1981 dulu, warga desa saya membutuhkan darah. Dia wartawan senior di Radio Republik Indonesia (RRI). Keadaan saat itu pukul dua dini hari. Saat itu, darah diperjualbelikan, Rp 120 ribu per kantong. Kami mencari pendonor ke sana ke mari, akhirnya kami temukan. Cuma dia pasang harga Rp 150 per kantong. Maka, terjadilah tawar-menawar. Akhirnya ia mau mendonorkan darah satu kantong Rp 120. Malam itu, kami bayar Rp 70 dan berjanji akan membayar selebihnya keesokan hari. Ternyata, setelah transfusi darah, menjelang subuh warga kami itu meninggal dunia. Nah, keesokan harinya pukul 8.00 WIB, si pendonor yang semalam datang menagih uang yang belum dibayarkan Rp 50 ribu lagi. Saya bilang sama dia, “Apa minta lagi, pasien telah meninggal.” Namun, karena keluarga telah berjanji, mereka tetap memberikan uang itu. Jadi, bayangkan! Harga satu kantong darah saat itu Rp 120 ribu, pada 34 tahun yang lalu. Berapa juta kalau uang sekarang?
Hubungannya dengan Anda?
Karena setelah kejadian itulah, saya mulai melakukan donor darah pertama sekali untuk pasien yang mau melahirkan dari Samalanga Kabupaten Bireuen. Saat itu, saya beranikan diri melakukan donor darah. Alhamdulillah, saat itu saya berhasil. Saat itu, donor darah masih rutin tiga sampai empat bulan sekali, kemudian karena kemajuan teknologi kedokteran, sekarang sudah bisa tiga bulan. Malah sekarang saya rutin mendonorkan darah 2,5 bulan sekali.
Apa nikmatnya donor darah yang Anda rasakan?
Nikmatnya, saya saat ini berumur 54 tahun. Namun, alhamdulillah, tidak ada sakit yang fatal yang saya rasakan akibat donor, sebagaimana orang awam katakan.
Apa yang mereka katakan?
Mereka bilang, kalau kita melakukan donor darah badan kita lemah. Kedua, kita akan gemuk. Tapi, yang saya rasakan malah sebaliknya. Artinya, di umur saya saat ini, saya masih enjoy menjalani hidup sehari-hari, dan masih sanggup lari pagi serta olahraga lainnya. Begitupun, yang saya rasakan, saat istirahat terutama tidur malam itu sangat nyenyak. Sehingga, apa yang dikatakan oleh orang tidak benar.
Selain itu?
Nah, yang enaknya lagi kalau kita mendonorkan darah kepada penerima atau pasiennya jelas, kita akan mendapat saudara baru, apalagi doa dari mereka. Sehingga, yang saya rasakan saat ini adalah doa dari mereka yang telah saya donorkan darah itu. Maka, ke mana pun saya pergi saya punya saudara.
Harapan Anda?
Kepada masyarakat Aceh agar mau untuk mendonorkan darah. Karena tidak hanya manfaat bisa membantu orang lain, tapi juga kesehatan kita terjaga. Namun, saya kasihan kalau melihat selama ini masih ada masyarakat Aceh yang belum mengerti tentang donor darah. Alasan mereka adalah takut. Padahal, kalau mereka sadar akan hal itu, begitu banyak orang yang tertolong karena darah yang kita donorkan.***


 Muhammad Saleh, Pendonor 51 Kantor Darah
Melalui PMI Lebih Terjamin


Sejak kapan Anda jadi pendonor darah?
            Sebenarnya sudah lama, sejak saya mahasiswa di Lhokseumawe. Hanya saja saat itu sifatnya spontan, masih pakai kartu anggota biasa seperti kartu berobat. Darah diambil, kemudian dicatat dan selesai. Belum ada pendataan seperti saat ini dengan sistem komputerisasi.
Selanjutnya?
            Saat saya pindah ke Banda Aceh dan Jakarta beberapa tahun lalu, kartu saya hilang. Tapi, sekali lagi, saya tak begitu peduli dengan catat-mencatat. Saat ada yang membutuhkan, saya donor dan selesai.
Lantas?
            Saat saya donor untuk seseorang di PMI Banda Aceh. Ketika itu, Ketua PMI Banda Aceh, Bang Qamaruzzaman, menyarankan saya untuk membuat kartu pendonor. Tujuan awalnya untuk bisa mengontrol kapan saya bisa donor selanjutnya. Lalu, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, saya bisa dihubungi. Dari sanalah, saya terus ketagihan untuk mendonorkan darah. Yang tercatat saat ini sudah 52 kali. Tapi, saya kira bisa lebih.
Kenapa Anda mau donor darah?
            Seperti pendonor lainnya, ingin membantu sesama yang membutuhkan. Kebetulan darah saya O plus. Selain itu, kondisi tubuh saya terasa lebih fit dan enak. Alhamdulillah, saya belum pernah mengalami penyakit yang parah. Paling flu, demam dan sakit kepala. Begitu olahraga, sehat kembali.
Jadi, Anda kombinasikan?
            Ya, donor darah, olahraga dan banyak makan buah segar maupun air putih. Ini penting, apalagi saya sering begadang, terutama jika deadline di kantor. Maklum, wartawan memang sering kurang tidur. Jadi, tidak benar kalau kita jadi pendonor darah justru sakit. Jangan tanya soal tidur, begitu selesai donor, sangat pulas dan nyenyak. Ha..ha..ha.
Apa pengalaman menarik yang Anda alami?
            Sering dan pernah dihubungi para calo darah. Awalnya saya tidak tahu karena dia mengaku butuh darah untuk saudaranya. Tiba-tiba, usai donor, keluarga korban mengejar dan menyerahkan amplop. Saya katakan, saya ikhlas dan tidak menjual darah. Sambil menangis, si penerima darah asal Aceh Barat tadi mengucapkan terima kasih. Dan dari dialah saya tahu banyak calo darah yang bergentayangan di rumah-rumah sakit di Aceh. Sejak itu, saya tidak mau menerima telepon dari orang tersebut. Dan, akhirnya si calo tahu saya wartawan. Ada kesan mereka takut praktiknya saya ungkap.
Hanya itu?
            Sejak itulah saya mendaftar jadi pendonor tetap di PMI Kota Banda Aceh. Ini lebih tertib dan terjamin. Sebab, di sana sudah ada data dan nomor handphone saya. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, mereka sms atau telepon saya. Selain itu, bila sudah waktunya donor, mereka juga memberitahu pada saya.
Kenapa di PMI?
            Ya, itu tadi. Lebih tertib. Selain itu, alat mereka juga canggih. Sebab, tidak semua darah yang didonorkan bisa dipakai langsung, sebelum adanya proses pembersihan. Selain itu, banyak rumah sakit di Banda Aceh yang mengambil darah melalui PMI Kota Banda Aceh. Jadi, darah yang tersalurkan lebih terjamin dan terarah pada pihak yang benar-benar membutuhkan.
Sampai kapan Anda menjadi pendonor darah?
            Sampai darah saya benar-benar bisa dimanfaatkan untuk sesama yang membutuhkan. Sampai berakhirnya umur saya!***


2 comments:

  1. Luar biasa salut.
    semoga menjadi inspirasi untuk orang lain melakukan donor darah.

    ReplyDelete
  2. Iya bang, saya sudah membuktikan donor darah itu menyehatkan, cuma pola pikir masyarakat kita yang masih usang dan perlu disosialisasi, tentang pentingnya donor darah.

    ReplyDelete