Hari
Donor Darah Sedunia 2016
Pemerintah
Aceh Dinilai Masih Tak Peduli
Kesadaran
masyarakat Aceh untuk donor darah dinilai masih sangat minim. Padahal,
manfaatnya tak hanya sebatas membantu pihak yang membutuhkan, tapi juga untuk
menjaga kesehatan secara keberlanjutan. Potret itu lebih diperparah karena
kurang pedulinya Pemerintah Aceh terhadap kebutuhan darah, sementara kebutuhan
melambung jauh dari pasokan.
Irwan Saputra
Gemuruh
tepuk tangan bergema seisi ruangan saat Wali Kota Banda Aceh, Hj. Illiza
Sa`aduddin Djamal, menyerahkan piagam penghargaan pada sejumlah pendonor dan
pemerhati masalah donor darah, Rabu malam, dua pekan lalu, di salah satu hotel
di Banda Aceh. Penganugerahan ini
bersamaan dengan Hari Donor Darah Sedunia 2016.
Malam
itu adalah acara puncak dari serangkaian kegiatan donor darah yang dilakukan
Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh dari 16-25 Mei 2016 lalu. Kegiatan
tahun ini bertajuk: “Blood Connects Us
All (Darah Menghubungkan Kita Semua)” di markas PMI, Lampineung Banda Aceh.
Amatan
media ini, acara yang dimulai sejak pukul 20.00 WIB itu turut dihadiri beberapa
pejabat, petinggi Polda Aceh, pemilik media, yayasan, lembaga swadaya
masyarakat (LSM) dan masyarakat umum yang selama ini menjadi pendonor (relawan)
darah aktif, baik karena sukarela maupun karena dibutuhkan.
Ada
Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) Aceh, Kombes Pol. Drs. Armensyah Thay,
yang mendonor sebanyak 75 kali, Dirkrimsus Polda Aceh, Kombes Pol. Zulkifli (52
kali), sementara dari pimpinan media, turut hadir Muhammad Saleh, Pimpinan Tabloid
MODUS
ACEH yang
tercatat telah mendonorkan darah sebanyak 51 kali, dan beberapa nama lainnya
yang hadir malam itu.
Ketua
PMI Kota Banda Aceh, Qamaruzzaman Hagny, mengungkapkan, kegiatan donor darah yang
dilakukan beberapa hari tersebut bertujuan untuk menciptakan kesadaran masyarakat
agar mendonorkan darah secara rutin, serta mempromosikan gaya hidup sehat
dengan donor darah.
Qamaruzzaman
juga mengatakan, kegiatan donor darah massal di depan Kantor PMI Kota Banda
Aceh tersebut berhasil mengumpulkan 786 kantong darah. Hasil ini melebihi dari
yang ditargetkan, yakni 600 kantong darah. “Maka, kemudian dilanjutkan dengan
malam penganugerahan Donor Darah Sukarela (DDS), baik itu yang donor sebanyak
15 kali, yang 25 kali, yang ke-50 kali
dan ke-75 kali secara simbolis,” kata Qamaruzzaman.
Salah
seorang pendonor (relawan) tetap PMI Banda Aceh, yakni Muhammad Saleh
mengatakan, sejak menjadi pendonor darah, kondisi fisiknya merasa telah sehat
dan fit. “Jika sudah sampai waktu
donor, tapi saya tunda satu minggu saja, badan terasa kurang enak. Itu
sebabnya, ada perasaan badan saya minta darah didonorkan, termasuk pada bulan
Ramadhan,” ujar Pimpinan Redaksi MODUS ACEH dan
Majalah INSPIRATOR
ini.
Sebelumnya,
sebut Saleh--begitu dia akrab disapa, sering melakukan donor darah secara sukarela.
“Ada kawan atau saudara yang membutuhkan, langsung saya donor. Bahkan, ada
beberapa warga yang menghubungi saya. Eh, ternyata mereka ada juga yang jadi
“calo” darah. Karena itu, agar berlangsung tertib, saya mendaftarkan diri
menjadi relawan PMI,” sebut Saleh yang sudah melakukan 51 kantong donor darah.
Baginya,
penghargaan dari PMI bukanlah tujuan utama. “Yang penting saya bisa membantu
sesama. Satu tetes darah saya bisa bermanfaat bagi orang lain, itulah amalan
yang baik bagi diri saya. Insya Allah, saya akan tetap menjadi pendonor darah
selama darah saya masih dibutuhkan. Kecuali jika saya sudah akhir hayat,” ucap
ayah tiga anak yang sudah 20-an tahun menjadi wartawan ini.
Begitupun, meski darah yang
diperoleh PMI pada acara tersebut melebihi target, itu dianggap sebagai sebuah
kebetulan saja. Maklum, dilakukan secara massal dan dalam waktu antara sepuluh
hari. Tetapi, potret sesungguhnya adalah stok darah yang ada di PMI selama ini
jauh berbanding terbalik dari yang dibutuhkan penerima donor, sehingga PMI dan rumah
sakit kelabakan mencari darah untuk pasien. Apalagi pasien tersebut tidak
memiliki relasi pada orang-orang yang bersedia mendonorkan darah.
Ironisnya,
kondisi ini seakan tak mendapat kepedulian dari Pemerintah Aceh melalui dinas
terkait seperti Dinas Kesehatan maupun Dinas Sosial Aceh. Terkesan, kedua
instansi ini masih kurang peka dengan keadaan. Apalagi, dengan semakin
meningkatnya penderita thalasemia di Aceh, sudah tentu kebutuhan darah di Aceh
meningkat tajam. Sementara stok darah tidak pernah cukup.
Ketua
Forum Komunikasi Dermawan Darah (Fokuswanda), Didi Agustinus yang juga
Motivator PMI Cabang Banda Aceh, pada media ini, Jumat pekan lalu mengatakan, selama
ini pihaknya tak pernah lelah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di Kota
Banda Aceh untuk melakukan donor darah, baik di sekolah, warung kopi maupun mesjid-mesjid.
Namun, di lapangan, ia merasa prihatin
karena masih banyak masyarakat Aceh yang belum mengerti tentang donor darah, bahkan
mengaku takut. Sehingga, darah di Aceh tidak berimbang dengan kebutuhan.
Dia
menceritakan, selama ini PMI Kota Banda Aceh mengeluarkan darah setiap harinya
antara 100-120 kantong, bahkan tak jarang mencapai 150 kantong. Sementara, volume rutin tiap hari,
darah paling masuk 40 kantong. “Makanya, kepada masyarakat kita himbau agar mau
mendonorkan darahnya.” Harap Didi, yang juga pendonor darah terbanyak, yaitu
148 kantong.
Kenapa
sampai 100 hingga 150 kantong per hari? Karena yang ia ketahui, setiap hari PMI
harus melayani kebutuhan darah 14 rumah sakit di Kota Banda Aceh sebagai Ibukota
provinsi. Belum lagi ditambah pasien rujukan dari kabupaten dan kota di Aceh,
mereka yang dirujuk ke Banda Aceh hanya pasien, sementara darah tidak.
“Inilah
salah satu kewajiban Pemerintah Aceh melalui Satuan Kerja Pemerintah Aceh
(SKPA) dalam hal ini Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial agar mau bekerja aktif
seperti PMI. Artinya, menurut Didi, jika Pemerintah Aceh tanggap dengan kesehatan
masyarakat, maka diwajibkan pada masing-masing SKPA untuk donor darah,” harap
Didi.
Begitu
juga untuk Pemerintah Kota Banda Aceh, Didi berharap harus melakukan hal yang
sama. Kata dia, di Kota Banda Aceh ada sebanyak 91 desa dari sembilan kecamatan.
Seandainya masing-masing desa ada dua orang saja tiap hari yang mau mendonor
darah, maka sehari PMI bisa mendapatkan darah 180 kantong, ini sudah aman.
Karena selama ini, pihaknya cukup kewalahan apalagi dengan meningkatnya penderita
thalasemia.
“Seperti
yang kita lihat, Aceh menduduki ranking dunia. Kalau ranking dunia cuma enam
persen. Tapi, di Aceh 13 persen. Saya pikir ini harus ada perhatian khusus dari
pemerintah terutama Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan,” kata Didi.***
Didi
Agustinus, Pendonor 148 Kantong Darah.
Terpanggil Karena Hati Nurani
Banyak masyarakat Aceh
beranggapan, mendonorkan darah akan membuat badan lemas karena kekurangan darah
dan efek samping lainnya. Padahal, manfaatnya sangat besar untuk menjaga
kesehatan dan daya tahan tubuh. Didi Agustinus dan Muhammad Saleh telah
membuktikannya. Berikut penuturannya pada wartawan MODUS Aceh, Irwan
Saputra, dua pekan lalu.
Anda saat ini adalah
pendonor darah terbanyak?
Alhamdulillah,
bisa membantu sesama di samping saya menjaga kesehatan sendiri.
Sejak kapan Anda
melakukan donor darah pertama sekali?
Saya
sudah mendonorkan darah sejak tahun 1982. Lebih kurang telah ada 34 tahun yang
lalu. Saat itu, saya masih kelas 2 SMA. Umur saya saat itu masih 17 tahun,
karena waktu kami masuk Sekolah Dasar (SD) umur 7 tahun. Beda dengan sekarang,
umur masuk SD sudah bisa umur 6 tahun, makanya umur 17 tahun saya masih kelas 2
SMA.
Kenapa Anda mau
mendonorkan darah?
Karena
panggilan nurani untuk membantu sesama.
Maksudnya?
Ceritanya
begini, pada penghujung tahun 1981 dulu, warga desa saya membutuhkan darah. Dia
wartawan senior di Radio Republik Indonesia (RRI). Keadaan saat itu pukul dua
dini hari. Saat itu, darah diperjualbelikan, Rp 120 ribu per kantong. Kami
mencari pendonor ke sana ke mari, akhirnya kami temukan. Cuma dia pasang harga
Rp 150 per kantong. Maka, terjadilah tawar-menawar. Akhirnya ia mau mendonorkan
darah satu kantong Rp 120. Malam itu, kami bayar Rp 70 dan berjanji akan
membayar selebihnya keesokan hari. Ternyata, setelah transfusi darah, menjelang
subuh warga kami itu meninggal dunia. Nah, keesokan harinya pukul 8.00 WIB, si
pendonor yang semalam datang menagih uang yang belum dibayarkan Rp 50 ribu
lagi. Saya bilang sama dia, “Apa minta lagi, pasien telah meninggal.” Namun,
karena keluarga telah berjanji, mereka tetap memberikan uang itu. Jadi,
bayangkan! Harga satu kantong darah saat itu Rp 120 ribu, pada 34 tahun yang
lalu. Berapa juta kalau uang sekarang?
Hubungannya dengan Anda?
Karena
setelah kejadian itulah, saya mulai melakukan donor darah pertama sekali untuk
pasien yang mau melahirkan dari Samalanga Kabupaten Bireuen. Saat itu, saya
beranikan diri melakukan donor darah. Alhamdulillah, saat itu saya berhasil.
Saat itu, donor darah masih rutin tiga sampai empat bulan sekali, kemudian
karena kemajuan teknologi kedokteran, sekarang sudah bisa tiga bulan. Malah
sekarang saya rutin mendonorkan darah 2,5 bulan sekali.
Apa nikmatnya donor
darah yang Anda rasakan?
Nikmatnya,
saya saat ini berumur 54 tahun. Namun, alhamdulillah, tidak ada sakit yang
fatal yang saya rasakan akibat donor, sebagaimana orang awam katakan.
Apa yang mereka katakan?
Mereka
bilang, kalau kita melakukan donor darah badan kita lemah. Kedua, kita akan
gemuk. Tapi, yang saya rasakan malah sebaliknya. Artinya, di umur saya saat
ini, saya masih enjoy menjalani hidup
sehari-hari, dan masih sanggup lari pagi serta olahraga lainnya. Begitupun,
yang saya rasakan, saat istirahat terutama tidur malam itu sangat nyenyak.
Sehingga, apa yang dikatakan oleh orang tidak benar.
Selain itu?
Nah,
yang enaknya lagi kalau kita mendonorkan darah kepada penerima atau pasiennya
jelas, kita akan mendapat saudara baru, apalagi doa dari mereka. Sehingga, yang
saya rasakan saat ini adalah doa dari mereka yang telah saya donorkan darah
itu. Maka, ke mana pun saya pergi saya punya saudara.
Harapan Anda?
Kepada
masyarakat Aceh agar mau untuk mendonorkan darah. Karena tidak hanya manfaat
bisa membantu orang lain, tapi juga kesehatan kita terjaga. Namun, saya kasihan
kalau melihat selama ini masih ada masyarakat Aceh yang belum mengerti tentang
donor darah. Alasan mereka adalah takut. Padahal, kalau mereka sadar akan hal
itu, begitu banyak orang yang tertolong karena darah yang kita donorkan.***
Melalui PMI Lebih Terjamin
Sebenarnya sudah lama, sejak saya
mahasiswa di Lhokseumawe. Hanya saja saat itu sifatnya spontan, masih pakai kartu
anggota biasa seperti kartu berobat. Darah diambil, kemudian dicatat dan
selesai. Belum ada pendataan seperti saat ini dengan sistem komputerisasi.
Selanjutnya?
Saat saya pindah ke Banda Aceh dan
Jakarta beberapa tahun lalu, kartu saya hilang. Tapi, sekali lagi, saya tak
begitu peduli dengan catat-mencatat. Saat ada yang membutuhkan, saya donor dan
selesai.
Lantas?
Saat saya donor untuk seseorang di
PMI Banda Aceh. Ketika itu, Ketua PMI Banda Aceh, Bang Qamaruzzaman, menyarankan
saya untuk membuat kartu pendonor. Tujuan awalnya untuk bisa mengontrol kapan
saya bisa donor selanjutnya. Lalu, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, saya bisa
dihubungi. Dari sanalah, saya terus ketagihan untuk mendonorkan darah. Yang
tercatat saat ini sudah 52 kali. Tapi, saya kira bisa lebih.
Kenapa
Anda mau donor darah?
Seperti pendonor lainnya, ingin
membantu sesama yang membutuhkan. Kebetulan darah saya O plus. Selain itu,
kondisi tubuh saya terasa lebih fit
dan enak. Alhamdulillah, saya belum pernah mengalami penyakit yang parah.
Paling flu, demam dan sakit kepala. Begitu olahraga, sehat kembali.
Jadi,
Anda kombinasikan?
Ya, donor darah, olahraga dan banyak
makan buah segar maupun air putih. Ini penting, apalagi saya sering begadang,
terutama jika deadline di kantor.
Maklum, wartawan memang sering kurang tidur. Jadi, tidak benar kalau kita jadi
pendonor darah justru sakit. Jangan tanya soal tidur, begitu selesai donor,
sangat pulas dan nyenyak. Ha..ha..ha.
Apa
pengalaman menarik yang Anda alami?
Sering dan pernah dihubungi para
calo darah. Awalnya saya tidak tahu karena dia mengaku butuh darah untuk
saudaranya. Tiba-tiba, usai donor, keluarga korban mengejar dan menyerahkan
amplop. Saya katakan, saya ikhlas dan tidak menjual darah. Sambil menangis, si
penerima darah asal Aceh Barat tadi mengucapkan terima kasih. Dan dari dialah
saya tahu banyak calo darah yang bergentayangan di rumah-rumah sakit di Aceh.
Sejak itu, saya tidak mau menerima telepon dari orang tersebut. Dan, akhirnya
si calo tahu saya wartawan. Ada kesan mereka takut praktiknya saya ungkap.
Hanya
itu?
Sejak itulah saya mendaftar jadi
pendonor tetap di PMI Kota Banda Aceh. Ini lebih tertib dan terjamin. Sebab, di
sana sudah ada data dan nomor handphone
saya. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, mereka sms atau telepon saya. Selain itu,
bila sudah waktunya donor, mereka juga memberitahu pada saya.
Kenapa
di PMI?
Ya, itu tadi. Lebih tertib. Selain
itu, alat mereka juga canggih. Sebab, tidak semua darah yang didonorkan bisa
dipakai langsung, sebelum adanya proses pembersihan. Selain itu, banyak rumah
sakit di Banda Aceh yang mengambil darah melalui PMI Kota Banda Aceh. Jadi,
darah yang tersalurkan lebih terjamin dan terarah pada pihak yang benar-benar
membutuhkan.
Sampai
kapan Anda menjadi pendonor darah?
Sampai darah saya benar-benar bisa
dimanfaatkan untuk sesama yang membutuhkan. Sampai berakhirnya umur saya!***


Luar biasa salut.
ReplyDeletesemoga menjadi inspirasi untuk orang lain melakukan donor darah.
Iya bang, saya sudah membuktikan donor darah itu menyehatkan, cuma pola pikir masyarakat kita yang masih usang dan perlu disosialisasi, tentang pentingnya donor darah.
ReplyDelete