Saturday, June 11, 2016

Akhir Penantian Panjang


Akhir Penantian Panjang


Setelah lama menjadi polemik di tubuh internal Partai Aceh, Ketua KPA dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Aceh, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, akhirnya menjatuhkan pilihan pada Ketua DPD Gerindra Aceh TA Khalid sebagai calon Wakil Gubernur Aceh, mendampingi dirinya pada Pilkada 2017 mendatang.  Alasannya sederhana, TA Khalid dinilai mudah diajak berkomunikasi dan bisa disuruh ke mana saja. Mualem mengklaim, TA Khalid telah didukung partai politik nasional (Koalisi Aceh Bermartabat) kecuali Partai Golkar, Hanura, PDIP dan NasDem. Berikut laporan Irwan Saputra untuk liputan Politik pekan ini.
***
Gerimis yang mengguyur Kota Banda Aceh sejak Rabu sore akhirnya reda. Bersahabatnya alam malam itu membuat kader dan pimpinan Partai Aceh (PA) dari seluruh Aceh, ramai mendatangi Kantor DPP Partai Aceh, Jalan Soekarno-Hatta, Batoh, Banda Aceh.
Kehadiran mereka bukan tanpa sebab. Maklum, malam itu ada putusan penting yang akan disampaikan Mualem terkait figur calon Wakil Gubernur Aceh, mendampingi dirinya pada Pilkada 2017 mendatang. “Tinggal menunggu Mualem saja. Setelah itu, dimulai dan tidak terlalu lama,” ucap seorang petinggi PA pada media ini malam itu.
Memang, sesuai jadwal pertemuan (rapat) akan dilaksanakan pukul 20.00 WIB. Namun, sempat molor satu jam. Persis pukul 21.00 WIB, Mualem tiba dan langsung menuju ruang rapat. “Mohon maaf kawan-kawan wartawan. Ini rapat tertutup. Nanti Mualem akan menggelar temu pers,” kata seorang petugas di kantor itu.
Sementara itu, sejumlah kader, simpatisan serta pimpinan Komite Peralihan Aceh/Partai Aceh  (KPA/PA) dari daerah rela dan sabar menunggu kedatangan Mualem. Salah satunya Abdurrahman Ubit, Ketua KPA/PA Abdya. Bersama tiga rekannya, Abdurrahman memilih untuk menikmati secangkir kopi. Sesekali, dia tampak sibuk memainkan telepon genggam sambil mengepul asap rokok sigaret yang ia hisap ke udara.
Tak banyak yang mereka dibicarakan. “Keadaan malam ini sudah disterilkan, jadi potensi ribut kecil. Abu Razak juga tidak ada di sini,” duga salah seorang wartawan online yang memang sudah lebih awal datang. Maklum sajalah, semula sempat beredar kabar bahwa rapat tertutup malam itu akan diwarnai keributan. Ini terkait keputusan Mualem untuk memilih TA Khalid sebagai wakilnya.
Sumber media ini mengungkapkan, semula rapat tertutup tadi rencananya akan dilaksanakan Rabu pagi dan pada siang hari yang sama akan dilakukan temu pers. Namun, karena masih muncul beberapa perbedaan pendapat, rapat tertutup itu pun akhirnya digeser pada malam hari.
***
            Tak lama kemudian, satu unit kendaraan Alphard hitam memasuki pekarangan Kantor DPP PA Aceh. Dari dalam mobil, muncul Muzakir Manaf dengan setelan jas partai dipadu celana jeans cokelat. Malam itu, Mualem didampingi Win Rimba Raya, salah satu orang kepercayaannya.
            Tanpa komando, berduyun kader Partai Aceh meninggalkan warung kopi dan menyusul Mualem, mengikuti rapat tertutup di lantai dua. Hanya sekitar sepuluh menit kemudian, petugas tadi mempersilakan awak media untuk naik ke lantai tiga. Di sana, Mualem bersama petinggi KPA dan PA se-Aceh telah menunggu.  
“Pada malam ini, tanggal 1 Juni 2016, saya nyatakan wakil saya adalah Saudara Ir. TA Khalid. Maka, dengan berkat kudrat Ilahi semoga diberikan kemenangan oleh Allah,” ujar Mualem yang disambut tepuk tangan dan takbir para kader partai. Sementara, ada beberapa lainnya yang hanya diam dengan raut wajah datar. 
Keputusan Mualem menggandeng TA Khalid sebagai calon Wakil Gubernur Aceh tentu bukan informasi baru. Sebelumnya, sinyalemen tersebut memang nyaris beredar. Bahkan, sempat menuai tarik ulur alias pro dan kontra di kalangan internal PA. Alasannya, partai lokal ini memiliki syarat yang lebih dari cukup untuk mengusung kader sendiri.
Sebaliknya, figur TA Khalid juga bukan sosok asing bagi pimpinan dan para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ketua DPD Partai Gerindra Aceh ini telah lama membina hubungan “mesra” dengan Mualem. Apalagi, posisi Mualem sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Aceh.
Tak hanya itu, saat Pilkada 2012 silam dan Pileg 2014, peran TA Khalid dinilai cukup signifikan dalam memenangkan pasangan dr. Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (ZIKIR). Termasuk melobi dukungan politik serta pendanaan dari Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Pada pileg lalu, TA Khalid juga ikhlas serta rela melakukan kampanye, mendukung calon anggota DPR Aceh dan DPRK dari PA. “Untuk kursi DPR Aceh dan DPRK, mari kita dukung dan menangkan PA,” begitu teriak TA Khalid pada beberapa tempat saat kampanye Pileg 2014.
Mualem menegaskan, alasan dirinya memilih TA Khalid bukan tanpa pertimbangan. Sebaliknya, melalui proses cukup panjang, termasuk setelah mempertimbangkan sisi baik dan buruk. Mualem menilai, figur TA Khalid adalah sosok yang boleh diajak berbincang, boleh disuruh ke mana pun dan siap berdiskusi apa pun. Nah, karena faktor itulah ia memilih Khalid sebagai wakilnya dalam pencalonan Gubernur Aceh untuk periode 2017-2022 mendatang. “Ini adalah bukti kolaborasi antara partai lokal dengan partai nasional, untuk kemajuan Aceh yang lebih baik,” sebut pria yang masih aktif sebagai Wakil Gubernur Aceh itu.
Namun, Mualem tetap sadar dan mengakui, sebelum keputusan malam itu diambil, dia kerap digoyang secara internal. Sebab, ada pihak yang menginginkan Mualem memilih wakil dari internal PA, sementara Mualem telah berikrar untuk menggandeng wakilnya dari partai politik nasional.
“Untuk kebersamaan membangun Aceh, saya melibatkan Koalisi Aceh Bermartabat untuk bersama-sama membangun Aceh ke depan yang lebih bermartabat, bersatu dan lebih maju,” tambah Mualem.
            Mualem juga menjelaskan, di internal PA, tidak ada permasalahan lagi terkait dirinya menggandeng TA Khalid. Alasannya, karena internal PA telah komit dengan keputusan tersebut. Termasuk dengan pimpinan parnas di Aceh.
“Sampai hari ini, semuanya sudah komit kecuali Golkar. Mungkin mereka akan mengusung calon sendiri, sementara PKB sudah mendukung kita. Partai Hanura dan PDIP belum jelas karena mereka tidak memiliki kursi di parlemen,” jelas Mualem.
            Disinggung apakah hanya TA Khalid sebagai calon wakil dari parnas, Mualem menjawabnya secara diplomatis. Andai dia dibolehkan memilih wakil beberapa orang, PA pasti akan mengusung beberapa orang wakil. Namun, ada pemandangan ganjil malam itu karena beberapa tokoh KPA/PA yang memiliki pengaruh tidak hadir. Sebut saja Kamaruddin Abu Bakar alias Abu Razak, Mukhlis Basyah, Jufri Hasanuddin dan Ketua Tim pemenangan Mualem, Darwis Djeunieb.
“Kenapa Abu Razak tidak hadir?” tanya awak media. Mualem menjelaskan, dirinya telah memerintahkan Abu Razak sebagai Ketua Harian KONI Aceh untuk membawa atlet ke Jakarta, sementara Darwis Djeunieb harus menyelesaikan kasus internal PA di Batee Iliek. Begitu juga dengan Mukhlis Basyah atau akrab disapa Adun Mukhlis. Kata  Mualem, Adun Mukhlis sedang dalam perjalanan dari Jantho menuju Banda Aceh. “Mereka semua mendukung keputusan ini,” tegas Mualem.
Sementara itu, salah satu orang kepercayaan Mualem, Win Rimba Raya, membantah adanya dugaan bahwa ada parnas lain yang tidak mendukung dipilihnya TA Khalid. “Itu tidak benar,” tegas Win. Menurutnya, persoalan parnas tidak ada masalah lagi. Artinya komit dengan keputusan Mualem demi kepentingan Aceh yang lebih baik dan besar, terutama pimpinan parnas yang telah menunjukkan komitmen dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB). Win juga memastikan bahwa pimpinan parnas di Pusat (Jakarta) juga sudah bertemu dengan Mualem. “Kecuali kalau mereka ingkar. Tapi, hingga saat ini, mereka tetap komit dengan Mualem,” sebut Win.
Nah, tanpa sadar, jarum jam sudah bergerak ke pukul 23.00 WIB. Begitupun, sejumlah kader dan simpatisan serta beberapa pimpinan KPA/PA dari kabupaten/kota se-Aceh, masih saja bertahan di Kantor DPP PA, kawasan Batoh, Kota Banda Aceh. Bahkan, usai menyampaikan keputusannya, Mualem menyempatkan diri menikmati jus segar di warung kopi, samping Kantor DPP PA. Sementara, sejumlah kader dan simpatisan PA, menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil foto Mualem. Sesekali, Mualem tampak berbisik pada kadernya, sambil menenggak lepas minuman yang ada di depannya.
Malam semakin larut, udara dingin mulai menyelimuti tubuh. Bersamaan dengan itu, Mualem pamitan untuk kembali ke Pendopo, kawasan Blang Padang, Banda Aceh. Searah mata memandang, mobil Alphard yang ditumpangi Mualem melaju di tengah kegelapan malam yang menyertai hiruk pikuk Kota Madani, Banda Aceh.
Saat itu juga, satu per satu para kader dan simpatisan KPA/PA meninggalkan Kantor DPP PA dengan rona wajah beragam. Ada juga yang terkesan pasrah dan lelah. Tapi, ada juga yang tampak sumringah, sebab penantian panjang mereka terjawab sudah.***



Pupus Sudah Harapan Abu Razak

Setelah melalui jalan terjal dan berliku. Muzakir Manaf akhirnya menjatuhkan pilihan pada TA Khalid sebagai calon Wakil Gubernur Aceh, mendampinggi dirinya pada Pilkada 2017 mendatang. Harapan Abu Razak pupus sudah!


Pendopo Wakil Gubernur Aceh di kawasan Blang Padang, Kota Banda Aceh adalah saksi bisu dari perjalanan panjang, penentuan figur calon Wakil Gubernur Aceh, mendampinggi Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem sebagai calon Gubernur Aceh Periode 2017-2022, pada Pilkada 2017 mendatang.
Betapa tidak, kediaman orang nomor dua Aceh ini, kerap digunakan sebagai tempat pertemuan para pimpinan partai politik nasional (parnas) dan partai politik lokal (parlok) di Aceh.
Agendanya mudah ditebak, mereka membicarakan lahirnya satu koalisi parnas-parlok untuk mengusung Ketua KPA/PA yang juga Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf sebagai orang nomor satu Aceh. Hasilnya, tahun lalu lahirnya Koalisi Aceh Bermartabat.
Nah, sejak itulah berbagai pertemuan penting dan strategis digelar. Itu sebabnya, sejumlah pimpinan partai di Aceh tak lagi sungkan untuk melangkah ke Blang Padang. Sebut saja, Ketua DPD Gerindra Aceh, TA Khalid. Ketua DPD Hanura Aceh, Syafruddin Budiman, Ketua DPW PPP Aceh (saat itu) Mohd Faisal Amin, Ketua DPW PAN Aceh, Anwar Ahmad, Ketua Partai Damai Aceh (PDA) Muhibbussabri, Sekretaris Umum PKB Aceh, T Amrizal, Ketua PKPI Aceh Indra Azmi, Ketua dan Sekretaris Umum DPD I Partai Golkar Aceh (saat itu Yusuf Ishak dan Muntasir Hamid). Ada lagi, DPW PKS, Khairul Amalserta utusan Partai Demokrat Aceh. Minus utusan Partai NasDem.
Kehadapan politisi yang hadir dalam beberapa pertemuan, Mualem meminta setiap partai politik nasional yang ada di Aceh untuk mengajukan satu nama sebagai bakal calon wakilnya. “Namun, jangan berkecil hati bagi yang tidak terpilih menjadi wakil saya,” tegas Mualem saat itu dan pada beberapa kesempatan.
Gayung bersambut, permintaan Mualem tak mendapat protes atau bantahan dari para pimpinan parnas saat itu. Makanya, Mualem berkesimpulan, pimpinan parnas di Aceh setuju dan sepakat dengan keputusannya.
Begitupun, secara legal, Mualem tak mau kehilangan kereta. Kesepakatan tadi dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan No: 048/KPTS-DPA-PA/XI/2015. Surat itu di tandatangani sendiri oleh Muzakir Manaf dan Sekretaris Jenderal Partai Aceh, Mukhlis Basyah. “Yang tidak terpilih menjadi wakil akan diberikan posisi lain sesudah menang pemilu, “ janji Mualem.
Rencana Mualem ini memang sudah digadang-gadangkan jauh hari dan disambut gembira sejumlah politisi di Aceh. Beberapa ketua partai nasional (parnas) bahkan langsung membuat penjajakan. Namun, meski disambut gembira oleh tokoh parnas, penolakan justru sempat muncul dari kalangan internal PA. Mereka menginginkan agar Mualem menggandeng wakil dari internal Partai Aceh. Nama yang sempat disebut-sebut adalah Kamaruddin Abu Bakar alias Abu Razak.  Namun, Mualem sudah kadung berjanji dan berikrar akan memilih wakilnya dari partai nasional.
Memang, selain Abu Razak, Mualem sempat menyebut beberapa nama yang akan mendampingginya. Misal, Anwar Ahmad, Ketua DPW PAN Aceh. Muncul juga nama Ketua DPD Partai Demokrat Aceh Nova Iriansyah. Bahkan, nama Bupati Bireuen Ruslan M. Daud. Terakhir, Mualem sempat mewacanakan calon pendamping dirinya dari kalangan ulama dayah.
Pernyataan itu disampaikan Mualem, beberapa saat setelah adanya aksi demontrasi dari santri dan ulama dayah (Huda) di Banda Aceh, terkait protes terhadap pendukung aliran Wahabi di Aceh. Tak hanya itu, dalam berbagai kunjungannya ke daerah, Mualem bertemu dengan sejumlah ulama dayah dan kembali mengeluarkan keinginannya itu.
Begitupun, semua janji dan penantian panjang tersebut, akhirnya terjawab sudah, Rabu malam pekan lalu. Mualem menjatuhkan pilihan pada TA Khalid, Ketua DPD Gerindra Aceh. Alasanya sangat sederhana. TA Khalid adalah figur yang mudah diajak bicara serta manut dengan berbagai perintah Mualem. Sementara TA Khalid pun telah berkomitmen untuk mempertaruhkan nyawa (hidup-mati) untuk kemenangan Mualem. Jadi, klop sudah.
 “Sikap Gerindra tidak perlu diragukan lagi, Insya Allah akan kerja mati-matian, hidup mati untuk menangkan Mualem. Keputusan Gerindra tidak cuma di Aceh, tetapi juga di DPP dan telah memerintahkan kami untuk bekerja hidup mati buat Mualem,” tegas TA Khalid suatu hari.
Entah itu sebabnya. Mualem pun tak mau ingkar janji. Komitmennya untuk didampinggi TA Khalid, diam-diam terus disuarakan. Namun, keinginan ini tentu saja tak semulus membalik telapak tangan. Upaya dan usaha untuk mengusur TA Khalid dari Mualem terus gencar dilakukan oleh pihak yang tidak sepakat.
Klimaknya, 10 April 2016 lalu, musyarawah ban sigom Aceh yang diselenggarakan di empat tempat terpisah, yaitu Hotel Grand Naggroe, Grand Aceh, Grand Lambhuk dan The Pade, berakhir ricuh. Padahal, acara tersebut diwacanakan untuk menentukan calon pendamping Mualem. Namun, beberapa petinggi PA masih tidak sependapat dengan Mualem, mengusung calon dari partai nasional.
Diduga, usaha penjegalan itu dilakukan oleh para loyalis Abu Razak seperti Jufri Hasanuddin. Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) ini menginginkan Abu Razak menjadi pendamping Mualem. Kalaupun tidak, tetap dari kader internal Partai Aceh. Caranya dengan mengajak peserta forum yang hadir di Hotel Grand Aceh hari itu, menimbang kembali siapa calon yang layak untuk mendampinggi Mulem.
Mengetahui gelagat tidak baik, para loyalis Mualem menghentikan keinginan itu dan  kemudian berakhir ricuh. Hasilnya, Mualem gagal mengumumkan calon wakilnya. “Mualem sudah menunjukkan TA Khalid, cuma belum bisa dipublikasi,” ungkap sumber media ini yang juga petinggi Partai Aceh beberapa waktu lalu.
Jufri Hasanuddin mengaku, ia lebih setuju bila pendamping Mualem adalah kader Partai Aceh bukan kader dari luar partai. “Saya hanya menginginkan yang menjadi pendamping Mualem adalah internal PA, bukan kader di luar partai,” ungkap Jufri pada media ini beberapa waktu lalu.
Namun, upaya Abu Razak bersama Jufri Hasanuddin Cs, kandas, setelah Rabu malam lalu, Mualem mendeklarasikan TA Khalid sebagai wakilnya dan meminta para kader serta petinggi KPA/PA untuk bersatu, memenangkan duet yang rencananya akan dideklarasikan dengan singkatan MAULID. “Kita akan deklarasikan usai lebaran nantinya, namun istilah Maulid itu belum final ya,” jelas Mualem.
Malam itu, Mualem juga mengklaim bahwa pilihannya untuk memilih wakil dari pimpinan partai politik nasional mendapat dukungan dari semua parnas. “Alhamdulillah, semua parnas sudah mendukung kita, kecuali Golkar, Hanura dan PDI,” sambung Mualem.
Namun, klaim Mulem tersebut dibantah beberapapa ketua partai politik nasional. Ketua DPW NasDem Aceh Zaini Jalil mengungkapkan, pilihan Mualem itu tidak mewakili parnas. Sebab NasDem hingga saat ini belum memberikan dukungan kepada kandidat manapun, karena belum keluar hasil survei yang dilakukan partainya.
“Selama ini, NasDem hanya membangun komunikasi dengan semua pihak termasuk dengan Mualem, agar adanya pemahamam bersama tentang strategi membangun Aceh secara bersama-sama, ujarnya.
Sementara DPW PAN Aceh Anwar Ahmad tidak mau bicara banyak. Menurut dia keinginan Mualem memilih TA Khalid adalah haknya prerogatif Mualem dan tidak seorang pun dapat mengintervensi. Apalagi Partai Aceh mempunyai kursi yang cukup di parlemen. Karena itu dia memberikan kewenangan sepenuhnya pada Mualem. “Saya pikir itu kewenangan beliau dan kita tidak berhak untuk  mencampurinya,” simpul Anwar.
Yang menarik Partai Demokrat Aceh. Setelah sempat menyatakan diri sebagai penyokong utama lahirnya Koalisi Aceh Bermartabat (KAB), partai ini rupanya  berencana memilih dan mengusung calon sendiri pada Pilkada 2017 mendatang. Sinyal itu disampaikan Ketua Penjaringan Calon Kepala Daerah dari Patia Demokrat Aceh , Yunus Ilyas.  Menurutnya, tidak ada lagi yang harus ditunggu sebab waktu terus berjalan dan sosialisasi bakal calon gubernur dan wakil gubernur  kepada masyarakat dan calon pemilih butuh waktu.
“Karena itu, sebaiknya Partai Demokrat Aceh mengusung calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pilkada Aceh 2017,” ujarnya.
Yunus mengungkapkan, survei bakal calon gubernur dari Partai Demokrat Aceh, dilakukan Jaringan Survei Indonesia (JSI) dan itu sudah selesai. Hanya saja, hasilnya baru akan diumumkan setelah Ketua Partai Demokrat Aceh, Ir. Nova Iriansyah bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Jakarta, Senin, 6 Juni 2016.
Nah, lepas dari semua kasak kusuk tadi, yang pasti harapan Abu Razak untuk duduk di kursi calon Wakil Gubernur Aceh, mendampinggi Mualem pada Pilkada 2017 mendatang pupus sudah.***




No comments:

Post a Comment