Akhir Penantian Panjang
Setelah lama menjadi
polemik di tubuh internal Partai Aceh, Ketua KPA dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP)
Partai Aceh, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, akhirnya menjatuhkan
pilihan pada Ketua DPD Gerindra Aceh TA Khalid sebagai calon Wakil Gubernur
Aceh, mendampingi dirinya pada Pilkada 2017 mendatang. Alasannya sederhana, TA Khalid dinilai mudah
diajak berkomunikasi dan bisa disuruh ke mana saja. Mualem mengklaim, TA Khalid
telah didukung partai politik nasional (Koalisi Aceh Bermartabat) kecuali Partai
Golkar, Hanura, PDIP dan NasDem. Berikut laporan Irwan Saputra untuk liputan Politik
pekan ini.
***
Gerimis
yang mengguyur Kota Banda Aceh sejak Rabu sore akhirnya reda. Bersahabatnya
alam malam itu membuat kader dan pimpinan Partai Aceh (PA) dari seluruh Aceh,
ramai mendatangi Kantor DPP Partai Aceh, Jalan Soekarno-Hatta, Batoh, Banda
Aceh.
Kehadiran
mereka bukan tanpa sebab. Maklum, malam itu ada putusan penting yang akan
disampaikan Mualem terkait figur calon Wakil Gubernur Aceh, mendampingi dirinya
pada Pilkada 2017 mendatang. “Tinggal menunggu Mualem saja. Setelah itu,
dimulai dan tidak terlalu lama,” ucap seorang petinggi PA pada media ini malam
itu.
Memang,
sesuai jadwal pertemuan (rapat) akan dilaksanakan pukul 20.00 WIB. Namun,
sempat molor satu jam. Persis pukul 21.00 WIB, Mualem tiba dan langsung menuju
ruang rapat. “Mohon maaf kawan-kawan wartawan. Ini rapat tertutup. Nanti Mualem
akan menggelar temu pers,” kata seorang petugas di kantor itu.
Sementara
itu, sejumlah kader, simpatisan serta pimpinan Komite Peralihan Aceh/Partai
Aceh (KPA/PA) dari daerah rela dan sabar
menunggu kedatangan Mualem. Salah satunya Abdurrahman Ubit, Ketua KPA/PA Abdya.
Bersama tiga rekannya, Abdurrahman memilih untuk menikmati secangkir kopi.
Sesekali, dia tampak sibuk memainkan telepon genggam sambil mengepul asap rokok
sigaret yang ia hisap ke udara.
Tak
banyak yang mereka dibicarakan. “Keadaan malam ini sudah disterilkan, jadi
potensi ribut kecil. Abu Razak juga tidak ada di sini,” duga salah seorang
wartawan online yang memang sudah lebih
awal datang. Maklum sajalah, semula sempat beredar kabar bahwa rapat tertutup
malam itu akan diwarnai keributan. Ini terkait keputusan Mualem untuk memilih
TA Khalid sebagai wakilnya.
Sumber
media ini mengungkapkan, semula rapat tertutup tadi rencananya akan
dilaksanakan Rabu pagi dan pada siang hari yang sama akan dilakukan temu pers.
Namun, karena masih muncul beberapa perbedaan pendapat, rapat tertutup itu pun
akhirnya digeser pada malam hari.
***
Tak lama kemudian, satu unit
kendaraan Alphard hitam memasuki pekarangan Kantor DPP PA Aceh. Dari dalam
mobil, muncul Muzakir Manaf dengan setelan jas partai dipadu celana jeans
cokelat. Malam itu, Mualem didampingi Win Rimba Raya, salah satu orang kepercayaannya.
Tanpa komando, berduyun kader Partai
Aceh meninggalkan warung kopi dan menyusul Mualem, mengikuti rapat tertutup di
lantai dua. Hanya sekitar sepuluh menit kemudian, petugas tadi mempersilakan
awak media untuk naik ke lantai tiga. Di sana, Mualem bersama petinggi KPA dan
PA se-Aceh telah menunggu.
“Pada
malam ini, tanggal 1 Juni 2016, saya nyatakan wakil saya adalah Saudara Ir. TA
Khalid. Maka, dengan berkat kudrat Ilahi semoga diberikan kemenangan oleh
Allah,” ujar Mualem yang disambut tepuk tangan dan takbir para kader partai. Sementara,
ada beberapa lainnya yang hanya diam dengan raut wajah datar.
Keputusan
Mualem menggandeng TA Khalid sebagai calon Wakil Gubernur Aceh tentu bukan
informasi baru. Sebelumnya, sinyalemen tersebut memang nyaris beredar. Bahkan,
sempat menuai tarik ulur alias pro dan kontra di kalangan internal PA.
Alasannya, partai lokal ini memiliki syarat yang lebih dari cukup untuk
mengusung kader sendiri.
Sebaliknya,
figur TA Khalid juga bukan sosok asing bagi pimpinan dan para mantan kombatan
Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ketua DPD Partai Gerindra Aceh ini telah lama
membina hubungan “mesra” dengan Mualem. Apalagi, posisi Mualem sebagai Ketua
Dewan Pembina Partai Gerindra Aceh.
Tak
hanya itu, saat Pilkada 2012 silam dan Pileg 2014, peran TA Khalid dinilai
cukup signifikan dalam memenangkan pasangan dr. Zaini Abdullah-Muzakir Manaf
(ZIKIR). Termasuk melobi dukungan politik serta pendanaan dari Ketua Umum DPP
Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Pada pileg lalu, TA Khalid juga ikhlas serta
rela melakukan kampanye, mendukung calon anggota DPR Aceh dan DPRK dari PA.
“Untuk kursi DPR Aceh dan DPRK, mari kita dukung dan menangkan PA,” begitu
teriak TA Khalid pada beberapa tempat saat kampanye Pileg 2014.
Mualem
menegaskan, alasan dirinya memilih TA Khalid bukan tanpa pertimbangan. Sebaliknya,
melalui proses cukup panjang, termasuk setelah mempertimbangkan sisi baik dan buruk.
Mualem menilai, figur TA Khalid adalah sosok yang boleh diajak berbincang,
boleh disuruh ke mana pun dan siap berdiskusi apa pun. Nah, karena faktor
itulah ia memilih Khalid sebagai wakilnya dalam pencalonan Gubernur Aceh untuk
periode 2017-2022 mendatang. “Ini adalah bukti kolaborasi antara partai lokal
dengan partai nasional, untuk kemajuan Aceh yang lebih baik,” sebut pria yang
masih aktif sebagai Wakil Gubernur Aceh itu.
Namun,
Mualem tetap sadar dan mengakui, sebelum keputusan malam itu diambil, dia kerap
digoyang secara internal. Sebab, ada pihak yang menginginkan Mualem memilih
wakil dari internal PA, sementara Mualem telah berikrar untuk menggandeng wakilnya
dari partai politik nasional.
“Untuk
kebersamaan membangun Aceh, saya melibatkan Koalisi Aceh Bermartabat untuk
bersama-sama membangun Aceh ke depan yang lebih bermartabat, bersatu dan lebih
maju,” tambah Mualem.
Mualem juga menjelaskan, di internal
PA, tidak ada permasalahan lagi terkait dirinya menggandeng TA Khalid. Alasannya,
karena internal PA telah komit dengan keputusan tersebut. Termasuk dengan
pimpinan parnas di Aceh.
“Sampai
hari ini, semuanya sudah komit kecuali Golkar. Mungkin mereka akan mengusung
calon sendiri, sementara PKB sudah mendukung kita. Partai Hanura dan PDIP belum
jelas karena mereka tidak memiliki kursi di parlemen,” jelas Mualem.
Disinggung apakah hanya TA Khalid
sebagai calon wakil dari parnas, Mualem menjawabnya secara diplomatis. Andai
dia dibolehkan memilih wakil beberapa orang, PA pasti akan mengusung beberapa
orang wakil. Namun, ada pemandangan ganjil malam itu karena beberapa tokoh KPA/PA
yang memiliki pengaruh tidak hadir. Sebut saja Kamaruddin Abu Bakar alias Abu
Razak, Mukhlis Basyah, Jufri Hasanuddin dan Ketua Tim pemenangan Mualem, Darwis
Djeunieb.
“Kenapa
Abu Razak tidak hadir?” tanya awak media. Mualem menjelaskan, dirinya telah
memerintahkan Abu Razak sebagai Ketua Harian KONI Aceh untuk membawa atlet ke
Jakarta, sementara Darwis Djeunieb harus menyelesaikan kasus internal PA di
Batee Iliek. Begitu juga dengan Mukhlis Basyah atau akrab disapa Adun Mukhlis.
Kata Mualem, Adun Mukhlis sedang dalam
perjalanan dari Jantho menuju Banda Aceh. “Mereka semua mendukung keputusan
ini,” tegas Mualem.
Sementara
itu, salah satu orang kepercayaan Mualem, Win Rimba Raya, membantah adanya
dugaan bahwa ada parnas lain yang tidak mendukung dipilihnya TA Khalid. “Itu
tidak benar,” tegas Win. Menurutnya, persoalan parnas tidak ada masalah lagi. Artinya
komit dengan keputusan Mualem demi kepentingan Aceh yang lebih baik dan besar,
terutama pimpinan parnas yang telah menunjukkan komitmen dalam Koalisi Aceh
Bermartabat (KAB). Win juga memastikan bahwa pimpinan parnas di Pusat (Jakarta)
juga sudah bertemu dengan Mualem. “Kecuali kalau mereka ingkar. Tapi, hingga
saat ini, mereka tetap komit dengan Mualem,” sebut Win.
Nah,
tanpa sadar, jarum jam sudah bergerak ke pukul 23.00 WIB. Begitupun, sejumlah
kader dan simpatisan serta beberapa pimpinan KPA/PA dari kabupaten/kota
se-Aceh, masih saja bertahan di Kantor DPP PA, kawasan Batoh, Kota Banda Aceh.
Bahkan, usai menyampaikan keputusannya, Mualem menyempatkan diri menikmati jus
segar di warung kopi, samping Kantor DPP PA. Sementara, sejumlah kader dan
simpatisan PA, menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil foto Mualem. Sesekali,
Mualem tampak berbisik pada kadernya, sambil menenggak lepas minuman yang ada
di depannya.
Malam
semakin larut, udara dingin mulai menyelimuti tubuh. Bersamaan dengan itu,
Mualem pamitan untuk kembali ke Pendopo, kawasan Blang Padang, Banda Aceh.
Searah mata memandang, mobil Alphard yang ditumpangi Mualem melaju di tengah
kegelapan malam yang menyertai hiruk pikuk Kota Madani, Banda Aceh.
Saat
itu juga, satu per satu para kader dan simpatisan KPA/PA meninggalkan Kantor
DPP PA dengan rona wajah beragam. Ada juga yang terkesan pasrah dan lelah. Tapi,
ada juga yang tampak sumringah, sebab penantian panjang mereka terjawab
sudah.***
Pupus
Sudah Harapan Abu Razak
Setelah
melalui jalan terjal dan berliku. Muzakir Manaf akhirnya menjatuhkan pilihan
pada TA Khalid sebagai calon Wakil Gubernur Aceh, mendampinggi dirinya pada
Pilkada 2017 mendatang. Harapan Abu Razak pupus sudah!
Pendopo
Wakil Gubernur Aceh di kawasan Blang Padang, Kota Banda Aceh adalah saksi bisu
dari perjalanan panjang, penentuan figur calon Wakil Gubernur Aceh,
mendampinggi Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem sebagai calon Gubernur Aceh
Periode 2017-2022, pada Pilkada 2017 mendatang.
Betapa
tidak, kediaman orang nomor dua Aceh ini, kerap digunakan sebagai tempat
pertemuan para pimpinan partai politik nasional (parnas) dan partai politik
lokal (parlok) di Aceh.
Agendanya
mudah ditebak, mereka membicarakan lahirnya satu koalisi parnas-parlok untuk
mengusung Ketua KPA/PA yang juga Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf sebagai
orang nomor satu Aceh. Hasilnya, tahun lalu lahirnya Koalisi Aceh Bermartabat.
Nah,
sejak itulah berbagai pertemuan penting dan strategis digelar. Itu sebabnya,
sejumlah pimpinan partai di Aceh tak lagi sungkan untuk melangkah ke Blang
Padang. Sebut saja, Ketua DPD Gerindra Aceh, TA Khalid. Ketua DPD Hanura Aceh,
Syafruddin Budiman, Ketua DPW PPP Aceh (saat itu) Mohd Faisal Amin, Ketua DPW
PAN Aceh, Anwar Ahmad, Ketua Partai Damai Aceh (PDA) Muhibbussabri, Sekretaris
Umum PKB Aceh, T Amrizal, Ketua PKPI Aceh Indra Azmi, Ketua dan Sekretaris Umum
DPD I Partai Golkar Aceh (saat itu Yusuf Ishak dan Muntasir Hamid). Ada lagi, DPW
PKS, Khairul Amalserta utusan Partai Demokrat Aceh. Minus utusan Partai NasDem.
Kehadapan
politisi yang hadir dalam beberapa pertemuan, Mualem meminta setiap partai
politik nasional yang ada di Aceh untuk mengajukan satu nama sebagai bakal
calon wakilnya. “Namun, jangan berkecil hati bagi yang tidak terpilih menjadi
wakil saya,” tegas Mualem saat itu dan pada beberapa kesempatan.
Gayung
bersambut, permintaan Mualem tak mendapat protes atau bantahan dari para
pimpinan parnas saat itu. Makanya, Mualem berkesimpulan, pimpinan parnas di
Aceh setuju dan sepakat dengan keputusannya.
Begitupun,
secara legal, Mualem tak mau kehilangan kereta. Kesepakatan tadi dituangkan
dalam bentuk Surat Keputusan No: 048/KPTS-DPA-PA/XI/2015. Surat itu di
tandatangani sendiri oleh Muzakir Manaf dan Sekretaris Jenderal Partai Aceh,
Mukhlis Basyah. “Yang tidak terpilih menjadi wakil akan diberikan posisi lain
sesudah menang pemilu, “ janji Mualem.
Rencana
Mualem ini memang sudah digadang-gadangkan jauh hari dan disambut gembira
sejumlah politisi di Aceh. Beberapa ketua partai nasional (parnas) bahkan
langsung membuat penjajakan. Namun, meski disambut gembira oleh tokoh parnas,
penolakan justru sempat muncul dari kalangan internal PA. Mereka menginginkan
agar Mualem menggandeng wakil dari internal Partai Aceh. Nama yang sempat disebut-sebut
adalah Kamaruddin Abu Bakar alias Abu Razak. Namun, Mualem sudah kadung berjanji dan
berikrar akan memilih wakilnya dari partai nasional.
Memang,
selain Abu Razak, Mualem sempat menyebut beberapa nama yang akan mendampingginya.
Misal, Anwar Ahmad, Ketua DPW PAN Aceh. Muncul juga nama Ketua DPD Partai
Demokrat Aceh Nova Iriansyah. Bahkan, nama Bupati Bireuen Ruslan M. Daud.
Terakhir, Mualem sempat mewacanakan calon pendamping dirinya dari kalangan
ulama dayah.
Pernyataan
itu disampaikan Mualem, beberapa saat setelah adanya aksi demontrasi dari
santri dan ulama dayah (Huda) di Banda Aceh, terkait protes terhadap pendukung
aliran Wahabi di Aceh. Tak hanya itu, dalam berbagai kunjungannya ke daerah,
Mualem bertemu dengan sejumlah ulama dayah dan kembali mengeluarkan
keinginannya itu.
Begitupun,
semua janji dan penantian panjang tersebut, akhirnya terjawab sudah, Rabu malam
pekan lalu. Mualem menjatuhkan pilihan pada TA Khalid, Ketua DPD Gerindra Aceh.
Alasanya sangat sederhana. TA Khalid adalah figur yang mudah diajak bicara
serta manut dengan berbagai perintah Mualem. Sementara TA Khalid pun telah
berkomitmen untuk mempertaruhkan nyawa (hidup-mati) untuk kemenangan Mualem.
Jadi, klop sudah.
“Sikap Gerindra tidak perlu diragukan lagi,
Insya Allah akan kerja mati-matian, hidup mati untuk menangkan Mualem. Keputusan
Gerindra tidak cuma di Aceh, tetapi juga di DPP dan telah memerintahkan kami
untuk bekerja hidup mati buat Mualem,” tegas TA Khalid suatu hari.
Entah
itu sebabnya. Mualem pun tak mau ingkar janji. Komitmennya untuk didampinggi TA
Khalid, diam-diam terus disuarakan. Namun, keinginan ini tentu saja tak semulus
membalik telapak tangan. Upaya dan usaha untuk mengusur TA Khalid dari Mualem
terus gencar dilakukan oleh pihak yang tidak sepakat.
Klimaknya,
10 April 2016 lalu, musyarawah ban sigom Aceh yang diselenggarakan di empat
tempat terpisah, yaitu Hotel Grand Naggroe, Grand Aceh, Grand Lambhuk dan The
Pade, berakhir ricuh. Padahal, acara tersebut diwacanakan untuk menentukan
calon pendamping Mualem. Namun, beberapa petinggi PA masih tidak sependapat
dengan Mualem, mengusung calon dari partai nasional.
Diduga,
usaha penjegalan itu dilakukan oleh para loyalis Abu Razak seperti Jufri
Hasanuddin. Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) ini menginginkan Abu Razak menjadi
pendamping Mualem. Kalaupun tidak, tetap dari kader internal Partai Aceh. Caranya
dengan mengajak peserta forum yang hadir di Hotel Grand Aceh hari itu, menimbang
kembali siapa calon yang layak untuk mendampinggi Mulem.
Mengetahui
gelagat tidak baik, para loyalis Mualem menghentikan keinginan itu dan kemudian berakhir ricuh. Hasilnya, Mualem
gagal mengumumkan calon wakilnya. “Mualem sudah menunjukkan TA Khalid, cuma
belum bisa dipublikasi,” ungkap sumber media ini yang juga petinggi Partai Aceh
beberapa waktu lalu.
Jufri
Hasanuddin mengaku, ia lebih setuju bila pendamping Mualem adalah kader Partai
Aceh bukan kader dari luar partai. “Saya hanya menginginkan yang menjadi
pendamping Mualem adalah internal PA, bukan kader di luar partai,” ungkap Jufri
pada media ini beberapa waktu lalu.
Namun,
upaya Abu Razak bersama Jufri Hasanuddin Cs, kandas, setelah Rabu malam lalu, Mualem
mendeklarasikan TA Khalid sebagai wakilnya dan meminta para kader serta petinggi
KPA/PA untuk bersatu, memenangkan duet yang rencananya akan dideklarasikan
dengan singkatan MAULID. “Kita akan deklarasikan usai lebaran nantinya, namun istilah
Maulid itu belum final ya,” jelas Mualem.
Malam
itu, Mualem juga mengklaim bahwa pilihannya untuk memilih wakil dari pimpinan partai
politik nasional mendapat dukungan dari semua parnas. “Alhamdulillah, semua
parnas sudah mendukung kita, kecuali Golkar, Hanura dan PDI,” sambung Mualem.
Namun,
klaim Mulem tersebut dibantah beberapapa ketua partai politik nasional. Ketua
DPW NasDem Aceh Zaini Jalil mengungkapkan, pilihan Mualem itu tidak mewakili
parnas. Sebab NasDem hingga saat ini belum memberikan dukungan kepada kandidat
manapun, karena belum keluar hasil survei yang dilakukan partainya.
“Selama
ini, NasDem hanya membangun komunikasi dengan semua pihak termasuk dengan
Mualem, agar adanya pemahamam bersama tentang strategi membangun Aceh secara
bersama-sama, ujarnya.
Sementara
DPW PAN Aceh Anwar Ahmad tidak mau bicara banyak. Menurut dia keinginan Mualem
memilih TA Khalid adalah haknya prerogatif Mualem dan tidak seorang pun dapat
mengintervensi. Apalagi Partai Aceh mempunyai kursi yang cukup di parlemen.
Karena itu dia memberikan kewenangan sepenuhnya pada Mualem. “Saya pikir itu
kewenangan beliau dan kita tidak berhak untuk
mencampurinya,” simpul Anwar.
Yang
menarik Partai Demokrat Aceh. Setelah sempat menyatakan diri sebagai penyokong utama
lahirnya Koalisi Aceh Bermartabat (KAB), partai ini rupanya berencana memilih dan mengusung calon sendiri
pada Pilkada 2017 mendatang. Sinyal itu disampaikan Ketua Penjaringan Calon
Kepala Daerah dari Patia Demokrat Aceh , Yunus Ilyas. Menurutnya, tidak ada lagi yang harus
ditunggu sebab waktu terus berjalan dan sosialisasi bakal calon gubernur dan
wakil gubernur kepada masyarakat dan
calon pemilih butuh waktu.
“Karena
itu, sebaiknya Partai Demokrat Aceh mengusung calon Gubernur dan Wakil Gubernur
dalam Pilkada Aceh 2017,” ujarnya.
Yunus
mengungkapkan, survei bakal calon gubernur dari Partai Demokrat Aceh, dilakukan
Jaringan Survei Indonesia (JSI) dan itu sudah selesai. Hanya saja, hasilnya
baru akan diumumkan setelah Ketua Partai Demokrat Aceh, Ir. Nova Iriansyah
bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di
Jakarta, Senin, 6 Juni 2016.
Nah,
lepas dari semua kasak kusuk tadi, yang pasti harapan Abu Razak untuk duduk di
kursi calon Wakil Gubernur Aceh, mendampinggi Mualem pada Pilkada 2017
mendatang pupus sudah.***
No comments:
Post a Comment