Kesepakatan
Diusik, Loyalis Bertindak
JAM masih menunjukkan pukul 8.30 WIB, Minggu pagi
pekan lalu. Namun, puluhan unit kendaraan pribadi milik peserta Rapat Kerja
Partai Aceh Ban Sigom Aceh, sudah tampak memadati halaman parkir Hotel Grand Lambhuk, Desa Lambhuk, Banda Aceh. Karena
sejumlah kesepakatan diusik, raker berakhir ricuh.
***
Melirik sebelah kanan halaman hotel, terbentang selembar spanduk merah ukuran 1x4 meter bertuliskan: Rapat Musyawah Ban Sigom Aceh Tahun 2016. Tema yang diusung, mempersatukan visi dan misi partai untuk
menyambut Pilkadasung
2017.
Hotel Grand Lambhuk, bukanlah satu-satunya tempat diselenggarakan
musyawarah Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (PA), Minggu Pekan lalu itu. Masih ada beberapa hotel lain sebagai sentral pertemuan
kader PA ini.
Misal, rapat bagi Komite
Peralihan Aceh (KPA) dan Partai Aceh dipusatkan pada The Pade Hotel. Begitu juga
di Sultan Hotel, khusus pertemuan eks GAM alumni Tripoli dan Tuha
Peut PA, sedangkan di Grand
Aceh untuk para kepala daerah dan anggota DPRA/DPRK dari PA. “Ini
rapat internal partai, biasanya tertutup,” ujar wakil DPA-PA, Haspianah, saat bincang-bincang dengan media ini, Minggu pagi pekan lalu.
Haspianah mengaku, agenda rapat musyawarah Ban Sigom Aceh ini bertujuan untuk mencari kata sepakat terhadap sosok
pendamping Muzakir Manaf atau Mualem pada Pilkada 2017 mendatang. Selain itu, dibicarakan pula soal
pembentukan tim pemenangan Muzakir Manaf. Sedangkan hasil musyawarah akan diumumkan pada Minggu malam, di Amel Convention Hall, Ulee Kareng, Banda
Aceh. “Di Amel, nanti baru terbuka untuk umum,” kata Haspianah, menambahkan cerita rapat DPA-PA sambil berlalu pergi.
Pertemuan Minggu pagi pekan
lalu itu, mengundang kader utama saja. Misal, untuk setiap pengurus Dewan
Pimpinan Wilayah (DPW) PA, hanya diminta hadir ketua dan sekretaris. Nah, semula, musyawarah PA itu berjalan tertib, meski gelagat ricuh mulai
terbaca sejak dua hari sebelum pertemuan dilaksanakan.
Hasilnya, selain kursi, meja dan kaca pecah serta berantakan, juga
kepala salah seorang pengawal Wakil Ketua KPA/PA, Kamaruddin Abu Bakar (Abu
Razak), terluka. Sumber media menceritakan, berawal dari kekosongan pimpinan siding, lalu, ramai-ramai menolak. Padahal, dianggap lebih tepat untuk memimpin adalah Bupati Pidie, Sarjani Abdullah dan anggota DPRA Ermiadi Abdul Rahman.
Namun, kedua nama itu juga menolak memimpin rapat. Bisa jadi, kedua kader PA ini sudah punya firasat
bahwa rapat akan berakhir ricuh dan tidak mau terjebak dalam konflik. Sebagai alternatif, ditunjuk Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Jufri
Hasanuddin, sebagai pemimpin rapat.
Sumber media ini, salah seorang peserta rapat mengakui, Jufri Hasanuddin juga
pengurus strategis dalam struktur DPA-PA. Namun, sejujurnya sebelum Jufri
Hasanuddin menerima kepercayaan forum, sudah ada kader PA yang mengingatkannya.
Isyarat itu dengan aba-aba kelipan mata.
Nah, entah sadar dan paham atau tidak, tapi Jufri Hasanuddin mengabaikan sinyal tadi. Dia mengaku, walau berat untuk menerima kepercayaan sebagai
pimpinan rapat, namun dia terpaksa menerimanya. “Saya tahu palu ini panas, tapi saya
harus mengambilnya,” begitu pengakuan Jufri Hasanuddin saat menerima
kepercayaan, cerita sumber media ini.
Syahdan, tak berlangsung lama, kericuhan pun terjadi. Menurut sumber tadi, kericuhan itu
bukan dari peserta rapat, tapi ada
sekelompok kader PA loyalis Muzakir Manaf datang ke
lokasi. Sebab, sebelum
ricuh di Grand Aceh Hotel, kelompok ini lebih dulu membubarkan
pertemuan KPA/PA di The Pade Hotel.
Kabarnya, para loyalis Muzakir Manaf dari KPA
Pasee, Aceh Besar, Batee Iliek dan Peureulak (Aceh Timur) mendapat kabar adanya
skenario buruk
dari pertemuan tadi, yaitu ingin menurunkan Mualem
dari kursi Ketua KPA/PA serta posisinya sebagai calon tunggal Gubernur Aceh
dari PA, digantikan dr. Zaini Abdullah.
Selain itu, loyalis Abu Razak juga ngotot mengusung nama Abu Razak
sebagai calon wakil gubernur, mendampingi Mualem.
“Jadi, mereka memasang target ganda. Jika rencana pertama
gagal, maka dimainkan skenario kedua. Tapi, Alhamdulillah. Kedua rencana mereka
tadi gagal terwujud,” sebut seorang loyalis Mualem pada media ini.
Nah,
karena acara dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan agenda utama, beberapa Panglima
Wilayah berang, mereka bertanya
pada Jufri Hasanudin dan Abu Razak, “Pakon
na acara nyoe lom (kenapa ada acara ini
lagi),” cerita
sumber tadi.
Saat itu, Abu
Razak coba menjelaskan duduk persoalan, tapi penjelasan itu ditolak oleh mayoritas forum yang tidak sepakat. Alhasil, memicu emosi para panglima dan pengurus
Partai Aceh dari berbagai daerah yang hadir hari itu.
Karena
tidak setuju dengan agenda tersembunyi tersebut, lalu mereka membubarkan acara
rapat yang sedang berlangsung. Suasana kemudian semakin tak terkendali dan kursi
serta gelas berserakan di lokasi acara. Bahkan, menurut sumber media ini,
ajudan Abu Razak terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk diberikan pertolongan
atas luka yang dialaminya di kepala.
Karena
suasana semakin tak terkendali, salah seorang ajudan Bupati Jufri Hasanuddin, mengeluarkan tembakan ke udara.
Tujuannya, untuk menenangkan peserta dan mengamankan posisi Bupati Jufri Hasanuddin.
Tapi, ada yang menarik. Sarjani yang dianggap punya power atau sosok yang disegani selama ini, namun saat ricuh itu terjadi dia lebih memilih diam alias mengamankan diri.
Sayangnya, saat diminta
penjelasan sejumlah wartawan, Abu Razak saat menghadiri musrembang di DPR
Aceh, Kamis pekan lalu, menolak untuk memberikan keterangan, terkait ricuh PA dan siapa
pendamping Muzakir Manaf. “Bek lon (jangan saya),” begitu kata
Abu Razak singkat, Kamis pekan lalu.
Sementara
itu, Mualem membantah terjadi kericuhan. Bantahan itu ditegaskan Mualem bersama Pengurus DPA-PA dan Pengurus DPW-PA pada temu pers di Kantor
DPA-PA, Batoh, Banda Aceh, Minggu malam pekan lalu. “Kejadian tadi siang itu hanya insiden kecil. Kami sudah
menyelesaikannya dan tidak ada lagi masalah apa pun,” kata Mualem.
Menurut
Mualem, ini bukanlah ricuh melainkan hanya miskomunikasi antara pengurus DPW dengan panitia, terkait kepengurusan struktural partai. Mualem membantah bahwa pemicu insiden ini terkait soal pemilihan pasangan
dirinya. “Bukan masalah wakil, tadi yang kita bahas masalah kepengurusan,
terkait beberapa pengurus yang sudah meninggal, sudah uzur, dan ada yang sudah
pindah ke tempat lain. Itu masalahnya, hanya masalah kecil dan sudah kita
selesaikan,” jelas Mualem, didampingi Ketua PA Bireuen
Tgk Darwis Juenieb, Ketua KPA Pasee Tgk Ni, Wakil DPA Abu Razak, dan Jubir PA
Adi Laweung.
Sebut Mualem, kejadian itu bisa saja dipolitisir oleh sejumlah pihak, untuk kepentingan pihak tertentu. Mualem menduga, ada pihak ketiga yang masuk dalam insiden itu dan sengaja mengembangkan persoalan, agar menjadi isu besar di tengah-tengah masyarakat.
“Intinya kami tidak mengarah ke situ (bahas soal calon wakil), isu yang
berkembang di luar ya macam-macam, mungkin ada masuk pihak ketiga. Intinya
seperti saya katakan tadi, semuanya sudah selesai dan itu hanya insiden kecil,”
jelas Mualem.
Begitupun, soal adanya pengurus PA yang mengalami
luka di bagian kepala akibat insiden itu, Mualem tidak membantah. “Saya rasa
lebih kurang begitu. Saya rasa setiap insiden pasti ada begitu. Itu lumrah.
Tapi, intinya saya bersama wakil sudah turun tangan dan sudah tidak ada masalah
lagi.”
Sementara, ketika awak media menanyakan siapa
wakil yang akan dijadikan Mualem sebagai calon Wakil Gubernur, Mualem hanya
menjawab semua masih dalam kemungkinan. “Bisa dari internal partai ataupun dari
kader parnas,” ucap
Mualem menutup temu pers.***

No comments:
Post a Comment