Saturday, June 11, 2016

Kisruh Internal PA/KPA : Saling Sikut Jelang Pesta Rakyat

Kisruh Internal PA/KPA

Saling Sikut Jelang Pesta Rakyat


Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan ketua Dewan Perwakilan Wilayah Partai Aceh (PA), Abdurrahman Ubit dilengserkan gara-gara mendeklarasikan Erwanto sebagai bakal calon bupati Abdya untuk periode 2017-2022. Abdurrahman menuding, Jufri Hasanuddin berada di balik pelengseran dirinya. Namun Jufri membantah tudingan tersebut.

Irwan Saputra
           
Perebutan posisi bakal calon bupati Abdya dari Partai Aceh sepertinya tak akan cepat mereda. Muzakir Manaf, Ketua Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA) Pusat belum memutuskan siapa yang akan diusung.
Puluhan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tergabung dalam Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah 013 Blangpidie beserta pengurus Partai Aceh Abdya bahkan sempat menghadang rombongan Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem saat ingin melitas di Abdya, Sabtu pekan lalu, untuk kepastian siapa bakal sosok yang dipilih menggantikan Abdurrahman sebagai Ketua KPA.
Sinyal terbaru menunjukkan bahwa, perang dingin antara para calon kandidat yang bertarung memperebutkan posisi bakal calon yang diusung Partai Aceh, kian mendidih. Paling senter adalah pertarungan antara Jufri Hasanuddin versus Erwanto, bupati dan wakil bupati Abdya saat ini.
Meski sebelumnya, Jufri sempat berujar ke awak media, bahwa ia tidak akan maju untuk menjadi calon bupati Abdya yang kedua kalinya, dan memberi sinyal dukungan untuk 12 kader terbaik PA Abdya saat ini. Tapi sepertinya, wakil sekretaris umum DPA-PA itu mulai ingkar pada pernyatan tersebut.
Soalnya, di masyarakat setempat, senter tersiar kabar, jika dalang kisruh di tubuh internal PA/KPA di negeri breuh sigupai saat ini adalah manuver politik dirinya, yang masih berhasrat untuk maju kedua kalinya dari Partai Aceh.
Maka untuk memuluskan keinginan tersebut, orang yang pertama sekali dijegal adalah ketua PA/KPA Wilayah setempat, Tgku Abdurrahman Ubit, yang telah memberi dukungan untuk memenangkan Erwanto sebagai bakal calon bupati yang diusung PA. Caranya, dengan mengadakan musyawarah pengurus KPA/PA Ban Sigom Wilayah 013 Blangpidie, Abdya.
Alhasil, bertempat di Pesantren Nurul Muhibbah, Desa Alue Pisang, Kecamatan Kuala Batee, Abdya, Kamis pekan lalu, musyawarah dengan agenda pelengseran ketua KPA/PA itu berjalan mulus.
Tiga ratusan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang terdiri dari mantan petinggi GAM, panglima daerah dari masing-masing wilayah se kabupaten Abdya, 12 sagoe, dan para mantan ketua PA/KPA  hadir ke pantren milik Abu Zaini Dahlan yang juga Ghasi PA/KPA Abdya.
Namun, dalam musyawarah hari itu tidak diputuskan, siapa sosok yang dipilih sebagai ketua KPA/PA menggantikan Abdurraham yang dilengserkan, melainkan mengusulkan tiga nama ke DPA-PA pusat, mereka adalah mantan Panglima GAM dari wilayah satu, Tgku Burhan; Wakil KPA wilayah Blangpidie, Tarzani yang berasal dari wilayah dua;  dan Panglima Daerah Wilayah III, Hamdani. “Penggantinya kita serahkan kepada Mualem untuk memutuskannya,ujar Tarzani dalam rapat hari itu.
Upaya pelengseran Abdurrahman Ubit memang telah lama dipertontonkan oleh kader PA/KPA Abdya. Peristiwa itu bermula sejak Abdurrahman mendeklarasikan Erwanto sebagai bakal calon bupati Abdya, pada 5 April 2016 lalu.
Keesokan harinya, pendeklarasian itu dibantah oleh Juru Bicara PA Abdya, Tengku Zainal Cot, yang melakukan konferensi pers di halaman Kantor Dewan Pimpinan Wilayah PA setempat, Rabu 6 April 2016.
"Deklarasi Erwanto sebagai bakal calon bupati Abdya yang mengatasnamakan DPW PA Abdya, kemarin dilakukan sepihak, tanpa melalui musyawarah terlebih dahulu dengan PA dan KPA Abdya,” Ujarnya.
            Menurut Zainal, Abdurrahman Ubit adalah Plt. Ketua DPW PA/KPA Abdya, tugasnya bukan komperensi pers untuk mengusung Erwanto sebagai bakal calon. Tetapi bagaimana mengantarkan pelaksanaan Musyawarah Wilayah DPW PA sukses. "Plt Ketua, tugasnya melaksanakan Muswil, bukan yang lain-lain yang justru memperkeruh suasana internal partai," tambah Zainal.
Penolakan yang turut dihadiri oleh Wakil Panglima Wilayah Tgk Tarzani, Juru Penerangan Tgk Khamaluddin alias Tgk Yong, Khazi KPA Abuzaini Dahlan, Ketua Laskar Cut Nyak Dhin Armi, Ketua Komando Mualem Abdya, Tgk Sayed Fadhli juga Perwakilan Syuhada, serta Panglima Daerah dan Panglima Sagoe di Wilayah Blangpidie, adalah sebagai bentuk protes atas pendeklarasian yang dilakukan oleh Abdurrahman yang dinilai tanpa melakukan musyawarah.
  "Apa yang kami lakukan hari ini, selain sebagai bentuk protes, juga untuk menghindari multi tafsir di kalangan internal KPA/PA yang berakibat pada perpecahan," jelas Zainal.
Sementara itu, kader PA/KPA saat diminta tanggapannya terkait dengan pelengseran ketua KPA/PA Abdya, mengaku bahwa selama ini Abdurrahman tidak lagi melakukan koordinasi yang baik dengan kader PA/KPA Abdya, begitupun dengan sago-sago yang ada, sehingga terkesan berjalan sendiri-sendiri, begitupun juga saat ia mendeklarasikan untuk mendukung Erwanto, itu tidak ada dilakukan rapat musyawarah. Karena sebab itulah, dilakukan pelengseran seperti ini. “Sikap Abdurrahman memperkeruh keadaan, makanya dilengserkan,ujar sumber yang tidak mau ditulis namanya, Jumat pekan lalu.
Sementara itu, ketua KPA/PA wilayah Abdya saat dikonfirmasi media Jumat pekan lalu mengungkapkan bahwa, semua pergolakan politik di internal PA/KPA saat ini adalah setingan Jufri Hasanuddin yang masih ngotot ingin menjadi bupati Abdya untuk kedua kalinya, caranya adalah dengan melengserkan dirinya, sementara rapat musyawarah yang dilakukan di Alue Pisang untuk melengserkan dirinya dinilainya illegal. Karena itu adalah rapat musyawarah DPA/PA namun tidak dihadiri oleh dirinya sebagai pimpinan yang sah. “Itu rapat illegal, dan semua itu adalah kepentingan politik Bupati Abdya Jufri Hasanuddin,” ujar Abdurrahman, saat dihubungi oleh media ini, Jumat malam pekan lalu.
Menurut Abdurrahman, tujuan Jufri melengserkan dirinya adalah agar bisa maju kembali menjadi calon bupati Abdya untuk kedua kalinya. Namun, lantaran ia tidak mau lagi Abdya dipimpin oleh Jufri Hasanuddin, dan lebih memilih Erwanto, maka orang yang pertama dilengserkan dari jabatan adalah dirinya.
Menurut Abdurrahman, beberara hari yang lalu, Jufri Hasanuddin sempat mencoba mengatur DPA-PA dalam rapat musyawarah Ban Sigom Aceh, namun berakhir dengan ricuh, dan atas kericuhan tersebut dinilai Abdurrahman,  juga akibat ulah Jufri Hasanuddin yang memperkeruh Partai Aceh di tingkat pusat.
Begitupun Partai Aceh di Abdya selama ini, menurut Abdurrahman telah diperkeruh oleh Jufri, karena selama ia menjabat sebagai Bupati, menurut Abdurrahman perpecahahan selalu terjadi, karena besar kepentingan keluarganya ketimbang kepentingan umum.
“Jadi saya dilengserkan ini adalah setting-an Jufri, dan segala sesuatu dia tidak pernah bermusyawarah saat mengambil kebijakan, ia langsung meninggalkan PA dan KPA, dia mengambil kebijakan sendiri,” sebut Abdurrahman.
Begitupun ia mengungkapkan, kenapa ia mendukung Erwanto karena dukungan pertama sekali untuk Erwanto itu mengalir dari Jufri Hasanuddin, tapi dia tidak tahu, jika kini Jufri sudah berbubah pikiran. “Karena waktu itu sudah disampaikan baik dengan Mualem maupun dengan yang lain, tapi belakangan kenapa berubah pikiran dimana gejalanya saya tidak tahu,” ujar pria yang akrab disapa Panglima Doe ini.
Selain itu, Abdurrahman juga mengungkapkan bahwa peran wakil bupati, tidak lagi diberikan oleh Jufri pada Erwanto, bahkan ia menuding jika Erwanto selama ini diperlakukan lebih parah dari wakil sebelumnya, almarhum Yusrizal. Malah untuk bicara di depan umum saat ini tidak lagi diberi kesempatan. “Dipike lek jih beu bisa diato lagee diato arwah wakil awai (di pikir bisa diatur seperti dia mengatur almarhum wakil bupati sebelumnya),” tegas Abdurrahman.
Namun, meskipun ia kini dilengserkan, ia menolak untuk melakukan perlawanan, malah ia mengaku lebih memilih untuk menahan diri demi kebersamaan dan kemajuan Abdya. Sementara, terkait ada pihak yang menolak dukungan yang ia berikan kepada Erwanto menurutnya, adalah permainan oknum yang pro Jufri Hasnuddin, demi mencari peng bicah (uang receh)
“Dia merasa diri sebagai Wasekum DPA-DPA, jadi seoalah-olah kami di bawah ini adalah anak dari pada dia, badahal kan bukan demikian, kita akui atau tidak, Jufri itu bukan orang GAM, Jufri itu bukan orang PA, karena kemaren dia bergabung dengan kita, dilakee ba moto jeut keu supir kemudian tapeucaya, di supir ka diba Moto lam juroeng ma kon han mungken ta jok tahap ke dua (dia minta bawa mobil jadi sopir kita berikan, namun setelah menjadi sopir ia malah membawa mobil ke dalam pagar, kan tidak mungkin kita percaya untuk kedua kalinya),” ujarnya.
Abdurrahman mengatakan, jika Jufri Hasanuddin saat ini ngotot ingin naik menjadi bupati Abdya yang kedua kalinya, karena keinginan dia untuk menjadi pendamping Mualem untuk gubermur dan wakil gubernur Aceh tidak ada peluang, makanya mau menjadi bupati kembali, alhasil dibuatlah keadaan seperti ini melalui beberapa oknum. “Jadi di jalan tol itu ada kerikil dan kerikil ini ada yang bawa bukan datang sendiri,kata Abdurrahman.***

Jufri Hasanuddin;

Itu Pernyatan Bangai!


Dituding sebagai dalang di balik pelengseran ketua KPA/PA Abdya, Jufri Hasanuddin, Bupati Abdya yang saat ini sedang melakukan kunjungan kerja di Inggris, membantah semua tudingan tersebut. Menurutnya, itu pernyataan sumber bangai (bodoh). Berikut pernyataannya kepada Irwan Saputra, Wartawan MODUS ACEH yang mewawancarainya lewat telfon seluler, Sabtu dini hari, pekan lalu.***
           
            Saya sangat mencitai Partai Aceh, saya hanya ingin menjaga solidaritas, saya tidak mau terjebak dalam konteks PA/KPA, dalam konteks apapun. Posisi saya saat ini adalah meredam setiap dinamika yang muncul. Persoalan siapa yang bermain, lihat sajalah bagaimana urutan kejadian.
Begitupun terkait siapa bakal calon bupati yang akan diusul PA, saya tidak berencana untuk naik lagi. Karena, kalau saya ingin, kenapa harus saya katakan tidak naik, sementara saya berkeinginan untuk naik kembali. Jadi begini, tidak ada politisi yang ia mau naik tapi mengatakan tidak naik, tidak ada kejadian seperti itu, artinya itu bunuh diri.
Saya tegaskan lagi bahwa saya tidak naik! Namun, bukan berarti saya lepas tanggungjawab, akan tetapi bagaimanapun PA harus menang, InsyaAllah. Saya akan bertarung untuk kemenangan PA di Abdya, terkait siapa calon, kita tunggu siapa yang akan ditunjuk oleh pimpinan Partai Aceh.
Terkait siapa dalang di balik pelengseran ketua KPA/PA Abdya, saya tidak mau terjebak dengan semua itu. Yang saya ingin adalah PA bisa memenangkan pertarungan, PA bisa solit. Tapi, jika ada orang-orang yang melakukan manuver itu urusan dia, saya tetap menjaga solidaritas, itu boleh ditanya pada para sagoe-sagoe dan pengurus Partai Aceh.
Kemudian yang harus dikatahui, tanggungjawab saya tidak hanya di PA tapi juga di pusat, jadi siapapun yang diputuskan nanti oleh pimpinan partai di Abdya, asal itu kader partai, saya di depan. Tapi, apakah yang bukan kader PA saya tidak mendukung? Tetap juga saya dukung! Tapi ya kita bertarung, ya untuk calon dari PA di Abdya, harus orang PA.
Terkait dukungan pada Erwanto, saya tidak pernah mendukung orang-perorang, saya pernah mengatakan ada 12 orang yang layak jadi calon bupati Abdya, salah sorang dari ke-12 orang tersebut adalah Erwanto. Saya tidak mendukung orang tapi memenangkan PA, saya akan mendukung orang yang bisa bertarung memenangkan PA, siapapun itu.
Dua belas orang itu tidak termasuk saya, selama saya berpolitik saya bukan orang yang munafik, jika itu strategi yang saya pakai maka bodoh sekalilah saya, saya mau naik tapi saya katakan tidak naik. Maka itu sikap seorang politisi bangai jika demikian, karena saya tahu persis, dukungan masih sangat kuat untuk saya. Saya berfikir dukungan tersebut juga karena PA. Mungkin, kalau saya bukan orang PA, tentu tidak sekuat itu didukung.
Perlu saya jelaskan, jika saya sangat mencintai PA, apapun demi kemenangan PA saya selalu di depan. Begitupun, persoalan kisruh di tubuh KPA/PA saat ini, menurut saya tidak benar, itu dinamika namanya. PA akan mencari jalan yang terbaik untuk menyelesaikannya. Dan, saya tidak masuk dan terlibat dalam dinamika itu, jadi terkait adanya keiginan dari saudara-saudara saya di Abdya ingin maju, saya siap menampung.  Pada akhirnya, siapapun yang diputuskan saya siap memenangkan, siapapun calonnya. Terkait menang atau tidak, itu hasilnya Allah yang tentukan, tapi terkait dengan hitungan-hitungan politik kita kan bisa melihat itu.
Terkait persoalan ingin menjadi pendamping Mualem, perlu diketahui bahwa saya adalah orang yang paling mendukung Mualem berpasangan dengan Abu Razak, hal itu saya sampaikan tidak hanya dalam forum, pada media-media juga saya menyampaikan.

Dari dulu bahwa,  menurut saya Mualem berpasangan sesama PA, dan kader PA yang layak saya lihat ya Abu Razak. Jadi jika ada sumber yang mengatakan saya mengincar posisi wakil Mualem itu tidak benar. Jadi jika ada sumber yang mengatakan demikian, itu sumber bangai, yang memikirkan PA dengan syahwat bukan dengan kepentingan PA, jadi saya tidak mau terjebak dengan sumber bangai.***

No comments:

Post a Comment