Kisruh Internal PA/KPA
Saling Sikut Jelang Pesta Rakyat
Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan ketua Dewan Perwakilan Wilayah Partai Aceh (PA), Abdurrahman Ubit dilengserkan
gara-gara mendeklarasikan Erwanto sebagai bakal calon bupati Abdya
untuk periode 2017-2022. Abdurrahman menuding, Jufri Hasanuddin berada di balik pelengseran dirinya. Namun Jufri membantah tudingan
tersebut.
Irwan Saputra
Perebutan posisi bakal calon bupati Abdya dari Partai Aceh sepertinya tak akan cepat mereda. Muzakir
Manaf, Ketua Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA) Pusat belum memutuskan siapa yang akan diusung.
Puluhan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tergabung dalam
Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah 013 Blangpidie beserta pengurus Partai Aceh
Abdya bahkan sempat menghadang rombongan Muzakir Manaf atau yang akrab disapa
Mualem saat ingin melitas di Abdya, Sabtu pekan lalu, untuk kepastian siapa
bakal sosok yang dipilih menggantikan Abdurrahman sebagai Ketua KPA.
Sinyal terbaru
menunjukkan bahwa, perang dingin antara para calon kandidat yang bertarung
memperebutkan posisi bakal calon yang diusung Partai Aceh, kian mendidih. Paling senter adalah pertarungan antara Jufri Hasanuddin versus
Erwanto, bupati dan wakil bupati Abdya saat ini.
Meski
sebelumnya, Jufri sempat berujar ke awak media, bahwa ia tidak akan maju untuk
menjadi calon bupati Abdya yang kedua kalinya, dan memberi sinyal dukungan
untuk 12 kader terbaik PA Abdya saat ini. Tapi sepertinya, wakil sekretaris
umum DPA-PA itu mulai ingkar pada pernyatan tersebut.
Soalnya, di
masyarakat setempat, senter tersiar kabar, jika dalang kisruh di tubuh internal
PA/KPA di negeri breuh sigupai saat ini adalah manuver politik dirinya, yang
masih berhasrat untuk maju kedua kalinya dari Partai Aceh.
Maka untuk
memuluskan keinginan tersebut, orang yang pertama sekali “dijegal” adalah ketua PA/KPA
Wilayah setempat, Tgku Abdurrahman Ubit, yang telah memberi dukungan untuk
memenangkan Erwanto sebagai bakal calon bupati yang diusung PA. Caranya, dengan mengadakan musyawarah pengurus KPA/PA Ban
Sigom Wilayah 013 Blangpidie, Abdya.
Alhasil,
bertempat di Pesantren Nurul Muhibbah, Desa Alue Pisang, Kecamatan Kuala Batee,
Abdya, Kamis pekan lalu, musyawarah dengan agenda pelengseran ketua KPA/PA itu berjalan
mulus.
Tiga ratusan
mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang terdiri dari mantan petinggi
GAM, panglima daerah dari masing-masing wilayah se kabupaten Abdya, 12 sagoe,
dan para mantan ketua PA/KPA hadir ke
pantren milik Abu Zaini Dahlan yang juga Ghasi PA/KPA Abdya.
Namun, dalam
musyawarah hari itu tidak diputuskan, siapa sosok yang dipilih sebagai ketua
KPA/PA menggantikan Abdurraham yang dilengserkan, melainkan mengusulkan tiga
nama ke DPA-PA pusat, mereka adalah mantan Panglima GAM dari wilayah satu, Tgku
Burhan; Wakil KPA wilayah Blangpidie, Tarzani yang berasal dari wilayah dua; dan Panglima Daerah Wilayah III, Hamdani. “Penggantinya
kita serahkan kepada Mualem untuk memutuskannya,” ujar Tarzani dalam rapat hari itu.
Upaya
pelengseran Abdurrahman Ubit memang telah lama dipertontonkan oleh kader PA/KPA
Abdya. Peristiwa itu bermula sejak Abdurrahman mendeklarasikan Erwanto sebagai
bakal calon bupati Abdya, pada 5 April 2016 lalu.
Keesokan
harinya, pendeklarasian itu dibantah oleh Juru Bicara PA Abdya, Tengku Zainal Cot, yang melakukan konferensi pers di
halaman Kantor Dewan Pimpinan Wilayah PA setempat, Rabu 6 April 2016.
"Deklarasi
Erwanto sebagai bakal calon bupati Abdya yang mengatasnamakan DPW PA Abdya, kemarin dilakukan
sepihak, tanpa melalui musyawarah terlebih dahulu dengan PA dan KPA Abdya,” Ujarnya.
Menurut
Zainal, Abdurrahman Ubit adalah Plt. Ketua DPW PA/KPA Abdya, tugasnya bukan
komperensi pers untuk mengusung Erwanto sebagai bakal calon. Tetapi bagaimana
mengantarkan pelaksanaan Musyawarah Wilayah DPW PA sukses. "Plt Ketua,
tugasnya melaksanakan Muswil, bukan yang lain-lain yang justru memperkeruh
suasana internal partai," tambah Zainal.
Penolakan yang
turut dihadiri oleh Wakil Panglima Wilayah Tgk Tarzani, Juru Penerangan Tgk
Khamaluddin alias Tgk Yong, Khazi KPA Abuzaini Dahlan, Ketua Laskar Cut Nyak
Dhin Armi, Ketua Komando Mualem Abdya, Tgk Sayed Fadhli juga Perwakilan
Syuhada, serta Panglima Daerah dan Panglima Sagoe di Wilayah Blangpidie, adalah
sebagai bentuk protes atas pendeklarasian yang dilakukan oleh Abdurrahman yang
dinilai tanpa melakukan musyawarah.
"Apa yang kami lakukan hari ini, selain sebagai
bentuk protes, juga untuk menghindari multi tafsir di kalangan internal KPA/PA
yang berakibat pada perpecahan," jelas Zainal.
Sementara itu,
kader PA/KPA saat diminta tanggapannya terkait dengan pelengseran ketua KPA/PA
Abdya, mengaku bahwa selama ini Abdurrahman tidak lagi melakukan koordinasi
yang baik dengan kader PA/KPA Abdya, begitupun dengan sago-sago yang ada,
sehingga terkesan berjalan sendiri-sendiri, begitupun juga saat ia
mendeklarasikan untuk mendukung Erwanto, itu tidak ada dilakukan rapat
musyawarah. Karena sebab itulah, dilakukan pelengseran seperti ini. “Sikap Abdurrahman
memperkeruh keadaan, makanya dilengserkan,” ujar sumber yang tidak mau ditulis namanya, Jumat pekan lalu.
Sementara itu,
ketua KPA/PA wilayah Abdya saat dikonfirmasi media Jumat pekan lalu
mengungkapkan bahwa, semua pergolakan politik di internal PA/KPA saat ini
adalah setingan Jufri Hasanuddin yang masih ngotot ingin menjadi bupati Abdya
untuk kedua kalinya, caranya adalah dengan melengserkan dirinya, sementara
rapat musyawarah yang dilakukan di Alue Pisang untuk melengserkan dirinya
dinilainya illegal. Karena itu adalah
rapat musyawarah DPA/PA namun tidak dihadiri oleh dirinya sebagai pimpinan yang
sah. “Itu rapat illegal, dan semua itu adalah kepentingan politik Bupati Abdya
Jufri Hasanuddin,” ujar Abdurrahman, saat dihubungi oleh media ini, Jumat malam pekan
lalu.
Menurut
Abdurrahman, tujuan Jufri melengserkan dirinya adalah agar bisa maju kembali
menjadi calon bupati Abdya untuk kedua kalinya. Namun, lantaran ia tidak mau lagi Abdya
dipimpin oleh Jufri Hasanuddin, dan lebih memilih Erwanto, maka orang yang
pertama dilengserkan dari jabatan adalah dirinya.
Menurut
Abdurrahman, beberara hari yang lalu, Jufri Hasanuddin sempat mencoba mengatur
DPA-PA dalam rapat musyawarah Ban Sigom Aceh, namun berakhir dengan ricuh, dan
atas kericuhan tersebut dinilai Abdurrahman, juga akibat ulah Jufri Hasanuddin yang memperkeruh
Partai Aceh di tingkat pusat.
Begitupun Partai
Aceh di Abdya selama ini, menurut Abdurrahman telah diperkeruh oleh Jufri,
karena selama ia menjabat sebagai Bupati, menurut Abdurrahman perpecahahan
selalu terjadi, karena besar kepentingan keluarganya ketimbang kepentingan
umum.
“Jadi saya
dilengserkan ini adalah setting-an Jufri, dan segala sesuatu dia tidak pernah bermusyawarah
saat mengambil kebijakan, ia langsung meninggalkan PA dan KPA, dia mengambil
kebijakan sendiri,” sebut Abdurrahman.
Begitupun ia
mengungkapkan, kenapa ia mendukung Erwanto karena dukungan pertama sekali untuk
Erwanto itu mengalir dari Jufri Hasanuddin, tapi dia tidak tahu, jika kini
Jufri sudah berbubah pikiran. “Karena waktu itu sudah disampaikan baik dengan Mualem maupun
dengan yang lain, tapi belakangan kenapa berubah pikiran dimana gejalanya saya
tidak tahu,” ujar pria yang akrab disapa Panglima Doe ini.
Selain itu,
Abdurrahman juga mengungkapkan bahwa peran wakil bupati, tidak lagi diberikan
oleh Jufri pada Erwanto, bahkan ia menuding jika Erwanto selama
ini diperlakukan lebih parah dari wakil sebelumnya, almarhum Yusrizal. Malah untuk bicara di
depan umum saat ini tidak lagi diberi kesempatan. “Dipike lek jih beu bisa
diato lagee diato arwah wakil awai (di pikir bisa diatur seperti dia mengatur almarhum
wakil bupati sebelumnya),” tegas Abdurrahman.
Namun,
meskipun ia kini dilengserkan, ia menolak untuk melakukan perlawanan, malah ia
mengaku lebih memilih untuk menahan diri demi kebersamaan dan kemajuan Abdya. Sementara,
terkait ada pihak yang menolak dukungan yang ia berikan kepada Erwanto
menurutnya, adalah permainan oknum yang pro Jufri Hasnuddin, demi mencari peng
bicah (uang receh)
“Dia merasa
diri sebagai Wasekum DPA-DPA, jadi seoalah-olah kami di bawah ini adalah anak
dari pada dia, badahal kan bukan demikian, kita akui atau tidak, Jufri itu
bukan orang GAM, Jufri itu bukan orang PA, karena kemaren dia bergabung dengan
kita, dilakee ba moto jeut keu supir kemudian tapeucaya, di supir ka diba
Moto lam juroeng ma kon han mungken ta jok tahap ke dua (dia minta bawa
mobil jadi sopir kita berikan,
namun setelah menjadi sopir ia malah membawa mobil ke dalam pagar, kan tidak
mungkin kita percaya untuk kedua kalinya),” ujarnya.
Abdurrahman
mengatakan, jika Jufri Hasanuddin saat ini ngotot ingin naik menjadi bupati Abdya
yang kedua kalinya, karena keinginan dia untuk menjadi pendamping Mualem untuk gubermur
dan wakil gubernur Aceh tidak ada peluang, makanya mau menjadi bupati kembali, alhasil
dibuatlah keadaan seperti ini melalui beberapa oknum. “Jadi di jalan tol itu ada
kerikil dan kerikil ini ada yang bawa bukan datang sendiri,” kata Abdurrahman.***
Jufri Hasanuddin;
Itu Pernyatan Bangai!
Dituding sebagai dalang di balik pelengseran
ketua KPA/PA Abdya, Jufri Hasanuddin, Bupati Abdya yang saat ini sedang
melakukan kunjungan kerja di Inggris, membantah semua tudingan tersebut.
Menurutnya, itu pernyataan sumber bangai (bodoh). Berikut pernyataannya
kepada Irwan Saputra, Wartawan MODUS ACEH yang mewawancarainya lewat telfon
seluler, Sabtu dini hari, pekan lalu.***
Saya
sangat mencitai Partai Aceh, saya hanya ingin menjaga solidaritas, saya tidak
mau terjebak dalam konteks PA/KPA, dalam konteks apapun. Posisi saya saat ini
adalah meredam setiap dinamika yang muncul. Persoalan siapa yang bermain, lihat
sajalah bagaimana urutan kejadian.
Begitupun
terkait siapa bakal calon bupati yang akan diusul PA, saya tidak berencana untuk naik lagi. Karena, kalau saya
ingin, kenapa harus saya katakan tidak naik, sementara saya berkeinginan untuk
naik kembali. Jadi begini, tidak ada politisi yang ia mau naik tapi mengatakan
tidak naik, tidak ada kejadian seperti itu, artinya itu bunuh diri.
Saya tegaskan lagi
bahwa saya tidak naik! Namun, bukan berarti saya lepas tanggungjawab, akan tetapi bagaimanapun
PA harus menang, InsyaAllah. Saya akan bertarung untuk kemenangan PA di Abdya,
terkait siapa calon, kita tunggu siapa yang akan ditunjuk oleh pimpinan Partai
Aceh.
Terkait siapa
dalang di balik pelengseran ketua KPA/PA Abdya, saya tidak mau terjebak dengan
semua itu. Yang saya ingin adalah PA bisa memenangkan pertarungan, PA bisa
solit. Tapi, jika ada orang-orang yang melakukan manuver itu urusan dia, saya
tetap menjaga solidaritas, itu boleh ditanya pada para sagoe-sagoe dan pengurus Partai Aceh.
Kemudian yang
harus dikatahui, tanggungjawab saya tidak hanya di PA tapi juga di pusat, jadi
siapapun yang diputuskan nanti oleh pimpinan partai di Abdya, asal itu kader
partai, saya di depan. Tapi, apakah yang bukan kader PA saya tidak mendukung? Tetap juga saya dukung! Tapi ya
kita bertarung, ya untuk calon dari PA di Abdya, harus orang PA.
Terkait dukungan
pada Erwanto, saya tidak pernah mendukung orang-perorang, saya pernah
mengatakan ada 12 orang yang layak jadi calon bupati Abdya, salah sorang dari
ke-12 orang tersebut adalah Erwanto. Saya tidak mendukung orang tapi memenangkan
PA, saya akan mendukung orang yang bisa bertarung memenangkan PA, siapapun itu.
Dua belas orang
itu tidak termasuk saya, selama saya berpolitik saya bukan orang yang munafik,
jika itu strategi yang saya pakai maka bodoh sekalilah saya, saya mau naik tapi
saya katakan tidak naik. Maka itu sikap seorang politisi bangai jika demikian, karena saya tahu persis, dukungan masih sangat kuat untuk
saya. Saya berfikir dukungan
tersebut juga karena PA. Mungkin, kalau saya bukan orang PA, tentu tidak sekuat
itu didukung.
Perlu saya
jelaskan, jika saya sangat mencintai PA, apapun demi kemenangan PA saya selalu
di depan. Begitupun, persoalan kisruh di tubuh KPA/PA saat ini, menurut saya tidak
benar, itu dinamika namanya. PA akan mencari jalan yang terbaik untuk menyelesaikannya.
Dan, saya tidak masuk dan terlibat dalam dinamika itu, jadi terkait adanya
keiginan dari saudara-saudara saya di Abdya ingin maju, saya siap menampung. Pada akhirnya, siapapun yang diputuskan saya siap memenangkan, siapapun
calonnya. Terkait menang atau tidak, itu hasilnya Allah yang tentukan, tapi
terkait dengan hitungan-hitungan politik kita kan bisa melihat itu.
Terkait
persoalan ingin menjadi pendamping Mualem, perlu diketahui bahwa saya adalah orang yang paling
mendukung Mualem berpasangan dengan Abu Razak, hal itu saya sampaikan tidak hanya dalam forum, pada media-media
juga saya menyampaikan.
Dari dulu
bahwa, menurut saya Mualem berpasangan
sesama PA, dan kader PA yang layak saya lihat ya Abu Razak. Jadi jika ada
sumber yang mengatakan saya mengincar posisi wakil Mualem itu tidak benar. Jadi jika ada sumber
yang mengatakan demikian, itu sumber bangai,
yang memikirkan PA dengan syahwat bukan dengan kepentingan PA, jadi saya tidak
mau terjebak dengan sumber bangai.***


No comments:
Post a Comment