Fakta Diungkap, Abu Doto Terusik
| Ilustri |
***
Jumat, 10 Juni 2016 lalu,
satu surat dari Pemerintah Aceh (Sekretariat Daerah) masuk ke redaksi media
ini. Surat bernomor: 480/10199 itu berisi perihal klarifikasi berita: “Celoteh Abu
Doto Sejahterakan si Miskin” dan berita pada halaman 12-13 dengan judul: “2,2
Juta Rakyat Aceh Ternyata Masih Miskin”, yang diwartakan media ini pada edisi:
8/TH.XIV, 6-12 Juni 2016. Atas nama Gubernur dan Sekda Aceh, surat tadi
ditandatangani Syahrul SE, M.Si. “Berkenaan dengan hal tersebut di atas, kami
ingin mengklarifikasi pemberitaan dimaksud dengan release dan data yang dapat dipertanggungjawabkan,” tulis salah
satu dari isi surat tadi.
Nah, satu hari kemudian,
sumber media ini di jajaran Pemerintah Aceh mengungkapkan, pengajuan surat
klarifikasi itu atas permintaan Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah atau akrab
disapa Abu Doto pada Kepala Bappeda Aceh Zulkifli dan Kepala Biro Humas
Pemerintah Aceh Frans Delian. Kabarnya, Abu Doto merasa terusik.
“Wajar saja, sebab dia
sedang gencar-gencarnya membangun pencitraan positif, menuju Pilkada 2017
mendatang. Jadi, sedikit saja ada berita yang “kurang baik” terhadap dirinya,
langsung muncul reaksi. Karena itu, Anda maklum sajalah, andai bisa setiap hari
ada iklan Abu Doto, tentu dia amat sangat sedang,” ujar sumber tadi yang juga
salah seorang staf di jajaran Sekda Aceh dan mengaku akan mendukung serta
memilih Tarmizi Karim pada Pilkada 2017 mendatang.
Pengakuan serupa juga
disampaikan salah seorang pejabat eselon III di Pemerintah Aceh. “Kalau saya
berharap jujur sajalah. Memang begitulah kondisi sebenarnya, rakyat Aceh masih
banyak yang miskin. Empat tahun sudah Pemerintahan ZIKIR (Zaini
Abdullah-Muzakkir Manaf), tak ada sesuatu yang lebih, selain pencitraan di
media pers. Kami staf merasakan sendiri, tak ada pembinaan dari pimpinan.
Berbeda saat Irwandi Yusuf memimpin, program terencana dan staf terkontrol
dengan baik,” papar pejabat yang mengaku akan mendukung dan memilih Irwandi
Yusuf.
***
Soal kemiskinan atau
masyarakat miskin memang bukan cerita baru di Aceh. Kisahnya tentu sudah laten
terjadi. Hanya saja, Pemerintah Aceh di bawah kendali Abu Doto selama ini mampu
membungkusnya dengan tema atau isu pembangunan lain, sehingga nyaris terlupakan
oleh publik dan media pers.
Di sisi lain, adanya klaster
dan pemaknaan tentang kata miskin, menjadi celah bagi Pemerintah Aceh untuk
berdalih dan berasumsi. Misal, soal angka kemiskinan makro dan desil atau
pemetaan kategori maupun sebutan miskin. Padahal, kalau mau jujur, hampir saban
pekan, media pers mewartakan tentang kehidupan rakyat miskin di Bumi Serambi
Mekkah.
Lihat saja gerakan sosial
yang dilakukan Edi Fadhil bersama rekan-rekannya dalam membantu dan membangun
rumah duafa serta beasiswa untuk anak miskin. Ini menjadi salah satu potret
nyata adanya sisi gelap dari “kegagalan” penguasa daerah ini dalam menyejahterakan
rakyatnya.
Hanya itu? Tunggu dulu. Gubernur
Abu Doto juga tidak
perlu jauh melihat masyarakat miskin di seluruh pelesok Aceh. Dia cukup berjalan
dengan mobil mewahnya dari pendopo menuju Jembatan Lamnyong,
Banda Aceh. Di sana, dia
pasti bisa menemukan satu keluarga miskin bernama Nursiah (48) bersama
dua anaknya Yusnani (17) dan Ramadhani (14). Sehari-hari, janda itu berjualan pulut (nasi ketan bakar) bersama anak
perempuannya,
Yusnani.
Dari
hasil jualan
itu, dia hidup dan menyekolahkan anak laki-lakinya. Kini, saat Jembatan Lamnyong dibangun, usaha Nursiah mulai
terganggu. Begitupun, ia tetap tegar dan tidak
mau meminta-minta.
Tahun
2015,
pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Drs. H. Sulaiman Abda pernah
menjenguk serta membawa dokter saat Nursiah sakit. Pada kunjungan pertama, Drs. H. Sulaiman
Abda saat itu pernah
bertanya apakah
Nursiah memiliki tanah
di tempat tinggal lamanya--wilayah
utara-timur. Nursiah
mengaku tidak memiliki apa-apa. Ketika itu, Drs. H. Sulaiman Abda bermaksud,
jika Nursiah ada
tanah dia akan
mencoba mengusulkan rumah duafa untuk tempat tinggal Nursiah.
Miris
memang, bila diakomulasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) sejak
tahun 2012 sampai 2016 ini, lebih Rp 58 triliun APBA telah dikelola dr. H.
Zaini Abdullah sebagai orang nomor satu di Aceh periode 2012-2017 mendatang. Sayangnya, dana Rp 58 triliun ini, belum mampu memberi
dampak dalam penurunan angka kemiskinan di Aceh. Contoh, keluarga Nursiah
yang tak punya rumah tetap sebagai jaminan hidup bersama dua anaknya.
Secara
makro,
angka kemiskinan di Aceh memang ada 17,11 persen. Tapi, berdasarkan Data
Basis Terpadu (DBT),
Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Aceh atau secara
nasional disebut Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Aceh yang berkantor di lantai III, Kantor Bappeda Aceh, Banda Aceh, menyebutkan, berdasarkan
data aggregate (jumlah) secara mikro,
jumlah masyarakat miskin dengan tingkat kesejahteraan berbeda tahun 2015
mencapai 2,2 juta lebih. Sementara, secara individu dan rumah tangga
totalnya 530.772 jiwa.
Dan, dari jumlah
total tadi, baik
secara individu maupun rumah
tangga, dikelompokkan
menjadi empat desil. Untuk desil satu, disebut rumah tangga/individu dengan
kondisi kesejahteraan sampai 10 persen terendah di Indonesia. Desil dua, disebut
rumah tangga/individu dengan kondisi kesejahteraan sampai 11-20 persen terendah
di Indonesia. Desil tiga, disebut rumah tangga/individu dengan kondisi
kesejahteraan sampai 21-30 persen terendah di Indonesia, dan desil empat,
disebut rumah tangga/individu dengan kondisi kesejahteraan sampai 31-40 persen
terendah di Indonesia.
Kepala Bidang (Kabid) Statistik Sosial
Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Abdul Hakim, mengaku, kriteria miskin memang tergantung dari sisi mana orang melihat.
BPS misalnya,
melihat dari kemampuan orang bersangkutan
dalam mengkonsumsi kebutuhannya, baik makanan maupun non makanan atau disebut
makro. “Karena setiap orang berbeda-beda,” ujar Abdul Hakim, Jumat pekan lalu.
Sebaliknya, kata Abdul Hakim,
TNP2K dalam
menentukan kriteria miskin menggunakan banyak
variabel. Itu sebabnya, ada desil satu disebut sangat miskin, desil dua disebut
miskin, desil tiga disebut hampir miskin dan desil empat disebut rentan miskin.
“Namun, yang paling miskin
adalah kelompok paling miskin,” kata Abdul Hakim.
Masih
kata Abdul Hakim, TNP2K
membuat klaster satu sampai empat hanya untuk memudahkan bagi pemerintah daerah dalam menyalurkan bantuan. Karena tidak
mungkin klaster terendah diberi bantuan sama dengan klaster tiga. “Kalau orang
yang sangat miskin tidak mungkin diberikan alat. Maka, di situ data individu
variabelnya banyak,” kata Abdul Hakim, menjelaskan.
Itu sebabnya, sebut Abdul
Hakim, melihat potret kemiskinan tak hanya berdasarkan data makro, tapi juga
mikro. “Ya, itu tadi. Yang paling miskin adalah kelompok paling miskin,” kata
Abdul Hakim, mengulang.
Lantas, bagaimana dengan data 2,2 juta lebih
dari empat desil tadi? Data tersebut diperoleh media secara
resmi dari Hasriati,
Kasubbid Pengembangan Kelembagaan,
Kependudukan, dan Kesejahteraan Sosial (Sektariat TKPK) atas persetujuan Sekretaris
TKPK yang juga Kepala Bappeda Aceh, Zulkifli Hs, Rabu sore, 1 Juni 2016
lalu. Dan, kemudian
dilanjutkan wawancara sore itu juga.
Saat
wawancara, Zulkifli Hs ditemani bawahannya Hasrati. Media ini
mempertanyakan tentang
data jumlah 2,2 juta lebih angka kemiskinan di Aceh. Ironisnya, pada media ini,
Zulkifli Hs tidak membantah, malah justru menjelaskan berbagai perbaikan Rencana
Program Jangka Menengah (RPJM) Pemerintah Aceh, berbagai terobosan yang
dilakukan Pemerintah Aceh, seperti pembangunan jalan tembus, di Aceh. Alasan lain, sebut Zulkifli, karena di Aceh tidak
tumbuh investasi swasta.
Ketika media ini
mengajukan pertanyaan apakah semua daerah tahu angka kemiskinan tersebut, Zulkifli menjawab, “Saya kira masing-masing daerah tahu dan ini
sudah terintegrasi. Jadi, bagaimana mengupayakan supaya angka kemiskinan bisa
menurun, tidak hanya pemerintahan provinsi, tapi juga kabupaten/kota sampai desa,” kata Zulkifli Hs,
Rabu dua pekan lalu.
Pakar manajemen sumber daya manusia (SDM) dari Universitas Syiah Kuala
(Unsyiah) Banda Aceh, Dr. Amri, berpendapat, munculnya angka kemiskinan yang
terus melonjak di Aceh disebabkan karena kesalahan perencanaan dalam
pembangunan. “Kalau perencanaan salah, maka
pelaksanaan akan salah.
Pelaksanaan salah pengawasan juga salah. Kalau program pembangunan diarahkan
pada program pengentasan
kemiskinan, saya pikir tidak mungkin angka kemiskinan cukup tinggi seperti saat
ini,” sebut Dr. Amri.
Kata Amri, realitas kemiskinan selama ini sudah menjadi tontonan terbuka
bahwa kue
pembangunan di Aceh
hanya
dinikmati oleh sebahagian kecil masyarakat saja. “Ini bicara berdasarkan data dan
fakta.
Angka kemiskinan bukan malah turun, tapi naik tiap tahun. Ini sangat kita
sayangkan. Angka kemiskinan banyak di pedesaan. Kita mau lihat Aceh jangan di
pinggir jalan hitam saja, lihatlah lima kilometer di pinggir jalan hitam, di
situlah tertumpuknya orang-orang miskin. Orang-orang yang tidak punya
pengetahuan, pendidikan dan akses terhadap pembangunan dan kekuasaan,” ungkap
Dr. Amri.
Itu sebabnya, usul Dr.
Amri, pemerintah Aceh harus mencari jalan untuk segera
menyelesaikan persoalan
kemiskinan. Caranya, program pembangunan tahun
2016-2017 harus banyak diarahkan pada pengentasan kemiskinan dan pengangguran. “Ini persoalan dalam
pembangunan.
Kalau masalah kemiskinan tidak beres, tetap akan tidak beres seterusnya.
Kalau rakyat miskin dan daya beli tidak ada, maka berbagai persoalan
pembangunan akan muncul. Jalan keluarnya tetap pada awal rencana pembangunan,
harus diarahkan pada program pengentasan kemiskinan. Jangan hanya
proyek-proyek besar yang tidak bersentuhan langsung dengan program pengentasan kemiskinan,”
usul Dr. Amri.***
No comments:
Post a Comment