Laman

Monday, March 9, 2015

Memilih Biro Jasa di Kampus Darussalam


Ilustrasi
Untuk berbagai alasan, tak sedikit mahasiwa memilih jalur pintas menggunakan jasa pembuatan skripsi. Lantas mengklaim karya ilmiah itu adalah orisinil. Terjadi pembohongan intelektual.

Irwan Saputra

PEMUDA itu merogoh kantongnya, dan mengeluarkan sebungkus rokok. Dia ambil sebatang, dan menyulutnya dengan korek api. Dihirupnya dalam-dalam, lantas menyembulkan banyak asap ke udara. Segelas kopi yang teronggok di depannya, langsung diseruput.  “Ayo Bang, apa yang bisa saya bantu?” tanya pemuda itu memulai percakapan.
Hari itu, Senin, 9 Januari 2015 di sebuah kafe, kawasan Darussalam, Banda Aceh. Pemuda itu, sebut saja Roni (samaran), terlihat cukup percaya diri. Tanpa sungkan, apa lagi menyesal, dia mengisahkan proses pembuatan tugas akhirnya. “Iya Bang, saya buat (skripsi) pada orang lain,” katanya.
Roni adalah seorang mahasiswa semester akhir di salah satu fakultas, di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Untuk tujuan menimba ilmu, dia datang ke Banda Aceh dari Kabupaten Aceh Selatan, empat tahun lalu. Orang tuanya di kampung, rutin mengirim Roni uang untuk biaya pendidikan. “Tapi kalau tahun ini tidak wisuda, ayah tak kirim lagi,” katanya. “Karena saya tak sunggup membuat karya ilmiah, maka saya percayakan pada orang lain”.
Roni sadar dan mengaku dirinya bodoh. Tapi bukan berarti dia tak memiliki hasrat untuk cepat wisuda, apalagi memang sudah mendapat ultimatum dari sang ayah. “Saya cari informasi dari teman-teman. Dan memang sudah rahasia umum bahwa dekat kampus ada jasa pembuatan skripsi,” katanya.
Roni merogoh koceknya Rp 2,5 juta untuk pembuatan skripsi itu. Dia juga tak sungkan memberi bonus, jika orderannya itu selesai cepat waktu. “Ya setidaknya Rp 200 ribu lah,” ungkap dia. Roni sebetulnya mafhum, keputusan yang diambilnya adalah salah. Dia juga bisa dicerca dosen pembimbing bila diketahui tak membuat skripsi secara mandiri.  “Makanya saya tidak pernah mau bilang kalau skripsi saya orang lain yang buat. Selain malu, bisa dianulir nanti,” katanya.
Roni bukanlah satu-satunya mahasiswa yang menggunakan jasa pihak lain untuk urusan pembuatan skripsi. Melati (samaran), juga mahasiswa UIN Ar-Raniry, mengaku melakukan hal serupa. Untuk alasan yang sangat sederhana: laptop rusak, Melati menyerahkan tanggung jawabnya itu pada orang lain. Padahal, Melati sudah memulai menyusun BAB I, II dan III. “Maklum Bang laptop second hand. Karena kejar sidang bulan ini, maka akhirnya saya cari orang lain,” katanya.
Untuk urusan pembuatan skripsi itu, kata Melati, dia merogoh kocek Rp 1 juta. “Awalnya diminta Rp 2 juta. Saya katakan: ‘Itukan cuma sedikit lagi. Mahal banget. Saya cuma punya Rp 1 juta. Kalau Anda mau saya serahkan pada Anda.’ Akhirnya dia mau,” cerita Melati.
Beda dengan Roni, Melati tak merasa harus malu bila skripsi hasil buatan orang lain tersebut dia klaim sebagai karya orisinilnya. “Untuk apa malu, toh hampir 50 persen mahasiswa bikin skripsi pada orang lain,” katanya.
***
SUDAH sangat kurang apresiasi tinggi pada seorang mahasiswi. Begitu jarang mahasiswa berani berdebat secara ilmiah saat menghadapi lima dosen pengujinya. Dia tak lagi mempertahankan karya ilimiahnya dengan penuh semangat, tanpa “ketakutan” sedikit pun yang tergambar di wajahnya.
“Mereka kebanyakan langsung keluar ketika usai sidang,” kata EMK Alidar, akademisi UIN, yang juga salah seorang pembimbing skripsi mahasiswa pada MODUS ACEH, pekan lalu.  Alhasil, sidang tugas akhir terkesan hanya sebuah formalitas, jauh dari atmosfir akademik. Wajah mahasiswa penuh ketegangan, ketakutan, dihantui rasa non akademis dan bersalah.
Potret ini sangat kontras bila skripsi tersebut murni buatan seorang mahasiswa akhir. “Saya sangat prihatin, sebagai dosen yang pernah membimbing, sudah sangat sering saya temukan mahasiswa yang buat skripsi pada orang lain,” ungkap Alidar.
Menurut Alidar, maraknya mahasiswa menjalankan praktik “pelacuran” akademis ini bukan hanya membuat malu para dosen pembimbing, tapi juga institusi pendidikan. “Lembaga juga dilecehkan,” kata dia. Menurut Alidar, dunia akdemik adalah dunia idealisme. Tapi dengan suburnya praktik seperti itu, maka tidak ada lagi yang idealis dan dapat dipercaya.
Salah satu cara untuk menekan praktik ini, kata Alidar, dengan memberikan sanksi, khususnya bagi pebisnis jasa pembuatan skripsi. Alidar menyebutnya: Dukun Skripsi! “Saya pernah mendapat (dukun skripsi). Dia malah alumni UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dia mampu membuat skripsi semua jurusan,” katanya.
Dalam sebulan, katanya, sang dukun mampu merampungkan tiga judul skripsi mahasiswa. “Kalikan saja kalau Rp 2 juta per skripsi. Besar gaji dia dari dosen,” katanya.
Itu sebabnya, kata Alidar, perlu kesadaran semua pihak, terutama mahasiswa dan dosen pembimbing. Menurut Alidar, sejumlah dosen pembimbing memang terkesan tak peduli masalah ini. Padahal, katanya, mereka tahu persis jika skripsi si mahasiswa itu dibuat orang lain. “Masak bisa selesai satu bulan. Itukan tak logis jika merujuk pada proses yang ada,” katanya. Menurut dia, seharusnya, mahasiswa wajib melalui proses tersebut hingga memakan waktu beberapa bulan.
Penasehat Rektor Unsyiah Prof. Dr. Darwis Soelaiman, MA mengatakan, secara akdemik skripsi hasil buatan orang lain adalah ilegal. “Dalam dunia perguruan tinggi tidak dibenarkan. Kenapa tidak dibenarkan? Karena itu sifatnya penipuan,”  katanya.
Logikanya, kata Prof Darwis, ini juga tak fair. Sebab, skripsi dibuatkan pihak lain, sedangkan yang dinilai adalah mahasiswa. “Ini penipuan, ya tidak ada bedanya dengan plagiat. Dalam dunia akademik, melakukan plagiat, mencontek,  termasuk menyuruh buat karya tulis pada orang lain, lantas mengaku itu adalah karya orisinilnya, sama dengan kejahatan,” jelasnya.
Prof Darwis menilai, maraknya praktik pembuatan skripsi pada pihak lain ada kaitannya dengan tak maksimalnya fungsi dosen pembimbing. “Apakah pembimbing hanya numpang nama saja? Mengapa dia dengan mudah meneken dan mengakui. Inikan aneh,” kata dia. Seharusnya, kata dia, dosen pembimbing tahu persis ihwal skripsi mahasiswanya. Sebab, pembimbing juga punya tanggung jawab dalam mengarahkan mahasiswa menyusun tugas akhirnya secara mandiri hingga selesai.***

Sumber: Tabloid Modus Aceh

No comments:

Post a Comment