Wednesday, May 13, 2015

Karena Kepentingan, Kesejahteraan Terabaikan



Anggota DPR RI, Nasir Jamil
Pemerintah Aceh dinilai sibuk mengurus kepentingan sehingga mengapaikan kesejahteraan rakyat. Akibatnya, muncul berbagai tindakan ‘perlawanan’. Presiden Joko Widodo didesak untuk mengambil tindakan tegas.

Irwan Saputra

MEMAKAI  kemeja biru laut yang dipadu celana hitam, anggota DPR RI asal Aceh, M. Nasir Djamil, sekira pukul 14.20 WIB, Rabu siang pekan lalu, tiba di Kantor Redaksi MODUS ACEH, Jalan Nyak Makam, Banda Aceh.
Hari itu, dia didampinggi tiga asistennya. “Kami mau bersilaturrahmi dengan kawan-kawan di MODUS,” begitu kata Nasir pada Direktur Usaha Agusniar Muktar, SE dan Manejer Liputan Juli Saidi, ketika menyambut anggota Komisi III DPR RI ini.
Kehadiran Nasir, begitu dia akrab disapa, terkait masa reses ke Aceh. Itu sebabnya,  dia mengunakan kesempatan untuk berkunjung ke redaksi media ini. “Sudah lama ingin ketemu kawan-kawan di sini, tapi baru saat ini kamu punya waktu. Padahal, saya ingin sekali hadir saat peringatan HUT MODUS ACEH Ke-12 lalu,” ujar Nasir.
Sayang, kedatangan M. Nasir Djamil tak didampinggi sahabat lamanya Muhammad Saleh yang juga Pimpinan Redaksi MODUS ACEH. Maklum, saat itu Saleh, sapaan akrab pimpinan redaksi media ini,  sedang ada urusan di Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh. Ini terkait proses hukum lanjutan antara dirinya dengan Haji Bakrie Bandar Dua. “Biasa, soal pemberitaan mesum yang berakhir di pengadilan,” jelas Saleh, singkat.
Memang, antara Saleh dan Nasir tak asing. Keduanya sempat sama-sama menjadi wartawan di Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh. Nasir kemudian memilih berkarir di politik, sementara Saleh, hijrah ke Jakarta, melanjutkan profesinya sebagai jurnalis.
Begitupun, kunjungan satu jam tersebut bukan tanpa makna. Sebagai politisi senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nasir terlibat diskusi dengan awak media ini. Dia banyak menyorot kebijakan Pemerintah Aceh yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada rakyat.
Kata Nasir, tiga tahun Pemerintah Aceh dibawah kepemimpinan dr. Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (ZIKIR), sarat dengan berbagai kepentingan ‘kelompok’ sehingga nyaris melupakan kebijakan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh secara kolektif. Akibatnya sebut Nasir, muncul berbagai kelompok yang tidak puas, baik secara terbuka maupun diam-diam. Salah satunya kata Nasir adalah, Din Minimi dan kawan-kawan. “Ini yang terbuka dan terus terang mengaku melawan, bukan berarti yang lain diam dan tak akan melawan. Jika dibiarkan terus, ini bisa berbahaya dan menganggu kedamaian yang sudah sepuluh tahun terajut di Aceh,” saran Nasir.
Menurut Nasir, persoalan Din Minimi jangan dianggap sepele. Sebaliknya, Pemerintah Aceh harus serius menangganinya. Termasuk aparat keamanan dan penegak hukum. Sebab, aksi kriminal yang terjadi selama ini justeru dilakukan mantan kombantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Memang, peristiwa seperti itu juga terjadi di daerah lain, tapi karena bekas konflik bersenjata, makanya bila terjadi di Aceh, bobot dan persoalannya menjadi lain,” nilai Nasir.
Karena itu, Nasir Djamil juga meminta pemerintah pusat dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi untuk bersikap lebih arif, adil, bijaksana dan tegas terhadap Aceh. “Kalau sudah dijanjikan, ya harus diberikan. Kalau tidak, ya tetap tidak. Jangan digantung-gantung. Ini bisa kontra produktif terhadap perdamaian,” ungkap Nasir.
Tak hanya itu, Nasir Djamil menilai, maraknya peristiwa kejahatan bersenjata di Aceh, tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Aceh yang belum mampu membawa Aceh seperti yang diharapkan, sehingga menilaikan sikap frustasi dari berbagai pihak. Ini semua diakibatkan, karena kondisi dan distribusi ekonomi yang belum merata. “Sehingga yang kering, membuat hujan dengan cara-cara yang brutal,” kata Nasir berfilosofi.
Nasir menilai, kejahatan bersenjata di Aceh memang tidak sama dengan yang terjadi di daerah lain. Karena itu, tak relevan pula jika diselesaikan semata-mata dengan pendekatan hukum. Sebaliknya, dengan pendekatan kesejahteraan dan pembangunan. “Karena indikatornya kesejahteraan,” sambung Nasir.
Karena itu Nasir berharap, kejahatan yang dapat menghambat pembangunan di Aceh jangan dibiarkan berlarut, karena akan berimbas pada sektor investasi.
“Imbasnya investor tidak ada yang mau datang,” ujar Nasir. Tidak hanya itu, menurut putra Aceh kelahiran Medan, Sumatera Utara ini juga mengkritik lemahnya peran intelijen di jajaran kepolisian di Aceh, untuk menditeksi dan mencegah potensi timbulnya konflik baru di Aceh.
Dia memberi contoh. Proses penyergapan Komeng alias Faisal di Limpok, Aceh Besar, Selasa pekan lalu. Komeng merupakan komplotan Din Minimi yang hingga saat ini masih buron.
Nasir menyayangkan, kenapa harus mengerahkan 200 personil polisi hanya untuk menyergap seorang Komeng. “Tentu bisa  menggunakan data intelijen, karena ini juga terkait dengan citra Gampong Limpok,” kritik Nasir, alumni Fakultas Dakwah,Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry itu.
Karena itulah, Nasir berpendapat, jika aksi kriminal bersenjata dianggap sebagai imbas dari kebijakan Pemerintah Aceh yang tidak merata, kata Nasir Djamil, persoalan bendera, juga menjadi salah satu penghambat kesejahteraan yang terjadi di Aceh. Ini sejalan dengan memanasnya kembali isu bendera, setelah beberapa lama reda. Padahal, sebelumnya Ketua DPP Pusat PA yang juga Wakil Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf dan Tuha Peut Partai Aceh yang juga Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah, sudah menyatakan tidak ada lagi masalah dengan bendera Aceh, jika pun berubah dan tidak menyerupai bendera GAM.
Sekedar menginggatkan, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem pernah mengaku tidak masalah jika pemerintah pusat mengubah sedikit komposisi Bendera Aceh, walau tidak sama dengan Bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Saya  pernah menyarankan kepada Gubernur dan DPRA tentang perubahan sedikit Bendera Aceh,” kata Muzakir kepada wartawan, Kamis, 20 Oktober 2011 lalu.
Pernyataan ini diucapkan Mualem, karena pemerintah pusat tidak memberikan persetujuan terhadap bendera yang diajukan tersebut. “Sampai kapan kita harus bertahan seperti ini, sementara untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan infrastruktur, sesuai cita-cita MoU Helsinki, Aceh masih butuh seluruh turunan UUPA yang belum diterbitkan pusat,” kata Mualem waktu itu.
Gubernur Aceh yang juga Tuha Peut Partai Aceh, dr. Zaini Abdullah pada wartawan saat coffe morning di restoran Pendopo Gubernur, awal Februari 2015 lalu megatakan. “Rencana perubahan bendera Aceh akan dilanjutkan dalam waktu dekat ini,” jelas Zaini.
Tapi, belakangan Muzakir Manaf menarik kembali pernyataannya.  Itu disampaikan dalam diskusi bersama Wakil Ketua Komisi III DPR RI, yang juga Politisi Partai Gerindra, Desmon J Mahesa di Kantor DPD Gerindra Aceh. “Kita tidak setuju adanya perubahan bendera sebagaimana yang diminta oleh pemerintah pusat,” ucap Muzakir, Maret 2015 lalu.
Entah itu sebabnya, Ketua Komisi I DPR Aceh Abdullah Saleh, SH malah menaikkan bendera Bulan Bintang ke leher A. Hamid Zein, saat terjadi aksi penyerahan bendera Aceh dari YARA kepada Komisi I di Halaman DPR Aceh, Senin pekan lalu.
Peristiwa memalukan ini, disayangkan M. Nasir Djamil. “Seharusnya insiden ini tidak perlu terjadi,” ungkap dia. Nasir menyarankan, seharusnya, ketika ada aspirasi seperti itu, diterima oleh anggota dewan dan disampaikan kepada Sekretaris Dewan (Sekwan). Sebab, komplek parleman Aceh itu berada pada tanggungjawab Sekwan. “Termasuk urusan naik dan turun bendera,”  tegasnya. 
Makanya, Nasir Jamil meminta Presiden Jokowi untuk mengambil sikap tegas terhadap persoalan bendera Aceh. Ini dimaksudkan, agar tidak berlarut-larut dan isu ini dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab sebagai komoditas politik. “Ini sangat tidak sehat, makanya kepala negara harus tegas,” sambung Nasir Djamil.
Karena ketidaktegasan ini pula sebut Nasir Djamil, wajar jika rakyat Aceh mulai bertanya: mana lebih penting kesejahteraan rakyat Aceh atau menaikkan bendera? “Banyak orang bertanya begitu sekarang,” bebernya.
Menurut Nasir Djamil, memang ada hal simbolis yang dibutuhkan rakyat Aceh. Tapi jangan sampai hal tersebut menguras pikiran dan tenaga sehingga kesejahteraan sebagai hal utama dan pokok, menjadi terabaikan. “Karena itu, sekali lagi, negara harus mengambil sikap tegas soal bendera Aceh,” tutupnya.***

Sumber : Tabloid Modus Aceh


No comments:

Post a Comment