Jamaah
Umrah Tersangkut di Kualanamu
Alasan
visa belum keluar, 93 jamaah umrah asal Sigli, Kabupaten Pidie,
terkatung-katung di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Pelayanan
buruk Travel Azizi dan tak bertanggungjawab.
Irwan Saputra
Jamaah asal Sigli, Kabupaten Pidie tampak bingung
di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut),
Jumat, 10 Juni 2016 lalu. Maklum, niat mereka menunaikan ibadah umrah ke tanah
suci pada bulan penuh ampunan ini--Ramadhan, nyaris gagal jika tak elok disebut
pupus.
Yang jadi penyebab, bukan belum melunasi biaya keberangkatan,
tapi kecewa karena diduga telah tertipu. Padahal, berbagai persiapan telah
mereka lakukan. Misal, dipeusijek
(tepung tawari) oleh keluarga. Akibatnya, jamaah itu mengaku malu pada keluarga,
sahabat dan masyarakat di daerahnya.
Terlantarnya para jamaah itu, karena biro
perjalanan yaitu Azizi Tour dan Travel, tak kunjung memberangkatkan mereka. Alasannya
tak keluar visa, sehingga terpaksa bermalam di ruang Mazzine, Bandara Kualanamu,
Deli Serdang, Sumatera Utara.
Menyedikan? Itulah kenyataan yang dihadapi.
Bayangkan, calon jamaah asal Aceh itu berusia rata-rata
di atas 40 tahun. Mereka terpaksa tidur di lantai beralaskan ambal yang
difasilitasi PT Angkasa Pura II Cabang Kualanamu.
Puluhan calon jamaah umrah asal Aceh ini, sudah
berada di Bandara Kualanamu sejak Jumat, 10 Juni 2016. Ini sesuai jadwal
keberangkatan yang dirilis Travel Azizi. Rencananya mereka akan diterbangkan
langsung ke Arab Saudi, melalui Bandara Kualanamu.
Tapi, apa dikata, setibanya di Bandara Kualanamu,
tak satu pun perwakilan Biro Travel Azizi yang menjemput mereka. Alhasil, para
jamaah kebingungan. Ada beberapa di antara mereka berinisiatif menghubungi pimpinan
Biro Travel Azizi, Najla Lubis, Namun, meski terdengar nada
sambung, Najla tak kunjung mengangkatnya. “Hapenya aktif, tapi ditutup,” kata
Azmi salah seorang calon jamaah umrah, Sabtu malam, seperti yang dilansir serambinews.com. Tak berhenti di situ, para jamaah juga mendatangi
kediaman Najla di Jalan Tanjung, Medan Petisah dan kantornya di Jalan Sutomo,
Medan Timur. Namun, tidak membuahkan hasil.
Ada kesan, kerabat Najla menyembunyikan keberadaan
pimpinan Azizi Tour tersebut. "Anaknya bilang ada, tapi adiknya bilang
tidak ada. Sudah berbeda keterangannya. Kantornya juga tutup," ungkap Azmi
yang didampingi beberapa calon jamaah lainnya.
Azmi dan puluhan jamaah lainnya mengaku kecewa
dengan perlakuan Travel Azizi yang terkesan lepas tanggung jawab. Padahal,
jadwal keberangkatan mereka sudah jelas, yaitu Jumat 10 Juni 2016. Celakanya, jadwal
keberangkatan jamaah umrah itu, sudah beberapa kali diundurkan oleh biro
perjalanan tersebut. Misal, dijanjikan 11 Mei 2016, kemudian diundur menjadi 8
Juni 2016. "Kemudian digeser lagi pada 10 Juni 2016. Sebelumnya mereka
kasih kabar ada perubahan jadwal, jadi kita gak sempat ke Medan," kata Azmi, mewakili jamaah lainnya.
Calon jamaah tersebut adalah peserta umrah yang
mendaftar pada Januari 2016 lalu, sebagian dari mereka memang sudah merasa
ditipu sejak awal. Karena, harga yang mereka bayar tidak sesuai promosi. Misal,
tercantum senilai Rp 16 juta. Namun, yang dibayar ke pihak travel Rp 20 juta. "Alasannya
karena berangkat puasa, jadi ada tambahan biaya. Padahal, ketika mendaftar,
kami akan diberangkatkan bulan Mei 2016, sebelum puasa," sambung calon
jamaah lainnya, kesal.
Jamaah itu mengaku sangat terpukul dengan kejadian
ini. Selain menderita kerugian materil, moril juga ikut menjadi beban. Pria
berusia sekira 50 tahun yang meminta identitasnya dirahasiakan ini mengaku malu
pulang ke Sigli, karena kerabat dan tetangganya sudah terlanjur tahu dirinya
berangkat umrah. "Mereka ini menjadikan guru agama sebagai agen di daerah.
Karena kita memandang guru agama baik, ya kita pun anggap Azizi ini baik. Jadi,
mereka ini telah membohongi guru agama," ujarnya dengan nada tinggi.
Jamaah ini akhirnya ditampung sebuah organisasi
kemasyarakatan Aceh di Medan dan dijamu berbuka puasa pada Sabtu malam, 11 Juni
2016. Mereka mengaku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu kabar dari pihak
Azizi, sehingga kembali ke Pidie. "Kami minta mereka tanggung jawab. Yang
jelas, uang kami sudah mereka terima, tapi hak kami belum dipenuhi," katanya.
Jamaah lain, Bukhari, mengaku mereka telah membayar
lunas biaya umrah untuk ke Tanah Suci selama delapan hari sebesar Rp 20 juta.
Jumlah tersebut di luar dari ongkos bus yang mereka tumpangi dari Aceh menuju
Kualanamu. “Kami daftar melalui salah seorang ustadz perwakilan di Aceh,”
ujarnya.
Kejadian yang menimpa calon jamaah umrah ini,
mengundang keprihatinan banyak pihak, di antaranya Kepala Perwakilan Pemerintah
Provinsi Aceh di Sumut, Ruslan Armas. Ia mengingatkan kepada masyarakat Aceh,
sebelum berangkat umrah harus mendalami informasi biro perjalanan umrah yang
akan digunakan. Informasi seperti ini, kata dia, bisa didalami di kantor Kemenag
di daerah masing-masing, sehingga tak perlu terjadi hal-hal seperti ini. "Kejadian
seperti ini sudah berulangkali. Dan, bironya ini-ini saja. Ke depannya, cek
lagi, apakah travel yang akan digunakan sudah baik," ujar Ruslan.
Sementara
itu, pihak travel Azizi yang ditemui media ini, Kamis pekan lalu, di kantor
perwakilan Aceh, Jalan Muhammad Jam, Banda Aceh mengaku, hanya kali ini jamaah
yang menggunakan jasa travel Azizi bermasalah. Sebelumnya, diakui tidak pernah
terjadi.
Menurutnya, kejadian seperti ini
adalah kesalahan pada agen, yakni ustadz Mutawalli. Karena, pihaknya telah
menyampaikan jika jadwal keberangkatan para calon jamaah tanggal 20 Juni 2016,
karena visa para calon jamaah itu belum turun dari kantor Azizi Pusat di Medan.
“Namun, mereka tetap nekat pergi, sementara visa belum keluar. Agen mereka, ustadz
Mutawalli. Dia orang Sigli,” ujar Lisnawati, pegawai yang bertugas hari itu.
Lisnawati
menjelaskan, hingga saat ini, para calon jamaah umrah yang sempat terlantar di
Bandara Kualanamu, telah kembali ke Sigli. Dan, kemungkinan mereka akan
diberangkatkan pada tanggal 20 Juni 2016 ini memang terjadi penundaan, “Mungkin
karena banyak calon jamaah yang harus diberangkatkan, sehingga stok visa
terbatas,” tambahnya.
Lisnawati
mengatakan, sebagai kantor cabang, pihaknya di Banda Aceh tidak ada pimpinan. Mereka
hanya bertugas sebagai pegawai dan sebatas menerima pendaftaran, baik para
calon jamaah umrah maupun calon jamaah haji plus. Sementara, kebijakan
keberangkatan di kantor pusat. “Seperti jadwal keberangkatan dan turunnya visa.
Kami di sini hanya bertugas memberitahukan tiga hari menjelang keberangkatan. Jadi,
jikapun ada yang protes, maka mereka protesnya ya ke Medan,” tambah Lisnawati.
Terlantarnya
93 calon jamaah umrah asal Pidie di Bandara Kualanamu, bukanlah peristiwa
tunggal dari pelayanan Azizi Tour dan Travel. Tapi, Kamis 28 April 2016
juga terjadi hal serupa. Sepuluh
calon jamaah umrah asal Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie mendatangi Azizi
Tour dan Travel Cabang Aceh di Banda Aceh. Mereka memprotes
pengunduran jadwal keberangkatan umrah dari 29 April 2016 menjadi 9 Mei 2016.
Perubahan tersebut rupanya bukan cuma sekali,
melainkan telah terjadi beberapa kali. Sebelumnya, para calon jamaah dijadwalkan
berangkat pada 18 April 2016, diubah jadi 25 April 2016, kemudian ditunda
menjadi 29 April 2016, kemudian dengan gampang ditunda hingga 9 Mei 2016. “Alasannya
belum keluar visa, kenapa enggak
diberitahu jauh-jauh hari,” kata salah seorang jamaah umrah. Sedangkan pihak
travel saat itu, mengaku jika penundaan berangkat tersebut karena visa para
jamaah itu belum keluar.***
No comments:
Post a Comment