Thursday, August 22, 2013

Artis dan Percaturan Politik Tanah Air

Artis dan Percaturan Politik Tanah Air

Dalam setiap perhelatan akbar pesta demokrasi yang akan segera bergulir, topik yang kerap menarik dibicarakan, apa lagi jika bukan “Artis”, dimana keberdaan mereka kian disorot dan seolah-olah membawa nista dalam dunia perpolitikan bangsa yang menjadi tumpuan negara.
Salahkah ?!!!
Itulah kira-kira pertanyaan yang tepat untuk membungkam kritik yang di alamatkan pada para pelakon dan pesohor dunia hiburan. berbagai sisi buruk dilukiskan pada publik tentang sosok artis setelah mereka resmi menjadi bakal calon legislatif, mulai dari kurangnya kualitasdan kapabilitas, moral , hingga bahkan partai yang mengusung artis.
Banyaknya bakal calon legislatif dari artis yang diusung partai membuat para pengamat dan ormas gusar, semenjak data Komisi pemilihan umum (KPU) ditetapkan, dengan jumlah artis dan pesohor yangkini menjadi bakal caleg berjumlah 58 orang, tentu ini angka yang Fantastiss.
Masing-masing partai hampir semuanya mengusung artis sebagai bakal calon legislatif, PDI perjuangan 6 orang, Partai Demokrat 6 Orang, partai Golkar 4 orang, PAN 10 orang, PKB 8 orang, Partai Gerindra 10 orang, Hanura 3 orang, partai Nasdem 6 orang, dan PPP 5 orang, hanya PKS dan PBB yang sama sekali tidak mendaftarkan artis. (MI 25/4/13).

Menjamurnya kalangan artis dalam pencaturan politik tanah air, banyak kalangan menilai ini tanda kemerosotan partai yang dianggap gagal memenuhi kuota yang ditetapkan dengan ekspektasi kadernya sendiri. Sehingga jalan satu-satunya adalah menggaet artis. Untuk di jadikan calon legislative sekaligus menyelamatkan partai dimata publik, yang secara defacto tak memiliki pendidikan politik dan memiliki ideologi kepartaian.

Hamdi Muluk, pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia mengatakan, “semakin buruk pola dan sistem kaderisasi partai, kian banyak bakal caleg dari kalangan artis ataupun pesohor yang direkrut”.(MI 25/4/13).
Terkesan menomor duakan kalangan artis untuk menjadi bakal caleg, anggota Fraksi partai Golkar Bambang Soesatyo mengakui hal tersebut, Bambang mengatakanbahwa, “bakal caleg dari kalangan artis hanya dimamfaatkan untuk menambah kursi partai semata” (MI 25/4/13).
Benarkah demikian?, Koordinator Forum Masyarakat pemantau Parlemen indonesia Sebastian Salang menambahkan, “Penempatan bakal caleg bermasalah menunjukkan potret partai yang tidak mendorong perubahan ditubuh parlemen”. Salang menilai partai hanya membawa kepentingan sendiri dananti perubahan (MI 25/4/13).
dari apa yang digambarkan tersebut, menyadarkan publik bahwa banyak kalangan yang berfikir sinis dan menempatkan artis bukan tumpuan yang tepat rakyat indonesia untuk menaruh harapan demi sebuah perubahan, tentu pernyataan ini punya alasan, kita bisa melihat para artis yang hanya numpang nama dan menambah penghasilan semata di parlemen, disamping  gencarnya stigmasi buruk dalam benak masyarakat bahwa artis terjun ke politik karna kalah saing di dunia hiburan.

Beberapa contoh sosok artis sebut saja Tere, dari fraksi partai demokrat yang mengundurkan diri disebabkan masalah keluarga, Angelina sondakh, Inggrid kansil, venna Melinda, Rachel maryam dan sederet artis lainnya yang dapat dibilang tak mampu berperan dan memberi kontribusi untuk sebuah perubahan. Sebagai publik figur sejatinya keberadaan artis dalam kancah politik  begitu diharapkan, selain  bisa menguntungkan partai pengusung, juga memudahkan untuk mendapatkan suara dalam masyarakat tanpa harus berkampanye dengan menghabiskan anggaran yang besar. Akan tetapi dengan kualitas buruk yang dipertontonkan oleh para artis di parlemen, seolah menyemai benih kecewa dan membangun tirai pembatas di benak masyarakat bahwa artis takada gunanya di parlemen.

Namun adilkah?  jika hanya karna beberapa orang dari mereka yang gagal, yang lain juga kena imbasnya? coba lihat kontribusi yang diberikan Nurul Arifin, Rieke Diah Pitaloka (Oneng), Tontowi Yahya, dan beberapa artis lainnya. Mereka adalah sosok yang dapat diandalkan dan mampu memberi kontribusi serta menjadi menyambung aspirasi masyarakat, dan tentu semua ini demi perubahan bangsa yang berkelanjutan.
Sebagai negara penganut demokrasi, dimana hak warga negara diatas segala-galanya, maka tidak ada satu alasanpun yang dapat menghalangi para artis untuk terjun ke dunia perpolitikan. Demokrasi yang merupakan kata lain dari kedaulatan rakyat ditangan rakyat,  tentu menjadi sebuah kewajiban dimana para artis harus disamakan kedudukannya dengan pihak lain. Sehingga sikap pendiskriminasian dan penghinaan tak perlu terjadi, menggugat permasalahan kualitas, jika mau berfikir objektif, para kader partai juga banyak yang lebih buruk dari kalangan artis, kita bisa melihat bagaimana presiden partai PKS, Luthfi Hasan yang terjerat kasus korupsi impor daging sapi, ketua umum partai Demokrat Anas Urbaningrum yang  menjadi terdakwa kasus hambalang, Max Muin kader PDIP yang terjerat kasus perzinahan, hingga sederetan nama lainnya yang mencoreng citra lembaga terhormat tersebut.
Jika demikian faktanya, keliru bila memposisikan artis  sebagai tempat pelarian,dan menganggap artis manusia nomor dua di arena politik bangsa, karna dilapangan, para artis ini juga menjelma sebagai wakil rakyat yang sesungguhnya, bahkan mengalahi ekspektasi mereka yang merupakan kader partai sesunnguhnya. Begitu juga keadaan yang tergambarkan pada pihak yang memang menjadi kader partai dan mendapat pendidikan politik yang memadai. kritikan dan hinaan sebenarnya terlalu kejam jika dialamatkan pada para artis, karna mereka juga warga negara yang menginginkan Negara Indonesia maju, Kekurangan dan kelebihan tetap ada, yang namun nilai kepantasan mereka ada pada rakyat Indonesia, sehingga menjadi sebuah jawaban, jika para artis menjadi caleg dan dipilih oleh rakyat, maka rakyat sebagi pemegang kedaulatanlah yang pantas disadarkan, jangan biarkan masyarakat Indonesia buta terhadap dunia perpolitikan, gagap dengan kemajuan,sehingga begitu mudah masyarakat memberi hak suaranya hanya karna tampang,uang, kekerabatan atau bahkan diimingi dengan nilai materil lainnya.
Penting melibatkan masyarakat dalam membangun perpolitikan yang berkualitas, dengan mengasupi pendidikan politik sehat bagi mereka yang apatis terhadap perubahan, karna politik adalah kunci untuk membangun negara yang lebih baik secara keseluruhan. Dalam negara demokrasi seperti Indonesia, dimana kebebasan berekpresi, bersuara, memilih, dipilih dan seterusnya, adalah hak warga Negara, maka harapan kita hanya ada pada rakyat Indonesia, karna baik buruk bangsa ini ada pada rakyatnya, rakyatlah yang memilih dan rakyat juga yang dapat menurunkannya.
Semoga dengan perhelatan pentas politik tahun ini, mata rantai kebrobrokan yang selama ini dipertontonkan dapat terputus, seiring dengan pergantian posisi di parlemen dan sejenisnya,  sehingga impian menatap wajah bangsa yangb aru segera terealisasi.

No comments:

Post a Comment