Thursday, August 22, 2013

Menyoal Cinta Sejati

Menyoal Cinta Sejati

ilustrasi
Sebelum membahas tentang cinta sejati, baiknya kita mengetahui apa itu cinta dan kenapa cinta begitu menarik untuk dibicarakan?
Cinta adalah energi penyatu, daya dinamis yang terus menerus mendorong setiap pribadi untuk membuka diri dan menjalin komunikasi yang konstruktif dengan pribadi yang lainnya dengan didasari rasa ingin bersama yang tumbuh dan hidup dalam jiwa manusia pecinta terhadap  manusia  yang dicintainya. Tidak hanya itu cinta juga yang memungkinkan manusia untuk terbuka untuk menjalin komunikasi degan pribadi yang lain  yaitu Tuhan.

Adakah cinta sejati itu?
Bahwa cinta sejati itu ada, kiranya tak perlu dipersoal-jawabkan secara panjang lebar. Tetapi sanggupkah makhluk tidak sempurna seperti manusia mampu mewujudkan cinta sejati?

Oleh kalangan tertentu, ketidak sempurnaan manusia dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa cinta sejati itu tidak bisa diwujudkan oleh manusia. Menurut pandangan ini, yang disebut cinta sejati itu hanya dapat diberikan oleh Tuhan. Sedangkan manusia yang penuh dengan kekurangan serta kelemahan itu tak sanggup mewujudkan cinta sejati. Sementara itu terdapat pandangan lain yang mengatakan bahwa cinta sejati dapat diwujudkan oleh manusia, asal manusia berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya.

Saya percaya bahwa cinta sejati itu dapat diwujudkan oleh manusia berdasarkan dua alasan. Pertama, yang  disebut cinta sejati itu bukanlah objek yang statis, melainakan satu situasi yang berkembang kearah kehidupan yang lebih bahagia dan bahagia lagi. Maka yang penting adalah kemauan serta keberanian untuk terus menerus mengembangkan situasi dimana orang bisa salaing mengerti, saling memberi, dan saling menerima apa adanya, pendek kata saling membahgiakan. Kiranya jelas bahwa situasi demikian itu tak mungkin diupayakan dengan sekali melangkah, tetapi melalui banyak usaha, bahkan tak jarang melalui proses jatuh bangun berkali-kali. Jadi ukurannya bukan terletak pada jatuh bangunnya itu melainkan skap batin yang  mengarah pada terwujunya suasana kehidupan yang penuh damai dan bahagia. Kedua, manusia bisa mewujudkan cinta sejati karna memiliki dimensi rohani yang bersifat tak terbatas, yang melampaui dimensi ruang dan waktu. Cinta adalah daya hidup yang bersumber pada daya rohani yang ditanamkan  Tuhan dalam diri manusia. Dengan terbuka dengan daya rohani yang tak terbatas itu manusia mampu mewujudkan suasana damai dan bahagia. Hidup bersama dalam suasana rukun, damai dan setiapada yang dicintai merupakan contoh-contoh konkret bahwa manusia sanggup mewujudkan cinta sejati. Adanya cinta sejati tanpak paling kentara dalam kemampuan seseorang untuk mencintai orang lain tanpa syarat, seperti halnya cinta seorang ibu terhadap anaknya.

Bagaiman membina cinta sejati..?
Dalam buku, manusia dalam lingkungan, Refleksi Filsafat tentang manusia, P. Leenhouwers menulisnya sebagai berikut, ”apabila seorang mencintai, “aku”-nya (dirinya) berpaling kepada orang lain, menghadap padanya dan menaruh cinta akan dia. Disini terdapat gerak yang merupakan kebalikan dari gerak membenci atau bersikap acuh tak acuh. Di situ orang justru mengundurkan diri dari orang lain atau mengambil posisi yang seindependen mungkin, bukan saja dengan tujuan tidak menghubungi atau mendekati inti diri mereka, melainkan juga dengan harapan dan usaha agar diri sendiri juga tidak dihubungi atau didekati dalam inti dirinya”
Apa yang dikatakan oleh Leenhouwers menunjukkan bahwa orang yang punya rasa benci atau bersikap acuh tak acuh terhadap orang lain tak mampu mencintai sesamanya. Orang yang bersangkutan akan mengisolasi dan menutup diri terhadap orang lain. Sedangkan cinta mencari kontak pada tingkatan inti diri orang, sedangkan sikap acuh tak acuh tidak berminat terhadap inti pribadi orang dan hanya ingin berkontak dipermukaan saja (Leenhouwers, 1988:229).

Yang ingin ditegaskan disini adalah bahwa rasa benci dan sikap acuh tak acuh justru memustahilkan terwujudnya cinta sejati dalam kehidupan umat manusia. Cinta sejati harus dimulai harus dimulai dengan kesediaan untuk membuka diri terhadap orang lain. Atau dalam bahasa leehhouwers, cinta adalah keluar dari  diri sendiri dan menghadap pada orang lain. Maka yang dituntut adalah kesediaan untuk mendekati atau menghampiri orang lain. Namun justru disisni pula letak permasalahannya. Yakni bahwa kesediaan untuk mendekati atau menghampiri orang lain itu tidaklah mudah dilakukan. Pengalaman kehidupan sehari-hari memperlihatkan bahwa mencintai orang lain bukanlah suatu pekerjaan yang dengan mudah dapat dilakukan oleh setiap orang. Ada orang yang dengan mudah mampu mendekati orang lain atas dasar cinta. Namun tidak sedikit orang yang sulit melakukannya.
Menurut Leenhouwers, kenyataan ini menunjukkan bahwa, pertama, cinta harus dibangun dan digairahkan terus menerus, dan kedua, penghampiran itu akan bertambah erat dan lebih melibatkan inti diri orang. Kalau objeknya lebih berharga bagi dia, sehingga usahanya tidak dianggap mahal. Artinya, ada nilai pada diri orang yang bersangkuta.
Tapi disini Leehouwers tidak menjelaskan mengapa ada saja orang yang sulit membuka diri atau mendekati orang lain. Saya behipotesa, kesulitan semacam ini lebih disebabkan oleh ketidak beranian orang-orang tersebut untuk mengambil inisiatif membangun cinta. Hal ini bisa saja disebabkan oleh kekurangan pahaman mereka tentang arti cinta sejati itu sendiri. Atu mungkin juga karena lingkungan pendidikan yang mereka alami sejak kanak-kanak, hingga menjadi remaja dan pemuda, kurang sekali memberi peluang kepada mereka untuk bersikap terbuka terhadap orang lain, berinisiatif dan mengepresikan diri.

Kesedian untuk membuka diri sebagaimana disinggung diatas haruslah didasari pada sikap hormat pada pada pribadi orang lain dengan segala nilai-nilanya yang khas dan unik. Pribadi orang lain dengan segala khasnya itu begitu memikat dan mempesona. Namun nilai-nilai khas yang dimilikinya itu masih dalam proses pembentukan dan hanya mencapai taraf kesempurnaan oleh kehadiran serta keterlibatan ku dalam proses hidupnya. Maka kehadiran orang lain senantiasa merupakan ajakan atau undangan khusus bagiku untuk berpartisipasi secara aktif dalam upaya penyempurnaan dirinya. Begitu pula kehadiranku senantiasa merupakan ajakan bagi oarang lain untuk terlibat secara aktif dalam proses penyempurnaan diriku.

Hal yang terpenting adalah tidak menjual-jual diri untuk mengundang perhatian orang. Usaha pendekatan terhadaporang lain janganlah diwarnai dengan egoisme. Karena egoisme akan menghancurkan cinta. Cinta yang dibalut dengan egoisme ditadai dengan syarat-syarat serta perhitungan-perhitungan tertentu demi kepentingan diri sendiri. Cinta sejati mempunyai ciri dasar membiarkan orang lain hidup dan berkembang sesuai dengan cita-citanya. Bukan cinta namanya bila kita berusaha agar orang lain menuruti keinginan ataupun kehendak kita semata. Cinta senantiasa menurut agar yang dicintai itu diberi peluang untuk menentuak apa dan bagaimana harus bertindak sesuai dengan tujuannya. Dengan kata lain. Dengan kata lain cinta sejati membuat orang lain menemukan diri sebagai subjek yang punya nilai martabat yang khas.

Lebih lanjut bahwa mencintai berarti mau menerima sifat-sifat positif sekaligus difat-sifat negatif orang yang dicintai. Karena manusia dalah makhluk yang tidak sempurna. Seiap manusia punya kekurangan serta kelemahan. Tetapi justru karena itulah maka manusia perlu dicintai dengan setulus hati. Selamat mencinatai dengan keridhaan Ilahi.

No comments:

Post a Comment