Menyoal Cinta Sejati
![]() |
| ilustrasi |
Sebelum membahas tentang
cinta sejati, baiknya kita mengetahui apa itu cinta dan kenapa cinta begitu
menarik untuk dibicarakan?
Cinta adalah energi penyatu, daya dinamis yang terus menerus
mendorong setiap pribadi untuk membuka diri dan menjalin komunikasi yang
konstruktif dengan pribadi yang lainnya dengan didasari rasa ingin bersama yang
tumbuh dan hidup dalam jiwa manusia pecinta terhadap manusia yang
dicintainya. Tidak hanya itu cinta juga yang memungkinkan manusia untuk terbuka
untuk menjalin komunikasi degan pribadi yang lain yaitu Tuhan.
Adakah cinta sejati itu?
Bahwa cinta sejati itu ada, kiranya tak perlu dipersoal-jawabkan
secara panjang lebar. Tetapi sanggupkah makhluk tidak sempurna seperti manusia
mampu mewujudkan cinta sejati?
Oleh kalangan tertentu, ketidak sempurnaan manusia dijadikan
alasan untuk mengatakan bahwa cinta sejati itu tidak bisa diwujudkan oleh
manusia. Menurut pandangan ini, yang disebut cinta sejati itu hanya dapat
diberikan oleh Tuhan. Sedangkan manusia yang penuh dengan kekurangan serta
kelemahan itu tak sanggup mewujudkan cinta sejati. Sementara itu terdapat
pandangan lain yang mengatakan bahwa cinta sejati dapat diwujudkan oleh
manusia, asal manusia berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya.
Saya percaya bahwa cinta sejati itu dapat diwujudkan oleh manusia
berdasarkan dua alasan. Pertama, yang disebut cinta sejati itu bukanlah
objek yang statis, melainakan satu situasi yang berkembang kearah kehidupan
yang lebih bahagia dan bahagia lagi. Maka yang penting adalah kemauan serta
keberanian untuk terus menerus mengembangkan situasi dimana orang bisa salaing
mengerti, saling memberi, dan saling menerima apa adanya, pendek kata saling
membahgiakan. Kiranya jelas bahwa situasi demikian itu tak mungkin diupayakan
dengan sekali melangkah, tetapi melalui banyak usaha, bahkan tak jarang melalui
proses jatuh bangun berkali-kali. Jadi ukurannya bukan terletak pada jatuh
bangunnya itu melainkan skap batin yang
mengarah pada terwujunya suasana kehidupan yang penuh damai dan bahagia. Kedua, manusia bisa mewujudkan cinta
sejati karna memiliki dimensi rohani yang bersifat tak terbatas, yang melampaui
dimensi ruang dan waktu. Cinta adalah daya hidup yang bersumber pada daya
rohani yang ditanamkan Tuhan dalam diri manusia. Dengan terbuka dengan
daya rohani yang tak terbatas itu manusia mampu mewujudkan suasana damai dan
bahagia. Hidup bersama dalam suasana rukun, damai dan setiapada yang dicintai
merupakan contoh-contoh konkret bahwa manusia sanggup mewujudkan cinta sejati.
Adanya cinta sejati tanpak paling kentara dalam kemampuan seseorang untuk
mencintai orang lain tanpa syarat, seperti halnya cinta seorang ibu terhadap
anaknya.
Bagaiman membina cinta sejati..?
Dalam buku, manusia dalam lingkungan, Refleksi Filsafat tentang manusia, P. Leenhouwers menulisnya sebagai berikut, ”apabila seorang mencintai, “aku”-nya (dirinya) berpaling kepada orang lain, menghadap padanya dan menaruh cinta akan dia. Disini terdapat gerak yang merupakan kebalikan dari gerak membenci atau bersikap acuh tak acuh. Di situ orang justru mengundurkan diri dari orang lain atau mengambil posisi yang seindependen mungkin, bukan saja dengan tujuan tidak menghubungi atau mendekati inti diri mereka, melainkan juga dengan harapan dan usaha agar diri sendiri juga tidak dihubungi atau didekati dalam inti dirinya”
Dalam buku, manusia dalam lingkungan, Refleksi Filsafat tentang manusia, P. Leenhouwers menulisnya sebagai berikut, ”apabila seorang mencintai, “aku”-nya (dirinya) berpaling kepada orang lain, menghadap padanya dan menaruh cinta akan dia. Disini terdapat gerak yang merupakan kebalikan dari gerak membenci atau bersikap acuh tak acuh. Di situ orang justru mengundurkan diri dari orang lain atau mengambil posisi yang seindependen mungkin, bukan saja dengan tujuan tidak menghubungi atau mendekati inti diri mereka, melainkan juga dengan harapan dan usaha agar diri sendiri juga tidak dihubungi atau didekati dalam inti dirinya”
Apa yang dikatakan oleh Leenhouwers menunjukkan bahwa orang yang
punya rasa benci atau bersikap acuh tak acuh terhadap orang lain tak mampu
mencintai sesamanya. Orang yang bersangkutan akan mengisolasi dan menutup diri
terhadap orang lain. Sedangkan cinta mencari kontak pada tingkatan inti diri
orang, sedangkan sikap acuh tak acuh tidak berminat terhadap inti pribadi orang
dan hanya ingin berkontak dipermukaan saja (Leenhouwers, 1988:229).
Yang ingin ditegaskan disini adalah bahwa rasa benci dan sikap
acuh tak acuh justru memustahilkan terwujudnya cinta sejati dalam kehidupan
umat manusia. Cinta sejati harus dimulai harus dimulai dengan kesediaan untuk
membuka diri terhadap orang lain. Atau dalam bahasa leehhouwers, cinta adalah
keluar dari diri sendiri dan
menghadap pada orang lain. Maka yang dituntut adalah kesediaan untuk mendekati
atau menghampiri orang lain. Namun justru disisni pula letak permasalahannya.
Yakni bahwa kesediaan untuk mendekati atau menghampiri orang lain itu tidaklah
mudah dilakukan. Pengalaman kehidupan sehari-hari memperlihatkan bahwa
mencintai orang lain bukanlah suatu pekerjaan yang dengan mudah dapat dilakukan
oleh setiap orang. Ada orang yang dengan mudah mampu mendekati orang lain atas
dasar cinta. Namun tidak sedikit orang yang sulit melakukannya.
Menurut Leenhouwers, kenyataan ini menunjukkan bahwa, pertama,
cinta harus dibangun dan digairahkan terus menerus, dan kedua, penghampiran itu
akan bertambah erat dan lebih melibatkan inti diri orang. Kalau objeknya lebih
berharga bagi dia, sehingga usahanya tidak dianggap mahal. Artinya, ada nilai
pada diri orang yang bersangkuta.
Tapi disini Leehouwers tidak menjelaskan mengapa ada saja orang
yang sulit membuka diri atau mendekati orang lain. Saya behipotesa, kesulitan
semacam ini lebih disebabkan oleh ketidak beranian orang-orang tersebut untuk
mengambil inisiatif membangun cinta. Hal ini bisa saja disebabkan oleh
kekurangan pahaman mereka tentang arti cinta sejati itu sendiri. Atu mungkin
juga karena lingkungan pendidikan yang mereka alami sejak kanak-kanak, hingga
menjadi remaja dan pemuda, kurang sekali memberi peluang kepada mereka untuk
bersikap terbuka terhadap orang lain, berinisiatif dan mengepresikan diri.
Kesedian untuk membuka diri sebagaimana disinggung diatas haruslah
didasari pada sikap hormat pada pada pribadi orang lain dengan segala
nilai-nilanya yang khas dan unik. Pribadi orang lain dengan segala khasnya itu
begitu memikat dan mempesona. Namun nilai-nilai khas yang dimilikinya itu masih
dalam proses pembentukan dan hanya mencapai taraf kesempurnaan oleh kehadiran
serta keterlibatan ku dalam proses hidupnya. Maka kehadiran orang lain
senantiasa merupakan ajakan atau undangan khusus bagiku untuk berpartisipasi
secara aktif dalam upaya penyempurnaan dirinya. Begitu pula kehadiranku
senantiasa merupakan ajakan bagi oarang lain untuk terlibat secara aktif dalam
proses penyempurnaan diriku.
Hal yang terpenting adalah tidak menjual-jual diri untuk
mengundang perhatian orang. Usaha pendekatan terhadaporang lain janganlah
diwarnai dengan egoisme. Karena egoisme akan menghancurkan cinta. Cinta yang
dibalut dengan egoisme ditadai dengan syarat-syarat serta
perhitungan-perhitungan tertentu demi kepentingan diri sendiri. Cinta sejati
mempunyai ciri dasar membiarkan orang lain hidup dan berkembang sesuai dengan
cita-citanya. Bukan cinta namanya bila kita berusaha agar orang lain menuruti
keinginan ataupun kehendak kita semata. Cinta senantiasa menurut agar yang
dicintai itu diberi peluang untuk menentuak apa dan bagaimana harus bertindak
sesuai dengan tujuannya. Dengan kata lain. Dengan kata lain cinta sejati
membuat orang lain menemukan diri sebagai subjek yang punya nilai martabat yang
khas.
Lebih lanjut bahwa mencintai berarti mau menerima sifat-sifat
positif sekaligus difat-sifat negatif orang yang dicintai. Karena manusia dalah
makhluk yang tidak sempurna. Seiap manusia punya kekurangan serta kelemahan.
Tetapi justru karena itulah maka manusia perlu dicintai dengan setulus hati. Selamat
mencinatai dengan keridhaan Ilahi.

No comments:
Post a Comment