Abu Doto Memang Pantas Dapat MURI
![]() |
| Abu Doto lantik dan mutasi SKPA |
Dilantik 25 Juni 2012 silam, Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah telah melakukan 17
kali mutasi pejabat dan SKPA. Ironisnya, kebijakan dan keputusan tersebut tanpa
dikonsultasikan bersama Wakil Gubernur Muzakir Manaf. Prestasi tertinggi dan
pantas mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).
***
SATU hingga enam atau tujuh kali melakukan mutasi
pejabat dalam satu periode kepemimpinan daerah, mungkin masih dinilai biasa. Tapi,
menjadi luar biasa jika kebijakan itu sudah melewati ambang batas angka sepuluh
kali lebih. Bahkan, berlangsung saat bulan suci ramadhan pula.
Namun, fakta tak elok itulah yang terjadi di Aceh,
negeri bertajuk serambi mekah, dibawah kepemimpinan dr. Zaini Abdullah atau
akrab disapa Abu Doto. Bayangkan, sejak dilantik 25 Juni 2012 silam bersama
Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Gerakan
Aceh Merdeka (GAM) ini, sudah melakukan 17 kali mutasi pejabat dan kepala SKPA
di jajaran Pemerintah Aceh.
Ironisnya, kebijakan dan keputusan tersebut tanpa
dikonsultasikan bersama Wakil Gubernur Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem.
Entah itu sebabnya, baru setahun usia duet kepemimpinan mantan pimpinan GAM berjalan, langsung menuai keretakan.
Berbeda saat Aceh dipimpin Abdullah Puteh-Azwar Abu
Bakar. Pasangan partai politik ini mengalami keretakan pada usia ketiga dari
kepemimpinan mereka. Nasib serupa juga dialami pasangan Irwandi Yusuf-Muhammad
Nazar yang diusung dan dukung Mualem bersama mantan kombatan GAM ketika itu.
Nah, atas kebijakan mutasi yang dilakukan Abu Doto
tadi, tak salah jika prestasi tersebut wajib mendapat penghargaan dan tercatat pada
Museum Rekor Indonesia (MURI). Sebab, sejak rezim Orde Baru hingga duet Irwandi
Yusuf-Muhammad Nazar, berkuasa (periode 2006-2012), belum pernah terjadi mutasi
di jajaran Pemerintah Aceh hingga 17 kali. Apalagi, kutak-katik pejabat tersebut
di bulan suci ramadhan.
“Itu memang hak gubernur. Tapi secara adat ke-Acehan
dan etika pemerintahan, Abu Doto tidak arif dan bijak. Masak ta cok darah bak muka gob dibak buluen jroeh, puasa (kenapa mengambil
darah dari muka orang pada bulan penuh kebaikan yaitu puasa). Karena itu, mari ramai-ramai
kita usulkan pada Ketua Yayasan MURI Jaya Suprana agar Abu Doto dianugerahi penghargaan
MURI atas prestasi mutasinya yang luar biasa itu,” ajak Muzakir, Ketua Pusat
Rakan Mualem pada media ini, Jumat pekan lalu.
Memang, meski dinilai tak patut dan diluar batas
kewajaran, banyak pihak mengaku tidak mau ambil pusing. Sebab, tabiat seperti itu
terkesan sudah melekat kuat di tubuh kepemimpinan Abu Doto. “Jangankan jelang
Pilkada dan bulan puasa, sebelumnya sudah bertubi-tubi sehingga menjadi hal
biasa. Karena itu, untuk apa ambil pusing dengan mutasi Abu Doto. Bukan
mustahil bulan depan juga akan ada mutasi lagi. Selama dia masih bisa, itu akan
terus terjadi,” kata sumber media ini, yang juga salah seorang pejabat terkena
mutasi pekan lalu.
Dia mengaku sudah ada fisarat akan diganti. Ini
disebabkan, karena dia dinilai oleh pembisik dan keluarga Abu Doto, dekat
dengan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Selain itu, ada beberapa perintah dan
permintaan Abu Doto, terkait pengalangan suara maupun dukungan untuk dia maju kembali
sebagai calon Gubernur Aceh pada Pilkada 2017 mendatang yang tidak dia lakukan
dan penuhi.
“Sebagai bawahan saya tetap tunduk, patuh dan loyal pada
pimpinan. Tapi secara akal sehat, batin saya tidak bisa menerima jika muncul
permintaan yang menurut saya janggal. Untuk apa Abu Doto ngotot maju kembali. Kalau
pun menang, berapa tahun lagi dia bisa menikmati kekuasaan tersebut. Umur
memang di tangan Allah SWT, tapi dari sisi hakekat kita harusnya bijak
menangkap tanda-tanda yang diberikan Tuhan. Salah satunya usia,” ungkap mantan
SKPA ini.
Itu sebabnya, sehari usai terkena mutasi, pejabat
eselon II ini melapor pada Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. “Alhamdulillah,
Mualem meminta saya dan kawan-kawan bersabar. Jika beliau terpilih sebagai
Gubernur Aceh pada Pilkada 2017, akan menempatkan kembali PNS berkualitas dan
profesional, sesuai dengan keahliannya. Mualem sadar, banyak yang terkena
mutasi hanya karena dinilai atau ada pembisik bahwa kami dekat dengan dia,”
ujar sumber tersebut.
Akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh Dr. Amri, SE, M.Si menilai, baik atau buruknya kinerja Pemerintah Aceh selama
empat tahun, tidaklah sulit untuk mengukurnya. Misal, masih
tingginya angka kemiskinan di Aceh. Ini menunjukan bahwa kinerja Pemerintah Aceh tidak baik selama
kepemimpinan dr. Zani Abdulllah atau
akrab disapa Abu Doto.
Itu sebabnya Dr. Amri, SE, M.Si berpendapat, keunggulan selama Pemerintah ZIKIR hanya pada angka kemiskinan yang masih tinggi dan gonta-ganti Satuan Kerja
Perangkat Aceh (SKPA) alias mutasi.
“Saya melihat ada kemajuan,
tetapi tidak seperti yang diharapkan. Artinya, kalau bicara pembangunan, intinya membicarakan tentang
kinerja. Berbicara kinerja, terkait
manajemen
pemerintahan dan ekonomi. Saya melihat, kenapa kemajuan
ekonomi tidak tercapai,
karena SKPA
kurang kompak dan antara eksekutif dengan legislatif juga sudah kurang akur,” ungkap Dr. Amri.
Menurut Dr. Amri, semua itu memiliki hubungan atau
korelasi yang kuat dengan kebijakan mutasi suka-suka yang dilakukan Doto Zaini.
Akibatnya, terjadi
keterlambatan pengesahan anggaran.
“Idealnya, kepala dinas itu diganti
lima tahun sekali. Sekali naik dan turun
bersama.
Artinya sekali pelantikan
gubernur, sekali diganti kepala dinas. Kecuali jika ada persoalan yang tidak bisa dihindari
dari profil dan performance kepala SKPA tadi. Saat ini,
apa yang mau dikerjakan, setahun dua sampai tiga kali kepala SKPA diganti,” kritik Dr. Amri.
Dampaknya, program yang sudah
dibuat, tidak bisa dikerjakan, sehingga program-program yang tercantum dalam visi-misi gubernur pada RPJM dan program tahunan,
banyak yang tidak sinkron.
“Kami banyak menganalisis itu, dari
aspek manajemen pemerintahan misalnya,
sangat rapuh, sehingga berdampak pada
program yang dikerjakan tahun ini, tahun depan nggak bisa dikerjakan lagi. Kita nggak tahu apa kondisi dan penyebabnya, apakah Baperjakat tidak bekerja dan berfungsi sehingga setahun
harus diganti kepala SKPA dua kali atau ada faktor lain,” kata Dr. Amri meraba-raba.
Lantas, benarkah dugaan bahwa mutasi yang dilakukan Abu
Doto pekan lalu terkait Pilkada 2017 dan “setoran upeti” terakhir? Inilah yang
jadi soal. Sebab, mayoritas dari pajabat yang dilantik maupun terkena mutasi
tak mau buka mulut. Tapi, media ini di jajaran Pemerintah Aceh tak membantah maupun
mengamini dugaan tadi. “Gimana ya, ibarat kentut. Wujudnya tak ada tapi baunya
begitu terasa kemana-mana,” ungkap sumber
yang tak mau ditulis namanya ini.
Namun dia mengangguk ketika dikaitkan dengan Pilkada
2017 mendatang. “Itu pasti, lihat saja betapa genjarnya Abu Doto turun ke
daerah dan melakukan pencitraan melalui media pers cetak serta online,” ungkap
sumber itu. Katanya, jelang Pilkada mendatang, apa pun acara pasti dihadiri Abu
Doto. “Mungkin juga kalau ada kenduri haqiqah anak juga Abu Doto datang,”
sindir sumber ini.
Lalu, bagaimana dengan dugaan adanya aliran “setoran
upeti” untuk orang-orang tertentu? “Wah, kalau itu susah untuk dibuktikan.
Tapi, apakah ada makan siang yang gratis,” balas sumber itu bertanya. Apalagi
katanya, kepemimpinan Abu Doto memasuki masa akhir jabatan.
“Firasat saya, orang-orang sekitar Abu Doto sudah
sadar bahwa mantan pimpinan GAM itu tak akan terpilih lagi pada Pilkada 2017.
Karena itu, untuk bisa menarik “upeti” dari pengusaha dan pejabat daerah,
mereka mendorong Abu Doto untuk maju sehingga ada alasan untuk menariknya.
Kasihan Abu Doto, bisa jadi dia tidak tahu dan mengerti strategi orang-orang di
sekitarnya,” ungkap sumber tersebut.
Menurut dia, jangankan jabatan di jajaran Pemerintah
Aceh, posisi atau kepengurusan di partai politik atau organisasi kemasyarakatan
(Ormas) saja harus ada pelicin. “Itu hal
wajar di era reformasi. Jika Anda tak mau ikut arus, maka akan repot nasi,”
sebutnya, sambil bercanda dan memplesetkan kalimat reformasi menjadi repot nasi.***
- Sumber : Tabloid Modus Aceh

No comments:
Post a Comment