Empat Tahun Kepemimpinan
Zaini Abdullah
Ketuk
palu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Teungku Muharuddin resmi membuka
sidang paripurna khusus di ruang gedung utama, Jalan Teungku Daud Beureueh,
Banda Aceh, Senin, 20 Juni 2016. Lalu, Sekretaris Dewan (Sekwan) Hamid Zein
membacakan surat masuk dan selanjutnya giliran Gubernur Aceh dr. H. Zaini
Abdullah membacakan laporan pertanggungjawaban (LKPJ) Anggaran Pendapatan dan
Belanja Aceh (APBA) tahun 2015.
Pengantar
LKPJ 2015 setebal 39 halaman itu, dibaca secara bergantian oleh Abu Doto dan Sekda
Aceh, Drs. Dermawan. Zaini Abdullah mengatakan, belanja Aceh tahun anggaran
2015 direncanakan Rp 12,74 triliun lebih dengan realisasi Rp 12,14 triliun atau
95,29 persen. Bilangan itu terdiri dari belanja tidak langsung Rp 5,72 triliun
dan realisasi Rp 5,64 triliun (98,57 persen). Belanja langsung direncanakan Rp
7,02 triliun lebih dengan realisasi Rp 6,50 triliun atau 92,62 persen.
Serapan
anggaran tahun ketiga Abu Doto--begitu ia akrab dipanggil--boleh saja melonjak
tinggi. Namun, bukan berarti DPR Aceh mengamini atas bagusnya LKPJ itu. Wakil
Ketua DPR Aceh, H. Dalimi, misalnya, tak lama membaca buku LKPJ APBA 2015
Pemerintah Aceh, ia langsung menemukan satu kegiatan yang tak dimasukkan dalam
LKPJ 2015.
Pelaporan
yang dimaksud Dalimi adalah proyek Embung Lhokseumani, Kecamatan Batee, Kabupaten
Pidie. Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) yang mengeksekusi anggaran satu
miliar rupiah lebih tahun 2015 itu adalah Dinas Pengairan Aceh. “Tidak semua
betul seperti yang disebutkan dalam LKPJ,” kata kader Partai Demokrat Aceh,
Dalimi, Senin pekan lalu.
Tingginya
serapan APBA 2015, bukan pula tidak ada SiLPA. Dari total APBA 2015, Rp 12
triliun lebih, tercatat SiLPA Rp 328 miliar lebih. Masih tingginya SiLPA di
bawah kepemimpinan Abu Doto, memang sudah berulangkali terjadi.
Tahun
pertama ia menjadi orang nomor satu di Aceh misalnya, dari Rp 11,7 triliun APBA
2013, terjadi SiLPA Rp 1 triliun lebih dan tahun kedua Pemerintah Zaini
Abdullah-Muzakir Manaf (ZIKIR), dari APBA 2014 Rp 13,2 triliun lebih, muncul SiLPA
Rp 916 miliar lebih. Bahkan, Menteri Dalam Negeri mengatakan, untuk APBA 2013
dan 2014, perlu dilakukan optimalisasi belanja.
Tentu
bukan hanya SiLPA yang menjadi unggulan dari kepemimpinan Abu Doto, ada juga angka
kemiskinan yang terjadi peningkatan drastis. Secara data mikro, sampel by name by address dan data agregat,
angka kemiskinan di Aceh tahun 2012 ada 1,7 juta orang dan tahun 2015 naik 2,2
juta orang dari 4,9 juta jumlah penduduk Aceh.
Lantas,
bagaimana dengan pendidikan? Berdasarkan neraca pendidikan daerah 2015 yang
diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, kondisi
mutu dan dunia pendidikan di Aceh masih sangat tidak mengenakkan. Misal,
peringkat pendidikan Aceh berada di urutan 32 dari 34 provinsi di negeri ini.
Potret buram ini juga terjadi pada akreditasi sekolah. Saat ini, masih ada 12,6
persen sekolah dasar (SD) yang belum terakreditasi dan hanya 8,4 persen dengan
akreditasi A. Untuk SMP, ada 23,2 persen yang belum terakreditasi dan hanya
13,6 persen terakreditasi A. Sementara SMA, ada 18,4 persen yang belum
terakreditasi dan 28,7 persen yang terakreditasi A. Khusus untuk SMK lebih
miris lagi. Ada 47,1 persen yang belum terakreditasi dan hanya 9,5 persen
dengan akreditasi A. Padahal, dengan APBA 2015, Rp 12,76 triliun ditambah
bantuan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015, Rp 604
miliar, mutu pendidikan di Aceh jauh lebih baik dari daerah lain.
Keunggulan
lain adalah kepemimpinan Abu Doto dalam bongkar pasang kepala atau pejabat Satuan
Kerja Perangkat Aceh (SKPA). Sejak resmi dilantik menjadi Gubernur Aceh, 25
Juni 2012 sampai 25 Juni 2016 ini, tercatat sudah 17 kali melakukan pergantian
SKPA, baik eselon II, III dan IV.
Entah
karena terlalu rutin melakukan pergantian SKPA sehingga sempat melantik pegawai
negeri sipil (PNS) yang sudah meninggal dunia. Pergantian SKPA itu, tidak hanya
berdampak pada kinerja Pemerintah Aceh sendiri, tapi juga pejabat yang diangkat
banyak diambil dari kabupaten dan kota di Aceh.
Jika
pejabat yang diambil dari daerah, kemudian dilakukan pergantian dalam setahun
dua kali hingga lebih, tentu banyak pegawai negeri sipil yang mendapatkan
tunjangan prestasi kerja (TPK) tidur, pembayarannya setara dengan jumlah gaji
pokok--sesuai golongan PNS bersangkutan.
Syahdan,
hasil pemeriksaan atas pelaksanaan APBA selama Pemerintah Doto Zaini Abdullah
juga tak kunjung baik. Setiap tahun, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik
Indonesia Perwakilan Aceh selalu memberi opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP).
Kini,
kepemimpinan dr. H. Zaini Abdullah tinggal setahun lagi, sebab Sabtu 25 Juni
2016, genap empat tahun. Tentu, rakyat Aceh tak perlu banyak berharap adanya perubahan
di sisa akhir jabatannya itu. “Sebab, tidak ada kemajuan apa pun selama empat
tahun. Jalan Geurutee saja tidak ada anggaran,” kata Teuku Iskandar Daod, Rabu
pekan lalu.
Selain
2016 tahun politik, usia Abu Doto juga tidak muda lagi. Tapi, nafsu berkuasa
masih ada pada petahana ini. Bayangkan, walau sering lupa dengan apa yang dia
bicarakan dan putuskan, tapi Abu Doto masih tetap maju kembali sebagai calon
Gubernur Aceh melalui jalur independen.
Nah,
seperti apa kinerja Pemerintah Aceh di bawah kendali Abu Doto selama empat
tahun lalu? Wartawan MODUS Aceh, Muhammad Saleh, Juli Saidi
dan Irwan Saputra, menulisnya untuk Laporan Utama
pekan ini.***
No comments:
Post a Comment