Ekonom
Unsyiah, Dr.
Amri, SE, M. Si
Unggulnya Hanya
Mutasi SKPA
| Doktor. Amri |
Akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr.
Amri, SE, M.Si,
mengaku, baik atau buruknya kinerja Pemerintah Aceh
selama empat tahun, tidak sulit mengukurnya. Misal, masih tingginya angka kemiskinan di Aceh. Ini menunjukkan bahwa kinerja Pemerintah Aceh tidak baik selama kepemimpinan dr. Zani Abdulllah atau
akrab disapa Abu
Doto. Itu sebabnya, Dr. Amri, SE, M.Si menilai, keunggulan selama Pemerintah ZIKIR (Zani Abdulllah-Muzakir
Manaf)
hanya ada pada
angka kemiskinan yang masih tinggi dan unggul dalam gonta-ganti Satuan
Kerja Perangkat Aceh (SKPA). Berikut wawancara Juli Saidi dari MODUS ACEH dengan Dr. Amri, SE, M.Si di Masjid Lampineung, Banda Aceh, Selasa siang, 21 Juni 2016 lalu.
Apa
pendapat Anda empat tahun kepemimpinan Abu Doto?
Saya
melihat ada kemajuan, tetapi tidak seperti yang diharapkan. Artinya, kalau
bicara pembangunan intinya membicarakan tentang kinerja. Berbicara kinerja,
menurut saya ada dua aspek.
Apa
itu?
Pertama, manajemen
pemerintahan.
Kedua,
dari aspek ekonomi. Saya melihat,
kenapa kemajuan ekonomi ini tidak tercapai. Pertama, dari
sudut manajemen pemerintahan, SKPA kurang
kompak. Eksekutif
dan legislatif juga
sudah
kurang akur.
Apa
indikatornya?
Indikatornya
adalah selalu terjadi keterlambatan pengesahan anggaran. Kedua, selalu
terjadi pergantian kepala dinas (SKPA). Idealnya, kepala dinas itu diganti lima
tahun sekali. Sekali naik dan sekali mundur. Artinya sekali
pelantikan
gubernur, sekali diganti kepala dinas. Kecuali ada persoalan yang tidak bisa dihindari dari
profil dan performance kepala SKPA
tadi. Saat ini, apa yang mau dikerjakan? Setahun, dua
sampai tiga kali kepala SKPA diganti.
Dampaknya?
Program
yang sudah dibuat, tidak bisa dikerjakan, sehingga banyak program-program yang
tercantum sesuai visi
misi
gubernur yang ada dalam RPJM
(Rencana Pembangunan Jangka Menengah) dan
program tahunan, banyak yang tidak sinkron.
Kenapa
tidak bisa sinkron?
Kami banyak
menganalisis itu, dari aspek manajemen pemerintahan misalnya, sangat “rapuh”.
Sehingga, berdampak
pada program yang dikerjakan tahun ini, tahun depan nggak bisa dikerjakan lagi. Kita nggak tahu apa kondisi dan penyebabnya, apakah Baperjakat tidak bekerja dan berfungsi. Sehingga, setahun
harus diganti kepala
SKPA dua kali atau ada faktor lain.
Kemudian?
Dari
aspek ekonomi banyak indikatornya. Pertama, kemiskinan. Jujur, saya katakan terkejut
melihat angka kemiskinan Aceh saat ini. Begitu juga
angka pengangguran.
Lain lagi tingkat inflasi di daerah
sangat tinggi. Dan,
mungkin biaya hidup yang paling tinggi di seluruh
Indonesia setelah Irian Jaya adalah
Aceh.
Kenapa
itu bisa terjadi?
Bisa
dicek. Kenapa ini terjadi? Karena tidak dikontrol dari semua mata rantai
ekonomi. Contoh, harga daging saja yang paling mahal di Indonesia adalah Aceh.
Padahal, ada bantuan
daging tiap tahun melalui
LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik). Lembaga ini melakukan pengadaan
bibit sapi,
mungkin satu tahun sampai Rp 40 miliar. Nah, ke mana sapi-sapi itu saat ini?
Berarti lemah
sekali Pemerintah Aceh dalam mendongkrak
ekonomi?
Ya, pembangunan ekonomi
saya lihat rapuh. Indikatornya
adalah tingkat kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data yang sudah di-publish
BPS (Badan Pusat Statistik) beberapa waktu lalu sangat
menyedihkan. Kenapa ini terjadi, mata rantainya panjang.
Kesalahannya di mana?
Ya, tidak sinkron
bekerja antar
SKPA dalam pengentasan
kemiskinan.
Sementara,
kepala SKPA setahun dua kali diganti. Jadi,
apa yang mau dikerjakan? Padahal, kepala dinas atau badan yang
ada di bawah
gubernur merupakan
orang
yang menjalankan visi dan misi gubernur. Semua visi misi itu ada di dinas dan
badan. Kalau kepala
dinas
dan badan diganti setahun dua kali apa yang dikerjakan?
Maksud
Anda?
Maksud
saya begini, kita ngomong jujur sajalah. Berbicara tentang kinerja adalah data
dan fakta. Kalau seperti itu manajemen yang dilakukan dalam pemerintahan, maka
program-program yang ada di dinas, nggak
bisa dikerjakan.
Akibatnya?
Orang
akan oportunis.
Kenapa muncul sifat oportunis? Karena program yang dia dibuat akan dikerjakan orang
lain. Kalau ini terjadi, apa konsekuensinya? Tentu tidak
nyambung.
Kenapa
itu bisa terjadi pada Pemerintah Abu Doto?
Karena kepemimpinan
top management
di Aceh “tidak kuat”. Tidak ada strong
leadership. Kita memahami semua aspek ini. Di bawah gubernur, ada sekda dan asisten-asisten. Istilahnya menko.
Ada menko
ekonomi yaitu asisten II. Menko kesejahteraan
sosial yakni asisten III. Masing-masing
ada asisten dan membawahi
dinas-dinas.
Artinya, pergantian
SKPA berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab ada
pada Abu Doto?
Ya. Gubernur
boleh membuat visi dan
misi yang bagus, RPJP dan membuat RPJM
yang indah.
Boleh membuat program pembangunan yang ideal. Tapi, sampai pada dinas, terjemahannya
sudah lain lagi. Nggak sinkron atau cakap tak
serupa bikin. Cakap lain, bikin lain. Kenapa bisa terjadi?
Karena yang mengeksekusi semua program pemerintahan itu adalah dinas. Tapi, kalau kadis atau kepala SKPA terus
berganti, bagaimana dia melaksanakan? Itu dari
aspek pemerintahan.
Jadi, runut. Kalau ini tidak bagus, maka untuk
ekonomi juga akan merembes.
Buktinya?
Angka
kemiskinan tinggi.
Kalau 2,2 juta itu data riil, tentu sangat menyedihkan. Dulu, saya
berprediksi tetap di 17-20 persen, tapi sudah 42
persen. Kalau jumlah
penduduk Aceh
5,2
juta, yang miskin 2,2
juta, berarti 40
persen lebih. Manajemen pemerintahan berembes pada ekonomi.
Buruknya
kondisi ekonomi Aceh, patutkah disalahkan SKPA semata?
Tidak bisa
begitu. Top
management
yaitu Abu Doto tidak
bisa melepaskan kesalahan
pada anak buah. Kenapa bisa demikian,
karena program yang dikerjakan hari ini bukan program dia, melainkan program
orang lain. Itu terjadi karena gemar lakukan mutasi.
Anggaran
besar
bila dibandingkan sebelum Aceh damai, namun kesejahteraan masyarakat tidak
pernah terselesaikan selama empat tahun?
Fakta
sudah ada, masyarakat tidak sejahtera. Daya beli masyarakat di kampung
rendah, kemiskinan
tinggi, pengangguran
tinggi. Banyak faktor terjadi. Bisa program tumpang tindih dan tidak ada
koordinasi antar dinas.
Kalau
saya melihat,
koordinasi dan sinkronisasi kurang. Masing-masing jalan sendiri-sendiri.
Kenapa?
Karena kepala
dinas ada yang diganti enam bulan sekali, ada yang 11 bulan. Ini kan nggak boleh. Coba cek di seluruh
Indonesia, ada nggak pergantian
kepala dinas setahun dua kali? Kita nggak
tahu apa ada salah Baperjakat atau ada tim bisik gubernur, sehingga dia lakukan
itu.
Lalu?
Kalau
saya melihat secara objektif, berdasarkan data kemiskinan, kita sudah ada output sekarang. Saya
mengatakan manajemen pemerintahan rapuh. Indikatornya adalah tingkat
kesejahteraan masyarakat. Indikator lainnya dalam pemerintahan, sering sekali
terjadi bongkar
pasang SKPA, eselon II, eselon III, eselon IV.
Begitu
burukkah manajemen Abu Doto?
Nggak
semuanya negatif, ada juga yang positf. Yang positif misalnya pembangunan jalan
dari Takengon ke Lhokseumawe dan daerah lain. Namun, kalau melihat tingkat
kemiskinan, lebih banyak negatifnya ketimbang positifnya. Itu indikator yang
saya pakai.
Kenapa
maju atau tidaknya Aceh, Anda melihat pada indikator tersebut?
Karena
tujuan pemerintahan adalah menyejahterakan
rakyat. Indikator kesejahteraan
adalah tingkat kemiskinan. Kalau banyak orang miskin berarti orang tidak
sejahtera. Mungkin itu orang yang tidak mampu, tidak punya daya beli. Semua
aspek, tidak punya pendidikan, tidak punya perumahan, dan seterusnya.
Kenapa
angka kemiskinan masih tinggi?
Menurut
saya, anggaran itu tidak diarahkan ke program pengentasan kemiskinan. Sehingga, yang
terjadi seperti ini. Ndak salah juga
karena dibangun infrastruktur.
Infrastruktur kan sifatnya jangka panjang untuk
mengundang investor. Tapi,
investor juga nggak ada. Investor
yang ada hanya atas kertas, di gambar. Kalau di lapangan nggak ada investor.
Kenapa
Anda katakan tidak ada investor?
Kalau
memang ada investor kan bisa menyejahterakan orang lain. Bisa
mempekerjakan orang lain. Dengan mempekerjakan orang lain, maka orang akan ada
penghasilan, angka pengangguran dan kemiskinan juga akan berkurang. Ini kan
tidak ada.
Lalu?
Program
pembangunan tidak diarahkan untuk program pengentasan kemiskinan, untuk menyejahterakan
rakyat. Menyejahterakan
rakyat secara umum, oke infrastruktur. Membangun Masjid Raya, bangun jembatan
kan itu tidak menyentuh langsung untuk kesejahteraan rakyat. Makanya, program
pengentasan kemiskinan dan menurut hemat saya yang paling bagus adalah by name by address, apa persoalannya itu
yang diselesaikan.
Menurut
Anda, apa yang menjadi unggulan Aceh di bawah
kepemimpinan Abu Doto?
Sejauh
ini belum tampak, kecuali unggul dalam gonta-ganti SKPA. Setahun bisa
dua kali bahkan lebih. Kalau bicara kesejahteraan, angka kemiskinan masih
tinggi.***
- Sumber : Tabloid Modus Aceh
No comments:
Post a Comment