Infrastruktur
Bermasalah Investasi Belum Tumbuh
Potensi alam Aceh kaya melimpah,
tapi belum bisa meyakinkan investor
untuk berinvestasi di Aceh. Empat tahun sudah kepemimpinan Zaini Abdullah
mengelola Aceh, persoalan mendasar belum mampu dibenahi. Misal, kecukupan
energi listrik dan industri padat karya.
Penempatan
Aceh boleh pada urutan pertama dari 34 provinsi di Republik Indonesia. Namun,
jangan salah, urutan itu bukan unggul dalam persentase investasi di Bumi
Serambi Mekkah. Sebaliknya, berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS)
Nasional, realisasi investasi Aceh dalam sektor penanaman modal luar negeri pada
tahun 2013-2014, masih berada di urutan bawah Provinsi Papua.
Itu
disebabkan, jumlah investasi penanaman modal luar negeri untuk Provinsi Papua
tahun 2013 sebesar US$ 2,360,000 dan tahun 2014 sebesar US$ 1,260,600. Ini
belum lagi dibandingkan dengan Provinsi tetangga--Sumatera Utara--tahun 2013 yaitu
US$ 887.5 juta dan tahun 2014 sebesar US$ 550.8 juta. Sedangkan Aceh, tahun
2013 sebesar US$ 94.2 juta dan tahun 2014 sebesar US$ 31.1 juta.
Jumlah
itu, menurut BPS Nasional tidak termasuk sektor minyak dan bumi, perbankan,
lembaga keuangan non bank, sewa guna usaha, investasi yang perizinannya dikeluarkan
oleh intansi teknis atau sektor, investasi porto folio (pasar modal) dan rumah
tangga. Sedangkan realisasi investasi penanaman modal dalam negeri, Aceh tahun
2013 senilai Rp 3.636 miliar dan tahun 2014 sebesar Rp 5.110 miliar. Sumatera
Utara sebesar Rp 5.068 miliar dan tahun 2014 Rp 4.223 miliar.
Bergerak
lurus, BPS Aceh mencatat pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan II tahun 2015
dengan migas tumbuh negatif 1,72 persen bila dibandingkan triwulan II tahun
2014 (year-on-year). Masih data BPS
Aceh, nilai ekspor Aceh pada Maret 2016 mengalami penurunan jika dibandingkan
Februari 2016 sebesar US$ 330,316 atau
mengalami penurunan sebesar 94,22 persen. Bahkan, pencapaian nilai ekspor
periode Januari-Maret 2016, menunjukkan penurunan 60,86 persen dibandingkan
periode sama tahun 2015.
Lalu,
jumlah perusahaan industri besar dan sedang menurut 23 kabupaten tahun 2013,
hanya 44. Terbanyak di Aceh Tamiang, 12 industri besar dan sedang. Parahnya
lagi, neraca perdagangan Provinsi Aceh Maret 2016 mengalami defisit, sebesar US$
1,235,685 atau mengalami penurunan sebesar 124,19 persen dibandingkan tahun
sebelumnya.
Data
perkembangan pembangunan Provinsi Aceh 2014 juga menyebutkan, perekonomian Aceh
hanya memiliki pangsa 1,43 persen terhadap total output nasional dari total PDRB Provinsi. Laju pertumbuhan ekonomi
Aceh selalu di bawah laju nasional, bahkan terjadi pertumbuhan negatif.
Bila
dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi Aceh antara tahun 2011 dengan tahun 2013,
justru terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi pada masa pemerintahan dr. H.
Zaini Abdullah (tahun 2011 sebesar 6,49 persen dan 2013 sebesar 5,78 persen).
Tapi,
semua data tadi dibantah Zaini Abdullah. Melalui konfirmasi tertulis yang
diterima media ini, Zaini Abdullah menyebutkan, “Data aktual
yang ada pada kami justru sebaliknya, bahwa realisasi investasi di Aceh terus
mengalami peningkatan sejak tahun 2012 sampai 2015. Tahun 2012, hanya 66 proyek
atau perusahaan yang menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM)
dengan tambahan realisasi investasi sebesar Rp 1,26 triliun. Selanjutnya, pada tahun
2013 meningkat menjadi 139 proyek/perusahaan sebesar Rp 5,09 triliun. Tahun
2014 menjadi 197 proyek/perusahaan sebesar Rp 6,22 triliun dan tahun 2015
menjadi 207 proyek/perusahaan sebesar Rp 5,73 triliun.
Adapun serapan tenaga kerja dari kegiatan penanaman
modal di Aceh tercatat bahwa pada tahun 2012 sebanyak 23.782 orang tenaga kerja
yang bekerja pada 66 perusahaan penanaman modal, selanjutnya 2013 sebanyak
21.817 orang, pada 2014 sebanyak 20.038 orang dan 2015 sebanyak 31.473 orang.
Sayangnya, pengakuan Gubernur Aceh
Zaini Abdullah tak sejalan dengan pendapat ekonom Universitas Syiah Kuala
(Unsyiah), Dr. Iskandarsyah Madjid, SE, MM. Dia berpendapat, investasi di Aceh
belum tumbuh secara layak. Ini disebabkan, faktor infrastruktur yang belum siap.
“Persoalan mendasar adalah energi listrik,” sebut Iskandar Madjid.
Karena
itu, bila ada peningkatan investasi di Aceh seperti
yang diakui Zaini Abdullah, menurut Iskandar Madjid, lebih pada nilai investasi
penanaman modal. Sedangkan investasi padat karya masih jauh dari yang
diharapkan. Padahal, kata akademisi Unsyiah itu, sumber daya alam (SDA) cukup
besar jika mau dibenahi. “Contoh paling gampang, listrik. Sampai hari ini, belum tuntas. Padahal, sumber energi listrik cukup
banyak di Aceh,” ujar Iskandarsyah Madjid, Rabu pekan lalu.
Memang,
berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Negeri Provinsi Aceh, potensi energi
terbarukan strategis Aceh, untuk hydropower
sebesar 2.863 megawat (MW) dan geothermal
sebesar 1.115 MW.
Namun, potensi
energi tersebut dibiarkan tidur oleh Pemerintah Aceh. Bahkan, geothermal Seulawah yang rencananya akan
ada kerja sama dengan Jerman, hingga kini belum terealisasi.
Padahal,
tersedianya energi listrik menjadi peluang besar bagi Pemerintah Aceh
mendatangkan investor untuk berinvestasi di Aceh. Maka, menurut Iskandarsyah
Madjid, belum signifikan investor datang ke Aceh, bukan karena persoalan
keamanan terkait aksi kriminal. Ironisnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh
(APBA) saban tahun justru dibiarkan menjadi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA).
Jumlahnya, dari ratusan miliar hingga satu triliun. “Maka, jangan heran, angka
penggangguran di Bumi Serambi Mekkah ini tidak pernah terselesaikan dengan
baik, selama empat tahun Pemerintah ZIKIR (Zaini Abdullah-Muzakir Manaf),” kritik
Iskandar Madjid.
Begitupun,
dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Anggaran Pendapatan dan
Belanja Aceh (APBA) 2015 Pemerintah Aceh disebutkan, urusan penanaman modal
tahun 2015 untuk investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal
dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 5,72 triliun atau melebihi dari target investasi
yang ditetapkan badan terkait. PMDN senilai Rp 5,03 triliun atau 190 persen dan
PMA Rp 697 miliar atau 26 persen. Maka, tahun 2015, penyerapan tenaga kerja
pada perusahaan/proyek, akui Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah dalam LKPJ
APBA 2015, sebanyak 31.725 orang. Benarkah atau sekedar bumbu penyedap?***
- sumber : Tabloid Modus Aceh
No comments:
Post a Comment