| Dr. Iskandarsyah Madjid |
Dr. Iskandarsyah Madjid,
SE, MM mafhum betul kondisi nyata investasi di Aceh selama empat tahun
terakhir. Itu sebabnya, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)
ini mengaku tidak mungkin pertumbuhan investasi di Aceh berjalan baik. Karena
itu, walau Pemerintah Aceh mengatakan ada penambahan investasi, semua itu tak lebih
hanya pada penambahan modal. Tapi, jika dilihat dari investasi padat karya,
masih belum bergerak. Buktinya, angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi.
Sebagai bukti empat tahun
Pemerintah Aceh di bawah kendali dr. H. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf,
persoalan infrastruktur masih menjadi persoalan mendasar di Aceh untuk
mendatangkan investor. Misal, kesiapan Aceh menyiapkan energi listrik pada
usaha investasi. Nah, seperti apa pengakuan akademisi Unsyiah yang juga aktif
sebagai pengusaha ini? Berikut wawancara Juli Saidi dari MODUS ACEH dengan Dr. Iskandarsyah
Madjid, SE, MM di Lampriet, Banda Aceh, Selasa, 21 Juni 2016 lalu.
Dilantik
25 Juni 2012 sampai 25 Juni 2016, genap empat
tahun Zaini Abdullah menjabat Gubernur Aceh. Pendapat Anda
tentang investasi di Aceh?
Kalau
bicara investasi, yang paling mendasar sebenarnya infrastruktur investasi. Faktanya, menurut saya, sampai
hari ini belum terlaksana dengan baik. Jadi, bagaimana
mau menghadirkan investor dari dalam dan luar negeri kalau infrastruktur tidak
siap.
Infrastruktur
seperti apa yang Anda maksud?
Contoh
paling gampang,
listrik. Sampai hari
ini belum tuntas. Padahal,
sumber energi listrik cukup banyak di Aceh. Namun, tetap saja
terjadi pemadaman hampir saban hari. Bagi investor, jika listrik tak cukup tentu menjadi
biaya tinggi.
Berarti menjadi persoalan
mendasar?
Ya, karena sampai
hari ini belum dibenahi. Sebaliknya,
memang pemerintah
telah menetapkan kawasan industri di Aceh seperti Lampulo, Banda Aceh dan Krueng Raya, Aceh Besar.
Tapi, sampai saat
ini belum ready untuk investor. Dan, ini bukan masalah
kecil atau
sepele. Dan, persoalan
infrastruktur untuk operasional lainnya seperti air bersih. Investasi akan masuk jika iklimnya nyaman. Misal, adanya kemudahan-kemudahan
dalam perizinan
dan kesiapaan orang-orang di dalamnya. Menurut saya, Aceh saat ini masih
terlalu dini dikatakan
siap.
Ini sama artinya bahwa empat
tahun kepemimpinan Zaini Abdullah, banyak
persoalan investasi di Aceh belum siap atau tak jalan?
Ya, banyak
hal yang tidak mendukung investasi secara keseluruhan. Pemerintah Aceh harus
tahu bahwa saat seseorang
berinvestasi,
tentu memerlukan biaya tinggi untuk melengkapi infrastruktur tersebut. Jika
persoalan mendasar ini belum siap, tak mungkin mereka mau masuk ke Aceh.
Apa
dampaknya jika infrastruktur
tidak pernah terselesaikan oleh Pemerintah Aceh?
Otomatis
orang akan enggan berinvestasi. Karena masalah itu akan membuat biaya tinggi
bagi investor. Jadi,
infrastruktur harus diselesaikan dulu, sehingga saya yakin investor akan
datang, karena hitungan-hitungannya profit.
Anda
menyebut investasi tidak bergerak di Aceh, maksudnya?
Salah
satu bukti,
masyarakat tidak
ada
pekerjaan. Artinya,
dengan investasi,
akan mengurangi pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan.
Dalam
penyampaian Laporan
Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBA) 2015,
Pemerintah Aceh mengaku investasi justru tumbuh baik?
Meningkat
dan tumbuh baik
dari sisi apa? Volume atau nilai
investasinya?
Kalau
uang berarti padat modal bukan padat karya. Sehingga, tidak bisa
menjawab masalah tenaga kerja karena lebih banyak modal daripada
orang-orang. Mestinya, kita mencari investasi yang padat karya. Tujuannya, menyerap tenaga kerja. Karena memang
tingkat pengangguran kita meningkat.
Kemudian?
Jika disebut
investasi tumbuh dengan baik berdasarkan komitmen
atau MoU, mungkin
bisa
ratusan. Tetapi,
soal implementasi memangnya sudah ada berapa? Lagi-lagi, investor
enggan masuk Aceh karena memang
infrastrukturnya tidak siap. MoU memang banyak, tapi yang mana
sudah direalisasi?
Jadi,
itu yang kita lihat. Mungkin secara padat modal, besar.
Terjadi kenaikan nilainya. Tapi,
padat karya bagaimana? Investasi mungkin ada, cuma seperti apa yang dibutuhkan
sekarang. Saat
ini adalah investasi padat karya, orang bisa
banyak bekerja,
sehingga ada efek. Yang bekerja pun orang-orang Aceh.
Baik,
begitu berpengaruhkah investasi padat karya di Aceh?
Ya, karena padat
karya mengakibatkan terserapnya tenaga kerja di Aceh. Dan, otomatis
akan mengurangi angka kemiskinan serta pengangguran. Pemerintah Aceh
jangan hanya melirik dan mengandalkan investor padat modal atau membawa
tenaga kerja
dari
luar
Aceh, sehingga nggak ada dampak yang positif kepada daerah.
Strategi lain?
Menggunakan
modal daerah.
Pemerintah harus mempersiapkan infrastruktur dengan baik.
Selain insentif yang diberikan kepada calon investor juga membuat mereka tertarik.
Daerah lain juga memberikan insentif yang cukup baik, sehingga mereka mau
datang. Tapi,
kalau di awal
sudah diganggu,
ya nggak bisa.
Jadi, semua ini ada dana
sendiri di APBA.
Kita mau sudah siap, sehingga ke depan investor tinggal datang
saja, mempersiapkan kantornya di Aceh, workshop di sini. Nggak perlu mikir lagi masalah listrik,
air, jalan dan
tenaga kerja. Semua sudah tersedia dalam kawasan industri tersebut. Jadi, memudahkan
orang untuk datang.
Dalam LKPJ
APBA 2015,
Pemerintah Aceh
mengaku sektor sawit
terus bertambah. Pendapat
Anda?
Lahan
sawit investasi di
bidang
pertanian, tapi
semakin terbatas dan
mengandalkan lahan daerah tertentu serta sudah tidak
ada lahan lagi untuk dikembangkan. Mungkin faktor yang perlu dilirik adalah pengolahannya, dari buah menjadi CPO (minyak sawit mentah).
Dari CPO
menjadi minyak goreng. Itu yang harus dipikirkan, sehingga
Aceh tidak terikat lagi minyak goreng dari luar. Justru bisa menyuplai minyak
goreng dari Aceh ke luar daerah.
Ada
pendapat faktor
keamanan juga
menyebabkan iklim investasi di Aceh tidak tumbuh?
Keamanan
nggak masalah. Waktu konflik dulu, PT Arun, PT PIM, PT KKA dan PT AAF
bisa kok jalan. Kalau bagi investor menguntungkan, walau kondisi ribut,
hitung-hitung biaya keributan ia tetap investasi. Tapi, masalahnya soal regulasi. Hari
ini sudah oke besok lain lagi.
Investor pusing.
Belum lagi masalah listrik yang sebentar-bentar harus pakai
genset. Jadi, biaya
tinggi, sementara harga produk tidak bisa dinaikkan, tetapi
biaya pengeluaran meningkat. Biaya solar dan bensin serta
mesin. Sebentar-bentar listrik mati bisa merusak mesin.
Lalu?
Prinsip
dasar adanya
investasi ke Aceh baik pertanian, perikanan, atau pabrik semen untuk menjawab
kebutuhan. Kebutuhan apa? Kebutuhan tenaga kerja dan tempat pekerjaan,
berkurangnya angka kemiskinan, meningkatnya mutu pendidikan, meningkatnya
pertumbuhan ekonomi.
Jadi, menurut
Anda, belum ada
kabar gembira masalah investasi di Aceh selama
empat tahun ini?
Saya
mau bilang baik juga nggak mungkin,
karena indikatornya kemiskinan meningkat, pengangguran meningkat, iklim
investasi juga tidak menarik. Kalau saya mau mengatakan baik, susah, karena
indikator menunjukkan sebaliknya. Keterbatasan air bersih misalnya, juga menentukan.
Kalau itu nggak siap, ndak
bisa.
Dan, karena
pengurusan perizinan yang rumit, sehingga investor
pindah ke daerah
lain.
Apa yang
harus dilakukan Pemerintah Aceh saat ini dengan sisa waktu satu
tahun lagi?
Harus
ada strategi yang bagus, semua SKPA harus ikut. Menurut
saya, daerah harus ada kawasan industri, supaya terjadi pengelompokan dan juga
efisien dalam mengatur. Jadi,
memudahkan dalam mengelola industri. Kemudian, tinggal bagaimana pemerintah
fokus, walaupun masih ada sisa satu tahun lagi, nanti dilanjutkan pemerintahan
baru.***
- Sumber : MODUS ACEH
No comments:
Post a Comment