Monday, June 27, 2016

Ekonom UKM Unsyiah, Dr. Iskandarsyah Madjid: Saya Mau Bilang Baik Tidak Mungkin


Saya Mau Bilang Baik Tidak Mungkin

Dr. Iskandarsyah Madjid
Dr. Iskandarsyah Madjid, SE, MM mafhum betul kondisi nyata investasi di Aceh selama empat tahun terakhir. Itu sebabnya, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini mengaku tidak mungkin pertumbuhan investasi di Aceh berjalan baik. Karena itu, walau Pemerintah Aceh mengatakan ada penambahan investasi, semua itu tak lebih hanya pada penambahan modal. Tapi, jika dilihat dari investasi padat karya, masih belum bergerak. Buktinya, angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi.
Sebagai bukti empat tahun Pemerintah Aceh di bawah kendali dr. H. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, persoalan infrastruktur masih menjadi persoalan mendasar di Aceh untuk mendatangkan investor. Misal, kesiapan Aceh menyiapkan energi listrik pada usaha investasi. Nah, seperti apa pengakuan akademisi Unsyiah yang juga aktif sebagai pengusaha ini? Berikut wawancara Juli Saidi dari MODUS ACEH dengan Dr. Iskandarsyah Madjid, SE, MM di Lampriet, Banda Aceh, Selasa, 21 Juni 2016 lalu.

Dilantik 25 Juni 2012 sampai 25 Juni 2016, genap empat tahun Zaini Abdullah menjabat Gubernur Aceh. Pendapat Anda tentang investasi di Aceh?
Kalau bicara investasi, yang paling mendasar sebenarnya infrastruktur investasi. Faktanya, menurut saya, sampai hari ini belum terlaksana dengan baik. Jadi, bagaimana mau menghadirkan investor dari dalam dan luar negeri kalau infrastruktur tidak siap.
Infrastruktur seperti apa yang Anda maksud?
Contoh paling gampang, listrik. Sampai hari ini belum tuntas. Padahal, sumber energi listrik cukup banyak di Aceh. Namun, tetap saja terjadi pemadaman hampir saban hari. Bagi investor, jika listrik tak cukup tentu menjadi biaya tinggi.
Berarti menjadi persoalan mendasar?
Ya, karena sampai hari ini belum dibenahi. Sebaliknya, memang pemerintah telah menetapkan kawasan industri di Aceh seperti Lampulo, Banda Aceh dan Krueng Raya, Aceh Besar. Tapi, sampai saat ini belum ready untuk investor. Dan, ini bukan masalah kecil atau sepele. Dan, persoalan infrastruktur untuk operasional lainnya seperti air bersih. Investasi akan masuk jika iklimnya nyaman. Misal, adanya kemudahan-kemudahan dalam perizinan dan kesiapaan orang-orang di dalamnya. Menurut saya, Aceh saat ini masih terlalu dini dikatakan siap.
Ini sama artinya bahwa empat tahun kepemimpinan Zaini Abdullah, banyak persoalan investasi di Aceh belum siap atau tak jalan?
Ya, banyak hal yang tidak mendukung investasi secara keseluruhan. Pemerintah Aceh harus tahu bahwa saat seseorang berinvestasi, tentu memerlukan biaya tinggi untuk melengkapi infrastruktur tersebut. Jika persoalan mendasar ini belum siap, tak mungkin mereka mau masuk ke Aceh.
Apa dampaknya jika infrastruktur tidak pernah terselesaikan oleh Pemerintah Aceh?
Otomatis orang akan enggan berinvestasi. Karena masalah itu akan membuat biaya tinggi bagi investor. Jadi, infrastruktur harus diselesaikan dulu, sehingga saya yakin investor akan datang, karena hitungan-hitungannya profit.
Anda menyebut investasi tidak bergerak di Aceh, maksudnya?
Salah satu bukti, masyarakat tidak ada pekerjaan. Artinya, dengan investasi, akan mengurangi pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan.
Dalam penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBA) 2015, Pemerintah Aceh mengaku investasi justru tumbuh baik?
Meningkat dan tumbuh baik dari sisi apa? Volume atau nilai investasinya? Kalau uang berarti padat modal bukan padat karya. Sehingga, tidak bisa menjawab masalah tenaga kerja karena lebih banyak modal daripada orang-orang. Mestinya, kita mencari investasi yang padat karya. Tujuannya, menyerap tenaga kerja. Karena memang tingkat pengangguran kita meningkat.
Kemudian?
Jika disebut investasi tumbuh dengan baik berdasarkan komitmen atau MoU, mungkin bisa ratusan. Tetapi, soal implementasi memangnya sudah ada berapa? Lagi-lagi, investor enggan masuk Aceh karena memang infrastrukturnya tidak siap. MoU memang banyak, tapi yang mana sudah direalisasi? Jadi, itu yang kita lihat. Mungkin secara padat modal, besar. Terjadi kenaikan nilainya. Tapi, padat karya bagaimana? Investasi mungkin ada, cuma seperti apa yang dibutuhkan sekarang. Saat ini adalah investasi padat karya, orang bisa banyak bekerja, sehingga ada efek. Yang bekerja pun orang-orang Aceh.
Baik, begitu berpengaruhkah investasi padat karya di Aceh?
Ya, karena padat karya mengakibatkan terserapnya tenaga kerja di Aceh. Dan, otomatis akan mengurangi angka kemiskinan serta pengangguran. Pemerintah Aceh jangan hanya melirik dan mengandalkan investor padat modal atau membawa tenaga kerja dari luar Aceh, sehingga nggak ada dampak yang positif kepada daerah.
Strategi lain?
Menggunakan modal daerah. Pemerintah harus mempersiapkan infrastruktur dengan baik. Selain insentif yang diberikan kepada calon investor juga membuat mereka tertarik. Daerah lain juga memberikan insentif yang cukup baik, sehingga mereka mau datang. Tapi, kalau di awal sudah diganggu, ya nggak bisa.
Jadi, semua ini ada dana sendiri di APBA. Kita mau sudah siap, sehingga ke depan investor tinggal datang saja, mempersiapkan kantornya di Aceh, workshop di sini. Nggak perlu mikir lagi masalah listrik, air, jalan dan tenaga kerja. Semua sudah tersedia dalam kawasan industri tersebut. Jadi, memudahkan orang untuk datang.
Dalam LKPJ APBA 2015, Pemerintah Aceh mengaku sektor sawit terus bertambah. Pendapat Anda?
Lahan sawit investasi di bidang pertanian, tapi semakin terbatas dan mengandalkan lahan daerah tertentu serta sudah tidak ada lahan lagi untuk dikembangkan. Mungkin faktor yang perlu dilirik adalah pengolahannya, dari buah menjadi CPO (minyak sawit mentah). Dari CPO menjadi minyak goreng. Itu yang harus dipikirkan, sehingga Aceh tidak terikat lagi minyak goreng dari luar. Justru bisa menyuplai minyak goreng dari Aceh ke luar daerah.
Ada pendapat faktor keamanan juga menyebabkan iklim investasi di Aceh tidak tumbuh?
Keamanan nggak masalah. Waktu konflik dulu, PT Arun, PT PIM, PT KKA dan PT AAF bisa kok jalan. Kalau bagi investor menguntungkan, walau kondisi ribut, hitung-hitung biaya keributan ia tetap investasi. Tapi, masalahnya soal regulasi. Hari ini sudah oke besok lain lagi. Investor pusing. Belum lagi masalah listrik yang sebentar-bentar harus pakai genset. Jadi, biaya tinggi, sementara harga produk tidak bisa dinaikkan, tetapi biaya pengeluaran meningkat. Biaya solar dan bensin serta mesin. Sebentar-bentar listrik mati bisa merusak mesin.
Lalu?
Prinsip dasar adanya investasi ke Aceh baik pertanian, perikanan, atau pabrik semen untuk menjawab kebutuhan. Kebutuhan apa? Kebutuhan tenaga kerja dan tempat pekerjaan, berkurangnya angka kemiskinan, meningkatnya mutu pendidikan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Jadi, menurut Anda, belum ada kabar gembira masalah investasi di Aceh selama empat tahun ini?
Saya mau bilang baik juga nggak mungkin, karena indikatornya kemiskinan meningkat, pengangguran meningkat, iklim investasi juga tidak menarik. Kalau saya mau mengatakan baik, susah, karena indikator menunjukkan sebaliknya. Keterbatasan air bersih misalnya, juga menentukan. Kalau itu nggak siap, ndak bisa. Dan, karena pengurusan perizinan yang rumit, sehingga investor pindah ke daerah lain.
Apa yang harus dilakukan Pemerintah Aceh saat ini dengan sisa waktu satu tahun lagi?
Harus ada strategi yang bagus, semua SKPA harus ikut. Menurut saya, daerah harus ada kawasan industri, supaya terjadi pengelompokan dan juga efisien dalam mengatur. Jadi, memudahkan dalam mengelola industri. Kemudian, tinggal bagaimana pemerintah fokus, walaupun masih ada sisa satu tahun lagi, nanti dilanjutkan pemerintahan baru.***


  • Sumber : MODUS ACEH 



No comments:

Post a Comment