Sejak dua tahun terakhir, masyarakat Kota Banda Aceh tak
lagi bisa menikmati car free day di setiap
akhir pekan sepanjang Jalan Teungku Daud Beureueh. Penyebabnya, karena keterbatasan anggaran.
Irwan Saputra
Dua
tahun lalu, setiap Minggu pagi masyarakat Kota Banda Aceh berduyun-duyun
mengikuti perhelatan car free day (hari bebas mobil) yang dipusatkan mulai
Jalan Teungku Daud Beureueh, Simpang Jambo Tape hingga Simpang Lima. Jaraknya sekitar dua kilometer
dan dua ruas jalan tadi ditutup dari hiruk pikuk arus kendaraan.
Di
lokasi itu, ada ratusan warga (laki-laki dan perempuan) serta anak-anak hingga
usia lanjut “hanyut” melaksanakan aktivitas senam pagi, jogging, bermain, bercengkrama atau bahkan hanya sekedar
kongkow-kongkow di atas badan jalan, tanpa khawatir ditabrak mobil atau sepeda
motor.
Tapi, kegiatan hidup sehat bebas dari polusi kendaraan bermotor itu adalah cerita lama dan kini tinggal kenangan. Karena itu, jangan heran
bila banyak warga yang mempertanyakan kenapa car free day dihentikan.
Rayful,
salah seorang penyiar di salah satu stadion radio milik pemerintah di Banda Aceh. “Ada yang berbeda di setiap akhir pekan di Banda Aceh sekarang, warga
kota tidak lagi terlihat ramai dan semarak selepas shalat Subuh. Dulu
punya agenda rutin yang diikuti pada setiap akhir pekan yaitu car free day,” ujarnya Selasa dua pekan lalu.
Rayful mengaku senang dengan car free day, selain dapat berolahraga di tempat udara yang bersih
dan bebas polusi, ia juga bisa bercengkrama dengan keluarga. “Saya
pribadi merindukan car free day,” ungkap Rayful.
Sepinya Banda Aceh dari kegiatan car
free day sempat
menimbulkan dugaan bahwa Walikota
Banda Aceh Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal tidak menyukai program ini. Maklum sajalah, pada
hari-hari tersebut, sebagian kaum perempuan memakai celana
senam yang dianggap bertentangan dengan penerapan syariat Islam di kota Madani.
Namun, dugaan itu ternyata
tak benar dan langsung dibantah Mahdi
Andela, Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Hubungan Kelembagaan dan
Media Center Bagian Humas, di Sekretariat Kota Banda Aceh.
Kepada media ini, Mahdi menjelaskan, program car free day
bukan diprakarsai Pemerintah Kota Banda Aceh, melainkan Polda Aceh. Begitu juga dengan anggarannya
juga berasal dari Pemerintah
Aceh. Sementara, Pemerintah Kota Banda Aceh hanya sebagai pelaksana
kegiatan. Bahkan, pihaknya
juga tidak mengetahui kenapa program itu dihentikan.
Menurut Mahdi, Walikota Banda Aceh pernah menyampaikan
bahwa dia selalu mendukung program itu untuk dilanjutkan kembali. “Kegiatan car
free day itu diprakarsai oleh
teman-teman di kepolisian. Jadi,
merekalah yang paling tahu mengapa program ini tidak dilanjutkan,” ujar Mahdi, Selasa pekan lalu.
Namun, pihak Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh
mengungkapkan, dihentikannya car free day
lantaran animo masyarakat di kota ini untuk
ikut dalam kegiatan hidup sehat mulai menurun. Buktinya, semarak car free day hanya dirasakan pada tahun-tahun
pertama. Sementara, tahun kedua, minat masyarakat
semakin berkurang. Padahal, biayanya sudah disediakan Pemerintah Aceh.
Nizarli, Kepala Seksi (Kasi) Pengawasan Keselamatan dan
Pembina Sarana
Pemko Banda Aceh mengatakan, “Awalnya
ramai, tapi pada tahun berjalan, animo masyarakat semakin berkurang.
Kami sudah siap menutup jalan
untuk acara car free day.
Tapi, kalau masyarakat tidak memanfaatkan, lantas buat apa?” urai Nizarli, Selasa dua pekan lalu.
Selain menurunnya animo masyarakat, car free day tidaklah efektif. Alasannya,
karena harus didukung instansi lain atau komunitas. Pendukung program ini juga dinilai
tidak maksimal. Tapi, walau bagaimanapun,
surat keputusannya (SK) masih aktif hingga saat ini.
“SK-nya masih aktif
dan belum dicabut. Bisa
saja dilanjutkan sewaktu-waktu.
Namun, kalau agenda ini (car free day) kurang
efektif, tentu kami akan mengevaluasinya,” jelasnya.
Menurut Nizarli, car
free day adalah keinginan dari Polda Aceh dan
Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh. “Jika tidak ada yang mengikuti kan percuma,” tambahnya.
M. Zubir, Kabid Darat Dinas Perhubungan Kota
Banda Aceh mengatakan, untuk melegalkan car free day pihaknya telah membantu membuatkan SK, namun terkendala
ada pada biaya operasional. Sebut saja
membiayai instruktur senam, listrik dan sound
sistem. “Ada dua hal yang paling penting. Pertama, peminatnya
ada atau tidak, kedua, ada tidak biaya operasionalnya,” jelas
Zubir, Rabu dua pekan lalu.
Sementara itu, Kabid
Humas Polda Aceh, Kombes Pol. Goenawan, mengakui bahwa car free day
diprakarsai Polda Aceh. Dananya dari Pemerintah
Aceh. Sementara,
Kota Banda Aceh hanya sebagai tempat pelaksanaan kegiatan. Izinnya diberikan melalui Keputusan Walikota Banda Aceh
Nomor 388 Tahun 2012,
saat masih dijabat Walikota Banda Aceh, almarhum Mawardi Nurdin.
Goenawan menjelaskan tujuan car free day adalah untuk mengurangi kemacetan dalam
penggal jalan tertentu serta untuk mengurangi polusi karbon dioksida, termasuk meningkatkan
ekonomi masyarakat karena ada sebagian yang memanfaatkannya
untuk berjualan.
Namun, Goenawan membantah jika animo masyarakat menjadi
faktor dihentikannya program car free day.
Menurutnya, antusias masyarakat terhadap kegiatan itu sangat baik karena memiliki daya tarik tersendiri, yaitu
senam dan olahraga serta sebagai ruang publik terbuka untuk berekspresi. “Mungkin kita
upayakan tahun 2017 akan kembali digelar untuk Kota Banda Aceh,” ujar Goenawan. Kita tunggu.***
Sumber : Tabloid Modus Aceh

No comments:
Post a Comment