Di
balik Kisruh Rapat Kerja PA Ban Sigom Aceh
Kudeta Ketiga untuk
Mualem
ADA yang berbeda dari Rapat Kerja Dewan Pimpinan Aceh (DPA)
Partai Aceh (PA) se-Aceh atau akrab disebut: Ban Sigom Aceh (se-Aceh--red), Minggu, 10 April 2016 lalu. Misal, susunan pelaksana diatur lebih lengkap. Mulai dari ketua panitia, sekretaris,
bendahara hingga tim pencari dana serta pimpinan maupun anggota steering committee (panitia).
Itu sebabnya, panitia Musyawarah Ban Sigom Aceh hari itu, diakui
salah seorang sumber di internal Partai Aceh (PA), tidak seperti rapat-rapat
sebelumnya. Alasannya, karena mulai menerapkan sistem yang biasa
dilakukan oleh lembaga atau partai politik lain. Ini berarti, telah
banyak kemajuan yang dilakukan PA dari sebelumnya.
Sayangnya, semua rencana yang telah disusun rapi itu berakhir ricuh.
Berbagai agenda tak terlaksana dengan mulus dan upaya kudeta ketiga untuk
Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem gagal terwujud.
Nah, akankah langkah Mualem menuju kursi Gubernur
Aceh pada Pilkada Aceh 2017 mendatang berjalan mulus? Wartawan MODUS Aceh, Muhammad Saleh dan Irwan Saputra, menulisnya untuk Laporan Utama pekan
ini.
***
NAMUN, ada yang beda, terutama soal keterwakilan wilayah. Sebut saja untuk ketua panitia, posisi ini dipercayakan pada Abdul Latif alias Abu Lem, anggota DPR Aceh dari Partai
Aceh. Abu Lem berasal dari Wilayah Pasee (Lhokseumawe dan Aceh
Utara--red). Begitu juga sekretaris panitia, ditunjuk Ermiadi Abdul
Rahman, sedangkan bendahara dijabat Siti Naziah.
Akibatnya, susunan panitia tadi mendapat protes dari kader, politisi dan
pengurus Partai Aceh lainnya. Dalil yang muncul, susunan panitia seperti itu
dianggap sebagai upaya mengadu domba sesama politisi dan kader GAM
dari Wilayah Pasee.
Sebaliknya, sebagai strategi untuk memuluskan target pihak tertentu terhadap sikap politik internal PA dalam meloloskan
Kamaruddin Abu Bakar alias Abu Razak, Wakil Ketua PA dan KPA Pusat atau TA Khalid, Ketua DPW Partai Gerindra
Aceh sebagai calon Wakil Gubernur Aceh, pendamping Muzakir Manaf sebagai calon Gubernur
pada Pilkada 2017 mendatang.
Nah, untuk memuluskan semua rencana tadi, panitia membagi tempat atau
lokasi pertemuan di beberapa titik, seperti Sultan Hotel, The Pade
Hotel, Grand Aceh dan Grand Lambhuk Hotel. Semuanya di Kota Banda Aceh.
Diduga, penempatan peserta pada empat lokasi tadi sengaja dilakukan untuk memecah konsentrasi dan arus dukungan peserta
musyawarah.
Untuk pertemuan di The Pade
Hotel misalnya, dikhususkan bagi anggota dan pimpinan Komite Peralihan Aceh (KPA) serta Partai Aceh (PA). Di Sultan Hotel, khusus untuk mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
alumni Tripoli, Libya (mualimin) bersama Tuha Peut PA. Sementara di Grand Aceh, untuk peserta musyawarah dari anggota DPR Aceh, Bupati dan Wali Kota asal
Partai Aceh (incumbent). Lalu, pertemuan di Grand Lambhuk Hotel, khusus untuk Majelis Ulama Nanggroe
Aceh (MUNA) dan perempuan partai yaitu Putroe Aceh.
Dari susunan panitia dan
titik pertemuan itulah sebagian kader PA menaruh curiga. Konon, pertemuan itu
disebut-sebut sebagai lanjutan dari pertemuan di Kantor PA Kabupaten Pidie dua pekan sebelumnya,
yang belum menuai hasil atau kesepakatan, terkait sosok calon Wagub Aceh,
mendampingi Mualem.
Sumber media ini dari kalangan KPA/PA mengungkapkan, saat pertemuan itu,
Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar ada memberi saran pada Mualem agar memilih
pendampingnya dari kalangan internal PA. Saran Malik Mahmud kabarnya sempat
diamini Ketua PA Pidie Sarjani (Bupati Pidie) serta Aiyub Abbas (Bupati Pidie
Jaya). Dan, disebut-sebut, muncul nama Kamaruddin Abu Bakar atau akrab disapa
Abu Razak.
Tapi, saat itu Mualem punya pemikiran dan alasan sendiri. Salah satunya,
perlu kebersamaan dan penguatan pembangunan Aceh masa depan. Caranya, dengan
menggandeng kader partai nasional (parnas) sebagai wakilnya.
Sasaran yang dituju kabarnya mengarah pada sosok TA Khalid, Ketua Partai
Gerindra Aceh. Tak hanya itu, beredar juga informasi Mualem pernah bertanya pada sejumlah tokoh dan pimpinan KPA/PA,
terkait apakah dia memilih Abu Razak, Sarjani (Bupati Pidie), Jufri Hasanuddin
(Bupati Abya) serta TA Khalid sebagai calon Wakil Gubernur Aceh. Hasilnya, mayoritas
KPA/PA Wilayah Pasee, Batee Iliek, Peureulak serta Aceh Rayeuk menolak Abu
Razak dan sepakat dengan TA Khalid.
Restu serupa juga disampaikan pimpinan partai nasional di Aceh yang
tergabung dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) seperti: PAN, PPP, PKS, Partai
Demokrat, Hanura serta PKPI. Saat pertemuan di Hotel Hermes Banda Aceh akhir
2015 lalu, sejumlah partai pendukung Mualem, sepakat pula dengan keputusan
tadi.
“Kami lebih mudah dan nyaman berkomunikasi dengan TA Khalid dari pada
Abu Razak. TA Khalid lebih luwes dan mau berdiskusi serta mendengar aspirasi
maupun pemikiran yang kami sampaikan. Sementara, Abu Razak dari awal memang
tidak setuju Mualem menarik wakilnya dari parnas,” ungkap seorang pimpinan
parnas koalisi tadi.
Karena pertemuan di Pidie tak membuahkan hasil dan kata sepakat. Lalu,
muncullah agenda untuk menggelar Rapat Kerja (Raker) PA Ban Sigom Aceh tanggal
10-11 April 2016 di Banda Aceh. Raker ini berisi sejumlah agenda. Misal, selain
menentukan siapa figur pendamping Mualem, juga merancang strategi pemenangan
Pilkada 2017 mendatang untuk kursi gubernur, bupati serta walikota di Aceh.
Begitupun, diam-diam muncul pula agenda tersembunyi, yaitu mengaduk
ulang keputusan dukungan KPA/PA terhadap kursi calon Gubernur Aceh dari Mualem
dan coba dialihkan pada dr. Zaini Abdullah. Jika gagal, maka ada agenda kedua
yakni mengusung Abu Razak sebagai wakil
Mualem.
Untuk mencapai tujuan tadi, kabarnya Abu Razak dan tim pendukungnya
termasuk Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Jufri Hasanuddin, mengiring peserta rakerja
untuk mengambil keputusan secara voting. Peran ini dimainkan sejumlah mantan
kombatan GAM asal Pidie yang juga loyalis dr. Zaini Abdullah atau akrab disapa
Abu Doto. “Zakaria Saman malah dari awal sudah berikrar siapa pun boleh calon
Gubernur Aceh dari KPA/PA, tapi tidak untuk Mualem,” sebut seorang mantan
kombatan GAM eks Tripoli asal Pasee.
Nah, entah bagaimana kemudian ceritanya, keinginan itu akhirnya bocor
juga pada anggota dan pimpinan KPA/PA Wilayah Pasee, Aceh Rayeuk (Aceh Besar),
Batee Iliek (Bireuen) dan Peureulak (Aceh Timur), peserta Rakerda Ban Sigom
Aceh. Itu sebabnya, merasa ditelikung dari belakang, para loyalis Mualem dari
empat wilayah tadi tersulut emosi.
Agenda rapat kerja daerah (rakerda) yang semula diinginkan berjalan
mulus dan lancar, justru berakhir ricuh. Loyalis Mualem tetap bertahan bahwa
calon Gubernur Aceh dari KPA/PA pada Pilkada 2017 mendatang tetap Mualem,
sedangkan siapa wakil atau pendamping, sepenuhnya diserahkan pada Mualem untuk
memilihnya. “Rakerda memang deadlock (buntu),
tapi keputusan akhir ada pada Mualem,” sebut seorang peserta pada media ini.
***
Sebenarnya,
upaya kudeta terhadap kepmimpinan Mualem sebagai Ketua KPA/PA bukan sekali ini
saja terjadi. Sebelumnya, Abu Doto juga telah menghimpun atau mengumpulkan
sejumlah mantan kombatan GAM eks Tripoli di Pendopo Gubernur Aceh dan The Pade
Hotel, Aceh Besar. Agenda utama adalah memakzulkan Mualem dari kursi Ketua
PA/KPA Pusat. Alasannya, selama memimpin KPA/PA, Mualem dan pendukungnya tidak
pernah menggelar rapat resmi dengan Tuha Peut (Malik Mahmud, Zaini Abdullah dan
Zakaria Saman). Selain itu, tak ada laporan pertanggungjawaban penggunaan
keuangan. Begitupun, usaha dan upaya kudeta tersebut gagal terlaksana.
Seorang mantan kombatan GAM dari Wilayah Bireuen pada media ini saat itu bercerita.
Kedatangan mereka ke Pendopo
Gubernur Aceh saat itu karena ada
rencana tidak baik dari Tuha Puet dan Tuha Lapan KPA-PA. Menurut
dia, mantan
kombatan didikan Tripoli, Libya
(mualimin) khususnya pendukung dr. Zaini Abdullah,
membuat rapat untuk menurunkan Mualem dari kursi nomor satu di PA.
Tak hanya itu, salah seorang mantan kombatan GAM dari Pidie membenarkan rapat tersebut akan
dilangsungkan di Anjong Mon Mata. Tapi katanya, dalam surat undangan yang ia terima tak menyebut secara pasti agenda rapat. Namun, dirinya mengaku diminta hadir pukul
8.00 WIB pagi hari. “Agenda pastinya tidak tahu, yang jelas dalam
surat yang saya terima rapat di Anjong Mon Mata,” ungkap dia dalam bahasa Aceh, usai mengikuti pertemuan di rumah
Dinas Gubernur Aceh ketika itu.
Sebaliknya, mantan kombatan GAM Bireuen tadi mengaku, kedatangan mereka ke Pendopo Gubernur Aceh di Banda Aceh dengan sukarela dan tak ada perintah dari siapa pun. Saat
bincang-bincang dengan MODUS ACEH, ia becerita panjang lebar terhadap rencana kudeta
terhadap Muzakir Manaf tadi.
Katanya, sikap petinggi DPA-PA di bawah kendali dr. Zaini Abdullah dan Zakaria Saman (Tuha Puet) ingin menurunkan Muzakir Manaf tak masuk akal. Sebab, Muzakir Manaf, merupakan petinggi GAM yang dekat dan paham dengan kondisi lapangan, terutama saat Aceh masih didera konflik.
Itu sebabnya, mantan Panglima
GAM Wilayah Batee Iliek, Darwis Djeunieb dan Wilayah Pase Tgk Zulkarnaini (Tgk Ni) serta beberapa Panglima Wilayah
GAM lainnya, tetap komit dan solid untuk mempertahankan posisi Mualem. Bukan hanya itu, katanya rencana menurunkan Muzakir Manaf dari DPA-PA
dan Ketua KPA, lebih pada target jabatan. Karena, jabatan orang nomor satu di DPA-PA dan KPA adalah strategis
dan itulah yang ingin direbut.
“Seharusnya petinggi GAM ini memberi contoh yang baik pada kami, bukan
ribut-ribut seperti ini. Kami juga tidak paham apa tujuan petinggi-petinggi itu,” ujarnya dalam bahasa Aceh.
Tak hanya itu, salah seorang Panglima
KPA di Aceh mengaku ada rencana kelompok dr. Zaini Abdullah menurunkan Muzakir
Manaf, tapi panglima--tak usahlah kita sebut namanya--mengaku, rencana itu tak
mungkin terkabulkan. Alasannya, jika pun dilakukan Mubeslub DPA-PA,
Muzakir Manaf tetap dipercaya dan dipilih kembali oleh sejumlah Panglima Wilayah GAM untuk memimpin PA.
Katanya, mantan GAM kalangan bawah menilai,
kewenangan Mualem yang selama ini diberikan Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah
tidak seberapa. Ambil contoh, soal
penempatan Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA). Menurut dia, mayoritas
dikuasai pejabat dari wilayah dr.
Zaini Abdullah alias Pidie. “Ya, tapi tidak jadi itu. Karena kami melihat, kalaupun dibuat Mubeslub PA, Mualem tetap terpilih kembali. Kami menilai,
kewenangan yang diberikan Abu (sebutan untuk Gubernur Aceh) pada Mualem sedikit sekali,” ujarnya, saat
bincang-bincang dengan media ini.***

Halo Klien,
ReplyDeleteRINCIAN PEMINJAM APLIKASI UNTUK PINJAMAN SUKU BUNGA @ 3%. KAMI MEMBANTU INDIVIDU / GROUP BANGUN CARRIERS MEREKA, MEMBANTU MEREKA FINANSIAL UNTUK MEMULAI UP BISNIS DAN MEMBANTU MEREKA MELAYANI UTANG OLEH ZERO DELAY UPON REQUEST DARI TOPIK PINJAMAN.
1. Nama Of Pemohon dalam Full: ...... ..
2. Nomor Telepon: ..........
3. Alamat dan Lokasi: .......
4. Jumlah dalam permintaan ......... ..
5. Periode Pembayaran: ......... ..
6. Tujuan Dari Pinjaman .............
7. negara .....................
8. telepon ..................... ..
9. pendudukan ..................
10.age / seks .....................
11.Monthly Pendapatan ............ ..
12.Email ............... ..
Salam.
manajemen
Email Mohon Hubungi:dasilversoftloaninvestment@gmail.com