Sunday, August 27, 2017

Harmoni Cinta dan Persahabatan di 7 Cm

Oleh : Mulyani Zed
Dari kiri: Masrizal, Irwan, Rhil, Moelyani, Kak Riski, Andi dan Akbar

Salam 7cm…
Yups, itulah nama dari genk kami. (seperti anak SMA aja masih ada genk)… eeepps, tapi genk ini beda lho sama genk d SMA, yang masih labilisasi gitu... hehe

Tapi kami disini beda, bukan genk yang hanya berteman dengan sesama di dalam genk itu, kami juga akrab dengan kawan-kawan lainnya, hanya kebetulan saja kami bisa bersama dan membentuk sebuah nama “7 cm”…
Tapi nama itu juga bukan dari 5 cm lho, okey ntar bakalan diceritain dech asal muasal alias asbab dari nama “7 cm”…
Okhey sebelumnya kami akan kenalkan dulu siapa-siapa aja sich yang ada di dalam “7 cm” ini…

Cekidoooottt…… J
Inilah profil personi “7cm”
Yang pertama ada senior kami yang paling senior, boleh d bilang abang yang paling tertua di genk kami, yups beliau adalah “MASRIJAL”, beliau lahir di Gunung Pudung pada 02 Juli 1989. Rupanya senior kami ini banyak hobi juga ya, hehe. Yups hobi beliau diantaranya jalan-jalan (terserah mau jalan kemana aja yang penting jalan, walopun jalan kaki mungkin ya…) wkwk, trus dy juga punya hobi mancing (eeppps tapi bukan mancing cewe kan bang..??) hehe, ya adalagi hobi beliau yaitu tenis meja, yaa lumayan untuk kesahatan juga… J. Beliau juga seorang pekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sendiri,mau bekerja apa saja demi kesuksesan. Dan dari kecil beliau memang sudah hidup mandiri dan tanpa putus asa yaa sampai pada saat ini, itu semua beliau lakukan demi cita-cita yang akan diraih. Semoga kesuksesan slalu meyertai kami… Aamiin…..



Lanjut yang kedua ada “IRWAN SAPUTRA”, dia juga sebagai ketua di “7 cm” dia lahir di Abdya pada 01 Januari 1991 (tahun baru euy..), hobi irwan adalah membaca (mau buku, novel, koran dan yang lain yang bisa di baca lah pokoknya, yang penting membaca), boleh di bilang dia seperti pustaka berjalan, hoho. Irwan juga seorang anak yang mandiri, dia rela bekerja demi membantu orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan biaya kuliahnya (anak yang baik yaa…) hehe. 
Dia juga seorang yang penyayang anak-anak sehingga rame anak-anak juga dekat dengannya. Dia juga seorang yang rela berkorban demi sahabatnya yang lain, sering memberi masukan juga pada kami tentang hal-hal yang mungkin dulunya belum pernah kami ketahui, yaa namanya aja perpustakaan berjalan, pasti banyak bahan donk yang mesti di transfer, walopun banyak mukadimahnya, hehe. Dan yang penting kata seorang Irwan adalah “yang penting kita punya cerita”, hihihi



Yang ketiga ada “ANDI MAULANA”, dia lahir disekitaran kota Banda Aceh yang pastinya di atas kasur laa (hehe) pada 09 Oktober 1990. Dia memiliki hobi olahraga (terserah olahraga apa aja yang penting bagi seorang andi yaitu olahraga) hehe. Andi juga kami kenal sebagai orang yang cuek akan keadaan, tapi walopun dia cuek dia tetap baik kok, mau membantu kawan (itu yang penting) J. Dia juga seorang yang suka ngomong ceplas ceplos yang bisa buat kami ketawa bareng, apapun kata-kata dia yang keluar seringnya hanya candaan semata, yang penting ngakak trus….



Yang keempat ada “M. ALI AKBAR”, yang lahir di Lawe Loning pada 20 Maret 1991. Hobinya adalah jogging, football, basketball, renang dan masih banyak lainnya, terlalu banyak hobbi sahabat yang satu ini, hihi. Akbar seorang sahabat kami yang paling loyal dan gokil abiiiiiss. Dia bisa buat kami tertawa ngakak hanya dengan gayanya aja, apalagi kalo dia ngomong ya, hoho. Dia juga seorang yang sangat, sangat dan bahkan sangat jujur. Apapun tentang kebaikan dan kejelekan kami dia akan mengatakannya, eeppps tapi bukan untuk memojokkan atau apalah, dia hanya menyampaikan dengan tujuan mungkin kami bisa mengubah sifat-sifat kami yang kurang baik, karna dia juga sahabat yang sangat peduli dengan sahabat yang lainnya. Siiiippp dech Akbar…. J




Adalagi yang kelima, “RISKY MOLISA” yang lahir di Cot Tufah pada 24 September 1990. Hobinya nonton, jalan-jalan, shopping dan berfoto ria, hehe. Risky juga seorang sahabat yang peduli, saling menasehati (kalo kami ada salah), yaa sifat keibuannya adalah pada dirinya, hehe. Dia juga seorang yang amat sangat narsis abiis. Tiap kami jalan atau buat something yang penting jepret jangan lupa, dimanapun dan kapanpun dokumentasi tetap harus ada, yang penting happy. Hehe



Ini dia yang keenam, “RHILMANIDAR”, yang lahir di Ladang Teungoh pada 26 November 1991. Hobi seorang Rhil adalah jalan-jalan, mau kemana pun yang penting jalan truuus, hehe. Rhil juga seorang sahabat yang baik, peduli, g’ banyak bacot (bacot apanya ni), ya gitulah pokoknya, hehe. Dia juga seorang yang asyiik untuk bercanda, ketawa yaa untuk hilangin stress juga lah. Kalo dibilangin narsis ya lumayan narsis juga, maklum aja kalo cewe narsis, itu hal yang biasa. Seperti kata diatas tadi yang penting happy, hehe.


Ini dia yang terakhir personil dari “7 cm”, yups, dia adalah “MULYANI ZED”, yang lahir di Blangpidie  pada 7 Maret 1991. Hobinya apa ya kira-kira, hehe, rupanya Imoel juga mempunyai hobi sama seperti sahabatnya yang lain yaitu jalan-jalan, yang penting jalaan, hehe. Kata sahabatnya yang lain Imoel seorang yang gokil, ceria, dan slalu punya cerita (apa ya ceritanya?, mau tau donk) J. Apapun yang terjadi dia masih aja sempat untuk buat kami ngakak, mau di saat sehat atau pun sakit yang penting tertawa. Tapi kata seorang sahabatnya dia juga seorang yang kalo lagi emosi kurang bisa di kontrol, ya maklumlah cewe ada bagian sensinya. Tapi walopun begitu dia juga seorang sahabat yang setia lho, mau membantu apa saja kalo sahabat yang lainnya butuh. Hidup memang untuk saling membantu. J




Okhey, itulah profil dari personil “7 cm”. Dalam persahabatan memang ada lebih dan kurangnya. Dan kelebihan itulah yang ,menjadi menutup kekurangan sesamanya. Yang paling penting di dalam persahabatan itu adalah kekompakan, kejujuran n kesetiakawanan……
Dan bagaimana “7 cm” ini bisa terbentuk ya…?? Tuing tuing… hehe
Inilah asal muasal dari “7 cm’…


Okhey kami mulai dari awal perjalanan kami…

        Kami bertujuh adalah mahasiswa dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di sekitaran kota Banda Aceh, yups kami mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, yang dulunya dikenal dengan IAIN Ar-Raniry. Kami berasal dari Fakultas dan jurusan yang berbeda-beda pula, walopun ada diantara kami yang kuliah pada jurusan yang sama. Diantarnya: Imoel dan Rhil kuliah pada jurusan yang sama yaitu Pendidikan Matematika leting 2009 pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, tapi mereka beda unit. Risky kuliah pada Pendidikan Biologi leting 2008 juga pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. 

Irwan kuliah di jurusan Hukum Pidana Islam leting 2009 pada Fakultas Syariah. Masri salah seorang mahasiswa jurusan Manajement Pendidikan Islam leting 2008 di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Akbar adalah mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam leting 2009 di Fakultas Dakwah, dan Andi seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab leting 2009 di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Kami juga berasal dari berbagai kabupaten yang ada di provinsi NAD. Imoel dan Irwan berasal dari kabupaten Abdya (Aceh Barat Daya), Rhil dan Masri berasal dari Aceh selatan, Risky dari Bireun, Andy asli orang Banda Aceh dan ini dia Akbar yg kurang jelas dari mana asalnya, kebanyakan sich kampungnya, hehe, tapi dia sekarang menetap d Lhoksumawe.

Yaa itulah sekilas info tentang pendidikan dan asal daerah personil “7 cm”… J
Sebagai mahasiswa semester akhir di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kami wajib mengikuti yang namanya KPM yaitu Kuliah Pengabdian Masyarakat. Pada saat itu kami yang belum saling kenal mengikuti KPM mandiri, yang pada saat itu penempatannya di kabupaten Aceh Besar dan hanya ada 2 kecamatan, yaitu Blang Bintang dan Krueng Barona Jaya. Kebetulan pada saat itu kami di tempatkan di kecamatan Blang Bintang tepatnya di gampong Lamsiem yang mulai terhitung tanggal 18 November 2013.


Yuuups, di gampong inilah kami mulai berkarya, yaa berkarya dalam arti mengabdi sebagai tugas mahasiswa semester akhir. Pada awal melaksanakan tugas ini kami merasakan  capek, bosan dan seperti yang di bilang oleh sahabat kami Rhil seperti “panas dingin”, hehe. 

Tapi setelah beberapa hari berlalu perubahan keadaan lebih membaik. Saat kami sedang istirahat sejenak menghilangkan kelelahan di meunasah gampong Lamsiem sambil bercerita dan bercanda bersama tiba-tiba terbesitlah untuk membuat nama untuk persahabatan ini, biar persahabatannya lebih gimnaaaaa gitu, hehe. 


Yaa pada saat itu terlontarlah kata “7 cm” tapi bukan karna dari film 5 cm juga walopun akhirnya kami menyadari itu seperti ikut-ikutan 5 cm, tapi kami gak peduli, nama “7 cm” tetap kami pake sebagai nama persahabatan kami, karena kami juga yang terdiri dari 7 orang dan kami punya cerita yang gak kalah serunya dengan 5 cm, hehe.

Hari demi hari kami lalui bersama, penuh dengan keceriaan dan kelelahan, yang namanya mengabdi mana ada yang senang selalu, pasti ada lelahnya juga, tapi itu semua hilang karna tawaan dan kegokilan dari para sahabat. Dan kami memilih Blang Bintang sebagai salah satu tempat untuk menghilangkan kepenatan kami, disana kami beristirahat untuk menghilangkan semua peluh dan penat. 



Sambil menikmati udara segar persawahan dan menikmati pemandangan pesawat yang take off and landing dan ditambah lagi kegokilan kami yang bisa buat kami tertawa dan bahagia bersama. Begitulah hari-hari yang sering kami lalui selama masa pengabdian di gampong Lamsiem, walopun diantara kami ada yang jarang ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara, hehe) itu karna ada alasan tersendiri kenapa dia tidak bisa hadir di tempat pengabdian, dan kami sebagai sahabat harus saling memahami dan mengerti satu sama lainnya dan berharap persahabatan ini akan terus terjaga keutuhannya.

Masih terekam indah memori yang pernah terjadi di tempat pengabdian itu. Yaa pada satu hari tepatnya pada tanggal 26 November 2013 yang bertepatan dengan hari jadinya salah satu sahabat kami yaitu Rhil. Kami ingin merayakan hari ulang tahun sahabat kami sebagai kepedulian kami terhadap seorang sahabat, walopun tak mewah tapi kami tetap merayakan semampu kami. 

Dengan berbagai cara kami setting untuk merayakannya, dan terus memikirkan berbagai aksi yang akan kami tampilkan, skenario pun kami buat semaksimal mungkin yang penting perayaan ini akan berkesan untuk kami semua ya mungkin terutama untuk Rhil yang ultah pada saat itu. Dan akhirnya semua pun berjalan seperti yang kami harapkan, dramanya itu lhooo….. pura-pura Masri dimarahin pak kicik, lalu memutuskan untuk berhenti dari pengabdian dan pergi begitu aja, sampai Akbar dan Irwan mengejar Masri dalam hujan-hujanan (udah seperti film-film india aja ya, hehe), dan menyalahkan Rhil sebagai dalang yang buat Masri seperti itu. Daaaannn inilah surprise yang kami kasih untuk Rhil, (kasiaaan dech Rhil dikerjain), wkwk. Tapi itulah keindahan yang kami dapatkan dari para sahabat. J

Berharap persahabatan ini akan utuh sampai akhir hayat nantinya. Masih ingin bisa berkumpul walopun nantinya udah mempunyai kehidupan masing-masing, tapi kalo memang kami mau menjaganya semuanya akan bisa terwujud apa yang kami harapkan saat ini.

Suatu hari timbullah inisiatif kami untuk membuat baju persatuan “7 cm”, dan kami semua soo pastinya setuju donk dengan usulan itu, yaa karna kami yang kompak dan slalu menginginkan kebersamaan. Akhiranya kami pun memutuskan membuat baju persatuan tersebut. Berbagai ide yang kami pikirkan sebelum kami buat baju itu, kami desain dengan semaksimal mungkin yaa berharap sebagus mungkinlah. Dan kami juga sepakat untuk membuat sketsa foto kami di baju tersebut, gak kebayang saat hebohnya kami berfoto untuk baju itu, hoho.

Di hari minggu pagi itu tepatnya tanggal 8 Desember 2013 setelah breakfast bareng kami mengadakan pemotretan untuk baju kami, wew pemotretan boookk, kayak model aja, haha, aarggh  anggap aja sama, wkwk. Akhirnya kami pun meminta bantu seorang warga untuk memotret kami dengan berbagai macam gayalah, gak ada malu-malunya, yang penting jepreett…
Begini hasil pemotretan bajunya

Setelah itu kami melanjutkan tugas pengabdian kami hingga jam 12 dan kami pun beristirahat sejenak. Dan dalam istirahat itu kami pun sepakat untuk langsung memesan baju kami, yaa berharap cepat siap (terasa gak sabaran liat bajunya, hehe). Akhirnya Imoel, rhil, dan Risky pun mengambil langkah untuk pergi ke sebuah toko baju yang ada di sekitaran Darussalam, yaa lumayan jauh lah dari tempat kami mengabdi. Pada saat itu kami memutuskan untuk mengendarai 1 motor dan berbonceng 3, dan kebetulan Imoel sebagai sopirnya yang menggunakan motor Akbar. Kami pun gak pernah terbayang apa yang bakalan terjadi selanjutnya, dan dengan santai Imoel memacu motor sambil bercerita dan tertawa bersama Rhil dan Risky dalam perjalanan itu.

Tapi takdir berkehendak lain, dalam perjalanan kami yang belum begitu jauh dari tempat pengabdian itu, kami mengalami kecelakaan. Kami gak tau ada kendaraan lain di belakang motor kami, yaa rupanya ada sebuah becak yang sedang melaju dibelakang kami dan berusaha untuk mendahului kami, sampai akhirnya kami pun tertabrak oleh becak itu. Mau dikatakan apalagi na’as hari itu yang menimpa kami. Tapi mereka sahabat gak pernah hilang dari kami. 

Setelah kejadian itu Imoel berusaha menelpon serorang sahabat yaitu Akbar dan memberitahukan keadaan yang terjadi pada kami pada saat itu. Tak lama setelah itu pun Irwan dan Andy datang menemui kami dan pada saat itu juga kami sudah di bawa ke klinik terdekat oleh warga setempat yang membantu kami.

Walopun kondisi kami yang lemah dan luka yang kami alami tapi kami masih bisa tertawa gak peduli sakit itu, bisa dibilang moe moe khem kalo bahasa indonya nangis-nangis ketawa, hehe. Setelah kami di obati oleh dokter pun akhirnya kami kembali ke tempat pengabdian, walopun kondisi sudah berbeda yang dulunya sehat wal’afiat dan sekarang kami jadi pincang dan luka-luka, hmmm nasib nasiiib….

Pada saat kondisi kami yang seperti itu yang hanya bisa duduk manis tanpa bisa buat banyak tugas yang semestinya harus kami jalani, tapi sahabat yang lainnya tidak pernah keberatan dengan keadaan kami seperti ini, mereka slalu ada tiap kami butuh pertolongan. Apapun yang kami butuh mereka slalu bersedia untuk menolong kami.

Pada awalnya kami semua sebagai sahabat tidak pernah pandang bulu satu sama lainnya, semua berlaku adil tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Tapi lama kelamaan kami melihat sesuatu yang aneh dari Irwan ke Rhil, bukan berarti juga dia menyisihkan kami, dia masih tetap memperlakukan yang lainnya seperti seorang sahabat walopun ada lebihnya untuk Rhil kami enjoy aja, hehe. Tapi keanehan yang berbeda itu membuat kami bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan Irwan ke Rhil…??.

Irwan mulai memberi perhatian lebih ke Rhil, yaa gitu dech, seperti orang yang lagi falling in love, hehe. Kecurigaan kami mulai dalam, dan mencoba untuk menyelidiki apa yang sebenarnya sedang terjadi, udah seperti detektif aja kami ini, hehe.
Ooppss, ternyata kami menemukan jawaban dari kecurigaan kami selama ini. Sepertinya Irwan memiliki perasaan lebih dari seorang sahabat kepada Rhil, dan kami sebagai sahabat yang iseng mencoba bertanya kepada Irwan tentang hal itu, tapi sepertinya Irwan belum berani jujur kepada kami tentang perasaan yang sebenarnya kepada Rhil, okey kami bisa paham mungkin Irwan belum siap dan masih menjaga persahabatan kami. Tapi penyelidikan kami gak berhenti sampai disitu, misi akan tetap kami jalankan, wkwk.


Hanya 45 hari saja kami mengabdi di gampong Lamsiem, yang awalnya kami berfikir itu adalah jangka waktu yang terlalu lama, hmm ternyata tak yang seperti kami bayangkan, semua berlalu begitu cepat. Yups, tepat pada tanggal 31 Desember 2013 kami akan di jemput kembali oleh tim dari kampus UIN Ar-Raniry sebagai pertanda berakhir juga tugas kami sebagai mahasiswa pengabdi di gampong tersebut. 

Sediiih rasanya harus pisah dengan warga dan anak-anak gampong Lamsiem tersebut terutama harus berpisah dengan sahabat-sahabat, yaa bukan berarti pisah slamanya tapi kami masing-masing masih punya perjuangan sendiri, yang penting kekompakan dan saling dukung tetap ada.

Pada tanggal 30 Desember 2013, tepatnya malam sehabis isya kami membuat acara perpisahan pengabdian kami dengan warga Lamsiem dan adik-adik kami. Suasana malam itu terasa hening, dan sangat berbeda dengan suasana yang sebelumnya, yang slalu ada tawa, tapi malam itu tawa kami berubah jadi air mata. Air mata itu ada karna kesedihan perpisahan pengabdian kami. 

Yaa walau bagaimana pun tugas kami sebagai mahasiswa pengabdian sudah berakhir dan saatnya kami kembali berkarya demi meraih cita-cita yang sudah ada di ambang pintu kesuksesan.


Dan tanggal 31 Desember pun tiba, saatnya kami kembali ke kediaman masing-masing untuk melanjutkan perjuangan. Eepppss walopun tugas pengabdian kami sudah selesai, tapiii kisah ini belum selesai lhoo…, cerita “7 cm” masih terus berlanjut, hehe.

Pada tanggal 01 Januari 2014 (saatnya tahun baru), personil “7 cm” sepakat reflesing sekalian ingin merayakan ultah Irwan yang tepat pada tahun baru itu. Akhirnya kami pun sepakat refleshing ke lampuuk. Dengan ceria kami pergi ke Lampuuk untuk menambah kenangan indah di “7 cm”, hehe.


Tiba di Lampuuk, seperti kebiasaan kami yang slalu ketawa dengan berbagai macam candaan dan kegokilan yang kami ciptakan, dan sambil menikmati indahnya laut sebagai salah satu ciptaan Sang Ilahi, dan juga sambil menjalankan misi untuk mengatur strategi kerjain Irwan yang ultah pada hari itu. Kue tar juga tepung dan telor yang telah kami sediakan untuk di lemparkan ke Irwan pun berhasil kami jalankan, tapi gak cuma Irwan yang kena telor dan tepung, bahkan yang gak ultah juga kena kebagian, huutf, tapi yaaa itulah kekompakkan kami.

Pada saat pemotongan kue tar, kami minta Irwan untuk menyuapkan potongan pertama pada orang yang spesial, dan dia pun memilih Rhil untuk menyuapkan potongan pertama, cuit cuit, so sweet euy, hehehe.

Tapi itulah keseruan di hari itu. Setelah misi itu selesai dan misi selanjutkan tetap kami jalankan. Kami bertujuh pun duduk melingkar di pinggir pantai dengan mengadakan permainan yang sebelumnya juga sudah pernah kami mainkan, yuups putar botol, siapa yang kena ujung botol maka dia harus jawab pertanyaan dari yang lainnya dengan jujur.

Semua kena gilirannya lho, dan pertanyaan yang diajukan juga bebas mengenai apa saja. Mulai dari Masri, Akbar, Andy, Risky, Imoel, Rhil bahkan Irwan tetap bakal kena, tunggu aja gilirannya….

Saat itu Rhil lebih dulu kena ujung botol, yaa artinya kami yang akan bertanya dan Rhil harus jawab sejujur jujurnya. Naah, Imoel pun ambil posisi pertama untuk bertanya pada Rhil. Dan pertanyaan Imoel pada saat itu adalah jreng jreng jreng…. Inilah pertanyaannya “Rhil ada perasaan yang lebih dari sahabat gak untuk Irwan.?”. Jiaaah… pertanyaan dari Imoel itulah yang buat Rhil terdiam dan tak bisa berkata apa-apa, tapi kami kasih peluang untuk Rhil menjawabnya di akhir permainan ini. Whehehe.

Next giliran Irwan yang kena ujung botol, hakhak. Lagi dan lagi Imoel masih ambil posisi pertama untuk bertanya. Yuhuuuuu pertanyaan yang sama ke Rhil juga di lontarkan ke Irwan. Dengan ekspresi yang sama Irwan pun gak bisa berkata apa-apa, dan akhirnya Irwan pun menjawab dari pertanyaan Imoel itu. Setelah di jelaskan panjang lebar oleh Irwan yang ternyata dia memang memiliki feel yang lebih sebagai sahabat ke Rhil terjawab sudah. Dan akhirnya Rhil juga menjawab pertanyaan dari seorang sahabat yang tadinya sempat tertunda, jawaban yang sama terdengar dari Rhil, akhirnya ada feedbacknya, gak cuma bertepuk sebelah tangan, hehe. Endingnya, yaa akhirnya mereka pun memilih menjadi pasangan kekasih, uuuu so sweet….. J

Dan kami sebagai sahabat mendukung hubungan mereka, dan berdoa semoga hubungan itu tidak sementara dan akan utuh sampai akhir hayat nantinya, dan begitu juga dengan persahabatan ini yang akan selalu utuh dan tak akan pernah usang dimakan waktu…


Inilah sepenggal cerita dari “7 cm”….. J

Penggalan cerita ini ditulis oleh Mulyani, sahabat yang paling banyak ngakaknya hehe.

Tunggu kisah lengkapnya dalam tulisan berseri "Kutemukan Cinta di Lamsie"

Saturday, August 26, 2017

Merengkuh Impian yang Tertunda


Berselfi dengan mahasiswa ilmu hukum pasca sarjana Unsyiah, M Fatan Riadhi  yang juga hakim Tipikor Pengadilan Negeri Banda Aceh
PETUAH, Banda Aceh- Bagi saya, tujuan dari  hidup adalah untuk meraih sukses baik dunia dan akhirat. Jalan menuju sukses setiap orang tentu saja berbeda, seperti halnya setiap orang berbeda dalam mematok standar sukses bagi dirinya masing-masing.

Sukses adalah pencapaian dari sebuah tujuan. Untuk itu, modal utama meraih sukses adalah dengan memiliki tujuan. Semakin besar tujuan Anda maka akan semakin besar pula peluang sukses yang akan Anda peroleh.

Sukses adalah “igauan” saya sejak masih berusia enam tahun. Saat itu, saya tidak faham apa itu sukses, dan apa yang harus saya lakukan untuk sukses, karena yang terpatri dalam benak hati saat itu adalah, saya ingin menjadi tulang punggung keluarga di tengah keterbatasan ekonomi orang tua.

Seiring waktu berlalu, perlahan saya mulai menyadari bahwa sebagai anak sulung, alam menuntut saya untuk menjadi pribadi yang unggul agar dapat memberi contoh baik bagi adik-adik saya agar mereka menjadi orang yang berguna bagi dunia dan akhirat kelak.

Untuk itu saya berjuang mempertahankan tujuan saya demi memotivasi dan menjadi contoh baik bagi mereka dan tentunya saya juga berusaha untuk membuat orang tua bangga.

Saya sadar betul, mustahil sebuah usaha tanpa adanya rintangan dan pengorbanan karena itu memang cara Tuhan  dalam menguji kekuatan tekad setiap hambanya. Karena, hanya mereka-mereka yang memiliki tekad yang kuatlah yang akan lolos sebagai peraih medali sukses.

Alhamdulillah berkat usaha dan doa dari kedua orang tua, saya berhasil menjadi menyabet gelar sarjana perdana dalam keluarga besar saya baik sebelah ibu maupun sebelah ayah.

Prinsip itulah yang selalu saya tanamkan dalam merengkuh impian. Alhasil, dengan nikmat dan karunia Allah saya berhasil mengembalikan harga diri orang tua saya yang sempat khawatir jika pendidikan saya akan berakhir dengan kesia-sian karena keterbatasan keuangan. Jika ini yang terjadi, sudah barang tentu mereka akan menjadi buah bibir dan contoh yang tidak baik karena  gagal dalam mendidik anak di dunia pendidikan.

Setelah 2,5 tahun malang-melintang di dunia kerja, dengan impian yang sempat tertunda saya memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat dua, dengan modal nekat saya mendaftar untuk menjadi mahasiswa magister ilmu hukum di Program Pasca Sarjana (PPs) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Alhamdulillah Allah megabulkan keinginan  saya.
Mahasiswa doktor dan magister melakukan foto bersama Dekan Fakultas Hukum Unsyiah usai mengikuti pengenalan kampus
Berselang beberapa hari, adik saya mengabarkan bahwa dirinya sudah selasai mengikuti siang akhir di kampusnya, saat ini dia hanya menuggu diwisuda dalam beberapa waktu ke depan.

Sejak 8 Agustus 2018 hingga hari ini, saya sudah mewujudkan impian untuk menjadi mahasiswa di PPs Ilmu Hukum Unsyiah, dan tentu saja saya sangat bertekad mampu menyelesaikan kuliah dalam waktu yang relatif singkat.

Saya selalu ingat pada pesan orang tua, bahwa impian itu datangnya dari hati, janganlah bermimpi karena emosi apalgi ingin membuktikan diri.[]

Banda Aceh 26 Agustus 2017.

Saturday, November 26, 2016

Terkait info grafis Bawaslu RI

‘Meradang’ Zaini Abdullah Disengat Infografis Bawaslu

Bawaslu menerbitkan infografis yang isinya juga memuat tentang figur potensial pada Pilkada Aceh 2017. Dari enam calon gubernur, empat di antaranya dinilai potensial. Dua sisanya, Zaini Abdullah dan Abdullah Puteh tak termasuk. Hanya Zaini Abdullah yang “meradang”.

Dadang Heryanto | Irwan Saputra

Info grasis Bawaslu RI (Screnshot)
Informasi itu cepat tersebar. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengeluarkan profil singkat tentang Aceh dalam bentuk infografis. Termasuk di dalamnya memuat kesimpulan analisis tentang figur potensial dalam pilkada Aceh 2017.

Dari enam bakal calon Gubernur Aceh, dua di antaranya tak masuk sebagai figur potensial pada Pilkada 2017. Mereka adalah Zaini Abdullah dan Abdullah Puteh. Keduanya calon dari jalur perseorangan.

Sementara, empat lainnya yaitu Muzakir Manaf, Irwandi Yusuf, Zakaria Saman dan Tarmizi Karim dinilai sebagai figur potensial. Bawaslu juga menyajikan narasi singkat mengenai profil masing-masing figur.

Muzakir Manaf yang dideskripsikan sebagai petahana (sedang menjabat) wakil gubernur Aceh, mendapat gelar "Mualem" pada masa konflik Aceh yaitu gelar kepada seorang yang berpengetahuan tinggi dalam ilmu kemiliteran--meski Aceh saat ini tak sedang konflik.

Sementara, Irwandi Yusuf dinarasikan sebagai mantan Gubernur Aceh periode 2007-2012 dan maju pada Pilkada 2012, namun dikalahkan Pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf. Adapun Zakaria Saman disebutkan sebagai pendiri Partai Aceh dan tokoh serta mantan Menteri Pertahanan GAM. Sedangkan Tarmizi Karim adalah mantan Penjabat Gubernur Aceh, mantan Bupati Aceh Utara dan saat ini sedang menjabat Irjen Kemendagri.

Infografis ini diunggah pada 10 Agustus 2016 lalu. Pengambilan data dilakukan antara Januari hingga Februari 2016 dengan metode wawancara, masing-masing pegiat pemilu, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pers. Bawaslu juga melakukan riset dokumen primer dan analisis media.

Selain Aceh, Bawaslu membuat infografis serupa untuk sejumlah provinsi lain, di antaranya Banten, DKI Jakarta, Gorontalo dan Papua Barat.

Zaini Abdullah (Photo: Kompasiana)
Informasi langsung menjadi viral dan diperbincangkan, termasuk di media sosial. Analisis ini kabarnya membuat pasangan Zaini Abdullah-Nasaruddin (AZAN) "meradang". Mereka protes dan berencana melapor Bawaslu ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu.

Seperti yang dilansir acehtrend.co Selasa pekan lalu, Juru Bicara Tim Pemenangan AZAN, Fauzan Febriansyah, menyatakan keberatan dengan infografis yang diterbitkan Bawaslu tersebut.
“Pada halaman website tersebut hanya menampilkan empat bakal calon gubernur dan meniadakan dua bakal calon gubernur lainnya yaitu: Zaini Abdullah dan Abdullah Puteh,” kata Fauzan.

Penggunaan kalimat "Figur Potensial Pilkada Serentak 2017" pada infografis di halaman resmi website Bawaslu tersebut, kata Fauzan, provokatif dan menggiring opini publik. Karena secara langsung dapat diambil kesimpulan bahwa hanya empat bakal calon gubernur yang ditampilkan pada halaman website Bawaslu yang layak dipilih dan berpotensi sedangkan yang lain tidak.

Tindakan Bawaslu tersebut juga dinilai telah mencederai semangat netralitas penyelenggara pemilu yang merupakan ruh dan amanah utama dalam UU Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu, UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada dan Konstitusi UUD 1945.

Juru Bicara Tim Pemenangan AZAN ini juga menegaskan, meskipun yang dilakukan Bawaslu tersebut merupakan sebuah tindakan ketidaksengajaan, tetap tidak dapat ditolerir dan merupakan bentuk nyata tidak profesionalnya Bawaslu khususnya yang bertanggungjawab dalam hal media dan informasi Bawaslu. ”Yang paling janggal, menurut kami, bagaimana mungkin Bawaslu melakukan publikasi empat bakal calon gubernur. Padahal, pendaftaran calon gubernur dukungan parpol belum dilakukan. Begitu juga proses verifikasi calon perseorangan sedang berlangsung,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Fauzan, pihaknya akan meminta tanggapan dan klarifikasi dari Bawaslu terkait hal ini. “Kami juga akan melaporkan Bawaslu kepada Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) terkait hal ini yang kami anggap telah mencederai semangat netralitas dan profesionalisme lembaga penyelenggara pemilu,” kata dia.

Abdullah Puteh
Berbeda dengan pasangan Zaini Abdullah-Nasaruddin, bakal calon Gubernur Aceh dari jalur perseorangan yakni Abdullah Puteh tidak mempersoalkan namanya tak masuk sebagai figur potensial pada Pilkada 2017, seperti yang dilansir dalam infografis yang dirilis Bawaslu tersebut. Puteh menilai hal itu sebagai dinamika politik biasa.

"Asalkan niat kita maju baik. Biarkan sajalah," ujar Abdullah Puteh pada MODUSACEH.CO, Rabu, pekan lalu.

Menurut Puteh, setiap perjuangan pasti memiliki dinamika, namun tak semuanya harus diatensi. "Kita berserah diri dan memohon pada Allah agar niat baik kita untuk membawa perubahan ini dilancarnya oleh-Nya," kata Puteh.

Itulah sebabnya, Abdullah Puteh tak begitu ambil pusing dengan infografis yang dirilis Bawaslu tersebut. "Jadi, biar sajalah. Itu hanya dinamika," ujar Puteh tersenyum.
Sementara itu, Panitia Pengawasan Pemilihan (Panwaslih) Aceh yang merupakan perpanjangan tangan dari Bawaslu RI di Aceh mengaku terkejut dengan infografis tersebut.

Irhamsyah (Photo: Acehtrend.co)
Kepala Divisi Humas dan Sosialisasi Panwaslih Aceh, Irhamsyah, mengatakan, sebagai pengawas, mereka tidak boleh menganalisa siapa calon yang lebih unggul persentasenya dari calon lainnya. Begitupun, siapa calon yang lebih memiliki massa yang lebih banyak dibandingkan dengan calon lainnya.

“Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tegas menyebutkan bahwa tugas pengawas bukan menganalisa siapa calon potensial atau bukan, siapa yang akan menang atau tidak, melainkan menerima laporan masyarakat dan mengawasi setiap tahapan pilkada yang dilaksanakan oleh penyelenggara--dalam hal ini KIP--mulai dari tahapan awal, hingga selesai. Begitupun, kita juga mengawas peserta dalam pilkada, bukan menganalisa. Itu tidak boleh,” ujar Irhamsyah, Kamis pekan lalu.
Irhamsyah menjelaskan, tugas Panitia Pengawas (Panwas) adalah mengawasi setiap tahapan yang dilakukan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) dan peserta pilkada. Apakah sudah sesuai dengan verifikasi faktual atau belum. Jika belum, pihaknya mendampingi verifikasi tersebut.

Jika ada masyarakat yang tidak mendukung calon tertentu yang mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP) masyarakat tersebut, kemudian merekomendasi pada KIP Aceh untuk dibetulkan. Kalau memang nanti ada perbaikan, begitupun kalau ada pemalsuan dan segala macam, seperti terjadinya pemalsuan dokumen dan tanda tangan, maka akan diserahkan kepada pihak kepolisian.

“Jadi, tugas kita hanya melihat penyelenggaraan pilkada, sesuai tidak dengan norma hukum yang dilaksanakan oleh penyelenggra agar tidak melanggar rambu-rambu, apakah itu black campaign, money politic dan hal-hal lain,” jelas Irhamsyah.

Nah, apabila ada yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku, maka masyarakat harus melapor. Karena tugas kita adalah mengawasi, mengkaji dan bahkan menyelesaikan sengketa antara peserta dengan penyelenggra. Di samping itu, Panwas juga bisa menyelesaikan sengketa antara peserta dengan peserta. “Jadi, bukan menganalisa para calon. Ini tidak boleh,” kata Irhamsyah

Diakui Irhamsyah, Panwaslih Aceh tidak tahu adanya infografis Bawaslu terhadap analisa para calon Gubernur Aceh tersebut. Dia mengatakan, akan melakukan koordinasi dengan Bawaslu Pusat kenapa hal tersebut terjadi. Karena dugaan yang akan muncul adalah data analisis tersebut berasal dari Panwaslih Aceh karena kita hirarki.

“Saya tegaskan, data itu bukan dari Panwaslih Aceh. Panwaslih tidak berwenang menganalisis siapa calon yang unggul dan tidak unggul. Bukan itu tupoksi kita. Tupoksi kita adalah mengawasi penyelenggara pilkada dan mengawasi peserta yang akan bertarung dalam pilkada sesuai norma yang berlaku,” tegas Irhamsyah.***

Sumber : Tabloid MODUS ACEH Edisi XX