![]() |
| Ilustrasi |
Irwan Saputra
PEMUDA itu merogoh kantongnya, dan mengeluarkan sebungkus rokok.
Dia ambil sebatang, dan menyulutnya dengan korek
api. Dihirupnya dalam-dalam, lantas menyembulkan banyak asap ke udara. Segelas kopi yang teronggok di
depannya, langsung diseruput. “Ayo Bang, apa yang bisa saya bantu?” tanya pemuda itu memulai
percakapan.
Hari itu, Senin, 9 Januari 2015 di sebuah kafe, kawasan Darussalam, Banda
Aceh. Pemuda itu, sebut saja Roni (samaran), terlihat cukup percaya diri. Tanpa sungkan, apa lagi menyesal, dia mengisahkan
proses pembuatan tugas akhirnya. “Iya Bang, saya buat (skripsi) pada orang
lain,” katanya.
Roni adalah seorang mahasiswa semester akhir di salah satu fakultas, di
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Untuk tujuan menimba
ilmu, dia datang ke Banda Aceh dari Kabupaten Aceh Selatan, empat tahun lalu. Orang
tuanya di kampung, rutin mengirim Roni uang untuk biaya pendidikan. “Tapi kalau
tahun ini tidak wisuda, ayah
tak kirim lagi,” katanya. “Karena saya tak sunggup membuat karya ilmiah, maka
saya percayakan pada orang lain”.
Roni sadar dan mengaku dirinya bodoh. Tapi bukan berarti dia tak memiliki
hasrat untuk cepat wisuda, apalagi memang sudah mendapat ultimatum dari sang
ayah. “Saya cari informasi dari teman-teman. Dan memang sudah rahasia umum
bahwa dekat kampus ada jasa pembuatan skripsi,” katanya.
Roni merogoh koceknya Rp
2,5 juta untuk pembuatan skripsi itu. Dia juga tak sungkan memberi bonus, jika
orderannya itu selesai cepat waktu. “Ya setidaknya Rp 200 ribu lah,” ungkap dia. Roni sebetulnya mafhum, keputusan yang diambilnya
adalah salah. Dia juga bisa dicerca dosen pembimbing bila diketahui tak membuat
skripsi secara mandiri. “Makanya saya
tidak pernah mau bilang kalau skripsi saya orang lain yang buat. Selain malu, bisa
dianulir nanti,” katanya.
Roni bukanlah satu-satunya mahasiswa yang menggunakan jasa pihak lain untuk
urusan pembuatan skripsi. Melati
(samaran), juga mahasiswa UIN Ar-Raniry, mengaku melakukan hal serupa.
Untuk alasan yang sangat sederhana: laptop rusak, Melati menyerahkan tanggung
jawabnya itu pada orang lain. Padahal, Melati sudah memulai menyusun BAB I, II
dan III. “Maklum Bang
laptop second hand. Karena kejar
sidang bulan ini, maka akhirnya saya cari orang lain,” katanya.
Untuk urusan pembuatan skripsi itu, kata Melati,
dia merogoh kocek Rp 1 juta. “Awalnya diminta Rp 2 juta. Saya katakan: ‘Itukan
cuma sedikit lagi. Mahal banget. Saya cuma punya Rp 1 juta. Kalau Anda mau saya
serahkan pada Anda.’ Akhirnya dia mau,” cerita Melati.
Beda dengan Roni, Melati tak merasa harus malu
bila skripsi hasil buatan orang lain tersebut dia klaim sebagai karya
orisinilnya. “Untuk apa malu, toh
hampir 50 persen mahasiswa bikin skripsi pada orang lain,” katanya.
***
SUDAH sangat
kurang apresiasi tinggi pada seorang mahasiswi. Begitu
jarang mahasiswa berani berdebat secara
ilmiah saat menghadapi lima
dosen pengujinya. Dia tak lagi mempertahankan karya ilimiahnya dengan
penuh semangat, tanpa “ketakutan” sedikit
pun yang tergambar di wajahnya.
“Mereka kebanyakan langsung keluar
ketika usai sidang,” kata EMK Alidar, akademisi
UIN, yang juga salah seorang pembimbing skripsi mahasiswa pada MODUS ACEH, pekan lalu. Alhasil, sidang
tugas akhir terkesan hanya sebuah formalitas, jauh dari atmosfir akademik. Wajah
mahasiswa penuh ketegangan, ketakutan, dihantui rasa non akademis dan bersalah.
Potret ini sangat kontras bila skripsi tersebut murni
buatan seorang mahasiswa akhir. “Saya sangat prihatin, sebagai dosen yang
pernah membimbing, sudah sangat sering saya temukan mahasiswa yang buat skripsi
pada orang lain,” ungkap Alidar.
Menurut Alidar, maraknya mahasiswa menjalankan praktik
“pelacuran” akademis ini bukan hanya membuat malu para dosen pembimbing, tapi juga
institusi pendidikan. “Lembaga juga dilecehkan,” kata dia. Menurut Alidar,
dunia akdemik adalah dunia idealisme. Tapi dengan suburnya praktik seperti itu,
maka tidak ada lagi yang idealis dan dapat dipercaya.
Salah satu cara untuk menekan praktik ini, kata
Alidar, dengan memberikan sanksi, khususnya bagi pebisnis jasa pembuatan
skripsi. Alidar menyebutnya: Dukun Skripsi! “Saya pernah mendapat (dukun skripsi). Dia malah
alumni UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dia mampu membuat skripsi semua jurusan,”
katanya.
Dalam sebulan, katanya, sang dukun mampu
merampungkan tiga judul skripsi mahasiswa. “Kalikan saja kalau Rp 2 juta per skripsi.
Besar gaji dia dari dosen,” katanya.
Itu sebabnya, kata Alidar, perlu kesadaran semua
pihak, terutama mahasiswa dan dosen pembimbing. Menurut Alidar, sejumlah dosen
pembimbing memang terkesan tak peduli masalah ini. Padahal, katanya, mereka
tahu persis jika skripsi si mahasiswa itu dibuat orang lain. “Masak bisa
selesai satu bulan. Itukan tak logis jika merujuk pada proses yang ada,”
katanya. Menurut dia, seharusnya, mahasiswa wajib melalui proses tersebut hingga memakan waktu beberapa bulan.
Penasehat Rektor Unsyiah Prof. Dr. Darwis
Soelaiman, MA mengatakan, secara akdemik skripsi hasil buatan orang lain adalah
ilegal. “Dalam dunia perguruan tinggi tidak dibenarkan. Kenapa tidak
dibenarkan? Karena itu sifatnya penipuan,” katanya.
Logikanya, kata Prof Darwis,
ini juga tak fair. Sebab, skripsi dibuatkan pihak lain, sedangkan yang dinilai adalah
mahasiswa. “Ini penipuan, ya tidak
ada bedanya dengan plagiat. Dalam dunia akademik, melakukan plagiat, mencontek,
termasuk menyuruh buat karya tulis pada
orang lain, lantas mengaku itu adalah karya orisinilnya, sama dengan
kejahatan,” jelasnya.
Prof Darwis
menilai, maraknya praktik pembuatan skripsi pada pihak lain ada kaitannya
dengan tak maksimalnya fungsi dosen pembimbing. “Apakah pembimbing hanya numpang
nama saja? Mengapa dia dengan mudah meneken dan mengakui. Inikan aneh,” kata
dia. Seharusnya, kata dia, dosen pembimbing tahu persis ihwal skripsi
mahasiswanya. Sebab, pembimbing juga punya tanggung jawab dalam mengarahkan
mahasiswa menyusun tugas akhirnya secara mandiri hingga selesai.***
Sumber: Tabloid Modus Aceh

No comments:
Post a Comment